
Satu Minggu telah berlalu, saat ini Syaila dan Ali sudah berada di Pondok Pesantren Al-Basyariyah karena di minta pulang oleh sang Umi.
Mentari pagi menyapa, banyak santri yang berlalu lalang di halaman pesantren, untuk menuju kelasnya masing-masing.
Syaila sedang berada di taman asrama putri, ia berada di pinggiran sungai yang begitu bersih airnya.
"Assalamu'alaikum, Ning. Maaf telat nggih soalnya Saya lagi ada di kelas." ujar Melinda yang baru saja datang menemui Syaila.
"Wa'alaikumussalam, duduk sini, Mel." titah Syaila.
Melinda duduk dan bertanya, "Ada perlu apa ya, Ning?"
"Ga perlu gugup, Mel, aku ga akan makan kamu kok hhe." gurau Syaila.
"Maaf, Ning. Saya belum terbiasa duduk berdua dengan keluarga Ndalem." jawab Melinda apa adanya.
"Gapapa santai aja, oh iya, bagaimana dengan tawaranku?" tanya Syaila.
"Tawaran? tawaran apa, Ning?" tanya Melinda berusaha mengingat tawaran apa yang pernah Syaila tawarkan.
"Kuliah."
"Maaf, Ning. Saya rasa tidak pantas Saya kuliah, dan kebetulan Saya akan langsung menikah setelah lulus."
"Kenapa tidak pantas? Kamu pantas Mel mendapatkan beasiswa itu, tak terlintas kah di fikiranmu untuk membahagiakan kedua orang tuamu terlebih dulu?"
"Keinginan itu ada, Ning. Tapi Saya juga tidak mau berharap, karena ekonomi Saya yang tidak memungkinkan, Ning."
"Boleh aku bertemu dengan kedua orang tuamu?"
"Silahkan saja, Ning."
"Baiklah, aku minta izin ke Mas Ali dulu. Kamu boleh kembali ke kelas, semangat ya ga ada kata ga pantas kalau kita mau berusaha."
__ADS_1
"Nggih, Ning. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
"Kamu pantas Mel menjadi Dokter hebat, aku akan mengusahakan yang terbaik untukmu."
***
Syaila kembali ke Ndalem, ia kaget karena ada perbincangan keluarga di ruang tamu, ia tak enak hati karena sudah mengganggu pembicaraan keluarga suaminya itu.
"Assalamu'alaikum." ucap Syaila.
"Wa'alaikumussalam." jawab semua orang yang ada di ruang tamu tersebut.
"Duduk sini, Sya." titah Umi Aisyah.
"Nggih, Umi." jawab Syaila langsung duduk di sebelah suaminya.
"Maryam ingin kuliah, Bi." jawab Maryam.
"Kenapa mendadak, Mar?" tanya Umi Aisyah.
"Maryam ingin menjadi seorang Dokter hebat, Umi." jawab Maryam.
"Sejak kapan berfikir ke situ, Kak?" sambung Ali.
"Ya aku ingin saja menjadi Dokter."
"Kak, kalau mau bisa kuliah di Universitas Bandung bidang kedokteran nanti aku yang daftarkan dan diusahakan menggunakan beasiswa." usul Syaila.
"..."
Hening tak ada jawaban dari Maryam.
__ADS_1
"Kak, sampai kapan kakak akan terus membenci istriku?" tanya Ali yang tak terima usulan Syaila tak dijawab oleh sang Kakak.
"Aku tidak sudi, Li! menerima pemberian istrimu." sarkas Maryam.
"Nak, sudahlah kenapa harus membenci Syaila?" ucap Abi Ibrahim.
"Dia yang mengambil Ali dariku, Bi! karena dia juga Ali melangkahi aku!" sentak Maryam kesal.
"Nak, tak ada gunanya kamu membenci Nak Syaila, apa untungnya untukmu? tidak ada bukan? lebih baik kalian menjalin hubungan yang baik antara adik dan kakak ipar. Kalau soal melangkahi kamu juga akan segera menikah kalau sudah menemukan calon suamimu dan ketika Allah sudah mempertemukan dirimu dengan calon yang sudah Allah persiapkan untukmu." nasihat Umi Aisyah.
"Iya, iya, Maryam akan mencoba memperbaiki hubungan Maryam dengan Syaila."
"Alhamdulillah, begitu lebih baik, Nak. Agar keluarga kita bisa lebih bahagia dan rukun." ujar Abi Ibrahim.
"Kak, bagaimana kalau Kakak kuliah di Kairo saja?" tanya Ali.
"Tapi, Li. Aku akan jauh dari Abi dan Umi."
"Nak, itulah konsekuensi dalam menimba Ilmu, tapi benar kata Ali disana kamu akan dibimbing menjadi wanita yang lebih Shalihah dan bimbingan menjadi istri yang taat kepada suaminya kelak, in syaa Allah." sambung Umi Aisyah.
"Emm, baiklah Umi." final Maryam.
"Alhamdulillah, minggu depan berangkat mau, Nak?" tanya Abi Ibrahim.
"Boleh, Abi."
"Maryam akan sangat merindukan panjenengan berdua." ucap Maryam lalu berhambur ke dalam pelukan kedua orang tuanya.
"Kami juga akan sangat merindukan putri kecil kami." jawab Umi Aisyah.
"Maryam sayang Abi dan Umi."
Rasanya indah sekali bisa memiliki keluarga yang begitu harmonis, rukun dan saling menyayangi. Banyak do'a yang tersemat agar bahagia dan suka cita selalu membersamai keluarga kecil Abdullah tersebut.
__ADS_1