
Suasana subuh di Pondok Pesantren Al-Basyariyah sungguh ramai akan lalu lalang santri yang sedang mendekor lapangan pondok untuk acara pernikahan Gus kesayangan mereka.
Setelah shalat subuh semua santri langsung bergerak, santri perempuan mendekor Musholla tengah yang didirikan paling megah untuk shalat Jum'at terutama. Sedangkan santri putra mendekor halamannya juga menyajikan sound system.
Jam tujuh semua sudah disulap menjadi sebuah pelaminan yang indah dengan warna putih dengan hijau.
Ali sudah siap dengan stylenya yang dipilih oleh Syaila. Ia sudah duduk di pelaminan beserta keluarga besar dan para tamu undangan juga sudah berdatangan.
Syaila masih berada di asrama putri, menunggu ijab selesai baru ia akan keluar untuk menemui sang suami.
Acara pun dimulai oleh Ustadz Albana.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh. Bapak-bapak, lbu-lbu, saudara-saudara sekalian dan hadirin yang kami muliakan, puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wata'ala atas berkat limpahan rahmat serta kasih sayang-Nya kepada kita sekalian, sehingga kita bisa bersama-sama pada kesempatan kali ini dapat menghadiri sekaligus menyaksikan resepsi pernikahan Gus Sulaiman Ali Abdullah dengan Ning Syaila Humaira Az-zahra."
"Bapak-bapak, Ibu-ibu dan hadirin yang berbahagia. Selanjutnya marilah kita memanjatkan salawat dan salam kepada junjungan Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa umat manusia dari jurang kesesatan menuju ke jalan yang lurus, jalan yang diridhoi Allah Subhanahu wata'ala. Hadirin yang berbahagia. Selanjutnya kami atas nama keluarga mempelai berdua menghaturkan banyak terima kasih atas kerawuhan Bapak-bapak, Ibu-ibu dan hadirin guna memenuhi undangan mempelai berdua. Semoga amal baik Bapak, lbu dan hadirin sekalian mendapatkan pahala dari Allah Subhanahu wata'ala, Aamiin. Mari kita semua membaca basmalah untuk memulai acara sakral ini."
"Bismillahirrahmanirrahim."
"Selanjutnya marilah kita ikuti bersama bacaan wahyu llahi dengan khusyu', yang akan dibawakan oleh saudara Faisal, kepada saudara kami persilahkan."
Faisal membaca Al-Qur'an surah An-Nisa, beliau membaca dengan sangat khusyu' dan membuat semua orang terpana dengan suara merdunya.
Setelah lima belas menit berlalu Faisal selesai membacakan Wahyu ilahi tersebut.
"Demikianlah pembacaan wahyu llahi telah selesai. Semoga bermanfaat bagi kita semua khususnya kepada mempelai berdua. Hadirin yang kami hormati, selanjutnya menginjak puncak acara yaitu Akad Nikah, bagaimana Pak Penghulu sudah siap?"
"In syaa Allah, Siap Ustadz Albana." jawab Pak Penghulu.
"Baiklah, silahkan."
"Gus jabat tangan Saya, Nggih." perintah Pak Penghulu.
Syarat Sah Ijab Kabul
Meski bisa dilakukan dalam berbagai bahasa, terdapat 3 syarat yang harus dipenuhi oleh lafal ijab.
Adanya pengucapan "aku nikahkan" atau "kami nikahkan" sebagai ketetapan. Dan bisa digunakan dengan bahasa lainnya.
Menyebutkan nama calon suami dan istri. Sebutan pun bisa menggunakan kata ganti ataupun menyebutkan nama keduanya.
Syarat dalam melafalkan ijab selanjutnya adalah menyebutkan mahar yang diberikan.
Setelah Ali menjabat tangan Pak Penghulu, Pak Penghulu pun mengucapkan kalimat ijab yang berbunyi, "Saya nikahkan dan saya kawinkan sampean ananda Sulaiman Ali Abdullah bin Ibrahim Abdullah dengan Syaila Humaira Az-zahra dengan mas kawin berupa emas seberat 15 gram,tunai."
Ali pun menjawab dengan lantang nan tegas, "Saya terima nikahnya dan kawinnya Syaila Humaira Az-zahra binti Alm. Ashraf Muhammad dengan mas kawin tersebut, tunai."
"Bagaimana para saksi, Sah?"
"Sah!! Sahh!!"
"Alhamdulillah."
"Barakallahu laka wa jama’a bainakuma fî khairin."
"Alhamdulillah, aku halal untukmu sekarang, Mas. Rasanya takdir ini adalah takdir terindah untukku, semoga kita bisa membangun bahtera sehidup-sesyurga."
"Baiklah, Ning Maryam bisa langsung menjemput sang adik ipar." ucap Ustadz Albana.
"Kenapa harus Saya coba!!!"
"Baiklah sembari menunggu silahkan Gus bisa menandatangani terlebih dulu buku nikahnya."
"Semoga pernikahan sakinah mawadah dan warahmah, Nggih Gus."
"Humaira, akhirnya kita bersatu. Semoga kamu bisa menjadi tulang rusukku nanti di Syurga-Nya."
Tak sampai lima menit Syaila dan Maryam hadir di tengah pelaminan yang menjadi pusat perhatian banyak tamu undangan.
"MasyaAllah, Ning Syaila sudah memasuki pelaminan. Diharapkan Gus Ali berdiri dan menyambut kehadiran sang istri."
"Terimakasih, Ning Maryam."
"Baiklah Gus, sekarang prosesi tukar cincin."
Ali pun mendekat kepada Syaila, menggengam tangannya lalu mengambil cincin yang diberikan oleh Zerikly kemudian memasangkannya di jari manis Syaila. Syaila dengan gugup mengalimi tangan suaminya untuk pertama kali.
Syaila juga memasangkan cincin kepada Ali. Ali langsung mencium pucuk kepala sang istri.
"MasyaAllah, baiklah silahkan panjenengan berdua menuju meja akad untuk Ning Syaila menandatangani buku nikah."
__ADS_1
Sesuai instruksi Syaila dan Ali langsung melangkah menuju meja akad. Setelah sampai Ali menarik kursi dan membantu Syaila duduk.
"Baiklah sembari menunggu pengantin kita bisa mendengar wejangan pernikahan dari Al-Ustadz Ismail, waktu dan tempat Saya haturkan."
**Nasihat Pernikahan
Pernikahan adalah salah satu sunnah Rasulullah Muhammad SAW.
Pernikahan adalah sunnahku. Barang siapa yang megikuti sunnahku berarti bagian dari umatku
Demikian terjemahan hadis yang sering didengar terkait pernikahan.
Ternyata tak sedikit yang belum mempunyai pasangan dan masih bingung menentukan pilihan.
RasulullahShallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.
“Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian berkemampuan untuk menikah, maka menikahlah, karena nikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi farji (********). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia shaum (puasa), karena shaum itu dapat membentengi dirinya.” (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan lainnya).
sasaran utama dari disyari’atkannya pernikahan dalam Islam adalah untuk membentengi martabat manusia. Karenanya, laki-laki dan perempuan harus hidup berpasangan.
"Pernikahan melindungi manusia dari perbuatan kotor dan keji, yang dapat merendahkan dan merusak martabat manusia yang luhur,"
5 nasihat pernikahan yang menjadi benteng rumah tangga.
Jodoh
Urusan jodoh adalah misteri bagi setiap manusia. Ada yang berjodoh setelah bertemu atau baru saja bertemu langsung berjodoh. Yakinlah bahwa semua itu adalah skenario dari kehendak Allah SWT.
Semua itu harus diimbangi dengan berikhtiar dan selalu berusaha agar selalu dilancarkan segala sesuatu yang sedang kita kerjakan
Perempuan bahagia
Perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Maka untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan di akhirat, maka kita harus menyayangi pasangan. Berikan mereka kasih sayang, jangan sampai laki-laki menyakiti perasaan di hatinya.
Bagi siapapun yang sudah menikah, maka sebenarnya ia sudah menyempurnakan sebagian dari imannya. Orang yang sudah menikah ibaratnya sudah mendownload 50% imannya. Bagaimana kita menyempurnakannya sampai 100%? Sisanya bisa kita perbanyak dengan ketaqwaan kita kepada Allah SWT.
Tanggung jawab pernikahan
Sebelum menjalani kehidupan rumah tangga, kita masih memikirkan sholat kita saja. Namun setelah kita menikah maka ada beban tanggung jawab yang akan kita emban. Ada tanggung jawab kepada istri dan juga anak.
Setelah berkeluarga, maka usahakan untuk menjadi seorang imam yang baik bagi keluargamu.
5.Syahwat
Nikah dalam Islam bukan hanya memuaskan hasrat syahwat saja. Namun ada yang lebih daripada itu, ada amal yang akan terus mengalir.
Orang yang sebelumnya rajin menjalankan sholat dhuha akan terhenti setelah meninggal, yang rajin berdzikir akan stop setelah meninggal. Namun, setelah menikah akan ada doa-doa itu akan terus mengalir dari anak-anak yang sholeh. Maka berdoalah agar saat berkeluarga nanti, mendapatkan anak yang sholeh dan sholehah.
Ayat tentang pernikahan (Banyak sebenarnya Saya hanya menyebutkan satu)
نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dan dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman. – (Q.S Al-Baqarah: 223)
Pernikahan Sangat Sakral
Islam memandang bahwa pernikahan merupakan sesuatu yang luhur dan sakral, bernilai ibadah kepada Allah, mengikuti sunnah Rasulullah SAW dan dilaksanakan atas dasar keikhlasan, tanggung jawab, dan mengikuti ketentuan-ketentuan hukum yang harus diindahkan.
Untuk itu, dibutuhkan nasehat pernikahan untuk penganti baru.
Apabila segala sesuatu ketika dimengerti dan difahami maka kita akan bisa bersikap dengan baik dan benar.
__ADS_1
Banyak contoh dalam rumah-tangga sebab tujuannya kurang benar, apalagi disertai kurangnya pemahaman tentang hakikat manusia dengan macam-macam karakternya, maka ketika ada problem dalam rumah tangga akhirnya mengalami kehancuran (perceraian).
Menata Niat
Kuncinya di awal adalah niat ibadah, selain itu, tidak ada lagi. Dan yang paling penting kita wajib tahu bahwa sisi dari diri kita adalah manusia. Sadar betul, bahwa pasangan kita ini adalah manusia –dengan segala kekuranganya–, bukan malaikat.
Memahami Perbedaan Karakter Laki-laki dan Perempuan
Mengutip pendapat keterangan dokter, bahwa tipe laki-laki dan perempuan itu berbeda, khusus karakternya. Mereka diciptakan dari konstruknya saja berbeda, misalnya otaknya. Laki-laki, otaknya seakan seperti berada dalam kompartemen-kompartemen atau ruang-ruang, sehingga ketika konsentrasi dalam satu hal maka ia sulit untuk berpikir ke hal yang lain.
Berbeda dengan perempuan, ia bebas memikirkan perkara yang lain, tanpa ada kompartemen itu. Korpus kalosum masa yang ada di garis tengah yang menghubungkan antara otak kanan-kiri manusia, laki-laki dengan perempuan itu berbeda.
Perempuan, korpus kalosumnya mengandung 200-250 juta serabut urat lebih tebal 30% dibanding laki-laki yang menyambungkan serabut otak kanan dan kiri, maka ketika laki-laki konsentrasi dalam satu hal ia tidak bisa diganggu gugat.
Seperti dicontohkan Ibunyai Lutjeng Luthfiyah, bahwa ketika memanggil suami tercintanya (KH. M. Nashrullah Baqier Adelan) yang sedang sibuk memperbaiki sepeda motor. Nyai Luthjeng pertama mulai memanggil dengan nada halus (pelan-pelan) penuh rasa cinta.
“Buya, dahar riyen (makan dulu)!” Suaminya tidak mendengarnya.
Kedua kali, sedikit dengan nada agak lebih tinggi, “Buyaa, dahar riyen (makan dulu)!” Suaminya masih tetap tidak mendengar. Dan yang ketiga kalinya dengan nada lebih keras sembari teriak, “Buyaaa, dahar riyen (makan dulu)!” Akhirnya sang suami pun mendengar.
Jika dalam rumah tangga tidak didasari suatu pemahaman antara suami-istri, khawatir ketika seorang perempuan tidak sabar dengan karakter laki-laki semacam itu, maka istri akan cenderung suka ngomel-ngomel.
Maka, atas dasar diciptakannya perbedaan laki-laki dan perempuan tersebut, begitu juga korpus kalosumnya perempuan 30% lebih tebal dibanding laki-laki. Oleh karena itu, perempuan dapat merangkap segala kerjaan atau kegiatan.
Misalnya, ketika seorang istri sedang memasak dengan dua kompor gas sekaligus, masing-masing isi tungku ada 2, berarti jumlahnya 4 tungku. Tungku pertama digunakan untuk masak nasi, tungku kedua dipakai masak sayur, tungku ketiga dipakai goreng ikan, dan tungku keempat dipakai goreng bumbu sambal.
Dengan mengerjakan ke empat tungku tersebut, seorang istri masih bisa memperhatikan atau mengawasi anaknya yang sedang bermain. Bahkan, seorang istri juga masih sanggup menerima telefon meskipun ia sedang memasak.
Sementara kemampuan otak bicara laki-laki hanya di otak bagian kiri, sedangkan kemampuan otak bicara perempuan ada di sebelah kiri juga sebelah kanan bagian depan. Maka, kemampuan bicara laki-laki dalam sehari, katanya, yang pandai bicara atau cerewet hanya 7000, yang tidak cerewet hanya 5000.
Berbeda dengan perempuan, yang cerewet 20.000 sedangkan yang tidak cerewet 16.000. Jauh sekali, bukan? Maka dengan demikian, cerewetnya perempuan adalah anugerah. Perempuan tidak ingin dimaklumi, tetapi dari perkara itu semua laki-laki harus dapat mengambil hikmahnya. Dalam QS. Ali ‘Imran [3]: 191 dijelaskan:
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا
“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia.”
Semua ada tujuan dan hikmahnya, termasuk sifat cerewetnya perempuan. Begitu juga keadaan laki-laki yang seperti itu adalah ujian, juga perempuan yang cerewet seperti demikian juga sebagai ujian. Maka ujian yang lulus adalah cerewet yang membangun, bukan cerewet yang mujair.
Apa itu cerewet mujair? Suami yang rajin memberi nafkah tetap saja perempuan menuntut yang lebih dengan mengukur atau membanding-bandingkan dengan kondisi tetangga yang lebih mampu memberikan yang lebih banyak.
Laki-laki harus Bekerja
Sebagai laki-laki (suami) maka bekerjalah. Alasan kenapa laki-laki harus bekerja? Bekerja adalah pelampiasan rasa syukur atas karunia Allah. Dalam QS. Al-Naba’ [34]: 13 disebutkan;
اعْمَلُوا آلَ دَاوُدَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-ku yang berterima kasih.”
Membangun Sikap Saling Menghargai
Paling penting, yang perlu difahami dan dilakukan bahwasa hidup dengan orang lain adalah dapat menjaga diri yaitu sikap toleransi (akhlaq); baik dengan suami atau istri, mertua, kakak-adik ipar, tetangga, dan lain sebagainya yang jelas-jelas memiliki karakter berbeda-beda.
Maka, hal ini harus bisa dilakukan oleh semua pihak untuk menjaga toleransi, bukan hanya dilakukan oleh pengantin (menantu) saja. Ketika seorang tidak dapat menjaga toleransi ini maka ibarat bumi yang lebar terasa sempit. Seperti dalam lirik yang dibawakan oleh Nisa Sabyan dengan judul Deen Assalam;
كَلَّ هَذِى الاَرْضِ مَاتَكْفِيْ مَسَاحَةْ ¤ لَوْ نَعِيْشِ بِلَاسَمَاحَةْ
وَانْ تَعَا يَشْنَا بِحَبْ ¤ لَوْ تَضِيْقِ الاَرْضِ نَسْكَنْ كَلَّ قَلْب.
اَبْتَحِيَةْ وَبْسَلَامْ ¤ اَنْشُرُوْا اَحْلَى الْكَلَامْزَيْنُوْا الدِّنْيَا حْتِرَامْ
اَبْمَحَبَّةْ وَابْتِسَامْ ¤ ااَنْشُرُوْا بَيْنِ الاَنَامْهَذَا هُوْا ديْنَ السَّلَامْ
Maksudnya, bumi ini tidak cukup luas, andai kita hidup tanpa toleransi. Padahal, andai kita hidup dengan toleransi (perasaan cinta), yakni saling menghargai tidak peduli tua dan muda. Meski bumi sempit, maka hidup kita akan terasa luas. Jika buminya luas, tapi kita hidup tidak dipenuhi dengan akhlaq yang baik, maka bumi (rumah) yang luas (megah) itu seperti kita hidup di atas bara api. Sebaliknya, jika kita hidup dipenuhi dengan cinta kasih, menghormat orang lain, walaupun rumah sesempit apapun maka rasanya nikmat, atau seakan bumi luas.
Saling Berbicara dengan Bahasa yang Halus dan Santun
Setiap kali berbicara maka ucapkanlah yang baik. Bagi seorang istri diharapkan berbahasa “jawa-krama” yang halus terhadap suaminya. Sebab, hormatnya seorang istri terhadap suami akan tetap terjaga. Andaikata cekcok mulut antara suami-istri, maka akan dipastikan sulit mencari bahasa yang kasar ketika mamakai bahasa “jawa-krama” (bagi orang jawa). Kenapa perlu berbahasa yang sopan terhadap suami? Syukur-syukur suami juga berbahasa halus dan sopan juga terhadap istrinya.
Dengan demikian, dapat dipastikan anaknya pun akan terbiasa menggunakan bahasa yang halus dan sopan, serta lebih hormat kepada orang-tuanya. Jika hal ini diterapkan dalam suatu keluarga, baik istri terhadap suami, sebaliknya, suami terhadap istri sama-sama saling menghormati. Maka, hadzahu din assalam ‘inilah agama perdamaian’. Selain itu, Suami-istri harus menanamkan rasa cinta dan senyuman.
Hirarki Penghormatan antara Suami-Istri
Terakhir, dalam aturan agama. Hirarki penghormatan dan ketaatan laki-laki dan perempuan itu berbeda. Bagi perempuan, ketika masih dalam asuhan orang-tuanya, kewajiban taat dan hormatnya kepada orang tua (setelah Allah dan rasul-Nya).
Tetapi, ketika perempuan sudah menikah, ia harus mendahulukan ketaatannya kepada suami; baru kemudian orang-tuanya. Tapi beda dengan laki-laki, meskipun sudah menikah, pertama yang tetap dihormati dan ditaati adalah orang tuanya sendiri, terutama ibu (setelah Allah dan rasul-Nya).
Dengan demikian, orang-tua yang bijak harus bisa mengajarkan hal ini (mendahulukan suami daripada orang-tua) kepada putrinya, terutama ketika putrinya telah menikah.
Wallahu a’lam.
SUMBER : GOOGLE
SEEE YOU NEXT PARTT 🤗😘
__ADS_1