
Syaila dan Ali sudah sampai di tempat tujuan tepat adzan Ashar berkumandang. Ali mencari masjid terdekat untuk shalat. Setelah sampai ia membangunkan Syaila yang tengah tertidur pulas setelah obrolan singkat tadi.
"Maira, bangung dulu, sudah waktunya shalat Ashar." ucap Ali sembari memegang pipi Syaila.
"Eughh, aku masih mengantuk sekali, Mas." racau Syaila.
"Bangun dulu, sayang. Setelah itu kamu boleh tidur lagi."
"Baiklah."
Syaila akhirnya mau bangun. Mereka keluar dari mobil bersamaan kemudian mencari tempat wudhu.
Setelah selesai, Ali langsung duduk menunggu iqomah dikumandangkan. Sedangkan Syaila masih mencari tempat mukenah di Musholla tersebut kemudian memakainya.
Selesai sholat Ali dan Syaila masih berada di teras Masjid Baiturrahman tersebut.
"Mas, sudah lama aku tidak bertemu dengan Allah." ucap Syaila.
"Tapi sekarang kamu sudah bertemu lagi dengan Allah, sayang."
"Bantu aku untuk menjadi wanita yang lebih baik dan lebih pantas bersanding denganmu, Mas."
"Kamu pantas berada di sisiku, sayang. In syaa Allah, kita akan sama-sama belajar untuk bisa menjadi hamba yang lebih taat lagi."
"Aamiin, semoga kamu bisa sabar dalam membimbingku, Mas."
"In syaa Allah, kamu pilihanku, jadi aku akan berusaha menjadi imam yang baik untukmu, Humaira."
"Semoga kita bisa meraih sakinah bersama, Mas."
"Aamiin Allahumma Aamiin. Oh iya, Mai, disini tempat kita pertama kali bertemu."
"Di Jogja?"
"Iya, kamu lupa?"
__ADS_1
"Sepertinya iya, kapan, Mas?"
"Sekitar satu tahun lalu, tepatnya pada saat aku kecelakaan dan kamu Dokter baik yang menolongku."
"Iya bulan Februari kemarin aku kesini untuk acara pembukaan cabang Rumah Sakit Islam Fatimah disini, Mas."
FLASHBACK
15 Februari 2021
Sulaiman Ali Abdullah, anak dari Kyai ternama di Banyuwangi. Beliau datang ke Yogyakarta untuk mempelajari sejarah-sejarah Indonesia.
Beliau baru datang dari Tareem, Yaman. Setelah sampai di Indonesia beliau langsung menuju Yogjakarta.
Pada saat ia menuju Candi Borobudur, beliau tertabrak oleh Mobil yang datang secara tiba-tiba membuat Ali hilang keseimbangan alhasil beliau langsung tumbang dan tak ada yang menolongnya. Beruntung ada perempuan cantik datang dan menelpon ambulance untuk membawa Ali ke Rumah Sakit miliknya.
Beberapa menit berlalu, Ali sudah berada di Rumah Sakit Islam Fatimah yang baru saja lounching. Dokter itu langsung membawa Ali ke IGD dan meminta sang asisten untuk mencari identitas Ali.
Ali hanya terluka di bagian kepala dan kaki dan sudah di obati dan di perban oleh Dokter Syaila. Setelah selesai di obati Ali di pindahkan ke ruang rawat biasa.
Dua jam berlalu, akhirnya Ali membuka mata yang ia tangkap pertama kali wanita cantik yang sedang tertidur di sofa, lelah menunggu sang empu sadar Syaila tertidur karena kecapean.
"Mas, kalau sampean mau sesuatu tinggal membangunkan Saya tidak perlu mengambil sendiri." omel Syaila.
"Maaf, Mbak. Saya tidak ingin merepotkan sampean." ucap Ali.
"Yasudah mau minum? tunggu Saya ambilkan terlebih dahulu."
"Dia siapa?"
"Ini Mas minumnya, mari Saya bantu." ucap Syaila membantu membangunkan bobot tubuh Ali kemudian membantunya minum.
"Terimakasih, Mbak."
"Iya, oiya Mas, keluarga sampean tingga dimana?" tanya Syaila.
__ADS_1
"Di Banyuwangi." jawab Ali.
"Hah? untuk apa datang kemari, Mas?" tanya Syaila kaget.
"Untuk belajar." jawab Ali santai.
"Owh, yasudah sebaiknya Mas kabari keluarganya agar bisa menemani Mas disini." saran Syaila.
"Tidak! jangan! Saya tidak ingin membuat Umi khawatir." ucap Ali cepat.
"Astagfirullah, Mas. Lalu bagaimana caranya sampean membayar adminstrasinya kalau tidak memakai uang?" tanya Syaila.
"Seru juga ya ngerjain orang sakit hhe."
"Eh iya juga ya, tapi tadi sebelum tertabrak Saya membawa tas, Mbak. Jangan-jangan sampean mengambil tas Saya." tuduh Ali.
"Lisan sampean lemes banget ya, Mas. Asal nuduh aja! Saya masih mampu mencari uang sendiri." ucap Syaila yang nada bicaranya mulai meninggi.
"Bercanda, Mbak. Yasudah maaf, lalu bagaimana caraku membayar ya?" tanya Ali kepada dirinya sendiri.
"Tidak perlu membayar adminstrasinya." ucap Syaila.
"Mbak ini, lalu dari mana uang untuk membayar pegawai disini, Mbak?" tanya Ali.
"Saya tidak akan rugi, Mas. Tapi sampean berhutang budi kepada Saya." jawab Syaila.
"Sampean tidak ikhlas membantu?"
"Bukan tidak ikhlas, tapi nanti kalau kita bertemu lagi di masa depan kalau Saya salah arah tolong dibimbing ke jalan yang benar ya. Saya berharap kita bisa bertemu lagi nanti."
"Baiklah, semoga kita bertemu lagi nanti. Tapi jangan terlalu berharap takutnya sampean nanti kecewa."
"Yayaya, yasudah Saya permisi, suster yang akan merawat sampean. Lekas sembuh dan sampai bertemu lagi, assalamu'alaikum."
Syaila kemudian pergi meninggalkan kamar rawat Ali, yang mungkin akan menjadi kamar bersejarah untuk Syaila dan Ali nantinya.
__ADS_1
"Semoga kita bertemu lagi nanti, Mbak. Belum juga bertanya nama eh malah langsung pergi, yasudahlah tapi benar yang diucapkan Mbak tadi, aku berhutang budi kepadanya."
Author be like : Jangan terlalu berharap kepada manusia, karena sampean akan kecewa. Berharap lah kepada sang Pencipta niscaya sampean akan mendapatkan yang lebih dari yang sampean harapkan. jangan lupa bersyukur 🤗🥰.