
Kairo, Mesir.
Pagi menyapa, silaunya membangunkan Maryam yang sedang tertidur pulas setelah shalat subuh tadi.
Sejak kapan Maryam tidur setelah subuh?
Baru kali ini, karena ia malam tadi menangis karena kembali ditolak oleh Zero. Perempuan mana yang terluka ketika terus dibentak seperti Maryam?
"Eugh."
"Astagfirullah, Ya Allah sudah pagi." kaget Maryam.
Maryam segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri, ia sudah telat untuk ikut mengaji pagi bersama teman-temannya yang lain.
Dua puluh menit berlalu, Maryam sudah siap dengan gamis hitam dan hijab senada. Tanpa polesan make up pastinya.
Maryam segera keluar dari kamarnya menuju Masjid yang selalu ia tempati kala pagi untuk menimba ilmu.
Ceklek
Tanpa disadari ada yang menunggunya sejak pagi, akan tetapi Maryam tak sadar karena terburu-buru.
"Kenapa telat bangun?"
Deg..
Maryam menjawab tanpa menoleh. "Itu urusan Saya bukan urusan sampean.
"Tapi selama lo disini, lo jadi tanggung jawab gue!"
"Saya sudah dewasa tak perlu sampean awasi setiap saat."
"Kenapa lo mendadak keras kepala sih!"
"Kadang orang yang lembut akan berubah apabila tak dihargai, dari situ sampean pasti akan paham. Sampean orang berpendidikan bukan?"
"Lo marah karena gue bentak lo terus?"
"Saya tidak pernah marah, tapi Saya juga manusia yang gampang lelah."
__ADS_1
"Oke, fine. Lo mau gue gimana sekarang?"
"Jaga jarak dengan Saya!"
Degg..
"Gue gak mau dan gak bisa!"
"Yasudah terserah sampean, Saya tidak akan memaksa. Assalamu'alaikum."
Setelah berucap demikian Maryam pergi meninggalkan Zero sendiri dengan fikiran yang tak karuan.
"Kenapa gue ga nyaman Mar, lo bersikap acuh seperti itu?"
*
*
*
Sedangkan di Bandung, sudah dua hari Syaila pergi dari rumah sang suami. Ia tak kembali ke rumah Bundanya karena tak ingin membuat sang Bunda khawatir karena permasalahan keluarganya.
"Sudah cukup disini, Mey?"
Syaila menoleh dan menjawab. "Lo tau dari siapa gue disini, Gel?"
"Kemaren gue dateng untuk berziarah tapi ternyata lo ada disini." jawab Anggel.
"Bunda gimana kabarnya?" tanya Syaila.
"Bunda Callista baik-baik saja. Lo yakin mau pulang ke rumah sedangkan lo nggak bawa suami lo?"
"Gue kangen ke Bunda, tapi gue juga bingung mau ngasi alesan apa."
"Emang ada masalah apalagi sih lo sama suami lo?"
"Gaada masalah apa-apa, Gel."
"Mey! gue sahabat lo, gue sadar lo ada masalah, kalau butuh temen buat cerita inget gue akan selalu ada untuk lo, Mey."
__ADS_1
"Gel, ini masalah gue sama Mas Ali. Dan gue gamau membuka aib keluarga kecil gue termasuk ke lo. "
"Ceileh udah jadi istri shalihah ini namanya."
"Ga biasa aja, gue juga perlu banyak belajar."
"Semoga lo bisa lewatin semua batu-batu yang menghantam keharmonisan keluarga kecil lo."
"Aamiin, thanks. Lo juga harus secepatnya nyusul."
"Masih belum ada calon."
"Lah kan udah ada Vano yang nunggu lo siap untuk di nikahi haha."
"Sedih juga masih bisa ngerjain gue."
"Syaila gitu loh."
"Yuk ngafe, kita qualiti time bertiga. Gue chat Sherly juga."
"Yuk,, tapi gue butuh baju."
"Hahaha lo kek orang gila, Mey."
"Lo berani ngehina gue?"
"Gue ga pernah takut."
"Ngeselin. Gaada Zero ganti ke lo."
"Eh omong-omong soal Zero dia apa kabar?"
"Baik keknya, semoga dia bisa jadi pribadi yang lebih baik setelah menimba ilmu disana."
"Semoga. Tapi awas mendadak suka ke Maryam tu Zero."
"Gapapa lah, jadi Kakak ipar gue. Yaudah yukkk"
"Gas, Girls."
__ADS_1
Keduanya pun melangkah keluar dari pemakaman, Syaila berusaha menghibur dirinya sendiri. Mungkin satu Minggu dia akan menetap di Bandung.