Kisah Pejuang Pemberani

Kisah Pejuang Pemberani
3: kemarahan


__ADS_3

...Episode 16...


...-tahun 422-...


Malik..


pagi hari sudah tiba, aku terbangun dari tidur nyenyak ku, segera setelah saya bangun, aku bergegas menuju kamar mandi, selesai dengan urusan disana aku segera pergi ke ruang tamu, disana aku melihat adik kecilku Aisha yang sedang digendong oleh nadia, Aisha masih tidur, ia sangatlah imut ketika tidur, aku terkadang ingin mengendongnya tapi Nadia melarangku untuk melakukannya, itu dikarenakan sebelumnya saya pernah beberapa kali membuat Aisha menangis saat ku gendong. Saya tidak tahu bisa kenapa tapi sepertinya wajahku sangat menakutkan bagi seseorang bayi, atau mungkin karena aku tidak terlalu mahir menggendong seorang bayi.


menunggu sejenak di ruang tamu, ibu dan kakak memanggil.


"ayo kumpul sarapan pagi dimulai!!."


kami semua langsung berkumpul dan makan bersama, tidak lupa mengucapkan doa syukur berkat makanan yang disajikan hari ini.


sebenarnya akhir-akhir ini kami bisa sering makan makanan enak berkat uang yang dikirim oleh Raden bersamaan dengan suratnya, walaupun hanya sedikit tapi ibu menggunakan kebutuhan pokok sehari-hari, dan sekarang Raden sudah tidak pernah mengirimkan surat lagi, kupikir karena dia sudah pergi sangat jauh sehingga surat dia kirim membutuhkan waktu yang lama untuk datang.


surat terakhir yang dia kirim sudah dirusak oleh sekelompok gang Jack hingga tidak bisa dibaca lagi, ditambah kejadian hari itu yang dialami oleh Ali, kurasa dia masih sedih dengan kejadian itu. Mungkin surat terakhir yang Raden kirim berisi informasi penting.


mungkin kita tidak akan pernah mengetahui apa isi pesan itu.


"...."


Terkadang aku berpikir, bagaimana bisa orang buruk seperti tuan Hardy yaitu kepala desa


Sluth, Dia orang yang buruk tapi bisa menjadi seorang kepala desa, ditambah anaknya itu yang biadap keterlaluan, dia sangat suka mengambil uang warga desa demi kepentingan pribadinya dengan mengatasnamakan nama ayahnya yang merupakan kepala desa.


sebenarnya pak Hardy melakukan tugasnya dengan baik sebagai kepala desa, namun dia terlalu memanjakan anaknya si Jack. Itu yang tidak Kusuka darinya, walaupun begitu aku merasa jika pak Hardy sedang melakukan hal buruk, itu karena ketika dia terlihat, pastinya seorang kepala desa akan menyapa warganya dengan senyum, tapi aku melihat dia bukan senyum secara tulus.


"..."


saya hari ini terlalu banyak berpikir, itu tidak baik untuk kesehatanku, aku bisa saja jatuh sakit akibatnya dan tidak akan bisa bekerja.


Setelah Selesai makan saya bersiap untuk pergi bekerja seperti biasanya,


hari ini aku bekerja untuk seorang peternak hewan, itu karena dia yang memintaku kemarin, jadi sekarang aku bekerja di kandang.


Sebenarnya aku tidak suka bekerja di peternakan, namun untuk saudaraku aku akan bekerja dengan lebih baik. hal-hal yang saya lakukan hari adalah membersihkan kandang, memandikan ternak dan memberi makan.


"aku berangkat dulu"


tidak lupa sebelum pergi saya harus berpamitan terlebih dahulu.


"...."


Aku bekerja dari pagi hingga sore, mendapatkan uang.


Awalnya aku ingin pulang ketika sudah selesai bekerja, tapi saya tahu jika bau badanku sangatlah tidak sedap, jadi kuputuskan untuk mandi di sungai, setelah selesai aku olahraga sebentar untuk mengeringkan diri.


selesai semua itu saya segera pulang dari rumah.


"...."

__ADS_1


saat kembali dirumah, alangkah terkejutnya saya melihat banyaknya orang-orang yang berkumpul didepan rumah, aku tidak tahu apa yang terjadi dan bergegas kesana, berniat mencari ibu atau lainnya, apakah mereka baik-baik saja


Aku pun sampai didepan rumah dan memanggil lainya, hingga seseorang yang kukenal menghampiriku, dia adalah paman Tukang pos, dia menemuiku dan menjelaskan apa yang terjadi, paman itu menceritakan jika jika Ali adikku dibawa pergi oleh kelompok gang Jack.


"apa yang terjadi disini?."


Paman itu menjawab ku dengan sedikit ragu, itu membuatku sedikit khawatir akan apa yang terjadi disini.


"jadi nak.. Adikmu dibawa pergi oleh kawan-kawan si Jack."


"Apa bagaimana bisa!!! "


sontak aku sangat terkejut dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi.


"maafkan aku nak aku tidak tahu apa-apa, orang-orang disini datang juga karena mengalami hal serupa."


Mendengar itu, aku langsung paham jika orang-orang disini datang kesini karena mengalami hal serupa, yaitu orang terdekat mereka diculik. Jadi mereka semua kesini untuk meminta bantuan untuk menyelamatkan mereka.


saya berpikir jika orang yang mereka harapkan adalah Raden, karena dialah yang selalu menyelesaikan semua masalah ketika mereka berbuat onar, tapi Raden tidak ada disini.


"Hal serupa?, maksudmu banyak anak yang diculik?!!! "


"Iya itu benar."


Jika itu benar, aku sangat khawatir akan keadaan keluargaku.


"Bagaimana dengan saudaraku yang lain."


Paman awalnya tidak ingin menjawabnya, tapi menunggu beberapa saat kemudian, dia mulai berbicara dan mengatakan yang sebenarnya.


saat mendengar jika Nadia juga terlihat, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, aku sangat shock dengan semua yang terjadi hari ini


saya kini sangatlah khawatir keadaan ibu, Kakak dan Aisha.


"Bagaimana dengan ibu dan kakak.."


"Mereka ada didalam.."


Mengetahui itu aku segera masuk kedalam rumah dan melewati beberapa kerumunan orang. segera aku membuka pintu dan masuk didalam.


Saat masuk, betapa terkejutnya diriku ini melihat ibu yang tidak berdaya berbaring di kasur dengan ditemani kakak disebelahnya.


Hatiku sangat hancur saat keluargaku dipermainkan oleh Jack dan kawan-kawannya.


aku sangat marah, saya berjalan perlahan didalam kamar ku, mencari sebuah benda yang kupikirkan akan dibutuhkan.


Yaitu pedang pemberian bima, kupikir ini adalah sebuah takdir bagiku dan itulah kenapa aku mendapatkan dari bima.


saya segera pergi untuk menyelesaikan semua masalah ini, kupikir mungkin aku tidak akan kembali pulang lagi, jadi kuputuskan untuk melihat kakak dan ibuku yang terakhir kalinya, setelah itu aku keluar rumah, berjalan perlahan meninggalkan rumah.


tapi karena lokasi markas perkumpulan berandalan itu lumayan jauh, mungkin akan memakan banyak waktu ketika hanya berlari saja, ketika aku memikirkan bagaimana cara agar bisa sampai dengan cepat, tiba-tiba seseorang menepuk pundakku, aku menolehnya, teryata dia adalah paman pemilik peternakan yang tadi aku bekerja dengannya, dan dibelakangnya ada seekor kuda.

__ADS_1


"hei nak, kupikir kau butuh kendaraan, kau boleh meminjam kudaku ini."


"Benarkah?! terimakasih banyak."


Berkat pertolongan paman itu, aku bisa mempercepat waktu perjalanan.


baru saja saya mulai berjalan, tiba-tiba ada seseorang yang menghalangi kudaku.


"Apa kau sudah gila?!!!."


Orang yang menghalang kudaku adalah bima, dia sahabatku.


"Mungkin kau benar jika aku sudah gila,


tapi coba kau pikirkan baik-baik, bagaimana bisa aku tidak gila setelah mengetahui saudara-saudariku di culik tepat setelah aku pulang berkerja."


"aku tahu jika kau sedang frustasi, maka dari itu kita serahkan semua masalah ini ke pihak berwajib untuk kasus ini, kau istirahatlah saja."


saya tidak ingin mendengarkan perkataan bima apapun lagi dan memaksa kudaku ini berjalan,


tapi bima sangatlah masih Gigih sekali, dia terus memaksa kudaku untuk tidak berjalan.


hingga orang-orang yang berkumpul di depan rumah menghampiriku dan mulai menarik bima, kemundian mereka berbicara.


"Malik.. tolong Selamatkan anakku."


"Kau satu-satunya harapan kami setelah Raden."


"Kumohon tolong selamatkan adikku."


mendengar semua permohonan dari warga desa, bagaimana seseorang sepertiku hatinya bisa luluh, ini membuatku semakin semangat.


Mereka semua mendukungku untuk pergi,


Bima menyerah dan melepaskanku tapi dia segera meneriakkan sesuatu.


"aku akan ikut membantumu!!! "


teriak bima kepadaku,


sontak membuatku sangat terkejut akan pernyataan, sempat terdiam sebentar untuk berpikir apakah boleh jika bima ikut akan hal ini.


 "apa kau gila!!! Yang kau hadapi berandalan keji itu."


"Justru kau yang lebih gila dariku, sudahlah biarkan aku ikut bersamamu."


Bima memang benar-benar sahabatku, aku tidak ingin dia ikut terlibat masalah ini, tapi aku ditahan olehnya dan akan mengijinkan ku pergi ketika dia ikut pergi juga denganku. Aku sendiri tidak yakin akan bisa pulang dengan selamat apalagi jika aku bersama dengannya.


Tapi ketika aku tetap memaksa pergi sendiri, mungkin bima akan kecewa kepadaku,


Dengan banyaknya pertimbangan, akhirnya aku menyetujui jika bima ikut bersamaku, karena sudah tidak ada waktu lagi.

__ADS_1


"baiklah ayo kita pergi!!!."


*****


__ADS_2