KISAH CINTA DOKTER SYAILA

KISAH CINTA DOKTER SYAILA
Berkunjung Ke Rumah Melinda


__ADS_3

Pagi kembali menyapa, hari ini adalah hari Jum'at dimana para santriwan dan santriwati sibuk membersihkan asrama dan halaman pondok bergotong royong.


Syaila dan Ali ikut membantu dan mengontrol para santri.


"Mas aku ingin melihatmu menyapu." pinta Syaila.


"Maira? harus?" tanya Ali, ia tidak pernah menyapu hanya pernah membereskan tempat-tempat yang berantakan.


"Iya, Mas. Coba yuk kasian itu para santriwan kelelahan." bujuk Syaila.


"Baiklah," pasrah Ali.


"Yasudah gih sana, aku mau bertemu dengan Melinda dulu, assalamu'alaikum." pamit Syaila tak lupa mencium punggung tangan Ali.


"Puas sekali aku Mas, bisa mengerjaimu hhe."


"Mel!" panggil Syaila yang melihat Melinda tak jauh darinya."


"Assalamu'alaikum, Ning." ucap Melinda menghampiri Syaila.


"Wa'alaikumussalam, Mel ke rumahmu yuk?" tanya Syaila.


"Eh, ndak, Ning. Ini kan waktunya bersih-bersih bukan pulang." tolak halus Melinda.


"Aku yang mengizinkanmu, yukk aku ingin melihat pedesaan disini." bujuk Syaila.


"Tidak, Ning."


"Kamu berani menolakku?"


"Tidak, Ning."


"Yasudah, sebentar saja tidak sampai Dzuhur."

__ADS_1


"Serius ya, Ning."


"Dua rius Melinda."


Syaila dan Melinda berangkat menuju rumah Melinda juga sudah izin ke penjaga ponpes, keduanya diizinkan karena Syaila yang meminta izin yang tidak lain tidak bukan adalah istri dari Gus Ali.


***


Sesampainya di rumah Melinda, Syaila begitu gembira karena bisa menikmati indahnya pedesaan juga bisa bertemu langsung dengan Ibu, Ayah dan adik dari Melinda.


"Assalamu'alaikum, Bu." salam Melinda.


"Wa'alaikumussalam, tunggu!" teriakan dari dalam membuat Melinda bersyukur karena sang Ibu berada di rumah.


"Eh, Mel? MasyaAllah kamu pulang, Nak? kenapa tidak mengabari Ibu dulu?" tanya Ibu Ila, ibu dari Melinda.


"Nggih, Bu. Maaf ini mendadak karena Ning Syaila Istri dari Gus Ali ingin bertemu dengan sampean dan semua, Bu." jelas Melinda.


"Nggih, Bu." sahut Syaila.


"Perkenalkan Saya Syaila, senang bertemu dengan sampean." lanjut Syaila kemudian mencium punggung tangan ibu Ila.


"Eh, Nggih Ning, Ibu juga senang bertemu dengan istri Gus Ali." ucap Bu Ila.


"Bu, kami tidak di ajak masuk?" celetuk Melinda.


"Owallah, maaf Ibu lupa. Silahkan masuk, Ning, Mel."


Setelah berada di ruang tamu Bu Ila berkata, "Maaf Nggih Ning tempatnya kurang nyaman." ucap Bu Ila tak enak hati.


"Ngga, Bu. Ini nyaman, Ibu tidak perlu o


merasa sungkan." jawab Syaila.

__ADS_1


"Bu, Melinda ke dapur dulu bentar." pamit Melinda.


"Iya, Mel."


"Ning Syaila ada perlu apa datang ke mari?"


"Maaf Bu sebelumnya, Saya to the point saja Nggih. Kedatangan Saya kemari hanya ingin meminta izin serta restu kepada panjengan sekeluarga untuk membawa Melinda ke Bandung setelah lulus dari Pondok, dan kalau panjenengan sekeluarga ingin ikut bisa tinggal bersama Bunda Saya."


"Untuk apa ke Bandung, Ning?"


"Menurut Saya, Melinda memiliki potensi yang pantas di kembangkan, Bu. Dan maaf tidak bermaksud menyinggung, Ibu sekeluarga tidak perlu memikirkan biaya karena sudah ditanggung oleh Saya dan Mas Ali, Bu."


"Ning tidak perlu, Saya tidak mau merepotkan Ning dan Gus Ali."


"Tidak merepotkan, Bu. Malah Saya yang membutuh Melinda."


"Membutuhkan untuk apa, Ning?"


"Nanti setelah lulus S1 Melinda bisa langsung bekerja di Rumah Sakit Islam Fatimah milik Ayah Saya."


"Saya bicarakan dengan Bapaknya Melinda dulu, Ning. Karena beliau yang berhak memberi keputusan."


"Nggih, Bu. Saya dan Mas Ali menunggu kabar baik dari panjenengan sekeluarga."


"Nggih, Ning."


"Maaf, Bu, Ning. Silahkan diminum teh dan camilannya, maaf sederhana, Ning."


"Tak apa, Mel."


Ketiganya larut dalam candaan dan obrolan singkat, membuat Syaila lupa waktu hingga sore ia berada di rumah Melinda.


Keduanya langsung pamit dan kembali ke pondok agar tak dimarahi oleh pihak pondok karena terlalu lama keluar pondok.

__ADS_1


__ADS_2