
Hujan mengguyur kota Bandung, membuat suasana menjadi sedikit dingin. Di Pondok Pesantren Al-Basyariyah para santriwan dan santriwati sedang menyetorkan hafalan kepada para ustadz dan ustadzah nya.
Sedangkan di Ndalem semua keluarga berkumpul, menikmati beberapa camilan ringan yang menemani obrolan-obrolan ringan meraka.
Ali dan Syaila masih betah bercengkrama di kamar mereka dan menikmati hujan di balkon kamar milik Ali.
"Mai, aku mau kita tinggal di Jogja, bagaimana menurutmu?" tanya Ali.
"Jogja?"
"Iya, disana kita akan membangun keluarga kecil dan in syaa Allah tempat kita bersama membersarkan anak-anak kita kelak."
Deggg..
"Kenapa harus di Jogja, Mas?"
"Karena menurutku kita bisa bersama-sama belajar disana menjadi suami dan istri yang saling melengkapi."
"Kenapa harus disana, Mas! aku tidak mau meninggalkan Bunda lagi pula aku punya tanggung jawab di IF, Mas!"
"Tenang dulu ya, kalau memang kamu belum siap tak apa aku tidak ingin memaksa."
"Mas, di Banyuwangi banyak kenangan aku bersama orang-orang yang aku sayangi termasuk Ayah, Mas. Di sana juga tempat terakhir Ayah, aku tidak mau jauh dari Banyuwangi!! Tolong mengerti, Mas."
Setelah berucap seperti itu Syaila pergi dari kamar Ali.
"Maaf, Mas. Aku harap Mas bisa mengerti."
__ADS_1
"Baru nikah udah berantem aja ya?" sindir Maryam.
"Eh, sampean Kak." ucap Syaila gugup.
"Saya dari awal sudah tidak suka kamu menikah dengan Ali! dan sekarang prasangka Saya benar kamu tidak bisa menjadi istri yang baik untuk dia!! kamu tidak pantas bersanding dengan adik Saya!!" ucap Maryam penuh penekanan.
"Maksud Kak Maryam apa?"
"Kamu itu tak lebih hanya orang perusak keluarga Saya!! karena kamu Ali sudah tak memikirkan perasaan Saya!! Saya tidak akan pernah merestui kalian!!"
"Atas dasar apa sampean berkata seperti itu?"
"Karena kamu hanya berandalan yang ingin masuk ke dalam keluarga Abdullah!!"
"Sampean harus tau! Ali yang datang melamar Saya dan Saya tidak sedikit pun ingin masuk ke dalam keluarga sampean!"
"Saya bukannya tidak mau sopan kepada sampean, tapi sampean yang menguji kesabaran Saya!"
"Halahh! dasar wanita murahan!"
Plak!!
Syaila tak terima dibilang murahan tanpa sadar tangannya melayang menampar Kakak iparnya.
"Wah berani sekali kamu ya!!"
"Saya tidak akan takut dengan sampean selagi Saya tidaklah salah!!"
__ADS_1
"ALI!! KELUAR!!" teriak Maryam memanggil sang Adik.
Ali keluar dari kamar terburu-buru lalu bertanya, "Ada apa, Kak?"
"Lihatlah pipiku istrimu yang menamparnya!" adu Maryam menunjuk pipinya yang memerah.
"Benarkah itu, Mei?" tanya Ali kepada Syaila.
"Iya memang Saya yang menampar Kakak Anda." jawab Syaila enteng.
"Mei!! Beliau Kakak Iparmu!!" tekan Ali.
"Karena Saya yang menamparnya Anda berasumsi bahwa Saya yang bersalah!? Terserah silahkan kalau memang Anda memilih membela Kak Maryam!" sentak Syaila langsung berlari ke arah kamar sang Bunda.
"Kak tolong jelaskan." pinta Ali.
"Aku hanya menegurnya, kalian baru menikah dia langsung membantahmu lalu bagaimana rumah tangga kalian kedepannya kalau dia membantah mu terus-menerus?" ucap Maryam membenarkan dirinya sendiri.
"Itu masalah keluargaku, Kak. Terimakasih, tapi tolong sampean tak perlu ikut campur." pinta Ali.
"Baiklah terserah kamu saja, kamu memang berubah setelah mengenal dokter itu!" ucap Maryam langsung pergi meninggalkan Ali seorang diri.
"Ya Allah, kuatkanlah Hamba menghadapi ini dan semoga cepat atau lambat Kak Maryam dan Humaira bisa saling menerima satu dengan yang lainnya. Aamiin Allahumma Aamiin." batin Ali.
Jangan lihat sesuatu dari cover nya saja, sekali-kali lihat juga di dalamnya. Mungkin ada hal istimewa yang dimilikinya tapi sengaja ia tutupi dan hanya orang tertentu yang bisa melihatnya.
__ADS_1