
"Kita selesaikan semua baik-baik, aku butuh kamu disini, disampingku, Mei." pinta Ali.
"Tapi kamu sendiri yang membuat aku terluka, kamu orang hebat, berakhlaq baik! tapi? kamu hanya mendengarkan asumsi dari Kakak kamu! tanpa mau tahu yang sebenarnya dari aku? coba kamu jadi aku pada saat aku di bilang WANITA MURAHAN!! karena mau menikah dengan kamu. Aku memang bukan wanita baik, Mas! tapi aku juga punya hati serta perasaan yang bisa terluka, ini baru hari pertama lalu bagaimana kedepannya? tolong please lepasin aku dulu bentar aja, kamu bisa tanya Bunda aku seperti apa orangnya karena beliau yang paling tahu tentang wanita yang berada di depanmu dan berstatus istrimu ini!!" ucap Syaila meluapkan segala amarah yang ia pendam sejak kemarin.
"Baiklah kalau memang kamu mau tenang, aku tidak mau melepasmu. Ayo aku yang akan mengantarkan kamu kita sama-sama saling mengenal satu sama lain, mau?" pinta Ali.
"Mas-"
"Humaira, kita harus bisa menyelesaikan semuanya bersama." ucap Ali memotong ucapan Syaila.
"Baiklah tapi tidak disini, aku mau ke pantai."
"Apapun yang kamu mau, sayang."
Blush..
"Sya, apaan si lo dipanggil sayang aja langsung salting gini, jaga image yok bisa yokk.."
"Gel, gue bareng suami aja lo sama Zero balik aja gih." teriak Syaila.
"SYAA, LU NGAJAK GEL*D BANGET SII!!! KITA JAUH-JAUH KESINI MALAH DISURU BALIKK." teriak Anggel kesal.
"Udah gue jalan dulu, bye. Assalamu'alaikum." pamit Syaila lalu menuju parkiran bersama Ali dengan bergandengan tangan.
***
Syaila dan Ali sudah berada di mobil, Ali akan membawa Syaila ke Jogja dimana tempat mereka bertemu pertama kali dan mungkin saja Syaila bisa tenang di tempat itu.
Akan tetapi mereka harus menunggu sekitar 8 jam untuk sampai di Jogja. Ali akan mengajak Syaila singgah agar tak membuat sang Humaira bosan dalam perjalanan.
__ADS_1
"Mai, aku minta maaf atas kelakuan Kak Maryam ke kamu." ucap Ali membuka obrolan.
"Sudahlah, Mas. Aku tidak papa hanya kecewa dengan sikapmu yang seenaknya ngebentak orang lain tanpa mau tahu kejadiannya terlebih dahulu." ucap Syaila.
"Maaf, aku hanya tidak ingin Kakak semakin membencimu, aku ingin Kakak menyayangimu seperti Umi menyayangimu."
"Emm, berarti Kak Maryam tidak setuju Mas menikah denganku? lalu kenapa masih melanjutkan pernikahan ini Mas?"
"Iya, memang Kakak tidak setuju, tapi tetaplah berusaha membuat Kak Maryam menyayangimu, sayang. Karena aku tidak mungkin membatalkan pernikahan kita, mungkin terlalu singkat kalau aku mengatakan cinta kepadamu, Mei tapi memang itu adanya aku mencintaimu dari pertemuan pertama kita, dan ya yang sudah halal untuk kita harus kita cintai."
"Aku akan mencoba membuat Kak Maryam dekat dengan ku, Mas. Aku juga masih berusaha untuk mencintai mu, Mas."
Ali menggengam tangan Syaila lalu menciumnya berkali-kali. "Iya, aku mencintaimu, Humaira."
Syaila tersenyum dan ia teringat Melinda.
"Mas, kamu kenal Melinda?"
"Aku tidak tahu nama lengkapnya, Mas. Tapi kemarin dia yang menemani aku pas di asrama, dia baik Mas."
"Lalu?"
"Tahun depan ia akan lulus bukan? aku ingin mendaftarkan dia di salah satu Universitas Bandung, mungkin di bidang kedokteran sampai ia sarjana dan selesai S1 ia akan aku jadikan salah satu Dokter di IF, bagaimana menurutmu, Mas?"
"Kamu baik sekali, sayang. Yang terpenting itu tidak menyulitkan dirimu aku setuju saja, kasihan juga Melinda ia memiliki cita-cita yang tinggi tapi terhalang biaya."
"He'em, setuju berarti ya aku akan minta Zero mencarikan Universitas yang terbaik untuk Melinda."
"Sayang,"
__ADS_1
"Iya, Mas?"
"Kenapa Rumah Sakit milikmu di beri nama IF?"
"Itu bukan milikku, Mas. Tapi itu milih Ayah Ashraf, karena beliau yang memberi nama itu Rumah Sakit Islam Fatimah. Beliau memintaku untuk membantu orang-orang yang susah, kan sebaik-baiknya manusia yang bisa menolong orang lain."
"MasyaAllah, pantas saja kamu masih begitu mencintai Ayah, semoga Ayah bisa ditempatkan di Syurga-Nya."
"Amin, Mas. Ayah memang yang terbaik untukku walaupun beliau sudah tak disisi Maira tapi beliau selalu ada di hati Maira, banyak nilai-nilai positif yang Ayah ajarkan dari dini kepadaku, Mas. Sampai saat ini bahkan sedikit lagi kemarin aku sudah bisa mewujudkan keinginan Ayah tapi beliau malah jatuh sakit, aku sudah ikhlas Mas tapi aku rindu seseorang yang hebat seperti Ayah."
Setiap membahas Ayahnya Syaila tak bisa kalau tidak menangis, seperti saat ini ia sudah terisak di dalam pelukan hangat Ali.
"Sudah ya, disini sudah ada aku yang in syaa Allah akan menjadi pelindung mu hingga nafas terakhir ku."
"Mas, terimakasih sudah mau menjadikan aku Khadijah mu."
"Kamu yang Allah taqdirkan untuk menjadi tulang rusukku, sayang. Sudah ya jangan nangis lagi, ini sudah tinggal setengah perjalanan kita akan sampai."
"Mau kemana, Mas? dari tadi ga sampai-sampai aku ingin ke pantai."
"Sebentar lagi ya,"
"Hu'um, aku mau bobo, Mas ngantuk."
"Tidurlah, kalau sudah sampai nanti aku yang akan membangunkanmu."
"Kamu masih terluka karena kepergian Ayah, sayang. Semoga aku bisa membahagiakanmu walau tak sebahagia ketika bersama Ayah Ashraf, sayang."
__ADS_1
Ka Jihan be like : Ya Allah terimakasih Engkau sudah memberikan cintanya untukku dan terimakasih karena Engkau sudah membuatku mencintainya.