KISAH CINTA DOKTER SYAILA

KISAH CINTA DOKTER SYAILA
Di Lamar 2


__ADS_3

Ruang tamu hening, menunggu kehadiran tuan rumah yang sedang berada di kamar masing-masing.


Anggel datang membawa tiga gelas jus Melon serta tiga gelas teh hangat juga kue yang di buat Bunda Callista tadi.


"Silahkan dinikmati. Pak, Bu dan Mas." ujar Anggel.


"Nggih, Nak. Terimakasih." ucap Umi Aisyah.


"Bunda udah turun belum, Gel?" tanya Syaila dari arah tangga tak menyadari kalau sendari tadi ada orang asing yang mengawasinya.


"Cepat sekali kamu berubah, Maira. Semoga niatmu lillah karena Allah."


"Mey, ada tamu." ucap Anggel.


"Eh, tamunya Bunda mungkin. Tunggu gue panggilin Bunda dulu." ucap Syaila masih belum menyadari siapa yang datang.


"Humaira."


Degg


"Suara itu?" gegas Syaila menoleh.


"Eh, Mas."


"Gel, minta tolong panggil Bunda gih."


"Ini orang tua, Mas?" tanya Syaila menghampiri dua orang paruh baya lalu mencium tangannya takdzim.


"Iya, ini Abi dan Umi Saya." jawab Ali.


"Pak, Bu. Saya Syaila."


"Cantik," puji Umi Aisyah.

__ADS_1


"Duh, ketua motor bisa malu-malu juga ya." bisik Sherly dengan nada mengejek, refleks Syaila langsung menginjak kaki Sherly.


"Lu ya, Mey! sakit tau ni kaki main injek-injek aja." ucap Sherly.


"His, ngeselin banget si." gerutu Syaila.


"Ada tamu, Mey? siapa?" tanya Bunda Callista.


"Ini, Bun. Mas Ali dan orang tuanya datang."


"MasyaAllah, maaf Pak, Bu. Kami hanya menghidangkan ini." ucap Bunda Callista tak enak hati.


"Tak apa, Bu. Ini saja sudah lebih dari cukup." jawab Umi Aisyah.


Bunda Callista duduk di sebelah Syaila lalu bertanya, "Ada apa datang kemari, Nak?"


"Maaf, Bu. Saya datang ingin meminta restu dari sampean untuk menikahi Humaira." ucap Ali tegas.


"Ish, Bunda!! Bunda aja yang jawab."


"Biasa Bun, ketar ketir." celetuk Sherly.


Syaila hanya membalasnya dengan tatapan tajam, image yang dijaga sudah di turunkan oleh sahabatnya sendiri.


"Dia meminang mu, Humey. Jadi kamu yang pantas menjawabnya."


"Em- Syaila mau, Bun."


"Alhamdulillah,"


"Kapan acara pernikahannya mau diselenggarakan, Nak?" tanya Bunda Callista.


"Tiga hari lagi, Bu." jawab Ali santai.

__ADS_1


"Apa!?" ucap Zero kaget.


"Zer, biasa aja kali. Lagian lu si, keduluan jadinya kan." ucap Vano.


"Sorry, gue kaget." ucap Zero tak enak hati.


"Itu tidak terlalu cepat, Nak? tidak mungkin bisa langsung apalagi banyak hal yang harus dipersiapkan." tanya. Bunda Callista.


"Semuanya sudah Saya siapkan, Bu. Sampean dan Syaila bisa langsung datang ke Bandung dan dijemput oleh saudara Saya." ucap Ali.


"Baiklah, kalau semua sudah dipersiapkan."


"Gel, siapin makanan yang kita masak tadi 5 menit sudah harus selesai." perintah Bunda Callista.


"Ih gue kan yang kena, Ga Maira ga Bunda sama, sama-sama bikin gue ling-lung sendirian." gerutu Anggel.


"Nasib lu ngenes, Gel." ejek Vano.


"Van! jangan mulai, kamu bantuin Anggel." perintah Bunda Callista.


"Wlee, kena juga lu."


Setelah perdebatan itu, semua duduk di meja makan untuk mengisi perut yang sendari tadi meminta diisi.


Teman-teman Syaila lebih memilih makan di bawah lesehan.


"Tiga hari lagi, Humaira! kamu akan menjadi milikku. Semoga Allah mempermudah semuanya."


"Ga mikir itu Ali gimana ini jantung, untung ga ada penyakit jantungan! kalau ada udah pingsan dari tadi. Semoga semuanya Allah permudah, Ayah ridhoi Maira mu menikah dengan pilihan Maira."



Kak Jihan said : Berniatlah untuk melakukan kebaikan, karena sesungguhnya engkau akan selalu ada dalam kebaikan selama mempunyai niat yang baik🤍.

__ADS_1


__ADS_2