
Sedangkan di Pondok Pesantren Al-Basyariyah, banyak santri berlalu lalang dengan kegiatan masing-masing.
Ali tengah berada di ruang keluarga. Disana ada Abi Ibrahim, Umi Aisyah, Ning Maryam dan Mbak juga Akang ndalem.
"Abi, Umi. Ali sudah menemukan pilihan Ali untuk diajak mengarungi bahtera rumah tangga bersama hingga ke Jannah-Nya. Ali mohon ridhoi dan restui, Ali dan dia untuk menuju ke jenjang pernikahan." ucap Ali memulai pembicaraan.
"MasyaAllah! siapa perempuan yang bisa membuatmu jatuh hati, Nak?" tanya Abi Ibrahim.
"Dia dari Banyuwangi, Bi. Asmanya Syaila Humaira Az-zahra."
"Seriusan kamu, Li!? Dokter Syaila yang terkenal buruk di kalangan masyarakat hampir seluruh Indonesia!?" bentak Maryam.
"Sabar, Nak. Adikmu sudah memilih dan pasti Ali memiliki alasan tersendiri memilih Dokter Syaila, dan orang-orang hanya menilai dari luarnya saja tanpa melihat dalamnya." nasihat Umi Aisyah.
"Tapi, Umi! Ali sudah melangkahi aku! dan parahnya dia memilih SYAILA!! lalu mau ditaruh dimana pesantren besar kita ini!?" seolah tak ingat siapa yang disentak oleh Maryam ia sangat menekan kata-katanya saat menyebut nama Syaila.
"Maryam! dimana sopan santunmu? yang kamu bentak dari tadi Umimu yang melahirkan dirimu, mengajarkan hal-hal baik untukmu sendari kecil! tolong hormati!!" bentak Abi Ibrahim.
"Sudah, Bi. Tak apa, mungkin Maryam shock saja." ucap Umi Aisyah menenangkan Abi Ibrahim.
"Aku tidak setuju!!" sarkas Maryam lalu pergi dari ruang tamu tersebut.
"Li, apa alasanmu, Nak?" tanya Umi Aisyah lembut.
"Tak perlu ada alasan, Umi. Ali sudah Istiharah dan semoga Allah juga meridhoi Ali membangun rumah tangga bersama Syaila." jawab Ali.
"Baiklah. Abi dan Umi akan merestuimu, kapan kita akan datang ke rumahnya? ucap Abi Ibrahim.
"Besok, Bi maaf mendadak."
"Baiklah, kita hanya bertiga datang ke Banyuwangi. Biarkan Maryam tenang terlebih dahulu." putus Abi Ibrahim.
"Terimakasih. Abi, Umi."
__ADS_1
"Sama-sama, Nak. Semoga dipermudah, Nggih." jawab Umi Aisyah.
*****
Dua hari berlalu, Ali dan kedua orangtuanya sudah sampai di Banyuwangi tengah menempuh perjalanan menuju rumah Syaila.
"Bismillah, Humaira kita akan kembali bertemu dan in syaa Allah pertemuan ketiga kita di atas pelaminan."
Sedangkan di rumah Syaila, semua temannya datang berkunjung untuk melihat Bunda Callista. Semuanya dikagetkan dengan penampilan Syaila yang berubah berhijab.
"Bunda, buat brownis dan pudding." ucap Bunda dari arah dapur.
"Wih, makanan nih. Yuk makan, Gel." ajak Vano tanpa sadar.
"Ciee, ngajakin Anggel. Ke kita lupa." ejek Sherly.
"Apaansi! gue salah sebut nama!" kilah Vano.
"Bilang aja lo suka ke gue, gengsinya selangit." cibir Anggel.
"Dih, ogah! di luar sana masih banyak wanita yang lebih baik dari dia! cih, dia wanita apaan bukan selera gue." ucap Vano.
*Deggg
"Ngapa nyesek banget ni dada, tenang, Gel*."
"Udah-udah, Vano ga boleh berbicara seperti itu. Jangan sampai dikemudian hari kamu menjilat ludahmu sendiri,.karena kita tidak tahu taqdir Allah seperti apa." nasihat Bunda Callista.
"Bener tuh kata Bunda gue. Maira aja yang nikahin mereka, Bun. Tenang sewa gedung gue yang tanggung." ucap Syaila menimpali disertai candaan.
"Kamu ini, Mey. Yasudah makan dulu gih, Bunda siapin makan siang."
"Anggel ikut, Bun."
__ADS_1
"Sherly juga, Bun."
"Yasudah, Mey kamu juga ikut tidak baik berdekatan dengan banyak laki-laki seorang diri."
"Siap, Ibu Negara."
15 menit berlalu, Syaila asyik bercanda tawa bersama sahabat dan Ibundanya.
"Sudah, siap." ucap Bunda.
"Gabiasanya, Bun. Ini kebanyakan, lho makanannya." ucap Sherly.
"Gapapa, nanti bisa sekalian makan malam."
"Owalla gitu to."
"Yasudah, Bunda bersih-bersih diri dulu ini udah lengket banget."
"Iya, Bun."
"Yuk ke ruang tengah dulu, tungguin Bunda bentar sebelum makan." ajak Anggel.
"Kalian duluan, gue mau ganti baju dulu."
"Mandi bebek ya, Mey?" tanya Sherly.
"Eh, tu mulut ya ga bisa di rem apa! gue ga pernah gitu!" bentak Syaila tak terima.
"Udah-udah, lu si Sher nyari masalah aja."
"Bercanda."
Teman-teman Syaila sedang duduk di lantai beralaskan karpet mewah di rumah Syaila tengah seru bermain game di buat kesal oleh ketukan pintu yang harus menunda kegiatannya dulu.
__ADS_1
"Siapa si-" ucapan Sherly terhenti kala melihat yang datang adalah Ali lelaki yang pernah menemui Syaila beberapa hari lalu.
SEE YOU NEXT PARTT 🤗🥰