KISAH CINTA DOKTER SYAILA

KISAH CINTA DOKTER SYAILA
Surah An-Nur : 31


__ADS_3

Setelah selesai bercerita Syaila memutuskan untuk membawa Ali ke apartemen miliknya yang memiliki banyak kenangan bersama Ayah Ashraf.


Saat ini Syaila dan Ali baru selesai melaksanakan shalat maghrib, lalu membaca Al-Qur'an.


Selesai membaca Al-Qur'an, Syaila dan Ali duduk berdua di balkon apartemen milik Syaila. Untuk mempererat dan mendekatkan hubungan mereka dengan cerita singkat atau saling mengenal lebih jauh.


"Mas, aku masih boleh kan mengurus Rumah Sakit IF?" tanya Syaila.


"Silahkan saja, tapi kamu juga harus bisa membagi waktu. Mengurus Rumah Sakit dan mengurus suamimu ini, jangan sampai kelelahan." ucap Ali memperingati, ia tak mau Humairanya jatuh sakit karena terlalu lelah mengurus semuanya.


"Tidak, Mas. Aku akan datang ketika ada panggilan untuk operasi atau ada yang urgent saja, selebihnya aku serahkan kepada Anggelina dan Zero." terang Syaila.


"Alhamdulillah, kalau begitu. Kamu tahu bukan tugasmu sebagai istri?"


"Melayani suami dari bangun tidur hingga kembali tidur malam hari."


"Pintar. Eh iya Mei, Mas boleh minta sesuatu?"


"Apa itu, Mas?"


"Hafalkan surah An-Nur ayat 31."


"Apa isi kandungannya, Mas?"


"Mas bacakan mau?"


"Boleh, Mas. Suaramu sangat candu untuk Humairamu ini."

__ADS_1


"Baiklah. A'udzubillahi minassyaiithaa ni rrajiim."


أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ


Artinya : “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk”


"Bismillahirrahmanirrahim."


بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ


Artinya : "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang"


"Wa qul lil-mu`mināti yagḍuḍna min abṣārihinna wa yaḥfaẓna furụjahunna wa lā yubdīna zīnatahunna illā mā ẓahara min-hā walyaḍribna bikhumurihinna 'alā juyụbihinna wa lā yubdīna zīnatahunna illā libu'ụlatihinna au ābā`ihinna au ābā`i bu'ụlatihinna au abnā`ihinna au abnā`i bu'ụlatihinna au ikhwānihinna au banī ikhwānihinna au banī akhawātihinna au nisā`ihinna au mā malakat aimānuhunna awittābi'īna gairi ulil-irbati minar-rijāli awiṭ-ṭiflillażīna lam yaẓ-harụ 'alā 'aurātin-nisā`i wa lā yaḍribna bi`arjulihinna liyu'lama mā yukhfīna min zīnatihinn, wa tụbū ilallāhi jamī'an ayyuhal-mu`minụna la'allakum tufliḥụn." Ali membacakannya dengan sangat fasih nan merdu membuat Syaila terdiam dan mendengarkan dengan baik surah yang Ali minta hafalkan kepadanya.


وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوْبِهِنَّۖ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اٰبَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اٰبَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤىِٕهِنَّ اَوْ اَبْنَاۤءِ بُعُوْلَتِهِنَّ اَوْ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اِخْوَانِهِنَّ اَوْ بَنِيْٓ اَخَوٰتِهِنَّ اَوْ نِسَاۤىِٕهِنَّ اَوْ مَا مَلَكَتْ اَيْمَانُهُنَّ اَوِ التَّابِعِيْنَ غَيْرِ اُولِى الْاِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفْلِ الَّذِيْنَ لَمْ يَظْهَرُوْا عَلٰى عَوْرٰتِ النِّسَاۤءِ ۖوَلَا يَضْرِبْنَ بِاَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِيْنَ مِنْ زِيْنَتِهِنَّۗ وَتُوْبُوْٓا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ.


Syaila mengangguk berkali-kali lalu bersuara, "Mau, Mas."


"Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara ***********, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat."


"Apa maksudnya, Mas?" tanya Syaila.


"Jadi Humairaku, kamu harus bisa menjaga pandanganmu, kemaluanmu dan auratmu dari yang bukan mahrammu karena itu akan tergolong dosa yang besar jika kamu dengan sengaja menampakkannya kecuali yang biasa terlihat seperti tangan dan wajah." Jelas Ali panjang lebar.


"Kaki apa boleh di perlihatkan, Mas?"


"Ada baiknya kamu menggunakan kaos kaki, sayang."

__ADS_1


"Begitu ya, baiklah. Lanjutkan, Mas."


"Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya. Maksudnya kamu mulai sekarang harus menggunakan hijab yang panjang dan lebarnya menutupi dadamu, sayang."


"Dan yang boleh melihat auratmu hanya dua belas orang ini sayang selebihnya tidak boleh ya?"


"Siapa saja orang itu, Mas?"


"Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung."


"Lalu bagaimana jika suami istri bercerai, apakah masih boleh mantan istrinya memperlihatkan auratnya di depan mertuanya alias ayah dari mantan suaminya?" tanya Syaila.


"Boleh saja, sayang. Tapi ada baiknya kita menutup aurat kita walaupun itu di depan ayah mertua kita sendiri, menurutku itu lebih baik, Maira."


Syaila berhambur ke dalam pelukan Ali lalu berkata, "Mas, terimakasih."


"Untuk apa, sayang?"


"Terimakasih sudah mengajariku dan memintaku menghafal ilmu ini."


"Kamu istriku, jadi kita belajar bersama-sama menuju jalan yang baik."


"Terimakasih, Za-zauji."


"Sama-sama, Zaujati."


"shadaqallahul adzim."

__ADS_1


Kamu Allah hadirkan untukku, untuk menuntunku menuju jalan yang penuh dengan cahaya dan jauh dari jalan kegelapan. Semoga kamu selalu sabar dan ikhlas membimbingku ya Zauji.


__ADS_2