KISAH CINTA DOKTER SYAILA

KISAH CINTA DOKTER SYAILA
Perdebatan dengan Zira


__ADS_3

Di Ndalem sudah ada Umi Aisyah, Abi Ibrahim, Ning Zira dan Ali tentunya.


Raga Ali memang berada di Ndalem tapi hati dan fikirannya berkelana memikirkan sang istri.


Di Meja sudah ada beberapa kue dan minuman yang dihidangkan oleh Mbak Ndalem untuk Ning Zira.


"Zira, kapan sampai di Indonesia?" tanya Abi Ibrahim membuka percakapan.


"Emh, baru kemarin Bi." jawab Zira.


"Bagaimana rasanya bisa kuliah di Kairo, Nduk?" kali ini Umi Aisyah lah yang bertanya.


"Alhamdulillah, nyaman dan bisa belajar tentang banyak ilmu, Umi."


"Alhamdulillah, ada gerangan apa datang kemari, Nduk?" tanya Umi Aisyah lagi.


"Hanya ingin menyambung tali silaturahmi, Umi."


"MasyaAllah, bagaimana kabar Yumma dan Abahmu, Nduk?"


"Alhamdulillah baik, Umi."


"Alhamdulillah, silahkan dinikmati hidangannya, Nduk."


"Nggih, Umi."


"Zir, to the point saja. Kelakuanmu tadi itu salah, kamu berakhlak bukan?" Ali membuka suara.

__ADS_1


"Maaf, Li. Aku refleks tadi, aku sangat merindukanmu."


"Tapi, Zir! kita bukan mahram tapi malah kamu memelukku seperti tadi! Karena itu hati yang aku jaga terluka dan pergi meninggalkanku!" suara Ali kian meninggi mengingat sang istri pergi meninggalkannya tadi.


"Nak, tidak perlu menaikkan oktaf suaramu." ucap Umi Aisyah mengingatkan.


"Maaf, Umi."


"Hati yang kamu jaga, maksudnya?" tanya Zira.


"Aku sudah menikah!"


Jdarr...


"Me-menikah? bukankah kamu menungguku, Li?" tanya Zira terbata.


"Dulu! sekarang dan selamanya aku sudah menjadi milik Humaira!" tekan Ali.


"Iya, Syaila Humaira Az-zahra."


"Tapi, Li. Kamu tidak adil kamu sudah berjanji menungguku, dan aku datang untuk menikah denganmu." ucap Zira yang mulai terisak.


"Maaf, Zir kamu bukan jodohku."


"Aku tetap ingin menikah denganmu, Li! Aku siap menjadi yang kedua!"


"JAGA BICARAMU ZIRA!!" bentak Ali.

__ADS_1


"Nak, sudah jangan seperti ini menyelesaikan masalah, Syaila tidak suka memiliki suami yang kasar kepada perempuan manapun." pesan Umi Aisyah.


Mendengar nama Syaila, Ali mendadak melunak.


"Zir, maaf untuk sebuah janji yang pernah aku katakan di masa lalu. Tapi masa sekarang aku sudah menikah dan tolong ikhlaskan aku bersama Syaila."


"TIDAK!!" bantah Zira.


"Aku akan pastikan kamu akan tetap bersamaku dan akulah yang pantas bersanding denganmu, Ali." lanjutnya.


"Zira, Kamu sudah berkuliah dan menimba ilmu di kota yang MasyaAllah yang ingin didatangi oleh ribuan manusia. Pasti kamu sudah banyak di beri wejengan dan ilmu juga adab. Ingatlah, Nak, jodoh tidak ada yang tahu jadi kamu harus belajar mengiklaskan Ali karena dia bukan jodohmu." nasihat Abi Ibrahim.


"Tapi Zi-zira mencintai, Ali."


"Nak, ikhlas memang tak mudah tapi percayalah disaat kamu ikhlas maka Allah akan memberikanmu yang lebih baik dari Ali. Perbaikilah dirimu menjadi wanita yang lebih baik lagi niscaya jodohmu akan baik seperti dirimu, bukankan jodoh itu cerminan diri?" Umi Aisyah juga menasihati.


"Allah jahat ke Zira, Umi." ucap Zira yang semakin menjadi-jadi menangisnya.


"Tidak, Nak. Allah baik, maka dari itu Allah memberimu ruang untuk memperbaiki diri."


Kurang lebih satu jam berlalu akhirnya Zira memilih untuk meninggalkan Ndalem dan tanpa menyapa santriwan dan santriwati terlebih dahulu. Hatinya masih terluka karena Ali menikahi orang lain bukan dirinya, terbesit pula di fikirannya untuk merebut Ali dari Syaila.


Sedangkan Ali merenung sendirian di dalam kamarnya yang satu bulan ini ditempatinya bersama dengan Syaila.


Mengingat kenangan-kenangan yang sudah dilalui bersama dengan Syaila, hatinya juga terluka karena kepergian Syaila dari sisinya.


"Humaira, semoga kamu segera kembali Ali membutuhkanmu disini."

__ADS_1


Lalu dimana Syaila? Mungkinkah kembali ke Bandung?


SEE YOU NEXT PARTT 🤗😍


__ADS_2