
Tak terasa matahari sudah berganti bulan dan bintang.
Malam menyapa bisa saja mendatangkan bahagia maupun duka, kita sebagai manusia tak bisa menerka tapi percayalah taqdir Allah SWT adalah yang terbaik untuk setiap hamba-Nya.
Di balkon kamar Syaila, Syaila dan Bunda Callista duduk menikmati makanan ringan juga teh hangat disertai senda gurau dari keduanya. Sungguh keduanya berusaha untuk saling melengkapi walau Ayah Asraf sudah tak berada di tengah-tengah meraka tapi sang Ayah masih berada di hati mereka.
"Bun, Maira mau berbicara." ucap Syaila.
"Bicara saja, Nak." sahut Bunda Callista sembari menikmati hidangan yang disiapkan bibi tadi.
"Kemarin ada yang mendatangi Maira,"
"Lalu?"
"Di-dia datang melamar Maira."
"MasyaAllah, Nak? Mey serius kan?" tanya Bunda Callista dengan senyum yang tak bisa beliau sembunyikan saking bahagianya.
"Dua rius, Bubun."
"Alhamdulillah, kapan dia akan kemari?"
"Mungkin dua atau tiga hari lagi, Bun. Bubun ga marah?"
"Untuk apa marah, sayang? Justru Bunda sangat bahagia ada yang mau melamarmu. Siapa namanya, Nak?"
__ADS_1
"Sulaiman Ali Abdullah."
"Nama yang bagus."
"Tapi, Mey takut, Bun."
"Takut kenapa?"
"Dia sepertinya anak pondok, sedangkan Maira? Maira tak pantas untuk dia, Bun."
"Ya Allah, Nak! kirain apa! ya pantaskan dirimu untuk menjadi istrinya. Tapi jangan langsung sat set sat set, Nak semua butuh proses. Mungkin yang pertama mulailah berhijab seperti dulu, Bunda juga rindu Mey Bunda yang salihah. Semua orang berhak menilai, tapi meraka tidak tahu apa yang Mey lalui hingga menjadi Mey yang saat ini."
"Ajari Maira, Bun. Untuk menjadi anak yang baik dan istri yang shalihah untuk Mas Ali."
"In syaa Allah, ayo ikut Bunda. Bunda masih menyimpan semua perlengkapan mu semasa dulu, hanya untuk mengenang."
Ceklek
Pintu di buka oleh Bunda Callista, terlihat lah kamar yang masih sangat bersih dan terawat. Disana banyak foto-foto gadis cantik yang mengenakan hijab panjang dan juga foto mendiang suami Bunda Callista.
"Ini Humaira Bunda yang dulu dan sekarang sangat Bunda rindukan, walau sikapmu tak berubah tapi tetap saja Mey yang sekarang beberda dengan Mey yang dulu."
"Maira hanya kecewa kepada Allah, Bun. Allah mengambil lelaki yang sangat Maira sayangi dan cintai, sampai saat ini rasa kehingan itu masih ada walau Ayah sudah pergi satu tahun lalu." ucap Syaila terisak mengingat Ayah Asraf pergi meninggalkannya terlebih dulu.
"Nak kita tidan dilarang untuk bersedih, tapi kita juga harus bisa bangkit lagi. Belum cukupkah waktu satu tahun ini? Bunda lepaskan Mey Bunda? Mey dengan kamu melepas hijabmu Ayah diatas sana akan tersiksa karena Humairanya tak menutup rapat auratnya dan hanya bisa dilihat oleh mahramnya."
__ADS_1
"Maafkan, Maira Bunda."
"Ayo, Nak kembali berbenah diri Ayah pasti senang putri kesayangannya sebentar lagi akan menjadi seorang istri."
Bunda Callista melangkah dan membuka lemari mengambil satu set gamis serta hijab lalu memberikannya kepada Syaila.
"Mey masih ingat dengan gamis dan hijab ini?"
"Tentu, ini gamis yang Ayah beli dari Tareem untuk Maira, Bunda."
"Coba kenakan lagi, Bunda tunggu disini."
"Iya, Bun."
"Mas, aku janji akan membatu Mey kita menuju jalan yang benar lagi. Ridhoi putrimu untuk menikah dengan pilihannya dan semoga Ali bisa membimbing Mey menjadi wanita yang shalihah, Aamiin Allahumma Aamiin. Aku rindu hadirmu disini, Mas."
5 menit berlalu Syaila keluar dari kamar mandi menggunakan gamis yang diberikan oleh Bunda Callista.
"Bun,"
"MasyaAllah, kenakan juga hijabnya, Nak."
"Iya, Bunda. Semoga Maira bisa menjadi wanita yang lebih baik lagi."
"Ridhoi hamba menuju cahayamu Ya Rabbi."
__ADS_1
Kak Jihan said : Perempuan ibarat cermin, terlihat kuat tapi mudah retak. Perempuan mudah dalam memaafkan tapi susah dalam hal melupakan🤍.