Kisah Pejuang Pemberani

Kisah Pejuang Pemberani
4: niat membantu


__ADS_3

...Episode 23...


...-tahun 421-...


hari Sabtu.


Pada suatu pagi hari, keadaan sekitar yang masih gelap, muncul seekor burung yang terbang dilangit, burung itu kemudian turun dan bertengger di dekat jendela, burung tersebut melihat dalam jendela tersebut, entah mengapa hewan itu mencoba memasuki ruangan itu, burung itu memasukkan paruhnya ke celah jendela, sehingga pengunci pasak jendela tersebut terangkat yang membuat jendela tersebut terbuka.


"bruk!" suara keras dari jendela yang terbuka.


"hufft" angin yang secara tiba-tiba berhembus memasuki ruangan itu.


"haah!!!.."


Saya terbangun dari tidur dengan perasaan terkejut mendengar suara keras, ditambah hawa dingin secara tiba-tiba.


segera saya bangun akibat angin dingin dari luar, Saya bangun dari tidur dan segera mengangkat tubuhku untuk menutup kembali jendela.


"hari Sabtu ya.."


ujar Saya yang masih mengantuk menguap dan sambil mengucek kedua mataku


Untuk menghilangkan rasa ngantuk, saya mencoba pemanasan sebentar.


"krucuk-krucuk"


suara perut saya yang sedang lapar.


Kupikir sudah saatnya untuk sarapan, saya kemudian bersiap-siap berganti pakaian dan segera keluar asmara sebentar untuk pergi ke kota, Saya berolahraga pagi sebentar dengan cara berlari dari asrama ke kota.


"..."


saya berlari berkeliling kota, tempat ini bagus tapi sangat membosankan, itu dikarenakan kota ini merupakan kota pendidikan, sangat tidak cocok untuk saya dan yang merupakan seorang petualang yang suka sekali berduel. jadi kuputuskan untuk pergi ke pasar yang pernah disarankan oleh Alvin, kata Alvin disana banyak menjual barang-barang dari luar benua dan buruan hewan buas langka.


Beberapa menit perjalanan yang sudah kulewati dan berkeliling mengitari pasar, barang dagangan disini bagus tapi aku tidak tahu fungsinya, daripada membeli tapi tidak bisa memanfaatkannya, kurasa lebih baik tidak usah membeli.


Ketika sedang berkeliling, tanpa sengaja saya melihat Marie dari depan, seperti sepertinya ia sedang ingin membeli sesuatu, Saya berniat menyapanya.


"hey Marie!" Sapa saya


"Oh, kau lagi.." jawab Marie yang lebih fokus melihat barang dagangan daripada melihat wajahku ini.


"kau mau beli apa?" tanya saya kepada Marie


"Aku mau beli sesuatu barang untuk proyek saya." ujar Marie dengan muka datarnya.


"aku tidak tahu barang seperti apa yang kau maksud dan bentuknya, atau namanya, yang jelas saya tidak tahu barang sejenisnya"


Ujar saya.


"Haa... aku ingin barang yang bisa menghantarkan energi mistis seperti arus,


anggap saja seperti pembuluh darah manusia."


"hmm,


salam pergi saya kepada Marie.


"Tunggu, sebenarnya aku ingin seseorang membantuku."


ujar Marie sambil menarik tanganku.


"Baiklah, aku siap kapanpun kau butuh"


ucap saya dengan senang hati menerima permintaan Marie.


"Baiklah ayo kita pergi ke kamar asramaku"


"..."


Sampailah kita di kamar asrama perempuan,


akan menjadi masalah jika saya datang di asrama perempuan, itu dikarenakan ada aturan jika laki-laki siapapun itu dilarang memasuki atau dekat berada di asrama, kecuali keadaan darurat. tapi karena kecerdikan Marie, saya berhasil secara diam-diam datang ke kamar Marie.


Saya kemudian masuk ke kamar Marie bersamanya juga.


"Jadi ini kamarmu, lebih berantakan daripada kamarku, kupikir kamar cowok lebih jorok daripada cewek."


Lontar saya dengan heran kepada kamar Marie, karena tempat ini sangatlah berantakan ditambah sangat sempit.


Banyak sampah, rongsokan besi, buku dan lain sebagainya, semuanya tersebar berserakan di ruangan kecil ini, bahkan aku tidak melihat kasur miliknya, Kupikir Marie tidur dilantai.


"mau ngarep apa sama kamar kecil, andaikan dapat ruangan khusus penelitianku, pasti kamarku ini tidak akan seberantakan ini."


Cetus marie dengan muka kesal sambil menendang kaki Raden.

__ADS_1


"auch!"


"..."


Marie kemundian sedang memasangkan dan menyambungkan barang-barang aneh diatas meja.


"Raden, kemarilah" panggil Marie yang menyuruhku mendekatinya.


saya kemudian menghampirinya, disebelah Marie terdapat sebuah benda seperti mangkuk, didalam mangkuk tersebut banyak sekali tali-tali kecil.


"sekarang kau pegang tali-tali kecil ini, lalu alirkan energimu" minta Marie sambil memberikan tali-tali kecil itu.


"Baiklah, hanya perlu mengeluarkan energi saja" jawab saya yang kemudian menerima semua tali itu dan membaginya kepada kedua tanganku.


kemundian saya mencoba mengalirkan sedikit energi mistis milikku ke tali-tali itu, kemudian hal aneh tiba-tiba muncul dibelakangku.


"Oh!!!"


Teriak saya dengan terkejut mendengar suara ledakan kecil.


"teruskan saja!!" tegas Marie.


Marie kemudian menghampiri benda yang bergerak dari belakang, ia tampak sedang sibuk memperbaiki dan mengawasi benda itu.


Saya tidak tahu benda apa itu, karena saya sedang fokus pada penyaluran energi pada tali yang kupegang ini.


"sedikit lebih kuat lagi!"


suruh Marie sambil sedikit cemas pada barang yang dia miliki.


"Duaaarr!!!"


Marie menyuruhku untuk memberikan lebih banyak energi, tapi saya terlalu besar memberikan energi sehingga membuat benda milik Marie meledak.


"Maaf Marie, aku sepertinya terlalu besar mengeluarkan energinya."


"Tidak, ini bukan salahmu, aku tahu tidak akan berhasil karena bahan penting yang kubutuhkan tidak ada."


"begitu ya.. Omong-omong itu apa sebenarnya?


"Ini!, ini mesin penggerak, masih belum sempurna dan perlu banyak perbaikan lagi."


Sambung Marie.


"..."


"Kau boleh pergi, sebentar lagi penjaga akan datang kemari."


ujar Marie kepadaku.


"Baiklah, aku pergi dulu."


"Hei kalau yakin turun lewat sana, tempat ini setinggi 20 meter"


tegur Marie karena khawatir,


Ia lupa jika saya sering memanjat pohon besar Ketika kami berdua pergi berpetualang dari kota hardcall menuju Masyitan.


"Tentu saja, tinggi segitu bukan apa-apa bagiku!" ucap saya dengan wajah percaya diri.


"Oh, ya kau benar, setiap hari kau selalu memanjat dan melompat-lompat pohon seperti monyet ketika..."


"..Ketika kita berpetualang bersama, kau tahu itu bukan, baiklah aku pergi dulu!"


Sambung saya dan kemudian melompat keluar dari jendela.


****


Sore harinya.


saya kini berada di perpustakaan universitas, tujuannya tidak lain untuk membantu Marie, saya ingin bertanggung jawab atas kelalaian saya yang membuat mesin milik Marie rusak, sebagai temannya, sudah sewajarnya saling membantu, aku mencari buku tentang sumber daya yang mampu menghantarkan energi dengan baik.


Ketika saya sedang menaiki tangga untuk mengambil buku dari atas rak, secara tiba-tiba seseorang memanggilku begitu saja dari bawah.


"halo, Raden?" Sapa Aurel kepadaku secara tiba-tiba,


"ahh!, Aurel kau mengagetkanku!"


Cetus Raden.


"ngapain harus kaget, ini perpustakaan? Aku tidak akan berteriak pastinya?"


ujar Aurel dengan perasaan sedikit kesal dan bingung, karena ia sendiri tidak sampai membuat Raden terkejut.


"maaf aku tidak bermaksud menyalahkanmu, sebenarnya aku sedikit grogi karena bingung harus bagaimana dikarenakan saya tidak bisa membantu temanku." ujar saya permintaan maaf karena sudah kasar kepada Aurel.

__ADS_1


"memangnya kenapa, turun cepat dan ceritakan." tanya Aurel karena penasaran melihat Raden yang terlihat gelisah.


Saya kemundian turun, lalu mengajak Aurel duduk di meja yang disediakan, singkat cerita saya kemudian menceritakan semuanya tentang Marie pagi tadi, dari awal hingga akhir, serta rasa bersalahnya karena sudah merusak mesin milik Marie padahal saya sendiri ingin membantunya.


"..."


"jadi begitu, aku tahu apa yang Marie butuhkan."


Ucap Aurel dengan nada sedikit bergema,


tapi saya meminta dengan tenang. "Benarkah?!, bisa beritahu saya?"


Aurel seketika menggelengkan kepalanya dan seperti sedang khawatir, ia ragu untuk memberitahu kepadaku. Saya sendiri bingung kenapa Aurel bertingkah seperti itu."apa ada yang salah?"


Aurel kembali bicara dengan nada rendah.


"Sebenarnya, untuk mencarinya kurasa sangat mustahil, kalau mau membelinya di pasar pasti harganya akan sangat mahal."


Ucap Aurel, saya kemundian paham apa yang membuat Aurel seperti itu, bahan ini pasti amat sangat langka, mencarinya di pasar sudah pasti tidak mungkin, jika aku memberanikan diri pergi ke pasar gelap, harga barang pastinya sangat mahal sekali, apalagi tabunganku tidak banyak.


Funfact nya, semua murid universitas harus mencari uang sendiri untuk bertahan hidup,biaya asmara dan pendidikan sebenarnya gratis. jadi 97% murid ditempat ini memiliki pekerjaan sampingan, untuk sekedar bertahan hidup, saya sendiri berniat mencari pekerjaan juga, sisanya kebanyakan orang kaya seperti Aurel.


Saya kemudian kepikiran, kenapa tidak mencarinya sendiri daripada membelinya, toh juga wilayah ini termasuk wilayah pelosok yang sangat berbahaya sekaligus sumber daya disini masih bisa dibilang belum di eksploitasi.


"Apa bisa mencarinya di tempat lain?" tanya saya.


Aurel langsung menjawabnya, tapi masih menunjukkan kekhawatirannya.


"Tentu, aku tahu tempatnya..."


Aku tidak tahu apa yang membuat Aurel seperti itu, mungkin ia khawatir atau ada hal lainnya seperti, aku harus mencarinya di tempat yang amat jauh, atau mencarinya melalui berburu hewan buas berbahaya.


tapi saya ini pemberani juga seorang petualang, aku sudah memiliki banyak pengalaman di alam liar.


"Kalau begitu beritahu aku, kumohon Aurel.."


minta saya kepada Aurel.


Aurel kemudian berdiri dan meninggalkan meja kursi yang ia duduk.


"baiklah, kau boleh pergi besok, sekarang ikut aku ke kepala sekolah untuk meminta ijin kepadamu."


suruh Aurel kepada saya.


Aurel mengabulkan permohonan saya dan meminta saya pergi mengikutinya menuju ruangan kepada sekolah, Aku kemudian berdiri meninggalkan tempat duduk itu, lalu kemudian meninggalkan perpustakaan bersama Aurel.


"Kau benar, aku akan pergi sendirian besok." Jawab saya,


Tampak ekspresi Aurel yang sedikit terkejut


"ahh... sebaiknya jangan, akan sangat berisiko jika kamu pergi sendirian, akan lebih baik mengajak temanmu, Alvin" ujar Aurel.


Sesuai saran ia, saya setuju untuk mengajak Alvin untuk pergi bersama, tapi saya sedikit curiga tentang bahan yang harus dicari, jika Aurel secara terus-menerus menunjukkan sifat itu, pastinya tempat saya tuju pastinya sangat berbahaya.


"baiklah aku akan mengajaknya, omong-omong apakah aku bisa mendapatkan izin untuk pergi?"


"tenang saja, aku bisa mengaturnya, kau lupa aku ini seorang putri bangsawan."


"oh benar juga, ha.. kenapa jatuhnya seperti sedang memanfaatkan jabatan orang lain"


Hela nafas saya, merasa tidak enak jika menggunakan kekuasaan orang lain untuk kepentingan pribadi.


"jangan berpikir seperti itu, aku tahu kamu ingin membantu Marie, untuk itu aku juga akan membantumu." ujarnya


saya dan Aurel meninggalkan perpustakaan, tapi baru sampai di pintu keluar, Aurel berhenti secara tiba-tiba, ia kemudian berbalik badan dan berbicara kepadaku.


"Kurasa kamu lebih baik menunggu disini saja"


Ujarnya,


"baiklah!"


"..."


Saya menunggu lama, sekali di perpustakaan, aku membaca banyak buku sampai-sampai tidak sadar sudah berada ditempat ini selama 2 jam.


sempat berpikir jika Aurel lupa dan malah meninggalkanku, tapi saya masih setia menunggu.


pada akhirnya Aurel datang, saya menyambutnya dengan baik, akan tetapi wajah Aurel tampak sangat cemas...


"ada apa?"


"kau akan berangkat besok!"


****

__ADS_1


__ADS_2