KISAH CINTA DOKTER SYAILA

KISAH CINTA DOKTER SYAILA
Pergi Atau Bertahan?


__ADS_3

Syaila langsung masuk ke kamar Bunda Callista tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Ada apa, sayang?" tanya Bunda Callista kaget dengan kehadiran Syaila yang tiba-tiba dan tanpa mengetuk pintu.


"Bun, Mey kangen Ayah." ucap Syaila kini air matanya tak bisa dibendung lagi, mungkin hati terluka dengan sikap Ali.


"Loh, kamu sudah punya Ali sayang. Kenapa masih mencari Bunda?"


"Hanya Bunda yang bisa menenangkan Mey pada saat Mey rindu Ayah Ashraf." jawab Syaila dengan isakan tangisnya.


"Sudah-sudah tidak baik kamu pergi dari malam pengantinmu, kembalilah kepada Ali, Nak."


"Izinkan Mey tidur disini dulu Bun." pinta Syaila.


"Tidak, Nak."


"Please, Mey mohon Bunda."


"Baiklah hanya malam ini, subuh nanti kamu sudah harus di kamar Ali."


"Hmmm,, oh iya Bun besok siang Mey harus kembali ke Bandung ada operasi yang harus Mey lakukan tanpa bisa diwakilkan."


"Maafkan Mey harus berbohong kepada Bunda ya Allah, hati ini terluka karena di cap murahan dan naasnya lagi? Mas Ali hanya mendengar opini dari Kak Maryam tanpa mau mendengarkan aku sebagai istrinya terlebiy dahulu."


"Mey apa kata mertuamu nanti?"


"Mey yang akan berbicara, Bun. Bunda disini saja ya, lusa Mey kembali."


"Jaga dirimu baik-baik, Nak. Yasudah tidur Bunda disini dan akan memeluk Mey ya."


"Iya, Bun. Selamat Malam."


"Malam."


"Ada apa denganmu, Nak?"


*****


Matahari sudah menunjukkan sinarnya pertanda ini sudah pagi dan semua orang harus melakukan aktivitas seperti biasa yang harus dilakukan.


Syaila tak ke kamar Ali, ia langsung ke dapur setelah shalat Subuh tadi. Membantu para Mbak Ndalem memasak makanan untuk disantap oleh keluarga besar Abdullah.


"Semua sudah siap, Ning." ucap salah satu Mbak Ndalem.


"Iya, Sampean tolong panggilkan Abi, Umi serta yang lain ya." pinta Syaila.


"Siap, Ning."


"Mas, minta tolong panggilkan Gus Ali, beritahu beliau sudah waktunya sarapan."

__ADS_1


"Nggih, Ning."


"Ingin sekali aku yang membangunkan pagimu, Mas. Ingin menyiapkan keperluanmu seperti tugasku sebagai istrimu, tapi rasanya hati ini tak ingin bertemu apalagi berbicara kepadamu, Mas. Tolong beri aku waktu,,"


"Sya, ini semua kamu yang memasaknya, Nak?" tanya Umi Aisyah mengagetkan Syaila.


"Eh, tidak. Ini Saya hanya membatu Mbak itu tadi." jawab Syaila.


"Emm, dimana Ali, Nak?" tanya Umi Aisyah.


"Masih di kamar Umi, tapi sudah dipaggil oleh Mas-Mas yang ada disini tadi." jawab Syaila.


"Ada apa, Mi?" sahut Ali.


"Tidak, duduklah mari kita sarapan."


"Oh iya, Nak. Siapkan makanan suamimu." perintah Umi Aisyah.


"Nggih, Umi."


Syaila mengambilkan nasi untuk Ali lalu bertanya, "Mau makan dengan lauk apa?"


"Ayam dan sayur kangkung saja." jawab Ali, Syaila langsung mengambilkannya.


"Teri-"


"Bunda, mau makan apa?" Syaila memotong ucapan Ali dan langsung melayani Bunda Callista makan.


Semua makan dengan khidmat tanpa ada obrolan apapun, biasanya setelah makan semua keluarga akan bersantai di ruang tengah, ada juga yang ke pondok untuk mengontrol para santri.


Setelah selesai makan Syaila dan Mbak Ndalem lainnya membereskan meja makan lalu mencuci piring yang kotor kemudian menaruhnya di tempat yang sudah disediakan.


Selesai membersihkan semuanya, Syaila menuju ruang tengah untuk berpamitan kepada Umi Aisyah dan Abi Ibrahim.


"Em, Umi."


"Iya, ada apa, Nak?" tanya Umi Aisyah menghadap ke arah Syaila.


"Syaila mau pamit ke Bandung untuk hari ini, ada operasi yang harus Syaila sendiri mengananganinya, sampean mengizinkannya?"


"Kenapa cepat, Nak? tak ada Dokter lain kah?"


"Dokter lain ada, Umi. Tapi beliau sedang cuti jadi harus Syaila yang menangani."


"Baiklah, kamu berangkat bersama suamimu?"


"Tidak, sudah ada Zero dan Anggel yang menunggu Syaila di depan."


"Owalla, yasudah. Fi amanillah, Nak. Umi menunggu kepulangan mu." ucap Umi Aisyah langsung memeluk Syaila.

__ADS_1


"In syaa Allah, Umi."


Umi Aisyah melerai pelukannya dan mencium kening Syaila dan Syaila menyalami Umi, Abi, Bunda serta yang lain kecuali Ali.


"Syaila pamit, assalamu'alaikum."


"Berat Mas harus meninggalkan permasalahan ini tapi aku juga perlu menenangkan diri, aku tidak pergi aku juga tak ingin kehilanganmu."


"Ngelamun aja nabrak baru tahu rasa." ucap Anggel.


"Eh lo ya, berani banget bilang gitu ke gue."


"Kenapa? gue gak takut ke lo." tantang Anggel.


"Awas lo ya gue beneran jodohin sama Vano baru tahu." ancam Syaila.


"Idih ogah, oke gue diem."


"Kenapa pergi?" tanya Zero.


"Kangen Ayah gue." jawab Syaila.


"Lo ga mungkin pergi cuma karena kangen Om Ashraf." bantah Zero.


"Gue beneran lagi pengen ketemu, Ayah. Please Lo gangan ganggu suasana hati gue!"


"Dia nyakitin Lo, Sya?"


"Ga, yu gas lah healing-healing sumpek gue."


"Gas keunn bestiee, Lo yang bayar." kekeh Anggel.


"Kek orang ga mampu aja lo, Gel."


"Penghematan bestiee."


"Humaira." panggil Ali.


Syaila menoleh dan hanya menaikkan satu alisnya enggan menjawab.


"Tuh belum ditinggal loh udah dipanggilin. Yaudah gue sama Zero nunggu di mobil." ucap Anggel lalu masuk ke dalam mobil Avanza yang dibawa mereka.


Ali mendekat kemudian mendekap Syaila, Syaila hanya diam tanpa perlawanan.


"Kenapa harus pergi, Mai?" tanya Ali membuka suara.


"Untuk apa bertahan kalau sudah tidak lagi di percaya?" Syaila balik bertanya.


"Kita selesaikan semua baik-baik, aku butuh kamu disini, disampingku, Mei." pinta Ali.

__ADS_1



__ADS_2