KISAH CINTA DOKTER SYAILA

KISAH CINTA DOKTER SYAILA
Sahabat Terbaik


__ADS_3

Pagi hari di rumah Syaila, Anggel datang bukan sebagai anak buah! tapi datang sebagai sahabat untuk Syaila barang kali ia membutuhkan tempat untuk bercerita atau memberi saran.


"Mey, Bunda ada pengajian sama Bu RT sekarang, Bunda pergi gapapa ya?" tanya Bunda Callista yang sudah rapi menggunakan gamis navi dengan hijab senada.


"Iya, Bun hati-hati di jalan." jawab Syaila.


"Gel, Bunda titip Humey jagain jangan sampe lecet." canda Bunda Callista.


"Ihh, Bubun mulai deh ngeselinnya." gerutu Syaila.


"Bercanda, Mey. Yasudah Bunda berangkat dulu. Assalamu'alaikum." ucap Bunda Callista.


Syaila dan Anggel bergantian mencium tangan Bunda Callista sebagai tanda hormatnya kepada Beliau.


"Wa'alaikumussalam." jawab Syaila.


"Sejak kapan lu pinter jawab salam, Mey?" tanya Anggel heran.


Begitulah Anggel, ia memiliki karakter yang berbeda ada saatnya ia menjadi anak buah dari Gank Motor Syaila, ada saatnya ia menjadi sahabat Syaila yang selalu memanggil Syaila dengan sebutan Humey.


"Kemarin," jawab Syaila singkat.


"Owh,"


"Mey, kalau boleh gue tau Mas Mas kemarin itu bicara apa ke Lu? kok sampe Lu buat CV segala?" tanya Anggel yan mengikuti langkah kaki Syaila.


Syaila berhenti di kolam yang berada di belakang rumah, ia memasukkan kakinya ke dalam air agar bisa rileks dan tenang untuk menjelaskan apa yang ditanyakan oleh Anggel.


"Dia namanya Ali, kemarin dia dateng dan ngelamar gue." jelas Syaila.

__ADS_1


"Whatt? Lo ga bercanda kan, Mey?" teriakan Anggel menggema di seluruh ruangan, saking kagetnya.


"Terus lo nolak dia kan?" lanjutnya.


"Gue nerima dia, Gel. Lima hari lagi dia akan kesini meminta gue ke Bubun."


" Yakin lo, Mey? terus kenapa cepet banget?"


"Bismillah ajalah, ya mungkin dia ga mau buang waktu sia-sia."


"Lo ga insecure? lo sama dia kek langit dan bumi loh!"


"Ga guna insecure mah, biarin aja. Tapi gue mau nyoba memantaskan diri sama dia."


"Berarti lo mau make hijab lagi?"


"Pasti, Mey."


"Gue mau ngomong ke Bubun dulu, kalau Bubun setuju ya gue mau lanjutin niat baik gue sama Ali."


"Lo pasti tau mana yang terbaik untuk diri lo, Mey."


"Amin."


"Eh btw lo sama Sherly jaga RS ya kalau ada yang urgent bisa langsung bilang ke gue."


"Siap, calon istri Mas Mas ganteng."


"Apaansiii!!"

__ADS_1


Indah bukan bisa mendapatkan sahabat yang bisa saling mensupport satu dan yang lain, Syaila dan Anggel larut dalam pembicaraan yang random tersebut yang membahas banyak hal.


Tak terasa waktu berjalan seolah cepat, matahari sudah ada di atas kepala berarti sudah masuk waktunya Dzuhur.


"Kalian ada di sini to, ya bener Bunda panggil ga nyaut-nyaut." omel Bunda Callista yang membuat Syaila dan Anggel menoleh ke asal suara.


"Hehehe, maaf Bun ga kedengaran terlalu A6." jawab Anggel.


"Yasudah masuk gih! Mey udah jangan di rendem terus itu kaki awas beku, Nak."


"Iya, Bubun. Ini udah naik."


"Ayo makan siang dulu baru setalah itu kita sholat Dzuhur." perintah Bunda Callista.


"Iya, Bubunnya Humey yang cantiknya ga ketulungan."


"Ge-er banget lu, Sya."


"Lah emang iya aku ini cantik. Ya ga Bun?"


"Semua perempuan itu cantik, Mey. Kalau ganteng ya pastinya laki-laki."


"Wleee salah lo bestiee."


"Yang waras ngalah ajalah."


"Hahaha."


"Semoga kamu bisa terus tertawa seperti ini ya, Mey. Sudah lama Bunda tidak melihat kamu se ceria ini setelah kepergian Ayah."

__ADS_1


__ADS_2