KISAH CINTA DOKTER SYAILA

KISAH CINTA DOKTER SYAILA
Aku mencintaimu, Mas.


__ADS_3

Kairo, Mesir.


Maryam tengah asyik bercanda dengan teman barunya pastinya bersama Zero.


Pada saat datang Maryam sudah disambut oleh pemilik yayasan juga oleh para santri yang sedang menimba ilmu disana. Maryam menjadi pribadi yang sopan dan disenangi oleh banyak orang oleh karena itu dia berteman dengan dengan dua orang disana.


Zanna Kirania dan Hyuna Isvara. Keduanya adalah sahabat dari Maryam Nusaibah Abdullah.


"Var, kapan orangtuamu akan berkunjung?" tanya Zanna.


"Aku kurang tahu, Na. Sepertinya bulan puasa kali ini aku akan pulang ke Surabaya." jawab Isvara.


"Loh, kalau kamu pulang kita sama siapa dong, Var?" Maryam membuka suara dengan nada sedih.


"Kamu kan dijaga dan ditemani sama Aja ganteng." jawab Isvara seraya melirik Zero.


"Ish, tapi tidak enak, Var."


"Kamu memangnya ndak mau pulang, Mar?" tanya Zanna.


"Belum tau, Na. Tapi ga enak loh kalau pulang, aku masih baru disini."


"Puasa kita ke Tareem aja, Mar. Gimana?" usul Zanna.


"Ide bagus tuh, aku izin Zero dulu dah."


"Ngga gitu dong, aku ga diajak." Isvara merajuk.

__ADS_1


"Loh kamu kan mau pulang Isvara cantik, kita berkunjung kesana hanya untuk menghilangkan lelah dan otomatis healing ya ga, Mar?" jelas Zanna.


"Yap." jawab Maryam.


"Yaudah, tapi kapan-kapan aku ikut juga ya." pinta Isvara.


"Iya, Isvara." jawab Maryam dan Zanna bersama.


"Girls, aku mau berbicara dulu dengan Zero ya, assalamu'alaikum." pamit Maryam.


"Aduh-aduh kapan aku juga bisa punya gebetan kek Maryam ya." cibir Zanna.


"Berapa kali aku harus bilang Na, Zero itu sekedar jagain aku ga lebih!" bantah Maryam.


"Yaudah berusaha percaya." jawab Isvara.


"Wa'alaikumussalam." jawab Isvara dan Zanna bersama.


Maryam mendekat ke arah Zero yang tengah asyik duduk memandangi orang yang berlalu lalang dihadapannya.


"Darr!" Maryam berusaha mengangetkan Zero agar mereka tak terlalu canggung.


"Lo bisa ga si jangan usik gue sehari aja!" Zero kembali berbicara dengan nada membentak.


"Mas, kamu kenapa sih selalu ngebentak aku?" tanya Maryam.


"Lo tau sendiri jawabannya!"

__ADS_1


"Tapi tidak bisakah bersikap sedikit lembut?" Maryam kembali bertanya.


"Jangan harap!"


"Aku juga wanita, Mas. Akan tetap terluka ketika di bentak apalagi itu oleh seorang laki-laki. Aku minta maaf atas segala khilafku di masa lalu kepada Syaila, sekian kali aku minta maaf, Mas. Apa itu tak. membuat hatimu luluh?"


"Lo gausah berharap lebih dari gue! dan kalau nggak penting gausah berbicara ke gue, kalau lo sendiri gamau sakit hati!"


"Mas bagaimana kalau aku Maryam Nusaibah Abdullah ini mencintaimu?"


"Atas dasar apa lo suka ke gue? dengan begitu lo nyakitin diri lo sendiri!"


Maryam berdiri, melangkah dan berkata. "Semuanya berjalan begitu saja, Mas. Cinta ini hadir tanpa aku minta, tapi sayang orang yang aku cintai sangat, sangat membenci diriku."


"Sebaiknya lo kubur perasaan lo itu! karena sampai kapanpun gue ga akan pernah suka ke lo!"


"Aku akan tetap mencintaimu, Mas. Walau cintaku tak terbalaskan aku akan tetap bertahan dan menyaksikan apa cinta ini yang akan kalah atau Mas Zero yang akan luluh."


"Cih! tidak akan pernah!"


"Allah itu baik, Mas. Dan aku titipkan cinta ini kepadaNya dan Allah yang akan menunjukkan kuasanya bahwa Allah maha membolak-balikkan hati hambaNya."


Setelah berucap demikian Maryam pergi tanpa salam ataupun pamit, ada sesuatu yang akan tumpah yang dari tadi ia tahan dan pada akhirnya air mata itu lolos dengan sendirinya.


Maryam hanya wanita biasa, ia juga menolak cinta yang hadir dihatinya untuk Zero, tapi entahlah banyak ikhtiar yang Maryam lakukan agar Zero bisa menjadi imamnya kelak.


"Kamu terlalu baik, Mar, untuk aku yang brengsek ini. Semoga dengan setiap penolakan dan bentakan dari diriku membuatmu menyerah untuk mengapai aku yang tak pantas untuk mu. Semoga ada lelaki yang lebih baik dari diriku untuk kamu yang shalihah, ya."

__ADS_1


__ADS_2