KISAH CINTA DOKTER SYAILA

KISAH CINTA DOKTER SYAILA
Nasihat Melinda


__ADS_3

Bintang dan Bulan kembali menyapa, Syaila enggan untuk datang ke Ndalem dia masih betah berada di pinggiran sungai taman pondok ditemani Melinda.


"Ning, ada baiknya sampean kembali ke Ndalem bicarakan baik-baik masalahnya dengan Gus. Di setiap rumah tangga pastinya akan selalu datang badai yang menerpa ibarat pohon, semakin tinggi pohonnya semakin kencang juga angin yang menerpanya." nasihat Melinda.


"Aku masih enggan, Mel. Rasanya gimana ya aku baru memulai untuk mencintai Mas Ali tapi kenyataanya dia menunggu Zira!" ucap Syaila.


"Jadi perempuan itu Ning Zira?" tanya Melinda kaget.


"Iya, Zira Salsabila." jawab Syaila.


"Emm, sebenarnya memang iya Gus Ali dekat dengan Ning Zira dari masa kuliah dulu Ning, tapi Ning Zira memilih meninggalkan Gus karena ingin lanjut berkuliah di Kairo, tapi entahlah mungkin belum pulang sudah dari tiga tahun lalu tak ada datang lagi kesini." cerocos Melinda.


"Eh, keceplosan." kaget Melinda langsung menutup mulutnya.


"Gapapa, Mel. Mungkin ga kalau Mas Ali menikahiku hanya untuk dijadikan pelampiasan semata?" tanya Syaila dongkol.


"Jangan berfikir seperti itu, Ning. Gus Ali tidak mungkin mempermainkan perasaan sampean, kalau memang kalian jodoh walaupun Ning Zira nanti akan hadir Ning lah yang akan mendampingi Gus Ali disisinya Until Jannah."


"Tapi, ah gatau dah. Cape!" keluh Syaila.


"Ning, maaf lancang. Tapi kemungkinan Ning itu cemburu ke Ning Zira hhe."


"Cemburu? aku masih belum mencintai Mas Ali, Mel."


"Mungkin lisan sampean berkata tidak, tapi hati sampean berkata iya, Ning."


"Berbicara denganmu membuat aku se-"


Drtt drtt..


Ucapan Syaila terhenti saat handphonenya berdering dan tertera nama sang suami gegas iya mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum, Maira. Kamu dimana?" tanya Ali diseberang sana antara cemas dan marah.


"Wa'alaikumussalam, bersama Melinda." jawab Syaila seadanya.

__ADS_1


"Astagfirullah, kenapa ga izin dulu?"


"Harus?"


"Ya harus, sayang!! kamu itu istri Mas sekarang."


"Tapi Saya gasuka di kekang!!"


"Kenapa sikapmu mendadak berubah, sayang?" tanya Ali yang ternyata sudah berada di belakang Syaila.


"Untuk apa kamu disini? aku butuh waktu sendiri!" sentak Syaila.


"Hei, kenapa?" tanya Ali yang dapat merasakan perubahan Syaila.


"Humaira butuh waktu sendiri!" sentaknya lagi.


"Melinda, Ning Hu- eh Ning Syaila kenapa?" tanya Ali kepada Melinda.


"Em- anu Gus-"


"Aku gapapa." potong Syaila.


"Ning Syaila cemburu ke Ning Zira." jawab Melinda cepat.


"Eh-" cicitnya.


"Mel, kenapa dikasi tahu." ucap Syaila pelan.


"Zira? Zira Salsabila?"


"Iya Ning yang kamu tunggu-tunggu itu!"


"Sayang, kenapa harus seperti ini?"


"Seperti ini apanya? Saya biasa saja."

__ADS_1


"Mel, kamu bisa kembali ke asrama." perintah Ali.


"Nggih, Gus. Permisi, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." jawab Ali dan Syaila bersama.


"Maira, duduk dulu." ajak Ali.


"Gamau, Saya mau pulang." tolak Syaila.


"Sayang, kenapa kamu keras kepala sekali?" tanya Ali.


"Iya ini duduk."


"Sayang, Zira itu hanya masa lalu. Jadi Mas minta tolong jangan terlalu over tingking ya, Mas sudah melupakan dia."


"Ga percaya!"


Cup!


Ali mencium pipi Syaila untuk pertama kali, hal itu membuat sang empu malu sekaligus merona karena untuk pertama kali Ali berani menciumnya.


"Mas!!!!"


"Kamu yang membuat aku melakukan itu, sayang."


"Kok aku?"


"Ya kamu dari tadi tidak percaya kepada suamimu ini, Zira sudah lama ku hapus dari relung ini, sayang."


"Tapi maaf Mas aku ga percaya h


wleee."


"Maira! kamu selalu menguji kesabaran aku."

__ADS_1


"Emang."


Keduanya larut dalam candaan yang membuat Syaila lupa dengan cemburunya kepada Zira, semoga saja Zira tidak hadir disaat nya masih berusaha untuk mencintai Ali sepenuh hatinya.


__ADS_2