Kisah Pejuang Pemberani

Kisah Pejuang Pemberani
5: ekspedisi


__ADS_3

...episode 24...


• Biografi : Alvin


• Berumur 18 tahun.


• ras manusia.


• berasal dari benua lulutea.


• memiliki bakat bela diri yang hebat, sekaligus menguasai banyak teknik bela diri.


• Alvin tinggal di sebuah desa kecil yang wilayahnya berada ditengah hutan dan jauh dari perkotaan, Sejak kecil, dia bertahan hidup dengan cara berburu hewan, mencari makanan di hutan, dan lainnya sendirian.


• suatu hari, rombongan prajurit dari kerajaan Ashura datang bersinggah di desanya. Salah satu prajurit berbuat masalah sehingga Alvin melawan mereka semua sendirian, kapten mereka melihat Alvin yang bertarung melawan banyak orang sendirian, anak sekecil itu bertarung dengan mudah melawan banyak sekali orang dewasa. Dia melihat bakat yang dimiliki olehnya, kemudian mengajaknya pergi bersamanya, Alvin menjadi anak angkat kapten itu dan dia berlatih energi mistis darinya.


****


Di tengah hutan hujan yang lebat, ada dua orang yang sedang berlari dengan semangat tanpa rasa takut.


"..."


"Raden cepatlah!!, aku sudah tidak sabar lagi!!!"


Teriak Alvin yang memanggilku dari jauh, dan dia sedang menunggu di depan pintu gerbang.


Saya hari ini akan pergi ke luar kota untuk mendapatkan sesuatu di luar sana. sambil bersama Aurel yang mengantarkanku pergi bersama, aurel membantuku kami agar mendapatkan ijin dan informasi.


Ia kemudian memberikanku sebuah peta.


"ini, jaga baik-baik oke!" Saya menerima peta yang diberikan Aurel dengan senang hati


"iya, pastinya akan ku jaga" Ucap saya dengan berjanji akan menjaganya, saya tahu jika peta ini merupakan benda penting yang harus dijaga baik.


Saya kemudian melihat isi peta tersebut, baru sekejap melihat, Alvin berteriak dan mendekatiku.


"Oyy!!!" Alvin masih berteriak dengan keras padahal hari masih pagi, dia sudah membuat banyak orang terbangun akibat teriakannya yang keras.


"iya sabar!!!, kau ini, kenapa sangat semangat sekali ingin pergi." Omel saya dengan risih terhadap Alvin begitu antusias.


"hahaha kau akan tahu itu, iyakan Aurel!"


"sheshh!, Raden jaga diri kamu oke" Aurel langsung menegur Alvin dengan mengisyaratkan untuk tidak mengatakannya.


Saya jelas bingung dan penasaran apa yang ingin disampaikan oleh Alvin dan kenapa Aurel melarangnya untuk mengatakannya.


"memangnya ada apa di sana?" saya lantas bertanya kepada Aurel dan Alvin


Aurel langsung mengalihkan pandangannya dan tidak menjawab pertanyaanku


"BUK!!!"


Seketika Alvin menepuk pundakku lalu kemudian menarikku menuju gerbang.


"udah ayo kita pergi!"


"iya!!! Sabar dulu bisa ngak sih!!!" Saya mengeluh dan melepaskan tangan Alvin yang menarikku, saya kemundian menyadari jika langit semakin terang, kurasa sudah waktunya untuk berangkat, jadi tanpa lama-lama kamu berdua langsung berangkat.


"Raden, Alvin, hati-hati disana oke!" ucap Aurel.


saya kemudian berbalik dan bungkuk dihadapan Aurel, bersama juga dengan Alvin yang ikutan juga


"Siap! terimakasih tuan puteri!!!" Seloroh saya kepada Aurel


Aurel memasang muka cemberutnya karena ia tidak suka dipanggil tuan putri, saya hanya tertawa menganggap ini hanya sebatas bercanda saja


"Hah.. Kau ini" resah Aurel kepada kami berdua


Aurel kemudian berbalik dan kemudian pergi meninggalkan kami berdua.


dari belakang dia mengatakan sesuatu kepada kami.


"Terserah kalian, pokoknya kalian berdua harus segera pulang hari ini juga" cetus Aurel.


"Baiklah, kami pergi dulu" ucap pamit saya kepada Aurel.


"..."


Saya bersama Alvin berangkat meninggalkan kota untuk pergi, meninggalkan kota ini untuk sementara waktu, saya mendapatkan kabar baik dan kabar buruk.


Kabar baiknya adalah, saya bersama Alvin mendapatkan ijin untuk mencarikan bahan yang dibutuhkan oleh Marie, bahan tersebut bernama logam sernite, untuk menemukan bahan yang dinamakan serat logam sernite, logam itu sangat lunak dan lentur, ditambah benda ini bisa merenggang sangat panjang, sekalipun bisa merenggang dan sangat lunak, logam sernite sangatlah kuat sehingga sulit untuk patah.


Dan kabar buruknya adalah, untuk mencari logam itu, mengharuskan kita mencarinya di dasar tanah, sudah dipastikan akan sangat sulit, saya bersama Alvin akan berangkat hari ini, sesuai dengan arahan dan peta yang diberikan oleh Aurel, kita berdua langsung pergi.


3 jam berlalu, dengan menggunakan peta yang diberikan oleh Aurel, kami bisa cepat sampai berkat rute yang dibuat oleh Aurenl, tempat yang kita tuju adalah "bukit gagak" bukit ini katanya dulu merupakan mayat monster Golem terbesar di dunia, banyak sekali peneliti yang mengekplorasi tempat itu. Untuk itu Aurel bisa memberikan informasi tentang rute termudah untuk menuju kesana berkat informasi yang ada.


Saya sedikit bosan karena harus berhadapan lagi yang dinamakan "perjalanan" saya sudah 5 bulan lebih berjalan kaki dari kota hardcall menuju kota Masyitan yang jaraknya jauh sekali.


Seketika saya mendapatkan suatu ide yang cukup menarik, saya kemudian menepuk pundak kanan Alvin, Alvin meresponnya dan langsung menoleh kearahnya dengan bingung.


"Hey, apa kau mau bermain" ucap saya.


Alvin seketika tersenyum dan dia sepertinya tahu apa yang akan direncanakan oleh Raden.


"Tentu saja, katakanlah" tanya Alvin dengan muka serius sambil mendekatinya


"kita adakan lomba lari bagaimana?!" ujar saya.


"ayo kita lakukan!"


jawab Alvin yang kemundian dia berhenti dan bersiap-siap untuk berlari, dia kemudian mengisyaratkan kepada saya untuk berbaris.


saya hanya tersenyum sambil tertawa kecil, setelah itu saya langsung berlari secepat chetah.


"hehehe.... WUSHH!!!"


"apa!!"


Alvin sontak terkejut mengetahui jika Raden langsung berlari meninggalkannya.


"Hey curang!!! kau bahkan belum memulai aba-abanya."


Alvin langsung berlari sekuat tenaga mengejar Raden yang sudah jauh didepannya.


Kami berdua berlomba untuk bisa datang pertama kali, Alvin tidak mau kalah, dia berhasil mengejarku dengan menggunakan jurusnya, jurusnya berupa ledakan kecil di telapak kakinya yang membuat dia melompat sejauh 50 meter kedepan, saya tidak mau kalah juga, segera saya meningkatkan buff energi pada kaki Saya agar bisa berlari jauh lebih cepat dari sebelumnya. Hanya saja resikonya saya udara atau debu di sekitarku akan terasa sakit dan menggangu, tapi berhubung saya memakai jubahku, itu tidak terlalu menggangu lagi.


di saat saya mengira aku sudah meninggalkan Alvin cukup jauh, secara tidak terduga sebuah serangan dari arah belakang mengenai area disekitarku, saya berhenti sebentar akibat debu yang berterbangan yang membuat keterbatasan penglihatanku.


Kemundian debu disekitarku mulai menghilang dan saya bisa melanjutkan lomba lari ku.


baru sampai 30 meter kedepan, Alvin secara mengejutkan sudah mengejarku dan kini dia sudah tepat dibelakangku, dia kemudian mengarahkan tangannya ke kakiku. Saya yang tidak mempunyai waktu untuk menghindar, seketika kaki saya seperti sedang terikat sesuatu.


"Apa!!., ugh!!"


kedua kaki saya seakan sedang ditahan, itu membuat saya terpeleset jatuh kedepan, hingga saya menabrak pohon.


Rupanya Alvin menggunakan jurusnya pada kaki ku, ini sepertinya merupakan jurus baru miliknya.


Alvin melewatiku dan langsung meninggalkanku, sambil memberikan ekspresi mengejeknya.


"Hehe tidak semudah itu..!!!"


Sedikit kesal saya juga akan membalasnya, berhubungan belum jauh dia, akan kutunjukkan jurus baru milikku kepada Alvin


"boleh juga, bagaimana dengan ini..!!!"


Saya kemundian memukuli tanah kemundian menyalurkan energi kedalamnya, secara serentak tanah dari depanku menuju tempat Alvin meledak.


"DUARR!!!"


Alvin terjatuh akibat ledakan yang kubuat, dia sampai tertimbun Tanah hingga kesulitan bergerak.


saya kemudian berlari meninggalkan Alvin yang masih terjebak di gundukan tanah itu.


"awas saja kau!!"


Jurus baru milikku ini kupelajari ketika melakukan uji coba pada mesin milik Marie, hingga membuatnya meledak, aku menggunakan konsep yang sama, dimana saya menyalurkan energi besar dari bawah tanah dan bisa mengaturnya, sesuai arah yang kumau.


Alvin berhasil keluar dan setelah itu kembali berlari, namun kali ini dia memanjat salah satu pohon, Alvin sampai di puncak pohon tersebut, lalu dia melompat tinggi keatas.

__ADS_1


!!!


Saya menyadari jika ada seseorang baru saja melewatiku, saya reflek menengok keatas.


teryata orang itu adalah Alvin, saya tidak menyangka jika Alvin melakukan lompatan tinggi dari pohon ke pohon, memanfaat hutan yang luas dan pohon yang tinggi, dia bisa berpergian jauh lebih cepat ketimbangku.


Saya sedikit kesal dan memikirkan cara untuk bisa mengejarnya atau jika tidak, saya harus bisa memaksa Alvin untuk turun.


saya kemundian mengepal kuat tanganku lalu kemundian mengumpulkan energi namun kali ini saya harus bisa mengontrolnya.


Saya berhenti berlari sebentar, kemundian mengumpulkan kekuatan untuk melepaskan energi ke atas yang mengarah ke Alvin.


"Haa!!!"


saya melemparkan bola energi itu mengarah kepada Alvin, bola itu bergerak dengan cepat, dan bola itu mengincar Alvin kemudian salah satu bola mengenainya.


Alvin terkejut melihat Raden yang mencoba menyerangnya, dia berusaha menghindarinya tapi bola itu seakan mengikutinya, hingga pada akhirnya Alvin terkena serangan dan jatuh.


"apa!!!...aaghh!"


mengetahui itu saya langsung bergegas berlari sekuat tenaga, Alvin bangun kembali dan bersiap kembali berlari, dia menyadari jika bola-bola energi milik Raden masih bergerak di atas sana, tapi tidak mengincarnya lagi, Alvin berpikir jika Raden sengaja melakukan ini agar Alvin tidak lagi bisa melompat diatas pohon.


"baiklah, kalau begitu...!!!"


Alvin yang Baru saya bangun akibat jatuh, secara tiba-tiba Raden berlari dengan kecepatan tinggi, Alvin diam tidak percaya jika Raden bisa secepat itu.


"bagaimana mungkin?!!"


Alvin tanpa pikir panjang berlari mengejar Raden, dia juga berusaha menghalang Raden dengan cara menyerangnya menggunakan tembakan energi yang mengarahkannya, Raden masih bisa menghindarinya tapi karena itu yang membuat gerakannya semakin melambat.


"..."


Sore hari...


"hah!!!..haah!!!"


Saya bersama Alvin sekarang sedang beristirahat bersama, kami berdua sudah sampai di lokasi yang kami tuju, dan pemenangnya adalah saya, walaupun harus berapa kali curang.


"kau hebat, berapa banyak teknik yang kau miliki..?"


tanya Alvin dengan megap-megap akibat kelelahan setelah berlarian sedari tadi.


"masih banyak.. hanya saja belum sempurna, aku perlu lebih banyak belajar dan berlatih."


Jawab saya dengan megap-megap.


Alvin tertawa senang dan merespect Raden dengan memberikan jempol terangkat keatas kepadanya.


"Kau sangat hebat, kau punya bakat hebat."


"terimakasih, aku juga tidak menyangka bisa sejauh ini."


senang bisa mendengar apresiasi itu dari orang lain.


****


kami berdua sudah sampai di bukit gagak dan hanya perlu mendaki untuk bisa mencapai goa yang ada diatas sana, menurut informasi yang kami tahu dari Aurel dan peta, Kami berdua memutari bukit dah secara perlahan akan sampai menuju puncak.


Saya menyadari jika Alvin menunjukkan ekspresi wajah waspada dan serius, tampak sedikit seseorang yang bersiap bertarung, saya pikir dia mungkin kelelahan, saya sedikit khawatir kepadanya.


"hei, ada apa?"


Tanya saya kepada Alvin


"Raden... Sebaiknya kita harus berhati-hati"


jawab Alvin yang tampak masih berkeringat.


Walaupun begitu saya masih bingung kenapa harus berhati-hati, apakah alvin memperingati ku untuk berhati-hati agar tidak terjatuh dari bukit?


"ada apa sebenarnya?"


"tidak apa-apa, kita lanjutkan saja"


Jawab Alvin, dia kemudian berjalan lebih cepat dari sebelumnya


Jika dipikir-pikir lagi, sebelumnya aurel ingin mengatakan sesuatu yang cukup aneh, dia terlihat khawatir dan takut, tapi ia belum mengatakannya dan bahkan Alvin memotong pembicaraanku, aku tidak tahu apa yang mereka berdua sembunyikan.


"..."


Hari mulai malam, kami berdua lebih memilih melanjutkan perjalanan daripada istirahat, ya itu karena baik aku dan Alvin masih belum terlalu lelah, mungkin istirahat 5 menit suda cukup, akan tetapi perjalanan kami menuju goa hampir sampai, jadi kami lebih memilih untuk melanjutkannya daripada beristirahat.


~!!! ketika kami masih berjalan mendaki, saya melihat goa yang merupakan tujuan kami sudah terlihat, akan tetapi secara tidak terduga aku merasakan sebuah ancaman.


Alvin juga merasakan hal yang sama, dia dan aku berhenti sejenak dan melihat-lihat sekitar, memastikan area sekitar.


"Raden.. Dengar baik-baik, tujuan kita disini sebenarnya bukan untuk mencari batu sernite"


"Apa, terus?!!"


Jawaban mendadak dari Alvin membuatku bingung sekaligus terkejut, sebenernya tujuan kita apa kesini.


Alvin kemudian berlari, saya mengikutinya kemana dia pergi, tapi bukan di jalan menuju goa, baik aku dan Alvin kebingungan untuk berlari, aku tidak tau apa yang ditakutkan oleh Alvin, apakah ada yang mengejar kami berdua.


"kau seharusnya mengatakannya dari tadi!!!"


keluh saya yang tidak bisa menerima tindakan dilakukan oleh Alvin akibat tidak mengatakan hal yang sebenarnya tujuan kita kemari.


"Maaf mendadak, tapi kita harus sembunyi secepatnya!!!"


Jawabnya sambil melihat arah bawah.


"Oke!!, kemana??!"


"Turun!"


ujar Alvin yang kemundian dia melompat turun dari bawah.


Tidak ada pilihan lain, saya mengikutinya dan melompat kebawah, hari sudah gelap, keadaan mencekam seperti ini baru pertama kali kurasakan, kenapa rasa ancaman terus menerus kurasakan, perasaan takut terus menyelimutiku, rasa takut ini seperti ketika aku pertama kali berpetualang.


akhirnya kami sampai di dasar, Alvin kemundian menarikku kearahnya dan kami berdua bersembunyi.


"...Dum!..Dum!..Dum!.."


Suara hentakan kaki cukup besar perlahan-lahan terdengar dan semakin keras.


Tanpa kusadari aku berhenti bernafas dan berusaha tidak menimbulkan suara.


Aku tidak mau melihat arah belakangku, tapi aku yakin itu adalah MONSTER yang membuat Alvin ketakutan dan kabur melarikan diri.


monster itu muncul, terlihat dari bayangan yang tampak dari depan, dipastikan posisinya dari atas puncak bukit dan ukurannya yang sangat besar.


Monster itu besar sekali, sepertinya monster itu memiliki tanduk dan berjalan merangkak.


secara perlahan bayangan monster itu menghilang begitupun dengan suara hentakan kakinya.


"..."


2 menit berlalu semenjak bayangan monster itu menghilang, aku dan Alvin kembali bernafas setelah menahan nafas yang cukup lama.


"haah..haah.."


Hela Nafa saya akibat terlalu lama menahan nafas.


"Apa itu tadi...!"


dengan emosi saya bertanya kepada Alvin sambil mengangkatnya


"Itu tadi monster!"


"Aku tahu, kenapa kau tidak mengatakan ini sebelumnya?!!"


Tanya saya sekali lagi.


Alvin diam sejenak dan perlahan mulai berbicara


"Aku takut kau akan menolak"


"iya, itu sudah pasti, tapi aku paling tidak suka jika ditipu seperti ini!"

__ADS_1


Aku tidak tahu apa alasan Alvin diam saja, mungkin ini rencananya Alvin atau Aurel..


tidak, saya tidak boleh berpikir buruk kepada mereka. Mungkin saja, syarat saya untuk bisa kemari adalah membunuh monster itu, tidak mungkin kan, aku diberikan informasi rahasia dari batu langka yang disebut batu sernite, ditambah tempat ini merupakan area penting bagi para peneliti.


Informasi yang diberikan pastinya tidak gratis, itu pikiran lain kali saja, sekarang aku harus berpikir untuk bisa pulang dengan selamat dan mendapatkan sumber daya.


"jadi apa yang harus kulakukan sekarang?!"


"Kita ke goa itu segera, mumpung masih jarak kita yang dekat di tempat itu"


"Kau yakin, monster itu setidaknya masih ada disekitar kita."


Ucap saya sambil mengarahkan tanganku ke bukit, tempat pertama kali monster itu muncul.


"Aku tahu!, untuk itu kita harus bergegas"


"..."


saya diam sejenak, berpikir apakah aku harus mengikuti rencana dia atau tidak, Kupikir akan lebih bagus untuk mengatasi monster itu terlebih dahulu, tapi karena aku kekurangan informasi, apalagi monster itu terlihat lebih besar dari yang pernah kuhadapi sebelumnya, baik monster atau hewan buas, baru kali ini saya bisa mengetahui mahluk besar hanya dari melihat bayangannya saja.


Jadi kuputuskan untuk mengikuti rencana Alvin, ini pilihan yang tepat melihat dari kondisi kita saat ini.


"Baiklah, ayo kita berangkat" Ucap saya, kemundian saya berdiri mengambil kembali tas dan menyiapkan pedang milikku.


"oke, ayo kita pergi."


Alvin juga kembali berdiri dan menyiapkan pedang miliknya juga.


"ini tidak akan mudah"


"..."


Kami membentuk formasi, dimana saya akan berjalan di belakang Alvin sambil berjaga-jaga dari belakang dan sekitar, sementara alvin akan berjalan dari depan, dia yang akan memandu jalan menuju goa.


kami akhirnya sudah sangat dekat di goa itu, akan tetapi perasaan mencekam terus kurasakan, seakan monster itu selalu mengawasi kami.


Kini kami sudah sampai didepan goa.


"ayo kita masuk!"


Mengangguk


kami berjalan perlahan memasuki goa, akan tetapi goa berada diatas kita, jadi kami harus memanjat terlebih dahulu.


saya membantu Alvin memanjat, setelah dia sampai diatas, dia memberikan tangannya untuk saya, aku memegang tangannya dan dia menarikku keatas.


Kami berdua akhirnya sudah berada di goa, kami berjalan tanpa berbicara sepatah katapun, berkat gelapanya isi goa sekaligus ini malam hari, aku melihat banyak cahaya berwarna biru yang redup berada di sekitar dalam goa.


Raden kemudian mengisyaratkan kepadaku untuk menghampiri cahaya redup itu, aku menyetujuinya dan berjalan perlahan kearah sana.


Akhirnya saya menemukan sumber cahaya tersebut, mencarinya hingga mendapatkan satu batu besar ini, saya mengingat-ingat kembali ciri khas batu sernite dari Aurel, ia bilang jika batu ini akan sangat mencolok di ruangan gelap, mungkin ini batu sernite yang dimaksud olehnya, tapi pertanyaan yang terlintas di isi kepalaku.


"kenapa banyak sekali batu-batu ini, apa para peneliti sebenarnya belum pernah menjelajahi tempat ini akibat monster itu?"


mengetahui itu aku menyimpulkan jika goa ini sebenarnya belum Pernah dijelajahi akibat monster itu yang masih berkeliaran, tugas kami kesini adalah untuk menghabisinya.


Saya menengok kebelakang, Alvin juga mengambil beberapa batu sernite di belakang, dia kemudian mengambil batu-batu tersebut dan memasukkan kedalam tas, saya kemudian juga mengambil semua batu sernite yang kutemukan dan memasukkan kedalam tas miliku.


"..."


"Grrrr..."


!!!


Saya baru menyadari jika monster itu sudah tepat di depan goa, aku yang ketakutan perlahan melihat arah keluar goa ini, untuk pertama kalinya saya melihat monster yang kutakuti, monster itu berkepala rusa dan ukurannya sangat besar, sebesar kepala gajah.


Ditambah jarak saya dengan Alvin yang cukup jauh, kami berdua berdua kebingungan harus bagaimana.


kami diam sejenak karena bingung harus bagaimana, tapi monster itu perlahan mendekati kepalanya dan mulai memasuki goa, dia kemudian membuka mulutnya secara perlahan, monster itu kemudian mengeluarkan cahaya dari mulutnya.


Jelas itu merupakan energi mistic, dia berniat menyerang kami, aku bergegas menyerang terlebih dahulu tepat di kepalanya.


"Haa!!!"


Monster itu berhenti menyerang dan berteriak sangat keras.


"Cepat keluar!!!" teriak saya kepada Alvin


Alvin kemudian keluar terlebih dahulu, saya kemudian menyiapkan pedang katana milikku, lalu kemudian berlari keluar.


Akan tetapi monster itu menyerang menggunakan tangannya, beruntung serangan itu meleset berkat bantuan dari Alvin yang menyerangnya tepat di tangannya.


saya berhenti mengindar dan akhirnya keluar goa, aku langsung terkejut melihat melihat untuk pertama kalinya secara utuh tubuh monster itu, monster itu berbadan manusia tanpa kulit dan berkepala rusa.


Saya kemudian menyiapkan jurus Nova Beam kearahnya, Alvin membantuku dengan cara mengalihkan perhatiannya.


"Rasakan ini!!!"


Nova Beam mengenai bahu monster itu, Alvin kemudian menyerangnya juga mengunakan puluhan bola energi kearahnya, hingga monster itu terjatuh.


Saya kemudian kemudian mendekati monster itu dengan niat menebas salah satu kakinya.


akan tetapi monster itu segera bangkit kembali dan menyerang kami berdua, ledakan energi mengenai sekitar kami, hingga salah satu seragam mengenai Saya tepat didepanku, hingga saya terpental jauh kebelakang.


Aku terluka, Alvin kemudian mengeluarkan jurus rahasianya miliknya, manipulasi api.


dia membakar tubuh monster itu.


Kemundian Alvin kembali menyerang mengunakan jurus laser yang mirip dengan Nova Beam milikku.


"haa!!!"


akan tetapi monster itu berhasil menghindar dan kemudian menyerang Alvin hingga dia terpental jauh kearah pepohonan hutan.


saya bangkit kembali dan kemudian berlari kearah hutan secepatnya, aku juga meninggalkan tas milikku untuk mengurangi berat agar saya bisa berlari dengan cepat,


segera monster itu mengetahui saya kabur, dia berlari mengejarku.


Monster itu kembali menyerangku dengan mengeluarkan serangan energi kearahku, tapi saya bisa menghindarinya, itu berkat hutan yang terus menghalangi jalan dan penglihatan monster itu.


gelapnya malam dan pohon yang lebat, menghalangi jalan monster itu, saya kemudian memanfaatkan kondisi ini dengan cara menghilang secara cepat, monster itu kebingungan mencariku yang tiba-tiba menghilang, dia berteriak sangat keras.


"Raaaaaarrrr !!! "


saya melihat-lihat sekitar, aku menyadari jika ada pohon besar di sebelahnya, aku memikirkan ide untuk menumbangkan pohon itu agar jatuh tepat di atasnya.


Saya kemudian berlari secepatnya ketempat itu tanpa monster itu sadari, kemundian saya mengeluarkan jurusku hingga pohon terbelah, kemudian menggunakan wind Canon milikku agar pohon tersebut terhempas.


Akhirnya Pohon itu jatuh tepat diatas monster itu hingga dia jatuh tidak bergerak.


Saya kemudian menyiapkan jurus Nova Beam milikku tepat kearah kepala monster itu, setelah selesai menyiapkan jurusku, segera luncurkan serangan pemungkas milikku.


Nova Beam milikku mengenai kepala monster itu Hingga dia tidak bergerak sedikitpun, saya pikir sudah berakhir, akan tetapi monster itu kembali bergerak dan kembali menyerangku dengan menghantamkan tanah hingga mengakibatkan bebatuan terlempar kearahku, saya segera menghindar akan tetapi monster itu menyerangku sesekali lagi menggunakan kekuatan energi miliknya melalui mulutnya, hingga saya terkena serangan dan terpental menabrak salah satu pohon.


"..."


Alvin kini berada diatas pohon, dia terluka parah akibat serangan yang diberikan oleh monster itu. Kemudian dia mendengar suara raungan monster tadi dari jauh, dia berusaha berdiri dan kemudian menuju sumber suara itu secepatnya.


akhirnya Alvin sampai ditempat Raden, Alvin baru menyadari jika Raden sedang tidak bergerak dan monster itu perlahan berjalan mengarah nya, menyadari jika Raden dalam Bahaya, dia kemudian turun dan segera membantunya dengan cara berlari kearah monster tersebut lalu menebas monster itu yang sedang lengah dari arah belakang.


Monster tersebut berteriak kesakitan dan beralih menyerang Alvin, Alvin yang memiliki sisa tenaga mengindari semua serangan yang diberikan oleh monster itu, Alvi kembali menggunakan jurus manipulasi api miliknya, dan membakar monster itu.


"..."


Saya akhirnya sadar kembali, dengan menggunakan semua sisa tenaga yang kumiliki saat ini, aku akan mengakhiri ini dengan satu serangan.


aku mengunakan pedang katana milikku dan mengumpulkan semua kekuatanku di pedang ini, saya menyadari sebelumnya ketika menyerah monster itu menggunakan Nova Beam, bahwa serangan itu belum mampu melukai monster itu, akan tetapi ketika Alvin datang dan berhasil menebas monster itu, jadi aku akan menyerangnya menggunakan pedang, Kupikir ini akan lebih efektif daripada menggunakan Nova Beam sekali lagi.


Saya kemudian berlari kearah monster itu, lalu menaikinya, monster ini menyadari jika aku berhasil menaikinya, dia kemudian berusaha menyingkirkanku dengan cara menabrakkan dirinya ke pohon.


Saya hampir terjatuh, akan tetapi Alvin dengan sigap membantuku dengan cara melompat kearah monster lalu kemudian menusuk mata kiri monster tersebut.


Segera saya naik keatas leher monster ini, kemudian aku menusukkan pedang milikku tepat dilehernya, lalu mengeluarkannya jurus energi listrik milikku, walaupun begitu tanpa sengaja aku malah melukai Alvin hingga dia terjatuh.


tanpa mempedulikankanya terlebih dahulu, aku harus membunuh monster ini secepatnya, saya kemudian meningkat jurus manipulasi listrik milikku hingga batas maksimal, sehingga membuat ledakan besar.


Leher kepala monster ini meledak hingga terbelah, saya terpental jauh dan monster ini berhasil tumbang.


****

__ADS_1


__ADS_2