Kisah Pejuang Pemberani

Kisah Pejuang Pemberani
3: Teman lama


__ADS_3

...episode 22...


1 bulan kemudian.


"jadi bisa disimpulkan jika jiwa manusia terhubung dengan tubuh mereka sendiri, anggap saja satu kesatuan antara jiwa dan tubuh fisik."


seorang Guru yang sedang menjelaskan materi dalam Kelas.


saya akhirnya mengerti, jika hubungan antara tubuh fisik dan jiwa seseorang tidak bisa dipisahkan. Berkat pengajaran beliau saya sekarang sudah mampu mengontrol energi mistis dengan baik. Saya berniat menciptakan jurus baru lagi, kali ini bisa dikendalikan dari jarak jauh.


"baiklah anak-anak, sampai disini saja hari ini."


ucap guruku kepada semua murid sambil membereskan buku dan papanya,


"..."


saya berpikir untuk mencari buku untuk mempelajari lebih dalam ilmu manipulasi energi, entah kenapa tapi saya ingin sekali mencoba membuat sesuatu dari energi jiwa.


jadi saya meminta saran kepada guru saya dan Alvin tentang rekomendasi buku yang layak dibaca. Untungnya guru saya mau memberikan saran kepada saya, untuk Alvin, dia mengatakan sendiri kalau dia tidak pernah ke perpustakaan. sepertinya untuk soal belajar kurasa lebih baik tidak bertanya kepada dia.


Karena sudah tahu apa buku yang ingin kucari, aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan, Ketika saya sedang berjalan-jalan, aku merasakan seseorang sedang berjalan dibelakangku, saya menolehnya dari belakang.


!!!


saya terdiam sejenak, melihat seseorang dibelakangku, melihat dari bawah ke atas, rupanya dia adalah wanita yang Memakai celana ketat panjang dan berpakaian putih, wanita cantik berambut pendek pirang menatapku. wanita itu terkejut karena aku menatapnya secara tiba-tiba.


Ketika aku melihat wajahnya, entah kenapa rasanya familiar.


"Tunggu, sepertinya aku pernah melihatmu."


Saya berhenti sejenak dan terus berpikir mengingat-ingat wajahnya itu, mulai dari wanita yang pernah kutemui ketika berpetualang bersama Adam, wanita cantik di kota Hardcall, terakhir wanita di desa sluth.


"Hahaha...kau pasti Raden kan?"


Ucap wanita itu dengan senyum manisnya, hati Saya berdetak kencang sambil bingung melihat senyum manisnya, sekaligus bingung bagaimana bisa ia tahu namaku.


"Bagaimana kau tahu namaku?"


Tanya saya sambil mendekatinya dengan wajah datar karena curiga.


Wanita itu juga berjalan mendekatiku juga, sampai kami berdua sudah mendekat, saya melihat wajahnya dan mengingat-ingat kembali siapa ia sebenarnya. Saya mencoba mengingat seorang wanita di kampung halamanku.


saya melihat matanya.


"mata merah?"


dalam sekejap saya teringat seorang gadis pirang yang merupakan teman masa kecilku,


"A...a...a..!!!"


"Aurel!."


Wanita itu memberi tahu namanya sambil mendecakkan lidahnya.


"ya itu!!"


Ungkap saya dengan wajah terkejut.


"Astaga kau bahkan lupa nama temanmu sendiri."


ya sudah wajar saja, Saya sebenarnya tidak terlalu mengingat nama orang, jadi maklum saja, mungkin aku harus minta maaf kepadanya nantinya.

__ADS_1


"Bagaimana kau bisa disini?!" Tanya Saya yang kemudian aku sedikit berjalan mundur.


"Justru aku yang bertanya hal itu yang harus kutanyakan kepadamu." ucap Aurel dengan ekspresi sedikit kesal, ia malah berjalan mendekatiku.


"Lama tidak bertemu, bagaimana kabarmu?!" ucap saya dengan perasaan dan wajah malu-malu.


"..."


Kami berdua sekarang sudah berada di perpustakaan, disini kami berdua akan bercerita tentang bagaimana cara kita bisa sampai disini. Saya duduk di meja sementara Aurel duduk di depanku.


"jadi kau memiliki bakat alami tentang energi mistis." ucap Aurel dengan saya yang tidak percaya akan fakta itu,


"yah itu benar kok, saya bisa belajar energi mistis dengan baik selama 2 bulan saja!" Ungkap saya, itu membuatku sedikit senang dan percaya diri lagi,


Aurel hanya menjawabnya dengan senyuman dan tawa kecil, itu membuatku sedikit malu karena malah pamer bakat kepada seorang wanita.


"Omong-omong kenapa kau baru menemuiku hari ini, padahal saya sudah 1 bulan disini?" tanya saya kepada Aurel.


"yah aku banyak pekerjaan sebenarnya, jadi saya tidak memiliki banyak waktu luang."


Jawab Aurel dengan ekspresi sedikit lelah dan mungkin ia ingin sedikit curhat kepadaku.


Saya teringat duelku dengan Alvin, itu membuat gempar satu universitas, jadi Saya pikir Aurel juga ikut menonton.


"Oh.. apa kau melihat duelku dengan Alvin!!?" Tanya saya dengan wajah semangat menunggu Aurel memujiku,


"Tidak sih, tapi aku mendengarnya dari temanku." jawab Aurel.


Itu membuat sedikit sedih, Kupikir akan mendengar pujian darinya, ya tapi saya sebagai lelaki harus menunjuk sifat jantan saya.


"jadi kau tahu rahasia rambut kuning ku ini?" tanya Aurel sambil memainkan rambutnya itu,


rahasia rambut kuning, aku tidak tahu apa-apa soal rambut kuning, apakah itu merupakan penyakit, ras, kutukan.


"Jadi belum tahu ya, yaudah kuberitahu padamu oke."


"Baik!!!" dengan ekspresi serius saya mendengarkan apa yang ia katakan,


"pernah melihat bangsawan asli kerajaan." tanya Aurel sambil menunjuk jari tangannya keatas, yang menunjukkan sebuah foto wajah seorang raja Ashura.


"Tidak pernah, saya belum pernah ke pusat kerajaan sebenarnya." jawab saya jujur sambil menggelengkam kepala.


"sebenarnya, rata-rata keturunan bangsawan wanita memiliki rambut pirang, jadi bisa dibilang saya ini seorang bangsawan." Ucap Aurel dengan nada pelan.


Mendengar itu, wajah saya dengan perlahan berubah, dari ekspresi serius mendengarkan menjadi ekspresi tidak menyangka dan terkejut tidak percaya fakta ini.


"maaf atas ketidaksopanan saya ini tuan putri!!!" Segera saya tunduk di hadapannya Aurel setelah mengetahui hal ini.


"Hei bangun, kamu tidak perlu bersikap formal begitu kepadaku."


ucap Aurel sambil berusaha mengangkat saya berdiri.


"baik tuan putri."


dengan muka datar ala seorang pengawal tuan putri, saya berdiri berhadapan dengan Aurel.


"Posisiku disini setara dengan murid-murid lainnya, jadi anggap saja kita seperti teman biasa." Ucap Aurel sambil menggaruk pipinya.


"..."


(rasanya jadi canggung begini)

__ADS_1


***


Saya bersama Aurel kini berjalan-jalan di tengah taman sekolah, melihat-lihat bunga dan burung merpati yang berterbangan.


"Jadi.. apa alasanmu bersekolah ditempat jauh dari kerajaan?" Tanya saya kepada Aurel dari belakangnya sambil memberikan makanan pada kawanan burung merpati.


"terkadang keturunan bangsawan memiliki kemampuan khusus bawaan lahir" Jawab Aurel sambil menatap langit senja.


"Bawaan khusus?" mendengar itu saya segera menoleh kearahnya. "Auch" salah satu burung merpati mengigit tanganku, karena saya berhenti memberikan mereka makanan.


"Ya, milikku adalah memiliki kapasitas cadangan energi jiwa yang besar!" Jawab Aurel,


ia kemudian menarik tangan saya dan menyentuhkan dengan tangan saya, aku terkejut merasakan aura besar pada diri Aurel, jadi selama ini ia menahan aura energinya, saya tidak menyangka akan sebesar ini.


"Wow!, jadi kau lebih kuat dariku." Ungkap saya dengan terkejut setelah itu menarik tangan saya kembali.


"Tentu saja tidak, saya pernah melawan Alvin tapi saya kalah, meskipun memiliki cadangan energi yang besar, saya ini tidak bisa mengeluarkan kekuatan yang terlalu besar!"


ujar Aurel.


mungkin rasanya sulit baginya, Marie juga begitu, dia akhir-akhir lebih tertutup, itu karena ia merasa terasingkan dengan orang-orang disini yang kebanyakan bisa menggunakan kekuatan dengan baik.


"Pasti sulit bagimu." ucap saya.


"..nggak juga kok, aku lebih suka hal lainnya selain bertarung."


jawab Aurel dengan tertawa, ia seakan-akan merasa bebas dan bersyukur akan kekurangan yang ia miliki.


"Oh.. Maaf sepertinya pertanyaanku sedikit kurang pantas, tapi memang sudah seharusnya lebih lemah daripada pria." ucap saya sambil menggaruk kepalaku dengan perasaan canggung.


"hm?.. Iya, faktanya memang seperti itu, pria selalu lebih kuat daripada wanita, itu sudah menjadi hukum alam bukan?" Aurel menjawanya dengan wajah datar seakan bukan masalah besar baginya.


"..."


"omong-omong, apa tidak masalah memberitahu rahasia anda ke saya." tanya saya kepada Aurel.


"Tidak apa-apa, aku tahu kamu orang baik.." Aurel menjawab sambil menggelengkan kepalanya, dengan senyumannya pastinya.


saya cukup malu melihat Aurel memberikan senyuman manis kepadaku, ia selalu tersenyum setiap kami berbicara, tanpa menyadari waktu, rupanya hari mulai gelap.


"ya, terimakasih pujiannya, sudah waktunya malam hari, Aurel, aku pulang dulu." ucap saya setelah itu membungkuk badan saya, sebagai penghormatan kepada seorang bangsawan.


"ya, sampai ketemu lagi." Salam Aurel dengan mengangkat sedikit tangannya dan melambaikannya kepadaku.


saya segera pergi meninggalkan tempat itu dan meninggalkan aurel sendirian.


"..."


hari sudah malam, saya sudah kemah bakti dikamar asmara, setelah selesai makan malam dan mandi, saya memutuskan untuk tidur saja.


"yaaa... Lupa pinjam buku lagi.."


sambil menghela nafas karena saya lupa meminjam buku untuk mempelajari materi manipulasi energi. Entah kenapa banyak kejadian ketika akan menuju perpustakaan.


Marie seharusnya sering di perpustakaan untuk meminjam buku, mungkin aku sekali-kali mengunjunginya lagi besok.


Ngomong-ngomong soal Marie.


Aurel memiliki kapasitas energi yang besar, kupikir ia akan menjadi partner sempurna untuk Marie kedepannya, kurasa saya akan membicarakan ini kepada mereka berdua secara perlahan baru kemudian meminta Aurel membantu Marie.


****

__ADS_1


Besok hari Sabtu, hari Sabtu dan Minggu libur, hari yang pas untuk latihan.


__ADS_2