Kiriman Santet Dari Sang Mantan

Kiriman Santet Dari Sang Mantan
kampung halaman Ridho


__ADS_3

Santy masih menikmati cuti kerjanya yang masih tersisa beberapa hari lagi. Jadi supaya cuti yang di ambil istrinya itu tidak sia-sia Ridho pun berniat untuk membawa Santy pergi ke rumah neneknya di kampung. Jadi pada hari sabtu Ridho berencana mengambil libur sehingga ia libur bekerja 2 hari yaitu sabtu dan minggu.


2 hari adalah Waktu yang cukup untuk pergi ke rumah neneknya karena hanya butuh waktu 4 jam perjalanan menggunakan mobil untuk sampai ke sana. Santy, Ridho dan Ibunya akan berangkat pagi-pagi sekali dengan meminjam mobil milik Pamannya dan Ridho yang akan mengendarai mobil tersebut.


Malam sebelum mereka berangkat Santy bingung harus membawa apa untuk oleh-oleh nenek Ridho di sana nantinya.


"sayang kita harus membawa sesuatu buat nenek di kampung lo. Jangan asal datang saja." ucap Santy yang memberi usulan kepada Ridho. Dan karena Santy juga paham adab bertamu kepada orang yang lebih tua.


"iya sayang, nanti aku tanya sama Mama dulu ya." ucap Ridho yang berniat untuk menelpon Mamanya untuk bertanya masalah apa yang ingin di bawa sebagai buah tangan untuk Neneknya di kampung.


Ridho pun mengambil HPnya dan menelpn Mamanya.


"halo Ma. Besok kita membawa apa untuk Nenek?" tanya Ridho.


"sudah tenang saja, sudah Mama atur nak." ucap Mama Ridho.


"oh ya sudah kalo begitu Ma. Besok Ridho jemput jam 4 subuh ya." ucap Ridho yang mengingatkan Mamanya kembali.


"iya Ridho, sudah dulu ya Mama masih sibuk ne." ucap Mama Ridho.


Ridho sengaja untuk mengajak berangkat pagi jadi saat sudah sampai ke rumah neneknya Ridho masih sempat untuk pergi keliling disekitar kampung. Jika mereka berangkat jam 4 subuh kira-kira mereka akan sampai sekitar jam 10 pagi waktu setempat,itu pun sudah dihitung kalo-kalo jalanan macet.


rencananya mereka akan menginap selama satu hari satu malam di rumah neneknya Ridho. Karena memang Ridho tidak bisa meninggalkan pekerjaannya terlalu lama.


di sepanjang jalan Santy merasa serta melihat kampung ini sangat sepi, banyak pepohonan yang rindang-rindang dan rumah penduduk yang berjarak sekitar 2 meter per rumahnya dan jalanan yang sunyi dari motor-motor membuat Santy begitu tenang dan nyaman dibuatnya. Santy begitu menikmati perjalanannya dengan hawa yang panas dari terik matahari pagi tapi terasa dingin oleh pepohonan yang rindang inilah yang sangat disukai Santy.


Kini mobil kami berhenti di sebuah halaman rumah seseorang yang terbuat dari beton jika dilihat rumah ini cukup besar. Serta Halamannya yang luas dan banyak pohon yang di tanam dari pohon mangga, rambutan, dan lainnya.

__ADS_1


rupanya ini adalah rumah Neneknya Ridho. Nenek yang keluar dari rumahnya langsung menyambut kedatangan kami dengan berlari kecil mendatangi mobil kami yang terparkir di halaman rumahnya, dari raut wajah beliau dan bibir yang tersenyum senang pastilah beliau sangat senang dengan kedatangan kami kerumahnya.


"wah... Kalian sudah datang ya. Sini... Sini ayo masuk." ucap nenek Ridho yang terlihat sangat senang dengan kedatangan kami.


Ibu Ridho yang pertama turun dari mobil langsung mengambil tangan Ibunya dan mencium tangan tersebut lalu memeluknya. Sangat terlihat Ibu Ridho sangat kangen dengan orang tuanya. Begitu pun Santy dan Ridho mengambil tangan Neneknya dan mencium tangan beliau juga sebagai tanda hormat kepada yang lebih tua.


Nenek Ridho tinggal bersama anak pertamanya seorang laki-laki dan menantunya serta cucu-cucuknya di rumah ini karena suaminya nenek sudah meninggal kira-kira 5 tahun yang lalu. jadi Paman Ridho lah yang menjaga Nenek selama ini di rumah.


Paman Ridho keluar rumah karena mendengar ada ribut-ribut di luar, di lihatnya halaman rumah ada mobil yang parkir disitu dan ia pun langsung menghampiri kami dengan senyumnya dan memeluk ridho.


"kemana saja kamu, jarang sekali berkunjung kesini." ucap paman Ridho sambil menepuk bahu Ridho.


Ridho pun lalu mengambil tangan Pamannya dan mencium tangan itu sebagai tanda hormat kepada yang lebih tua.


"iya Paman sekarang Ridho sibuk bekerja." jelas Ridho kepada Pamannya.


Istri Paman Ridho pun langsung dibuat sibuk oleh kedatangan kami. Istri Paman Ridho membuatkan kami minuman dan mencarikan cemilan untuk mengganjal perut sambil menunggu waktu makan siang tiba. Karena istrinya sibuk di dapur Paman Ridho pun menjaga anaknya yang paling kecil kira-kira sekitar umur 8 bulan. Santy yang terlihat gemes sama anak bayi pun langsung mencoba untuk menggendongnya.


"sini Paman biar Santy yang menjaga dan menggendongnya. " ucap Santy yang meminta ijin kepada Paman Ridho.


Paman Ridho pun memberikan bayinya untuk di gendong dan di jaga oleh Santy.


"wah sudah cocok ni kalian buat punya bayi."ucap Paman Ridho


" iya Paman cuma belum dikasih aja sama Allah."ucap Ridho.


Santy cuma tersenyum saat Paman Ridho mengatakan hal itu. Santy tau Paman ini hanya asal bicara dan tidak tau hal apa saja yang sudah terjadi.

__ADS_1


"bagaimana kalo santy coba urut perut di bidan beranak mak tati itu dek." ucap Paman Ridho kepada Mamanya Ridho.


"iya nanti Santy aki ajak ke sana." ucap ibunya Ridho.


Sedangkan Santy sedang asik menggendong dan menjaga bayi dari Paman Ridho.


Menurut berita yang ada di kampung dan yang Mama Ridho ketahui.Mak Tati ink terkenal dengan urutannya, karena banyak wanita yang sulit hamil bahkan yang sudah 20 tahun belum hamil, saat di pengan perutnya dengan Mak Tati tidak menunggu lama wanita itu pasti akan hamil. Karena Mak Tati tau wanita yang subur atau tidak dengan mengurut perutnya. Begitulah cerita yang tersebar di kampung ini dan kampung-kampung disekitarnya.


Istri Paman Ridho sudah selesai dengan urusannya di dapur dan menyiapkan makan siang untuk kami semua.


Mungkin karena lapar Santy dan Ridho sangat menikmati makanan yang di sajikan kepada mereka. Dengan suasana yang sangat nikmat duduk makan di teras rumah dengan pemandangan yang asri dan angin yang sepoi-sepoi manambah kenikmatan itu kapan lagi mereka bisa menikmati waktu seperti ini.


Setelah makan mereka Santy, Ridho Dan Ibunya beristirahat di kamar dan membereskan barang bawaan . Santy dan Ridho berada di satu kamar karena mereka suami-istri. Dan kamar Ibu Ridho tersendiri.


Hari sudah sore Ridho mengajak Santy untuk berkeliling melihat-lihat daerah sekitaran.


"Paman pinjam motornya sebentar ya." ucap Ridho.


"ya pakai saja tapi jangan jauh-jauh nanti tersesat." ucap Paman Ridho yang sambil merawat ayam peliharaannya yang cukup banyak, mungkin sekitar 20 ekor karena memang di daerah sini mata pencariannya adalah beternak dan menurih getah di kebunnya.


Santy dan Ridho berkeliling menaiki motor. Sambil melihat pemandangan dan menikmati suasana kampung.


"sayang itu lo ada mangga yang sudah matang." ucap Santy kepada Ridho.


"iya sayang tapi itu pohon punya orang." jawab Ridho. Ridho tau santy cemberut karena menginginkan mangga itu tapi Ridho malu karena itu punya orang.


Ridho terus mengendarai motornya untuk menuju jalan pulang. karena hari sudah hampir senja juga. Kalo di kampung ini famali untuk magrib berada di jalan karena bisa-bisa di sesatkan oleh makhluk gaib dan tidak akan sampai-sampai ketempat tujuan.

__ADS_1


__ADS_2