
...Episode 18: end side story...
...-tahun 422-...
Aku berhasil membunuh Jack dengan pedangku, Sementara itu Hardy ketakutan melihatku membunuh Jack, dengan persamaan kesal dan marah saya menghampiri dia, Hardy ketakutan setengah mati dan memohon-mohon kepadaku agar mengampuninya.
"tolong jangan bunuh aku, aku berjanji tidak akan membuat kejahatan lagi!!!, aku punya uang, kau boleh ambil semaumu!!!" mohon Hardy dengan perasaan ketakutan dan menangis.
"bruakkk!!!"
Saya sudah tidak peduli lagi dengan omongannya, segera saya mengangkat kaki kanan saya lalu menendangnya tepat diwajah Hardy, dia terpental hingga tertabrak dinding, saya menendangnya lagi dan lagi hingga dia sudah tidak bersuara lagi akibat menangis dan kesakitan. selesai sudah semua masalah hari ini akibat ulah mereka, beberapa saat setelah saya memandang 2 orang ini, seketika rasa sakit ku mulai terasa lagi tapi kali ini rasa sakitnya sangat amat luar biasa kuat sakitnya hingga aku tidak bisa menahannya lagi dan terjatuh ke lantai, Aku mulai teringat lagi dengan temanku bima, segera aku merangkak berjalan kembali mendekatinya, memastikan keadaan bima baik-baik saja.
Di sela-sela rasa sakitku, aku masih terus bergerak menuju Bima, dan berhasil mendekat, melihat temanku Bima, yang sudah tidak berdaya karena terluka di bagian dadanya.
dengan panik aku menarik tangan Bima Dan berusaha menyadarkannya
"bima!!! Sadarlah, kita sudah berhasil, bertahanlah sebentar lagi!!!"
Bima membuka matanya secara perlahan, dia juga muntah darah akibat berbicara.
"Malik... Apa Kita berhasil?..." Dengan lemas bima berbicara kepadaku.
dengan sekuat tenaga aku berdiri lagi dan akan mengangkat Bima untuk pergi, walaupun aku harus berkali-kali terjatuh, usahaku sia-sia, saya sudah tidak memiliki tenaga lagi.
"Sudahlah Malik... tidak ada gunanya.."
aku kembali terjatuh, dengan perasaan sedih dan kecewa pada diriku, aku menangis dan mendekati bima, Saya menangis dan sangat sedih karena tidak bisa segera menyelamatkannya Sahabatnya.
"ehgg!!!... Siapapun!!! Tolong kami!!!"
teriak saya berharap ada orang yang mendengar dan segera menolong kami.
bima kemundian muntah darah sekali lagi sambil meringis kesakitan, dia kemudian berguling akibat tak kuasa menahan rasa sakitnya.
"aghh...aghh!!.."
bima meringis kesakitan, bahkan dia tidak memiliki kekuatan untuk berteriak sedikitpun.
saya melihat luka tebasan di dada bima sangatlah parah, dipastikan jantung dan paru-parunya terkena luka tebasan itu,
Saya sangat khawatir dan tidak kuat lagi melihat sahabatku yang sekarat, Saya berharap ada orang yang datang, sudah berkali-kali saya berteriak, tapi itu semua percuma, saya sudah menunggu lama.
"bima!!!... Bertahanlah... kumohon..."
Bima kemundian menoleh ke arahku, sambil menunjukkan ekspresi menahan rasa sakitnya, dia sampai menangis, lalu dia berkata dengan suara pelan.
"Malik... Kau seorang prajurit sejati, berjanjilah kepadaku... untuk terus menyelamatkan orang-orang."
"Jangan banyak bicara, luka paru-parumu akan semakin parah!!!"
tegas saya.
"Malik, berpegang teguhlah pada harapan untuk masa depan yang baik. Jangan pernah lelah untuk terus berjuang demi keadilan dan kebenaran. Kita harus terus melindungi orang-orang yang lemah. kau harus terus berjuang untuk membuat dunia ini damai."
"Berhentilah berbicara kau hanya akan mempercepat kematianmu, bantuan akan segera tiba!."
"berjanjilah..."
Mata bima secara perlahan menutup.
Aku tidak kuat menahan tangisku dan menangis sekuat-kuatnya.
"agghhh!!!!!"
orang-orang akhirnya datang dan terkejut melihat Mayat pemuda bersama seorang pria yang telah pingsan. Orang-orang itu menggendongku, dan membawaku pergi meninggalkan kuil...
****
2 hari kemudian.
Aku terbangun dari tidurku, tubuhku tidak bisa digerakkan, rasanya sangat lelah, aku merasa lebih baik untuk tidur lagi, Saya menyadari jika aku sedang berada di suatu ruangan serba putih, kupikir ini tempat perawatan.
Tapi aku merasa sangat haus dan ingin sekali minum.
"air.."
!!!
"dia sudah bangun rupanya!!!"
rupanya keluargaku sudah menungguku disini, aku tidak menyadarinya, semuanya mendekatiku, Ali dan Nadia memelukku dengan khawatir, mereka berdua menangis, sangat menggemaskan mereka berdua, membuatku ingin ikut menangis bersama.
Ibu juga ada Disni yang sedang menemaniku juga, ia sampai terharu melihat Ali dan Nadia menangis sambil memelukku.
"Cup-cup jangan nangis dah gede..."
kakak mengambilkan air dan memberikannya kepadaku. "ini air minumlah sendiri!! "
Dengan heran saya hanya melihat gelas yang diberikan oleh kakak, yang dimana aku sendiri tidak bisa bergerak.
"eh... Kau tahu aku ini tidak bisa bergerak? "
Kakak kemundian menaruh gelas air itu ke meja lalu kemundian mendekatkan kepalanya kepadaku.
__ADS_1
"Siapa suruh juga kau pergi sendirian disana untuk cari mati!!! "
teriaknya dengan keras.
"Maafkan aku, aku hanya ingin menyelamatkan ali dan Nadia."
"Sudahlah kamu Vika, Malik sedang terluka, kau harusnya bangga pada adikmu itu." Ucap ibu dengan tegas yang menasehati kakak Vika.
Ali kemudian mengambil gelas yang ada di meja itu, lalu berjalan mendekatiku sambil membawakan segelas air.
"ini kakak minumlah"
ucap Ali.
Saya hanya tersenyum, dan kakak mengangkatku, ibu kemudian memberikan air yang dibawa ali, saya meminumnya dengan lega.
"..."
****
...Sebulan kemudian....
Aku berjalan-jalan di sebuah taman, melihat anak-anak yang sedang bermain dengan bahagia dan aman, dia anak perempuan menyapaku.
"selamat pagi tuan penjaga"
Sapa anak itu kepada saya sambil bersalaman.
"Selamat pagi, hati-hati kalau bermain"
balas saya sambil mengelus kepalanya dengan lembut.
anak itu kemudian kembali pergi bermain sambil mengejar temannya yang lain.
Saya hari sedang berjalan-jalan di tengah taman, saya melihat kursi dan kemundian duduk di tempat itu, saya melihat pemandangan suasana tempat ini, ditengah taman ada sebuah patung kepahlawanan yang baru saja selesai dibangun, itu. Adalah patung kepahlawanan, patung penghormatan untuk seseorang yang berjasa besar pada desa ini.
Patung itu bernama patung penyelamat.
Yang tidak lain tidak bukan merupakan patung penghargaan untuk bima, bisa dilihat dari bentuk badan dan wajah yang sangat detail.
patung itu berbentuk patung kuda dengan bima yang menungganginya, Pose patung tersebut menunjukkan pose kedua kaki kuda yang terangkat, memiliki makna jika orang tersebut meninggal di sebuah Medan perang.
yah walaupun bima sendiri tewas bukan karena suatu peperangan, tapi saya senang jika patung bima dibuat, itu memberikan kesan sekaligus pengingat pengorbanannya untuk desa kecil ini.
Hari ini saya berada bersiap pergi meninggalkan desa kecil ini menuju kota hardcall, untuk menghadiri sidang hukuman bagi hardy atas kejahatan yang dia lakukan.
Sebelum pergi pastinya aku akan mengunjungi pemakaman sahabatku bima. dengan pedang rusak pemberiannya, aku akan membawanya hingga akhir menjemputku, ini akan membuatku teringat atas pengorbanannya kepadaku.
Setelah selesai aku berdoa saya pergi meninggalkan pemakaman bima.
ini adalah hari terakhir saya di desa sluth, alasan pasti saya ingin meninggalkan desa ini jawabannya ada ketika saya sudah sampai disana, itu dikarenakan saya mendapatkan sebuah surat misterius yang bersamaan dengan undangan menghadiri persidangan.
Saya tidak tahu siapa yang mengiringinya, tapi dia menuliskan saya harus bertemu dengannya di sebuah Colosseum hardcall.
"..."
hari pertama kota hardcall.
saya bersama keluarga korban lainnya datang menghadiri sidang. kepala desa Hardy dijatuhi hukuman mati, sementara penjahat yang ikut terlibat akan mendapatkan hukuman 20 tahun penjara.
"atas ini saya menyatakan tuan Hardy sebagai mantan seorang kepala desa akan dijatuhi vonis hukuman mati!" tegas hakim.
sidang ditutup, kasus selesai serta semua masalah yang dibuat oleh orang itu akhirnya terbayarkan.
Hukuman yang setimpal dan itu membuatku puas, kini kami semua akan tinggal di kota Hardcall untuk sementara waktu.
saya mengingat surat yang dikirim oleh orang misterius itu, sekarang waktunya saya pergi untuk melihat siapa orang itu.
"apa mungkin dia Raden?"
"..."
"aku akan pergi membeli makanan dulu.."
Ucap salam saya kepada yang lain, kakak sekarang sedang berbelanja, sementara ibu sedang mengasuh Aisha.
"Hati-hati dijalan"
Jawab Nadia dan Ali.
Kemundian saya membuka pintu dan pergi meninggalkan penginapan ini.
Setelah berjalan-jalan cukup jauh, aku akhirnya sampai di sebuah Colosseum, saya melihat- lihat sekeliling, bila ada orang yang mencurigakan atau mengawasinya, pasti orang
katanya hari ini sedang diadakan turnamen tahunan yang diadakan oleh pemerintah kota hardcall, Karena aku tertarik untuk melihat Turnamen di dalam sana, segera aku masuk, dan bertemu dengan seorang wanita, dia sepertinya adalah panitia acara ini dan pasti ia menjual tiket itu.
Wanita itu segera menyadari aku yang sedang mendekati ia, dan ia langsung menyapaku.
"hai tua apa ada yang bisa saya bantu?"
"iya tentu, aku ingin menonton turnamen."
Wanita itu kemudian menunjukkan sebuah papan harga tiket masuk.
__ADS_1
"Tentu kamu boleh membeli tiket harganya 3 koin perak untuk umum."
3 perak untuk kursi acak, 10 perak kursi pilihan, 2 koin emas untuk VIP.
"Waduh mahalnya." pikirku, kurasa lebih baik tidak membelinya, bisa-bisa aku akan dimarahi oleh kakak dan ibu nantinya, dengan mengatakan,
Daripada malu tidak jadi membeli, aku akan sedikit mengalihkan pembicaraan.
"sebenarnya aku baru datang di kota ini, apakah turnamen ini akan menghadirkan pembunuhan atau semacamnya."
"Tentu saja tidak, setiap peserta dilarang keras membuat lawannya cerdas apalagi tewas, Jika melanggar akan ada hukuman yang menanti mereka." ucap wanita itu dengan tegas.
Aku melihat sebuah papan dari tembaga, terdapat banyak nama dengan nomor 1 2 3, teryata turnamen ini sudah diadakan 30 tahun yang lalu, tidak hanya nama, tapi juga umur pesertanya, Kupikir itu adalah nama-nama orang yang berhasil memenangkan juara ini
"sepertinya nama-nama disana adalah juara turnamen ini."
"Tentu saja, tahun kemarin ada seorang pemuda berumur 15 tahun yang berhasil menempati posisi ketiga."
ujar wanita itu dengan antusias
"dia lebih kuat dariku rupanya... Tunggu dulu Raden???!!! "
Saya terkejut membaca nama seorang juara turnamen ini yang bernama Raden, nama yang sama dengan saudaraku.
"hei apakah anda pernah melihat Raden atau berbicara dengannya."
Tanya saya kepada wanita itu.
saya ingin tahu apakah orang yang bernama Raden benar-benar dia atau bukan, tapi jika iya, aku curiga surat yang dikirim oleh orang misterius, tidak lain tidak bukan adalah Raden.
"Aku tidak pernah berbicara dengannya tapi aku pernah melihatnya, kata orang-orang dia sangat baik dan tulus."
Ujarnya secara detail, itu semua adalah ciri-ciri Raden, aku melihat-lihat sekitar, apakah ada Raden disini atau tidak.
Untuk memperjelas saja, saya pikir turnamen ini memberikan informasi berupa asal para petarung.
"Apakah kau tahu dia tinggal dimana? "
"Kami tidak pernah menanyakan informasi pribadi seorang peserta turnamen, ada aturannya sendiri "
tegas wanita itu.
Sepertinya aturan disini sangatlah ketat, wajar saja tempat ini adalah kota.
"Kau bilang pernah melihatnya, apakah mata dia berwarna hijau? "
Wanita itu terkejut, dan menganggukkan kepalanya.
"Tentu bagaimana kau tahu itu?"
"Hahaha rupanya benar, dia adalah...!!! "
Astaganaga hampir saja aku keceplosan, mungkin akan semakin gawat jika aku mengatakannya, kerasa lebih baik aku langsung pergi saja dari sini.
"maaf saya harus pergi."
Segera saya pergi meninggalkan tempat itu, ketika berlari, aku secara tidak sengaja menabrak seseorang yang memakai topi, dia tampak mengerikan dengan luka goresan di pipi kiri wajahnya itu.
"bruk!!"
saya tanpa sengaja menabrak pria bertopi itu, orang ini sangat tinggi, tapi aku tidak menyadari jika dia ada didepanku.
"maafkan aku tuan, aku sedang terburu-buru."
"Tidak masalah, justru aku datang untuk menemuimu."
Pria itu mengatakan hal aneh, aku langsung menyadarinya dan segera menjauhinya.
"Siapa kau! "
Pria kemudian mundur dan melepaskan topinya.
"perkenalkan, namaku Adam Ashikaga, aku tahu jika kamu adalah saudara Raden."
Saya terkejut tidak percaya jika orang itu mengenaliku sebagai saudara Raden, apakah dia kenalan Raden, atau musuhnya?.
"Bagaimana kau tahu dan apa maumu?!!! "
"Aku datang menawarkanmu pekerjaan"
"pekerjaan? Pekerjaan apa? "
"karena sifat, kau cocok untuk menjadi seorang pengawal kerajaan, aku merekrutmu untuk menjadi seorang pengawal."
Mendapatkan tawaran pekerjaan? Apa manfaatnya bagiku, apakah Raden yang merencanakan ini, apa alasannya.
"untuk apa saya harus menerimanya?!!"
"Kau pasti akan menerimaya..."
*****
End story malik
__ADS_1