KISAH CINTA DOKTER SYAILA

KISAH CINTA DOKTER SYAILA
Datang ke rumah calon suami


__ADS_3

Percepat yaa...


Pagi menyapa, Syaila dan Bunda Callista sudah siap untuk berangkat ke Bandung.


Perjalanan yang akan ditempuh kurang lebih satu hari dan Syaila berharap datang tidak terlambat ke kediaman sang calon suami.


Bahagia bercampur dengan sedih yang dirasakan oleh Syaila, ia bahagia karena akan menikah dengan Ali, sedih karena sang Ayah tercinta tak dapat mendampingi dan menghantarkannya menuju bahtera rumah tangga yang sehidup-sesyurga.


"Bun, kenapa berat sekali rasanya melepas Ayah? bahkan bayang-bayangnya masih selalu hhadir. Maira rindu Ayah, Bun." ucap Syaila disela tangisnya.


"Sudah, sayang. Ayah pasti bahagia dan menyaksikanmu menikah dengan pilihanmu. Tidak boleh ada air mata ya."


"Tapi sakit, Bun. Ketika banyak anak masih bisa dimanja oleh orang tuanya sedangkan Maira sudah tak bisa lagi merasakan pelukan hangat Ayah Ashraf."


"Sudah ya, sebentar lagi ada Ali yang akan memberikanmu pelukan hangat setelah Ayah."


"Sakit hatiku, Mas melihat Humey kita seperti ini."


"Maira ikhlas, Bunda hanya saja Maira rindu Ayah."


"Humey kuat, maka dari itu Allah beri cobaan ini."


"Sakit, Bun."


"Sudah, Mey mau ke rumah Ali masa iya datang dengan mata bengkak."


"Iya, Bun maaf."


****


Sekitar pukul sembilan malam Syaila dan Bunda Callista tiba di Pondok Pesantren Al-Basyariyah.


Pondok Pesantren yang cukup besar dan bisa membimbing para pemuda-pemudi untuk menjadi orang-orang yang beriman di era modern seperti sekarang.


"MasyaAllah, Kak Syaila datang." ucap Mbak Ndalem.


"Assalamu'alaikum." ucap Syaila dan Bunda Callista bersamaan.


"Wa'alaikumussalam, Bu mari ikut Saya ke Ndalem dan Ning bisa ikut santriwati, Nggih." ucap Mbak Ndalem tersebut.


"Iya, Nak. Terimakasih."


Bunda Callista dan Mbak Ndalem melangkah menuju Ndalem. Sedangkan Syaila dibawa oleh segerombolan santri menuju asrama.

__ADS_1


"Ning sampean beruntung bisa mendapat Gus Ali, semoga lancar Nggih acara besok." ucap salah satu santri.


"Alhamdulillah, aamiin semoga, Mbak."


"Ning, sampean tidak apa tidur di asrama? atau mau tidur di Ndalem saja? tapi tidak boleh bertemu dengan Gus dulu." tanya santri yang bernama Melinda tersebut.


"Gapapa, Mbak."


"Semoga nyaman Nggih, Ning. Kamarnya sudah kami bersihkan tadi."


"Terimakasih banyak, Mbak."


"Inggih, Ning."


"Mbak, siapa namanya?" tanya Syaila.


"Melinda, Ning."


"Owalla, Mbak Melinda sudah lama mondok disini?"


"Cukup lama, Ning satu tahun lagi lulus."


"Mau kuliah?"


"Kalau Mbak mau, nanti Saya yang daftarkan di bidang kedokteran, dan kalau nilai Mbak bagus Saya angkat menjadi salah satu anggota Rumah Sakit IF milik Ayah Saya."


"MasyaAllah, tidak perlu repot-repot, Ning."


"Yasudah Mbak selesaikan dulu mondok disini kalau tertarik nanti bisa beri tahu Mas Ali atau langsung ke Saya."


"Nggih, matur nuwun, Ning."


"Sama-sama."


"Mbak tinggal dimana?" tanya Syaila mendadak ia seperti Sherly🤣.


"Sekitar sini, Ning."


"Emm, boleh Saya mampir kapan-kapan?"


"Boleh, Ning. Ning ini kamar sampean. Saya permisi, assalamu'alaikum."


"Mbak Mel, temani Saya tidur disini." pinta Syaila.

__ADS_1


"Maaf, Ning. Saya tidak mungkin menemani sampean itu tidaklah sopan."


"Tapi Saya yang meminta boleh ya?"


"Tidak, Ning. Maaf, Saya permisi, assalamu'alaikum." pamit Melinda langsung berlalu pergi.


"Dia baik sekali, semoga nanti bisa jadi salah satu Dokter hebat di IF." batin Syaila.



Ayah🤍


Panjenengan dulu yang mengajariku membaca Al-Qur'an sewaktu kecil,


Panjenengan yang mendidik Maira menjadi wanita shalihah,


Panjenengan yang mengajarkan nilai-nilai kebaikan untuk Maira dulu,


Disaat kuliahpun panjenengan yang memilihkan jurusan kedokteran, dengan begitu Maira bisa menolong banyak orang,


Sewaktu lulus S2 panjengan juga yang membangunkan Rumah Sakit Islam Fatimah untuk Maira, agar Maira bisa menjadi penolong banyak orang,


Tapi, mengapa panjengan pergi disaat Maira sukses mendirikan banyak cabang di Indonesia dan bisa membantu juga menolong orang lain yang membutuhkan?


Maira terpukul Ayah,


Harus kehilangan sandaran dan peluk hangat ternyaman selama ini,


Maira sakit karena Allah mengambil Ayah dari pelukan Maira juga Bunda,


Sekarang, Mairanya Ayah Ashraf akan menikah bersama lelaki yang in syaa Allah bisa membimbing Maira,


Restui Maira Ayah,


Walau Maira sangat berharap Ayah yang menikahkan Maira dan memberikan tanggung jawab kepada suami Maira, tapi sayang itu hanya mimipi belaka..


Ridhoi Maira, Ayah ..


Semoga kita bisa bertemu dan berkumpul lagi di Syurga-Nya Allah kelak..


Aamiin Allahumma Aamiin..


Maira rindu dan sangat menyayangi panjenengan Ayah..

__ADS_1


🤍🤍🤍


__ADS_2