KISAH CINTA DOKTER SYAILA

KISAH CINTA DOKTER SYAILA
Berjuang bersama


__ADS_3

Satu Minggu sudah Syaila berada di Banyuwangi, ia menyibukkan diri di Rumah Sakit Islam Fatimah miliknya hingga lupa dengan sang suami yang tengah mengkhawatirkan nya di Bandung.


Ali yang tengah mengkhawatirkan Syaila memilih berangkat ke Banyuwangi untuk melihat kondisi sang istri.


Saat ini Ali sudah berada di depan rumah mewah nan megah milik Syaila.


Tok.. Tok..


Ali mengetuk pintu rumah tersebut.


"Iya tunggu, sebentar!" suara teriakan dari dalam sangatlah familiar di telinga Ali siapa lagi kalau Bunda Callista.


Ceklek


"Assalamu'alaikum, Bun." sapa Ali.


"Wa'alaikumussalam, loh Nak Ali? Ada apa kemari? dimana Syaila?" tanya Bunda Callista bertubi-tubi.


"Maaf Bun, apa ada Syaila disini?" satu pertanyaan Ali membuat Bunda Callista langsung paham kedatangan Ali ke rumahnya.


"Masuk dulu, Nak."


"Nggih, Bun."


Di ruang tamu sudah ada teh hangat dan kue kelapa dan pudding yang telah disiapkan oleh Bunda Callista.


"Di nikmati, Nak."


"Nggih, Bun. Terimakasih,"


"Ada apa dengan rumah tangga kalian, Nak?"


"Ada sedikit kesalahpahaman antara Saya dan Syaila, Bun. Syaila meminta menenangkan diri disini bersama sampean, Bun."


"Ya Allah, Nak. Yasudah kamu makan dulu saja hidangan ini, Bunda ke dalam dulu,"

__ADS_1


"Nggih, Bun."


Bunda Callista berlalu menuju ke Gazebo belakang rumahnya. Kemudian menelfon Syaila.


Setalah diangkat Bunda Callista langsung berbicara tanpa di rem.


"Assalamu'alaikum, Mey. Bunda tahu kamu ada di Banyuwangi cepat pulang Bunda tunggu di rumah 15 menit harus sudah sampai!!"


Setelah berbicara Bunda Callista langsung mematikan sambungannya tanpa mau mendengarkan jawaban dari Syaila.


Bunda Callista kembali ke ruang tamu dan meminta Ali beristirahat di kamar milik Syaila, istrinya.


*


*


*


Dua puluh menit berlalu, Syaila sudah sampai di rumahnya.


"Assalamu'alaikum, Bun." ucap Syaila langsung menyalami Bunda Callista.


"Wa'alaikumussalam, duduk!" titah Bunda Callista tegas.


"Ada apa, Bun?" tanya Syaila setelah duduk di hadapan sang Bunda.


"Sya, Bunda tidak ingin tahu apapun masalah rumah tanggamu dengan Ali, tapi Bunda minta tolong! jangan pergi seperti saat ini kamu kekanak-kanakan namanya ini, Nak. Kalau ada masalah dibicarakan jangan berlari dari masalah," nasihat Bunda Callista.


"Maksud Bunda?" tanya Syaila.


"Tidak perlu berpura-pura Sya!" tekan Bunda Callista.


"Oke fine! Maira akan pulang!"


"Tidak perlu, istirahatlah dan temui suamimu."

__ADS_1


Setelah berbicara demikian Bunda Callista berdiri dan meninggalkan Syaila sendiri di ruang tamu merenungi kesalahannya.


Sepersekian menit Syaila pun memilih menuju kamarnya untuk mengistirahatkan badannya yang lelah karena tadi baru selesai operasi langsung disuruh pulang oleh sang Bunda.


Ceklek


Syaila masuk dan dikagetkan dengan tubuh seseorang yang tengah nyenyak tertidur di ranjang king size nya.


Syaila mendekat, duduk di tepi ranjang membelai rambut lebat sang suami, Ali. Sungguh jodoh yang dikirimkan Allah adalah yang terbaik, baik dari segi iman dan bonus ketampanan luar biasa.


"Mas, kenapa kamu datang.. aku masih perlu waktu sendiri.. tapi Terimakasih sudah mau menyempatkan waktu untuk menjemput ku kemari.. semoga setelah ini rumah tangga kita lebih harmonis lagi kedepannya."


"Sudah pulang?" suara lembut yang sangat dirindukan oleh Syaila satu minggu terakhir.


"Sudah," jawab Syaila singkat.


"Sudah cukup pergi?"


"Belum,"


"Aku tersiksa Mei, kamu pergi dari sisiku,"


"Maaf Mas,"


"Tidak perlu, kita hadapi bersama dan mengalah, in syaa Allah Zira nanti akan mengerti bahwa aku sudah menjadi milik Humaira,"


"Aku minim ilmu agama Mas, dan juga Ning Zira lebih baik dari istrimu ini,"


Ali memeluk Syaila dan berkata, "Kita kan sudah berjanji untuk memperbaiki diri bersama, hanya Allah yang bisa menilai hambaNya dan belum tentu kamu bukan orang yang baik sayang,"


"Terimakasih, Mas."


"Sudah tidur, lailatu sa'idah sayang."


"Sa'idah Mubarak, Mas."

__ADS_1


Keduanya pun tertidur saling berpelukan. Saling melampiaskan rindu masing-masing yang sangat mengebu, banyak semoga untuk kebaikan rumah tangga dua insan tersebut.


__ADS_2