
Lama-lama aku semakin dekat dengan Robbi, karena komunikasi yang baik dan kami saling berkomitmen satu sama lain.
Sampai akhirnya Robbi mengajak aku jadian tapi aku masih sedikit trauma dengan yang namanya pacaran.
Aku menolak Robbi dan mengajaknya untuk berteman dekat dan kalo memang cocok kita akan berlanjut langsung kepernikahan.
aku berani berbicara seperti itu karena Robbi sudah dewasa. Dalam hal umur dan dia selalu berbicara tentang pernikahan dan perkenalan nanti dengan orang tuanya
Semakin lama bersama menjalin sebuah hubungan. mungkin ini sifat asli dari Robbi. aku merasa heran dengan sifatnya yang kadang-kadang seperti emosi yang tidak terkontrol.
Setiap kami berdebat dia pasti langsung mblock nomorku dan tiga hari kemudian meminta maaf dengan sendirinya. Begitu terus sampai ketiga kalinya kejadian itu berturut-turut.
Bahkan untuk hal sepele seperti mendaftarkan namanya ikut seminar dan disitu ada orang yang tidak disukainya. Dia langsung marah.
Padahalkan ya tinggal cuek aja. Kenapa harus sampai mblock nomorku. Dan pernah saat kami memilih tempat makan. Aku tidak mau diajak ketempat remang-remang dan yang diputar lagu dj. Dia juga langsung mblock nomorku selama 3 hari.
Aku pikir sifat itu terlalu kekanak-kanakan dan tidak cocok denganku. aku di buatnya capek dengan sifat itu.
aku sempat berpikir mungkin karena dia tersinggung karena aku tidak mau jadi pacarnya. Tapi aku konsisten dengan ucapanku.
Aku hanya menjalin hubungan denganya dan tidak dekat dengan laki-laki lain. Aku hanya tidak mau ada hubungan yang namanya pacaran.
Bahkan setiap dia cek hpku. Aku biasa saja karena memang tidak ada yang di sembunyikkan.
Mungkin karena aku tidak pernah memberitahunya tentang trauma ku kepada Ardi. Pacar pertamaku yang membuatku trauma. Sehingga aku tidak ingin ada kata pacaran, kita hanya TTM (teman tapi menikah). aku merasa tidak perlu mengatakan itu kepada Robbi karena itu seperti aib bagiku.
Aku pun dengan niat yang baik memulai sholat istikorohku, meminta petunjuk apakah aku harus menjauhi Robbi atau tetap bersamanya. Karena aku merasa aneh dengan sifat Robbi dan tidak tahan juga dengan emosinya yang mudah marah.
Aku memulai sholat istikorohku dengan sholat tahajjud .
Hari pertama,kedua,ketiga sampai hari ketujuh sholat istikorohku.
Aku mimpi berjalan bergandengan berdua dengan Robbi di sebuah taman. tapi kulihat ada laki-laki lain yang memandangiku dengan muka yang melas, dan kami saling bertatapan disaat itu.
Aku langsung terkoneksi dengan mimpi laki-laki yang memelukku di atas bukit itu.
Bangun tidur aku kepikiran dengan sosok laki-laki itu. Apkah artinya ada laki-laki yang lebih baik dari Robbi.
__ADS_1
Dari pada aku bimbang, aku berpikir untuk menjauhi
Robbi secara perlahan. Toh kalo jodoh pasti akan bertemu. Pikirku.
karena dimulai Robbi yang suka memblock nomorku. Aku Dengan mudah bisa menjauhinya. Walaupun diawal-awal pasti canggung.
Seminggu sudah aku merasa canggung berada di kelas yang sama dengan Robbi karena kami biasanya duduk berdekatan dan saling bercanda besama teman-teman yang lain. .
Sekarang aku berpindah duduk bertukar posisi dengan Elsa. Cewek yang begitu ingin menjadi pacar Robbi. Elsa begitu senang saat aku mengajaknya bertukar tempat duduk.
Mehindari Robbi membuatku menjauhi teman laki-lakiku biasanya kami bergabung saling gobrol dan bercanda.
Aku sengaja mehindari teman laki-lakiku. Karena aku takut di fitnah oleh Robbi. Nanti Dikiranya karena ada laki-laki lain, jadi sebab aku menjauhinya.
Sekarang aku cuma duduk-duduk dengan para
cewek-cewek yang selalu membicarakan kelebihan pacarnya masing-masing. Yang menurut mereka pacarnyalah yang terbaik.
Padahal kalo jodoh tanpa pacaran pun pasti bertemu.
Aku langsung pergi dari perkumpulan cewek-cewek ini.
Cuma Lia cewek yang cocok denganku. Karena walaupun dia punya pacar tapi tidak terlalu mendewakkan pacarnya. Lia selalu berpikir positif dan mudah akrab dengan orang lain.
Aku keliling mencari Lia untuk mengajaknya pergi kekantin. Tapi aku tidak bertemu dengan Lia, kutelpon pun tidak diangkat.
Akhirnya aku putuskan untuk pergi sendiri. Dikantin aku melihat Ridho teman satu SMAku. Dan Lia juga ada di sana.
"Santy.Lia aku dari tadi cariin ternyata ada disini.?"ujar Santy bertanya kepada Lia.
" Lia.Hehehe...Iya nih, Ridho cerita seru banget jadi ngak terasa kalo hp bergetar."jawab Lia.
Ridho adalah laki-laki yang sabar tapi menurutku sabar dan bodohnya itu beda tipis kalo dalam hal cinta.
Pernah waktu SMA dia diselingkuhin tapi diam saja. Dimanfaatkan oleh ceweknya pun dia menurut.
Mungkin karena cintanya dan orangnya juga tulus membantu orang jadi mudah untuk dimanfaatkan.
__ADS_1
Lia bercerita kepadaku bahwa Sekarang Ridho sudah putus dengan pacarnya itu. Dan tadi Ridho bercerita kebodohannya di masa lalu. Yang bikin Lia sampai tidak mendengar dan merasakan getaran hpnya disaku baju.
Menurutku Ridho lumayan ganteng dengan hidungnya yang mancung menambah pesonanya. Seperti orang arab menurutku.
Sebenarnya waktu SMA aku menaruh hati pada Ridho tapi karena aku tidak berani pacaran aku hanya memandangnya dan mengagumi wajahnya yang ganteng.
Beberapa hari ini aku sering bertemu Ridho di kanting. Dan kami duduk satu meja, aku baru tau ternyata Dia anaknya asik banget diajak gobrol. karena dulu waktu di SMA aku tidak pernah berbicara padanya. Selain karena dia punya pacar. Aku juga pemalu saat itu.
Ridho selalu punya bahan topik pembicaraan, sehingga aku tidak pernah bosan saat bertemu dengannya.
Karena sering bertemu akhirnya kami jadi sangat dekat, sering chattingan,telpon, dan membahas sesuatu di sosial media.
entah sejak kapan hari-hariku ditemani oleh Ridho. Semua berjalan dengan seiringnya waktu saja.
Bahkan Ridho sering menjemputku kuliah atau saat kami mau pergi bersama.
laki-laki pertama yang membuatku bercerita tentang traumaku pada saat pacaran dan Ridho mengerti akan hal itu.
Ridho tidak memintaku untuk jadi pacarnya dan mengajakku untuk saling mengenal. Dia memperkenalkan orang tuanya padaku, dan juga keluarga yang lainya.
Aku pun juga seperti itu. AKu kenalkan dia kepada keluargaku.
Saat makan diluar kami selalu bergantian membayar. Selalu ada cerita dan kejadian yang membuat kami tertawa terbahak-bahak.
Hanya pada Ridho aku begitu terbuka dan tidak terlalu memperdulikan dandanan aku. Dia juga tidak terlalu menuntut aku untuk menjadi wanita sempurna.
Dia menerima kebawelan aku, ocehan aku yang tidak jelas dan yang selalu mengalah saat kami memilih tempat makan.
Dia seperti sahabat aku yang sangat istimewa karena kami saling berkomitmen untuk menikah nantinya.
sambil menunggu lulus kuliah dan bekerja kami bersama-sama membantu untuk urusan mencari nilai yang bagus.
Waktu terus berlalu. Waktunya kelulusan sudah tiba.
acara wisudaku lebih cepat diadakan jadi Ridho menjadi pendamping aku saat wisuda. Bersama mama dan aba aku.
Ridho membawakkan ku bunga sebagai hadiah wisuda aku dan itu membuat aku sangat senang dan itu adalah hal yang sangat bearti.
__ADS_1
Aku teringat akan ucapan Mbah Rasid, Mamah dan mimpi itu. aku berharap Ridholah laki-laki yang akan menjadi jodohku nanti.