
Setelah usai berkumpul keluarga Syaila dan Ali berangkat menuju cafe yang di bangun Ali pada 2021 silam yang sekarang memiliki beberapa cabang di Indonesia.
Syaila dan Ali datang menghebohkan semua orang yang sedang singgah disana.
"Selamat datang Pak Ali." sambut Manager cafe tersebut yang bernama Zyan.
"Iya, Zy. Bagaimana cafe aman?" tanya Ali.
"Alhamdulillah aman, Pak." jawab Zyan.
"Alhamdulillah, oh iya perkenalkan ini Syaila istri Saya." ucap Ali memperkenalkan Syaila istrinya.
"MasyaAllah, kapan menikah, Pak? Salam kenal Bu Syaila, Saya Zyan Manager cafe ini." ucap Zyan memperkenalkan diri sekaligus bertanya.
"Syaila menangkupkan kedua tangan di depan dada lalu menjawab, "Salam kenal, Pak."
"Panggil Zyan saja, Bu." ucap Zyan merasa tak enak di panggil dengan embel-embel 'Pak'
"Kami menikah sepuluh hari yang lalu, Zy. Yasudah Saya ke ruangan dulu, jangan lupa periksa di dapur dan sambut tamu dengan ramah." perintah Ali.
"Siap, Pak."
Ali mengangguk kemudian berlalu mengajak Syaila menuju ruangannya karena banyak berkas yang harus ia cek kembali.
"Cafe mu bagus, Mas." puji Syaila.
"Terimakasih, sayang."
"Kembali kasih, Mas."
"Oh, iya kamu mau makan atau minum apa?" tanya Ali.
"Emm, jus alpukat saja tidak perlu makan aku masih kenyang." ucap Syaila tak enak hati.
"Em baiklah, silahkan masuk. Aku buatkan dulu ya." pamit Ali.
"Iya."
Syaila masuk ke dalam ruangan kerja Ali melihat-lihat rak buku yang ada di dekat jendela.
"Bukunya bagus-bagus, Mas Ali mungkin suka membaca." monolog Syaila.
"Eh ini buku apa?" tanya Syaila pada dirinya sendiri melihat buku yang seperti buku catatan.
"Lancang ga ya kalau aku buka?"
"Buka ajalah Syil, liat depannya aja hhe. Izin ya Mas Ali." lanjutnya.
Syaila langsung membuka buku itu, dan dikagetkan dengan adanya foto perempuan cantik menggunakan cadar yang membuat pikiran Syaila melayang kemana-mana.
"Mas ini siapa?" tanya Syaila tanpa diminta deraian air mata itu jatuh dengan sendiri.
"Ini ada pesannya coba di baca dulu, Syil." perintahnya kepada diri sendiri.
Dear, Zira Salsabila..
__ADS_1
Berat rasanya aku harus melepaskanmu pergi
Walau itu untuk kebaikanmu dalam menimba ilmu..
Tapi rasanya aku tak rela kamu pergi dari sisiku..
Kebersamaan kita selama beberapa tahun terakhir ini sangat bermakna untuk Alimu ini..
Cepatlah kembali aku menunggumu disini dan in syaa Allah aku akan Mengkhitbah mu setelah kembali dari Kairo..
Semoga kamu bisa menjadi wanita yang lebih baik sepulang dari Kairo, Zira..
From : Sulaiman Ali Abdullah
*Deggg..
"Mas, siapa Zira ini*?" batin Syaila.
Syaila langsung meletakkan buku itu kembali ke tempat semula lalu melangkah ke jendela.
"Ya Allah, apa ini? aku sudah mulai mencintaimu, Mas. Tapi kenapa aku harus mengetahui fakta bahwa kamu menunggu perempuan pujaanmu itu?"
"Maira, ini jusnya." ucap Ali yang baru memasuki ruangannya.
Lekas-lekas Syaila menghapus bulir bening yang terus turun tanpa henti.
"Pemandangannya indah ya, Mas." ucap Syaila yang enggan menatap Ali.
"Suka?"
"Sangat!"
"Eh iya, Mas. Aku harus pergi ada janji mau bertemu Melinda."
"Tapi aku ada berkas yang harus diisi, kamu pulang diantar Zyan saja ya?"
"Tidak perlu, aku naik taksi saja. Assalamu'alaikum."
Syaila bergegas mengambil tasnya dan mencium punggung tangan Ali kemudian langsung keluar tanpa mendengarkan Ali.
"Wa'alaikumussalam, ada apa denganmu, Mai?" tanya Ali.
***
"Aku kecewa, Mas! sangat!"
Batinnya terus berkata kecewa tapi lisannya enggan untuk bertanya dan mendengarkan penjelasan Ali.
"Sudah mau pulang, Bu?" sapa Zyan.
"Eh, astagfirullah. Iya, Zyan." jawab Syaila.
"Hati-hati, Bu."
"Iya, terimakasih. Assalamu'alaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam."
Syaila memberhentikan taksi yang sedang menuju ke arahnya setelah berhenti ia masuk menyuruh pak supir jalan tanpa tujuan.
"Cintamu tulus apa tidak untukku, Mas?"
Beberapa menit berlalu Syaila belum memberikan alamat yang ingin dia tuju, membuat pak supir kesal lalu bertanya.
"Mbak ini mau kemana?" tanya pak supir.
"Ke Pesantren Al-Basyariyah, Pak."
Drttt drttt
Handphone berlogo iPhone milik Syaila berdering membuat sang empu kaget dan langsung melihat.
"Bunda?"
"Assalamu'alaikum, Bun? kangen Mey ya?" canda Syaila.
"Wa'alaikumussalam, apa kabar, Nak? Iya Bunda sangat merindukan mu kapan kamu berkunjung kesini?" baru membuka suara Bunda Callista mencecar banyak pertanyaan kepada Syaila.
"Astagfirullah, Bun. Kalau nanya satu-satu Mey bingung jawabnya." gerutu Syaila.
"Iya, Maaf. Apa kabar cantiknya, Bunda?"
"Kabar Humey baik, Bunda sendiri gimana?"
"Alhamdulillah, Baik. Keluargamu disana apa kabar?"
"Alhamdulillah, baik juga, Bun."
"Kapan kamu berkunjung ke Bandung, Nak?"
"Emm, mungkin masih nunggu Kak Maryam berangkat ke Kairo dulu, Bun. Baru nanti Mey kesana."
"Maryam mau ke Kairo, kapan?"
"In syaa Allah minggu depan, Bun."
"MasyaAllah, semoga dipermudah dan di pertemukan dengan jodohnya hehe."
"Aamiin, Zero dan Anggel menjaga Bunda kan?"
"Iya, Nak kamu tenang saja mereka selalu berada di samping Bunda dan menjaga Bunda."
"Alhamdulillah, kalau lalai bilang Humey aja nanti tak potong gajinya hehe dan kalau Anggel lalai juga nanti Mey nikahin dia sama Vano."
"Nak, kamu jahil sekali. Mereka tidak kekurangan Nak hanya saja mereka menyayangimu karena itu mereka mau menjadi tangan kananmu."
"Bercanda, Bun. Eh sudah dulu ya Bun ini Mey sudah sampai di Pondok ga enak, nanti Mey telfon lagi, Assalamu'alaikum. Bunda jaga kesehatan jangan telat makan."
"Iya, Nak. Wa'alaikumussalam."
Sambungan telepon terputus, dengan hadirnya Bunda Callista tadi membuat Syaila tak begitu larut dalam kesedihan mengetahui Ali sedang menunggu sosok wanita bercadar yang bernama Zira itu.
__ADS_1
**Semoga kalian bisa ya lewatin ini Syaila-Aliπ€π€.
SEE YOU NEXT PARTT ππ**