Kisah Pejuang Pemberani

Kisah Pejuang Pemberani
2: Duel


__ADS_3

...Episode 21...


...-tahun 421-...


Raden..


"mulai hari ini, kita berdua adalah rival!!!"


"Eh..?"


Apa yang terjadi?, kenapa dia tiba-tiba mengatakan jika kita adalah rival. Apakah aku salah mengambil jawaban???.


pertanyaan itu terus berputar-putar di pikiranku, sampai-sampai saya terdiam cukup lama, orang-orang yang mendengar ucapan Alvin terdiam juga, seakan tidak menyangka hal ini terjadi.


"hei?, Apa kau sakit, oy jawab oy?!"


ucap Alvin sambil menggoyang tubuhku berulang kali.


Jujur saja, aku senang jika Alvin menjadi teman tanding ku, agar aku bisa bertarung dengan orang kuat setiap harinya, tapi hari ini aku sedang tidak mood, saya ingin beristirahat lebih lama, ditambah ini pertamaku.


"ya, aku harus bagaimana lagi"


ucap saya sambil lemas.


"Hahaha jangan lemas begitu, jadi bersemangatnya sedikit, hahaha."


Ucap Alvin yang menyemangatiku dengan tertawa.


"ini hari pertamaku, saya ingin beristirahat sementara, ditambah tubuhku ini sudah sangat kelelahan kau tahu."


jawab saya sambil melemaskan badan ke meja.


"hahaha aku tahu kau orang kuat, tidak mungkin kau bisa kelelahan dengan rintangan sederhana itu!"


Ucap Alvin yang sok tahunya.


"Bagaimana kau tahu aku ini, kuat?"


saya menanyakepada Alvin dengan kebingungan dan terkejut tidak menyangka.


"aku tahu informasi ini dari seseorang yang bernama Viktor."


jawab Alvin.


Seketika saya terkejut dan terbangun.


"Viktor!!!"


teriak saya dengan terkejut.


saya terkejut mendengar jika Alvin mengenal Viktor, tapi bagaimana dia bisa dengan cepat memberikan informasi ini, apakah dia sudah datang kesini lebih dulu sebelum aku datang, atau ada surat.


tapi yang jelas, Viktor memberi tahu ini kepada Alvin, Kupikir juga Adam meminta hal yang sama, mengetahui kini Adam dan Viktor kini sedang menjalani misi bersama sebagai tim.


Aku lupa misi apa, tapi yang kuingat-ingat Adam sedang ada masalah di kampung halamannya.


"..."


"Sepertinya waktu makan siang sudah habis, saatnya kembali ke kelas, dan sampai jumpa lagi yah, Raden."


Ucap Alvin yang kemundian pergi meninggalkanku begitu saja.


Setelah itu terdengar suara lonceng yang keras dari luar, orang-orang di kantin segera pergi meninggalkan tempat ini, aku harus segera membersihkan meja lalu kemudian mengembalikan piring ke ibu kantin tadi, setelah selesai saya bergegas pergi.


"oke, saatnya pergi ke kelas."


Segera setelah saya pergi ke kantin dan menuju kelas saya yang berada di lantai atas gedung universitas ini. Akhirnya saya sampai dan masih belum terlambat, dan setelah itu saya duduk di salah satu bangku meja belajar.


"..."


Selesai ***, ada jadwal kosong pelajaran terakhir membuatku pusing setengah mati, untungnya tidak ada or disini, tidak seperti ketika aku bersekolah di desa. saya memutuskan untuk pergi ke perpustakaan untuk mencari informasi dan materi yang belum kuketahui sebelumnya, ditambah saya ini tertinggal dari anak lain tahun ini.


"ha.."


Dengan saya menghela nafas, hari ini sangat melelahkan, kurasa tidak akan mudah untuk terbiasa.


masih dalam perjalanan menuju perpustakaan, terdengar suara yang memanggil namaku dari belakang, dengan suara wanita tua, aku mengenal suara ini segera saya menoleh kebelakang.


"Raden!!!"


Rupanya dia adalah ibu nizi yang memanggilku.


Setelah mengetahui itu adalah ibu nizi, saya bergegas menghampirinya.


"Iya ada apa Bu?"


Tanya saya kepada ibu nizi dengan tidak tahu apa maksud memangilnya.


"He-em... hari saya ingin mengetes kamu, apa ada waktu."


Tanya ibu nizi dengan muka seriusnya.


"Tentu ada!, mumpung saya lagi senggang jadi tidak masalah."


jawab saya.


"Baiklah kalau begitu, ayo ikuti saya."


ucap ibu nizi yang kemundian membalikkan badannya dan pergi, saya tentu mengikutinya kemana ia pergi, hingga saya sampai di sebuah tempat, dekat dengan lapangan rumput, ketika masuk aku kagum karena tempat ini merupakan arena kecil, biasa digunakan untuk mengetes murid dan tempat berduel pastinya.


ibu nizi berhenti sejenak lalu menghadapiku.


"baiklah Raden, kamu tunggu ditengah sana, ada seseorang yang akan datang nantinya."


Ucap ia dan setelah itu pergi begitu saja.


"ya.."


Tanpa menunggu lebih lama, saya segera menaiki ring arena, setelah itu menunggu orang yang dimaksud, saya mendengar banyak suara secara tiba-tiba diluar.


"sepertinya diluar cukup ramai?"


Seketika banyak anak-anak murid sini datang untuk menonton duelku oleh seseorang.


"a..ada apa ini?!!"


saya kebingungan karena secara tiba-tiba banyak orang datang, mereka semua adalah murid-murid sekolah ini. aku tidak tahu apa tujuan mereka, yang kupikirkan adalah mereka ingin menontonku, kalau dipikir-pikir lagi, tempat yang kupijakan adalah ring arena.


"Jangan-jangan ada seseorang yang ingin menantangku???"


pikir saya dengan gugup dan takut.


Ini terlalu tiba-tiba bagi saya, ditambah ibu nizi tidak memberi tahu sama sekali kepadaku.


"WOII!!!. RADEN SEMANGAT YA!!!"


teriak Marie yang juga datang.


"kau juga disini??!!"


teriak saya dengan terkejut tidak menyangka jika marie benar-benar datang.

__ADS_1


"Marie kau tahu apa yang terjadi?!"


"entahlah, tapi kata orang-orang, anak baru akan bertarung dengan salah satu murid terkuat, jadi kupikir itu kau dan datang disini"


"Siapa yang menantangku??.."


Tanya saya dengan panik.


┐⁠(⁠ ̄⁠ヘ⁠ ̄⁠)⁠┌


pose Marie yang menunjukkan dia juga tidak tahu.


"Alvin?!, Siapa lagi yang berani menantang aku bukan selain dia..."


pikir saya, kalau diingat-ingat lagi, sebelumnya ketika kamu makan di kantin, Alvin mengatakan jika kita adalah rival, mungkin ini maksudnya, tapi dimana dia, kenapa belum datang juga, apa dia menuggu lebih banyak penonton lagi?.


"..."


secara perlahan, saya sedikit lebih tenang, itu dikarenakan murid-murid disini datang dengan tenang tanpa teriak, saya pikir mereka serius untuk melihat pertarungan ini.


beberapa saat kemudian, seseorang yang kutunggu akhirnya datang juga dari arah depanku, dibelakangnya juga ada banyak orang yang mengikutinya.


"hei! Kita bertemu lagi, bagaimana kau sudah siap?!"


ucap Alvin dengan semangat.


"jadi ini yang kau mau, baiklah ayo kita selesaikan."


"Kau akhirnya bisa bersemangat juga, oke aku juga sedang bersemangat hari ini!."


"Bos, hajar pemula itu"


"ya, Hajar wajah bodoh itu"


teriak orang-orang di belakang Alvin.


bos?, Alvin dipanggil bos oleh mereka, apa jangan-jangan ini alasan kenapa banyak orang takut melihat Alvin, rupanya dia preman


sekolahan, jadi benar dugaanku sebelumnya.


"..."


setelah itu ada beberapa orang yang datang dari atas, salah satunya ada guru pengajarku dan ibu nizi, mereka semua sepertinya adalah guru di universitas ini. saya mengira mereka sedang mengetes saya sekaligus memberikan ijin kepada Alvin untuk bertarung dengan saya ditempat ini.


duel Raden melawan Alvin


"baiklah, ayo kita mulai."


Ucap Alvin yang kemundian menyiapkan kuda-kuda siap tempurnya.


"tunggu, apakah kita boleh menggunakan energi?, saya kurang terbiasa menunjukkan kekuatan saya ke orang banyak?" Tanya saya kepada Alvin.


tidak masalah, semua orang disini tahu akan kekuatan mistis, mau kutunjukkan?"


Jawab Alvin yang kemundian dia menunjukkan bola energi yang dia buat keatas.


"jadi kita mulai saja sekarang!"


"Saya siap kapanpun."


Kembali kita berdua sama-sama mempersiapkan kuda-kuda siap tempur kami.


MULAI!!


dengan kecepatan tinggi, Alvin bergerak ke arah kiri dengan cepat.


Awalnya saya ingin menyerangnya terlebih dahulu, tapi itu terlambat dan dengan terpaksa, saya harus bertahan menghadapi segala serangan yang akan dia berikan.


Untuk menahan serangannya, saya menggunakan manipulasi energi, dengan membentuk sebuah barier pelindung.


Teknik ini saya pelajari ketika berpetualang bersama Marie.


Alvin dengan berani menghancurkan barier dengan kakinya, dia kemudian meluncurkan pukulannya kepadaku, saya tidak membawa pedang jadi kuhadapi dia dengan tangan kosong.


Untuk menahan pukulannya yang tepat mengarah ke wajahku, dengan cepat saya menahan pukulannya mengunakan kedua tangan saya, setelah itu saya menyerangnya dengan kaki kiri saya, yang mengarah tangan Alvin yang sebelumnya sudah memukuliku tadi.


Bruakk!!


Suara pukulan itu membuat orang-orang yang menonton tercengang.


Saya kemudian menggunakan teknik energi berupa bola energi kekuatan tinggi, serangan itu bagaikan tembakan laser, kemundian mengarah kepadanya.


"Nova Beam!!!"


Alvin kemudian menghindari serangan itu dengan cepat.


Gawat!!!


Saya teringat jika disekitar arena ini ada banyak orang, tempat ini juga kecil, saya belum bisa mengendalikan kekuatan saya sepenuhnya.


Nova beam saya mengarah ke seorang pria berambut putih.


!!!


Saya terkejut melihat dia biasa-biasa saja,


rupanya Arena ini sudah dilindungi oleh lapisan kuat yang berfungsi menahan sekaligus menjaga keamanan penonton.


"kau sempat panik, tenang saja, tempat ini sudah dilindungi seperti barier milikmu, hanya saja lebih kuat."


"oke, mengetahui itu saya tidak akan menahan diri lagi"


"Bagus, maju sini!!!" teriak Alvin dengan sangat bersemangatnya.


saya kemundian maju kedepan, mengunakan teknik energi mirip milik Adam, berupa aura listrik yang muncul disekitar badanku.


Saya mendekati Alvin, kami bertarung mengunakan tangan kosong, saling memukul satu sama lain, Alvin terlihat kewalahan karena harus menghadapi sengatan listrik, dia harus menggunakan energi negatif untuk menghilang efek serangan ini, tapi dia tidak bisa karena harus fokus menghadapiku.


oleh sebab itu, dia memutuskan mundur, dan memilih tidak mendekatiku.


Saya kemudian berhenti sejenak, untuk fokus mengumpulkan energi penguat agar bisa memberikan buff kepada tubuhku, saya berniat menambah kecepatan fisik, dan menyiapkan Aura energi Wind Cannon di kedua tanganku.


Alvin juga berhenti, dia tampak kewalahan dan kesakitan di sekujur tubuhnya.


"Kau hebat juga, memiliki banyak jurus bervariasi."


Ucap Alvin yang memuji saya sambil kelelahan.


"Terimakasih banyak, kau juga hebat."


Jawab saya dengan senyuman.


"Omong-omong aku belum tahu umurmu, berapa emangnya."


Tanya Alvin kepadaku.


"15, tapi sebentar lagi saya 16 kok." Jawab saya.


"Apa!!!" Seketika semua orang yang menonton sekaligus Alvin terkejut tidak percaya.


"Ma-masih bocah??!!" ucap Alvin dengan ekspresi tidak percayanya.

__ADS_1


Aku kemudian menyadari sesuatu, lalu perlahan mencerna semua yang kuketahui. Saya menghela nafas sebentar, dan mengira-ngira berapa umur manusia disini,


17-20. Angka pastinya 18.


"18..???" Tanya saya kepada Alvin.


Alvin mengangguk, dan itu jawabannya.


sudah pasti rata-rata murid manusia disini berusia 18 mungkin hanya ada aku dan Marie yang berusia 15, untuk ras lainya seperti elf, vampir, dwarf, mereka pasti berumur lebih panjang lagi.


tanpa banyak basa basi, saya memulai kembali serangan mengunakan jurus aliran listrik yang mengarahkan kepada Alvin.


Alvin berhasil menghindarinya, lalu dia mengepalkan kedua tangannya yang tampak sedang menahan sesuatu.


saya berpikir jika dia sedang menyiapkan jurus terkuat miliknya, segera saya mendekatinya.


Alvin kemudian melepaskan kedua tangannya lalu mengarahkannya kepadaku, seketika muncul banyak tembakan, seperti peluru bola besar yang keluar di kedua tangannya.


saya mengindari setiap serangann dan berlari memutarinya.


Duar!!!


rupanya setiap tembakan memiliki daya hancur yang sangat tinggi, saya harus membatalkan jurus Wind Cannon milikku dan menggantikannya untuk membuat pelindung energi tubuh.


Alvin tampak kelelahan, sepertinya dia sudah kehabisan energi, begitupula dengan saya, andaikan saja hanya mengunakan kekuatan tubuh, saya akan bertarung lebih lama.


Tapi kali ini harus bertarung menggunakan energi fisik sekaligus energi mistis, ini sangat menguras banyak tenaga. Jadi saya harus segera menyelesaikan pertarungan ini atau tidak kalah karena kelelahan.


jadi saya akan mengunakan wind canon yang menurutku cukup efektif untuk menyerang, karena mengunakan sedikit energi, walaupun efek serangan tidak terlalu kuat, cukup untuk mendorong lawan keluar arena.


saya menyadari jika Alvin mengangkat tangannya, dia ingin berhenti sejenak.


"hei.. Raden apa kau mau sebuah adu jurus"


Ucap Alvin dengan kekalahan.


"adu jurus?, maksudmu?" Tanya saya yang bingung maksud Alvin.


"Kamu tadi mengeluarkan serangan seperti laser, saya juga punya, jadi ayo kita adu."


jawab Alvin sambil memperagakan tangannya seperti saya mengeluarkan Nova Beam.


"Sepertinya menarik, jika salah satu kalah, maka pemenangnya sudah pasti yang bertahan"


Ucap dengan gembira sambil tertawa kecil.


"Ya, itu maksud saya."


Jawab Alvin yang kemundian dia berdiri.


"Baiklah kalau begitu, bersiaplah."


"..."


Nova Beam


"Haaah!!!"


Kami berdua mengeluarkan jurus pamungkas masing-masing yang mirip Nova Beam mirip punyaku.


Semua orang tercengang melihat pemandangan langka ini, tidak banyak orang bisa melakukannya, dikarenakan keterbatasan jumlah energi.


Baik saya dengan Alvin, kami berdua semakin lama semakin cepat lelah. Barier pelindung arena juga terlihat mulai melemah di bagian kanan kiri.


"cepat pulihkan pelindung arena!!!"


teriak salah satu guru yang menyuruh muridnya.


Awalnya saya sempat ingin menurunkan kekuatan Nova Beam, tapi Alvin sama sekali tidak mengikutinya, dia justru semakin memperkuat serangannya.


Karena keadaan sudah sangat terdesak, ditambah jumlah energi saya sudah hampir habis, dengan terpaksa dan perhitungan, saya dengan tiba-tiba memperkuat Nova Beam milikku 5 kali lipat.


Itu membuat Nova Beam miliku menembus serangannya hingga hampir mengenainya, segera saya menurun kekuatannya hingga mencapai 6 kali lipat, lebih lemah daripada sebelumnya.


Walaupun begitu, Nova Beam milik saya sudah mengenai Alvin, sehingga dia terkena serangan dan terpental jauh hingga keluar ring.


"aku menang...yeah... Bruk!!!"


saya senyum bahagia karena bisa menang, setelah itu saya pusing dan mata pandangan saya menghitam, setelah itu aku terjatuh tak sadarkan diri.


"..."


Seseorang memanggil saya.


Woi bangun woi.. Wooiiii


dia adalah Marie.


Dengan tidak sopan nya, ia memukul-mukuli mukaku berkali-kali, dengan tujuan menyadarkanku.


Setelah sadar sepenuhnya saya terbangun dari pingsan dan segera mengangkat tubuhku yang tertidur.


"sepertinya sudah membaik Dia, kau sangat hebat tadi!"


"Jarang-jarang kau memujiku seperti itu?"


ucap saya kepada Marie, karena sikapnya itu yang jarang memuji orang.


Setelah saya mengatakan itu kepada Marie, dia langsung memalingkan wajahnya.


saya menyadari dari depan ada beberapa guru yang berjalan mendatangiku.


"Raden perkenalkan nama saya pak Samsul, saya kepala sekolah universitas Masyitan.


kau tadi sangatlah hebat, bisa mengalahkan salah satu murid terkuat di sekolah ini, saya bangga memiliki murid baru sepertimu."


"Ya, terimakasih atas pujiannya, pak Samsul."


ucap saya. Dengan ekspresi senang sekaligus puas, karena sudah dipuji oleh seorang kepala sekolah.


"..."


besoknya, saya pergi dikantin untuk makan siang, tidak seperti kemarin, orang-orang membiarkan saya mendapatkan kursi,


Saya melihat orang yang mengganguku kemarin menjauhiku, Kupikir mereka takut aku membalasnya, ya jika aku mau aku akan menakuti mereka sedikit tanpa perlu melukai orang-orang.


BUK !


Seseorang menepuk pundak saya dari belakang, kupikir orang itu adalah Marie, rupanya Alvin.


"halo bro apa kabar, sehat?!!"


ucap Alvin dengan semangat, seperti biasanya.


"Ya, lain kali jangan lakukan hal itu, saya ingin beristirahat, setidaknya tunggu 1 Minggu lagi untuk mengajak saya berduel."


"Hehehe maaf, besok tanding ulang gimana?"


"Ogah!"


*****

__ADS_1


seseorang memperhatikan Raden dari jauh.


__ADS_2