
Malam telah berlalu dan Ali serta orangtuanya pun sudah pulang walau ditawari untuk menginap sehari di kediamannya, tapi Umi Aisyah menolak karena beliau ingin menyiapkan pernikahan Ali dan Syaila tinggal hitungan hari.
Pagi ini Syaila terburu-buru karena ada operasi mendadak yang membuatnya kelimpungan sendirian.
"Bundaaa, Maira berangkat dulu ya ada korban kecelakaan yang harus Mey sendiri tangani." ucap Syaila lalu mencium tangan juga pipi sang Bunda.
"Fi amanillah ya, Nak. Hati-hati!!" perintah sang Bunda.
"Iya, Bun. Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumussalam."
Syaila berlari menuju mobilnya yang sudah terparkir dan bisa langsung bergegas menuju rumah sakit.
15 menit berlalu, Syaila sampai di rumah sakit ISLAM FATIMAH. Sang Ayah lah yang memilihkan nama untuk rumah sakit pertama yang ia bangun satu setengah tahun lalu.
"Selamat pagi, Dokter Syaila. Silahkan pasien ada di IGD." ucap Resepsionis rumah sakit tersebut.
"Baik, Sus. Terimakasih."
Syaila bergegas menuju IGD, banyak suster yang berlalu lalang menyapanya tapi ia hanya membalas dengan senyuman karena keadaan sedang urgent.
Sesampainya di IGD, Syaila masuk dan disambut Anggel juga beberapa suster.
"Bagaimana pasiennya, Dok?" tanya Syaila. Syaila memang bersikap formal disaat berada di rumah sakit.
"Luka luarnya sudah Saya bersihkan, luka dalamnya masih belum terdeteksi, Dok. Kepalanya cukup parah mungkin dibutuhkan beberapa jahitan. Silahkan, Dok semua alat sudah disiapkan." jelas Anggel.
"Baiklah."
Syaila langsung memeriksa kepala pasiennya yang bergender perempuan. Anggel dengan sigap mendampingi dan mengusap setiap tetes keringat yang keluar dari wajah Syaila. Hingga 15 menit berlalu Syaila pun selesai menjahit kepala pasien tersebut.
"Alhamdulillah, lekas sembuh, Mbak." ucap Syaila.
__ADS_1
"Zero dimana, Gel?" tanya Syaila pada saat sudah keluar dari IGD.
"Di ruangan lo, Mey."
"Yuk, ikut."
"Selamat ya, Mey. Lusa lo akan mengubah status Lo menjadi seorang istri. Semoga semua berjalan lancar ya, gue do'ain yang terbaik untuk sahabat terbaik gue."
"Iya, makasih."
"Gimana perasaan lo? kaget ga di lamar sama seorang Gus?"
"Kaget lah, dan gue ga nyangka taqdir gue nikah secepat ini."
"Lalu bagaimana dengan, Zero?"
"Zero, kenapa?"
"Ngga, kenapa emangnya?"
"Jujur ya dia sebenernya nganggep lo lebih seorang adik."
"GEL!!! LO APAANSI!!" bentak Zero.
"Gausa ngebentak Anggel bisa ga, Zer?" ucap Syaila.
"Sorry gue kelepasan, dia si ngomong ngadi-ngadi lo gausah mikirin ucapan dia."
"Emang bener, Zer?"
"Eng-enggak kok, Anggel ngadi-ngadi!!"
"Pinter banget ya, owh iya Mey lo tadi nyariin si Zero itu udah ada gue pergi dulu."
__ADS_1
"Oke,"
"Zer, lo cari tau latar belakang perempuan yang kecelakaan tadi. Kalau emang dari keluarga yang kurang mampu yaudah ga perlu bayar seperti biasa."
"Siap, Sya."
"Lo juga ikut lusa, tolong jagain Bunda ya."
"Ga perlu lo minta gue pasti jagain Bunda."
"Yayaya, gue percaya sama lo."
"Harus dongg!!!"
"Btw selamat ya bisa buat seorang Gus kepincut sama seorang Dokter sekaligus ketua Genk Motor ternama di Banyuwangi."
"Hehe thanks, lo juga harus cepetan nyusul gue. Semoga lo bisa dapetin wanita shalihah yang bisa sabar ngehadapin sikap lo yang brengsek."
"Lo mulai deh,"
"Yaudah gue pergi dulu ya, jangan lupa tugas dari gue!!"
"Siap, Ibu Negara."
Mendengar jawaban dari Zero, Syaila langsung melangkah pergi.
"Semoga lo bahagia dengan pilihan lo, Sya. Gue akan tetep ngawasin lo dari jauh gue akan tetep jaga adik kesayangan gue dan semoga Ali adalah laki-laki yang tepat buat jadi imam lo di dunia dan di Syurga-Nya." batin Zero.
***Sebagai pemanis saja hhe🤍.
SEE YOU NEXT PARTT 🤗***
__ADS_1