
...Episode 13...
...side story......
Ali..
hai namaku Ali, aku adalah anak keempat dari keenam bersaudara. Umurku sekarang sudah 12 tahun.
Aku memiliki kakak perempuan yang ku sayangi
Kakak tertuaku adalah kakak Vika, dia sangat sayang denganku, terkadang dia menjadi sangat marah ketika diganggu atau membantah nasehat dia. Teriakan dia ketika marah seperti harimau yang mengamuk, jadi aku memutuskan untuk membantunya bekerja Dan mendengar setiap nasehatnya.
Aku juga memiliki adik kecil yang bernama Aisha, ia kini berusia 1 tahun.
Setiap hari aku terbangun lebih pagi daripada yang lain, biasanya aku membangunkan ibu dan kakak terlebih dahulu. Aku memiliki kakak lelaki yang bernama Raden, dia sangat hebat dan kuat, sekarang dia sudah pergi jauh disini untuk berpetualang. pastinya sangat seru aku ingin sekali ikut bersamanya.
"..."
Aku kini bersama kakak Malik bekerja diladang untuk mengambil panen tahun ini. Sangat lelah tapi kata orang-orang kakak Raden sangat cepat menyelesaikan pekerjaan ini, bahkan selalu menyelesaikan pekerjaan ini terlebih dahulu. Aku tidak akan kalah jadi aku terus memaksakan diri ku untuk bekerja, kakak Malik berkali-kali melarangku untuk bekerja sangat keras hanya karena aku masih kecil, bahkan beberapa melarangku untuk ikut bekerja. Dengan mengatakan
"jika kau sakit lagi aku yang disalahin nantinya."
Itu sih bukan urusanku, yang terpenting aku harus bisa bekerja keras.
"..."
sebulan setelah Kaka kembali Raden pergi, dia akhirnya mengirimkan sebuah surat, kuharap isi surat itu adalah sebuah uang jajan yang dia dapatkan, kakak pernah berjanji untuk memberikan uangnya untukku agar aku bisa membeli jajanan yang enak sekaligus mainan baru.
Aku menerima surat dari kakak setelah memanggil ibu dan kakak Vika juga kakak nadia. Sepertinya kakak Malik masih ada di ladangnya.
karena aku masih belum bisa membaca dengan baik, ibu yang membacakannya.
"surat kedua. Aku mendapatkan teman baru disini, dia sangat baik, mungkin kalian tidak percaya tapi aku berhasil membunuh seekor monster sendirian. Terserah kalian mau percaya atau tidak yang pasti aku sudah cukup terkenal disini, walaupun kini aku sedang dirawat akibat luka monster itu.
Berkat itu juga aku mendapatkan uang, maaf aku masih belum bisa memberikan lebih banyak uang kepada, karena aku sendiri masih bingung mengurusi keuanganku sendiri.
hehehe.
Salam Raden "
kakak vika mengambil uang di dalam surat itu dan mendapatkan 3 koin berwarna putih
"oh ini koin perak, cukup untuk makan dalam sebulan."
"Wow, emangnya monster itu seperti apa?."
Aku sangat penasaran seperti apa monster itu, apakah hewan atau apa.
"Monster itu makhluk mengerikan yang akan memakan anak kecil jika tidak tidur di malam hari."
jika kakak sendiri bisa mengalahkannya aku pasti juga bisa, karena aku lebih kuat daripada kakak Raden.
"Oh berarti kakak jarang tidur dimalam hari sampai diserang oleh, tapi dia hebat bisa mengalahkan."
pikirku.
__ADS_1
"tunggu tulisannya ini, Surat kedua, kemana surat pertamanya."
ucap kakak nadia dengan bingung, aku masih belum bisa berhitung dengan baik, tapi dituliskan surat itu yaitu surat kedua, seharusnya kesatu baru kedua.
"Mungkin pengantar pos lupa membawa suratnya ke kami, tidak apa-apa yang penting kita tahu sekarang."
"Baiklah anak-anak waktu kembali bekerja."
****
Surat kedua datang.
seperti biasa aku yang menerima surat itu, semua orang kembali kecuali kakak Vika Dan ibu, mereka sedang berbelanja di pasar.
Kakak nadia membacakan isi surat itu.
"surat ketiga,
aku kini berada di desa Sanola, teman baruku bernama Adam, kami berdua berpetualang dan mengambil misi bersama-sama, kini masalah keuangan sudah selesai, aku bisa memberikan kalian sedikit lebih banyak uang.
gunakan yang baik aku mohon.
sebentar lagi aku bersama Adam akan pergi ke kota hardcall, untuk mengikuti sebuah turnamen., do'akan aku bisa menang.
Salam dari Raden."
Kak Malik mengeluarkan uang disalah satu surat yang sepertinya berisi uang.
ups..
"kita akhirnya bisa makan dengan kenyang hore..."
"Dia kini sudah Pergi jauh dari sini bahkan menghasilkan lebih banyak uang dariku, Aku harus bekerja lebih keras lagi. Kita simpan dulu uang lalu beritahu ke ibu nanti."
"Oh sejak kapan kau jadi sedewasa ini."
"Hey menjadi dewasa bisa kapanpun, aku bisa kok menjadi orang dewasa kapanku aku mau."
hahaha..
****
surat ketiga sudah datang, aku mengetahui jika surat ketiga akan datang, karena surat itu datang sebulan sekali. Jadi kini kuputuskan untuk datang sendiri ke kantor pos.
Setelah sampai aku melihat paman pengantar surat seperti biasanya sudah kembali, aku menuju kesana.
"paman paman ada Surat dari kakakku tidak."
sepertinya ada, sebentar kucarikan terlebih dahulu aja ini dia... Hei!!!!
seorang merebut suratku dari tangan paman itu, aku melihat orang yang merebut suratku, rupanya mereka adalah preman yang sering mengambil uang ibu.
"hey kembalikan suratku itu."
"Aku dengar dari anak ini jika isi surat dari kakaknya berisi uang yang banyak."
__ADS_1
"Ayo kita buka."
Mereka membuka surat dari kakak hingga membuatnya fobek, dan uang koin yang dikirim oleh kakak terjatuh berserakan ditanah, aku sempat ingin mengambilnya tapi mereka mengambilnya lebih dulu bahkan mendorongku menjauh.
"tidak..."
"Hanya 15 koin perak, dikit kali."
"tapi cukup untuk membeli steak"
"Kau benar, ayo pergi makan."
Aku tidak boleh membiarkan mereka mencuri uangku, aku harus melawan seperti kata kakak Raden dan kakak Malik. Melawan pada orang yang salah.
"Tidak.. kembalikan uangku."
"Ini milikku sekarang..enyalah kau."
Aku masih lemah, tubuh mereka tinggi dan besar, aku sama sekali tidak berdaya.
mereka kemudian pergi menjauh, aku menangis dengan sedih sambil mengambil semua sobekan-sobekan surat kakak.
Kemudian aku pulang dari rumah dengan perasaan sedih.
"..."
Kakak Vika mendengar jeritan tangisanku, dia keluar rumah untuk mencariku, setelah melihat aku, dia menghampiriku dengan muka khawatir.
"Ali.. Ada apa kenapa kamu menangis Ali."
"Kakak...ini.. Mereka merusaknya.."
aku menunjukkan semua sobekan-sobekan Surat kepada kakak Vika.
Kakak Malik dan Nadia juga datang menghampiriku.
"Mereka? Jangan-jangan preman itu."
"Tidak apa-apa, Cup-cup jangan menangis, kakak punya buah semangka kesukaan kamu, ayo masuk."
Aku bersama kak Vika masuk dalam rumah bersama, saya tidak bisa menahan rasa sedihku karena tidak bisa melindungi surat dan uang itu, kakak Vika meminta aku untuk membicarakan apa yang terjadi sebenarnya.
jadi aku menceritakan semuanya secara detail dari awal.
"..."
"mereka lagi..mereka lagi."
"Kamu sebaiknya jangan bertindak bodoh."
"Aku tahu.. Tapi kuharap ini terakhir kalinya."
"Malik.. Kubilang jangan bertindak bodoh.. Malik!!!."
**end?**
__ADS_1