KISAH CINTA DOKTER SYAILA

KISAH CINTA DOKTER SYAILA
Ning Zira


__ADS_3

Hari-hari berlalu hubungan Ali dan Syaila semakin dekat saja, dilalui dengan kebersamaan selalu.


Hari ini Syaila mengajar santriwati, sejak kepergian Ning Maryam Syaila diminta mengajar di Pondok Pesantren Al-Basyariyah.


Dua jam berlalu pelajaran pun usai, akan tetapi santriwati enggan untuk kembali ke asrama. Mereka semua masih betah duduk bersama Syaila yang tidak lain tidak bukan adalah istri dari Lelaki idaman para santriwati.


"Ning, satu bulan akan berlalu. Bagaimana rasanya menjadi istri dari Gus Ali?" tanya salah satu santriwati.


Syaila bingung mau berkata seperti apa, ia diam sepersekian menit baru ia membuka suara, "Sampean menikahlah terlebih dahulu baru akan merasakan bagaimana indahnya pernikahan."


"Spil-spil dong Ning cara ngedapetin suami Gus." celetuk santriwati lain.


"Jodoh itu misteri, Kak. Jadi tugas kita perbaiki diri bukankan banyak ustadzah yang berkata : Jodoh adalah cerminan diri?" tanya Syaila.


"Nggih, Ning." jawab semua.


"Ning, boleh puasa tahun ini kami singgah di rumah sampean?" tanya santriwati lain.


"Izin dulu, Nggih ke Abi Ibrahim. Kalau diizinkan pintu rumah Saya akan terbuka lebar untuk panjengan semua." jawab Syaila.


"Wah, gas girls. Tapi kalau Ning yang mengizinkan bagaimana?" tawar santriwati.


"Eh kamu ya, Din. Udah diizinin malah ngelunjak, kita izin aja dulu!" bentak Denada.


"Ya biasa aja kali! gausah ngegas!"Dinda balas membentak.


"Wes gausah bertengkar, in syaa Allah Saya bicarakan dulu dengan Gus Ali ya." ucap Syaila menengahi.


"Eh Girls!!" teriak seseorang yang baru saja memasuki kelas tempat Syaila mengajar.


"Bisa ga, gausah teriak-teriak ini bukan hutan!" bentak Melinda.


"Oh, maaf ya Kakak cantik! Oiya Ning Syaila Humaira Az-zahra suamimu tengah asyik di peluk oleh Ning Zira di lapangan dan lebih hebohnya lagi keduanya menjadi pusat perhatian." ucap Sheryl.


Sheryl Sheinafia Mahendra anak dari Bram Pratama Mahendra. Ia anak dari pembisnis sukses tapi memilih menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Al-Basyariyah karena ia ingin dekat dengan Ali, ia sangat mencintai Ali dari pertama bertemu. Akan tetapi Ali tak pernah merespon Sheryl.

__ADS_1


"Jaga bicaramu Sheryl!" bentak Melinda.


"Mel, kamu jaga kelas Saya permisi. Assalamu'alaikum." ucap Syaila kemudian berlalu dengan pikiran yang kalau.


"No! No! ga mungkin Mas Ali di peluk sama Ning Zira, Sya lo harus berfikir positif!"


itulah yang Syaila katakan pada dirinya sendiri pada saat menuju lapangan.


Deggg..


Jdarrr..


Benar! yang dikatakan oleh Sheryl benar! Ali tengah di peluk oleh Ning Zira parahnya di tengah lapangan.


"Kamu jahat, Mas!"


"Ning Zira, bukan?" tanya Syaila berusaha menahan bulir bening yang ingin turun tanpa henti itu.


"Sampean, siapa?" tanya Zira dengan suara lembut.


"Saya salah satu guru disini, ada baiknya sampean dan Gus Ali! masuk ke Ndalem agar tidak menjadi pusat perhatian santriwan dan santriwati." ucap Syaila sopan.


Jleb..


"Silahkan Ning dan Gus!"


"Nggih, Mbak. Terimakasih."


"Sama-sama, Ning. Saya permisi, assalamu'alaikum."


"Humaira tunggu!" ucap Ali.


"Zir, masuk dulu temui Abi dan Umi! aku mau berbicara dulu dengan Maira." perintah Ali Zira pun langsung pergi.


"Dek, Mas bisa jelaskan!" ucap Ali lembut.

__ADS_1


"Saya tidak butuh penjelasan!" bantah Syaila.


"Dek, ini semua tidak seperti yang kamu bayangkan, sungguh! Zira datang tanpa memberi tahu dan maaf karena dia sudah memeluk Alimu ini."


"Sudah menjelaskannya? Saya permisi, assalamu'alaikum."


"Jangan seperti ini, Mai."


"Lepas! atau Mas tidak akan pernah bertemu Syaila lagi!" bentak Syaila.


"Dek.."


"Aku pamit, aku mau bertemu Bunda dan tolong jangan disusul! Mas selesaikan masalah Mas dengan Ning Zira."


"Mas, ikut!"


"Mas, tolong beri aku waktu dan kamu selesaikan urusan dengan Zira sepertinya dia juga mencintaimu."


"Tapi Mas mencintaimu, Humaira!"


"MAS KENAPA KERAS KEPALA SEKALI SIH!"


"Aku tidak ingin jauh dari dirimu, Dek."


"Aku beri pilihan! izinkan aku atau kita tidak akan pernah bertemu lagi!"


"Baiklah, dua hari!"


"Satu Minggu!"


"Dua hari, Maira. Tidak ada penolakan!"


"Iya dua hari, puas!?"


Ali mendekat dan memeluk Syaila enggan rasanya melepaskan istri tercintanya, lalu mengecup kening Syaila.

__ADS_1


"Mas aku pamit, assalamu'alaikum."


Syaila melangkah pergi dengan hati yang terluka setelah mencium punggung tangan suaminya.


__ADS_2