
Anggi murid yang paling mempesona di kelas, bisa jadi di sekolah, sebab kecantikannya itu, tinggi badannya sudah mencapai seratus enam puluh lima sentimeter untuk anak SMP merupakan capaian yang luar biasa.
Di kelas Anggi menjabat sebagai Sekretaris dan jabatan itu memang pernah dijalankannya semasa SD tempo hari. Berbicara, laksana teller bank. Berdiri, laksana Polwan. Berjalan, laksana model. Duduk, laksana ratu. Bukan main.
Makanya Anggi jadi rebutan para siswa, termasuk Zahid, sebab masa pubertas memaksa naluri alamiahnya mencuat agar bisa senang melihat seorang cewek cantik aduhai bohai. Naluri tidak bisa dihilangkan.
Namun, bisa diatur agar tidak brutal. Dengan logikanya yang kuat dan tajam, Zahid mampu mengendalikan naluri yang menggelora itu, mampu menepis tusukan-tusukan nafsu yang membuat hati kepincut bertalu-talu.
Sementara Uzlah, ada rasa, tapi karena matanya lebih banyak berhadapan dengan buku dan otaknya juga banyak disesaki teori dan rumus, maka bayang-bayang Anggi enyah begitu saja, lekas tak membekas.
Otomatis Uzlah tak begitu tertarik, melainkan ada kagum saja, karena normal untuk anak cowok yang sudah mimpi basah. Jika tak ada rasa sama sekali, jadi khawatir juga.
Dua puluh lebih para cowok menyukai Anggi. Namun tidak semuanya mempunyai mimpi agar bisa berpacaran dengan Anggi. Sebatas kagum, hanya itu, tidak lebih.
Cowok yang berada di atas rata-rata biasanya minoritas. Jumlah mereka segelintir karena tak banyak cowok berwajah tampan, badan bagus, otak cemerlang, pintar bergaya, apalagi kaya dan membawa kendaraan pribadi ke sekolah.
Maka pada pagi hari ini pas pelajaran olahraga merupakan momen unjuk gigi bagi para cowok yang ingin merasa diperhatikan oleh para cewek terutama Anggi dan beberapa artis cewek lainnya yang menjadi kebanggan kelas.
Pak Sugiono sang guru olahraga mengambil nilai ketangkasan bermain basket. Beliau badannya tampak kekar, otot lengangnnya berbentuk, otot dadanya bagus, dan kalau bajunya dibuka maka tentu petak enam itu akan membuai para wanita.
Wawan yang barusan saja melipat dan menaikkan ujung lengan bajunya memantul-mantulkan bola basket. Lengannya yang lumayan besar itu tampak silau karena kulitnya yang begitu putih.
Wawan dengan tinggi badan seratus tujuh puluh sentimeter tampil percaya diri. Dia tampil aksi di tengah lapangan sementara pelajaran belumlah dimulai. Dia paham teknik-teknik dasar, seperti passing dan catching, dribling dan shooting.
Kelihatannya Wawan piawai sekali bermain basket. Apa jangan-jangan di rumahnya ada lapangan dan ring basket. Atau jangan-jangan pas pergi ke Timezone dia selalu bermain basket untuk meraih hadiah di sana.
“Oper bolanya!” teriak Zahid. Lantas Wawan melempar dengan keras, tapi Zahid tahu bagaimana cara menerima bola yang keras agar tangannya tidak mengalami benturan keras.
Pas bola sudah dekat dan menempel dengan tangan, telapak tangannya agak dimundurkannya sedikit searah dengan arah bola, sehingga telapak tangannya itu tidak begitu terbentur.
Zahid men-drible sambil setengah berlari, terus memantulkan bola ke semen, lanjut melakukan teknik pivot atau memutar badan laksana penari balet, dikhatam dengan gerakan slam dunk.
Pluukk!!!
Bola masuk pas tanpa menyetuh besi ring sedikitpun!
Anggi dari kejauhan melompat kecil sambil berujar kecil, “Wuih, hebat juga bocah aneh itu!”
Siswi-siswi di samping Anggi pun terkagum-kagum melihat Zahid dengan piawai memainkan basket. Hanya Wawan dan Zahid yang paling menonjol dalam permainan olahraga populer di Amerika ini.
“Kumpul semua anak-anak!” perintah Pak Wawan. Beliau merapikan barisan. Setelah melakukan beberapa gerakan pemanasan dan peregangan otot, selanjutnya beliau memanggil satu per satu nama siswa-siswi berdasarkan abjad.
Setiap murid harus melakukan dribling dari tengah lapangan dan melakukan shooting jarak dekat. Kemudian nilai kedua adalah shooting di titik penalti sebanyak tiga kali percobaan.
Kebetulan nama Ahmad Rivai, lantas Anggi mengambil posisi di tengah lapangan. Beberapa kali cewek menawan itu memantulkan bola ke tanah. Ketika bunyi peluit melengking, lantas Anggi berlari anggun pelan ke depan, lalu melompat cantik sambil melempar bola.
Hup!
__ADS_1
Masuk bung!
Semua cowok bertepuk tangan sambil mengerak-gerakkan kepalanya. Entah bola mana yang mereka lihat dengan fokus. Selanjutnya Anggi berdiri di titik penalti. Semua cowok tertegun melihat calon Miss SMP ini, semua terpana membisu.
Rambut Anggi beterbangan heboh, sedikit poninya menyatu dengan kening karena peluh yang sedari tadi bercucuran. Oh tapi tak ada bedak yang luntur karena dia cewek natural.
Anggi menggenggam bola lalu didekatkannya di depan badannya. Makin hilang fokus para cowok. Sempat Anggi menghela napas dengan slow lalu melempar bolanya dan.... masuk bung!!!
Semua cowok bersorak sorai. Ada mereka yang meloncat-loncat girang seolah sedang berada dalam stadion. Ada juga mereka yang saling dorong sampai terjatuh-jatuh.
Namun untuk lemparan kedua dan ketiga Anggi gagal memasukkan bolanya karena jeritan pujian dari para cowok sudah membuatnya kegeeran dan sulit berkonsentrasi.
Wajah cantik nan innocent itu tetap tegar dan bersemangat. Anggi menepi. Tiba-tiba Wawan menghampiri Anggi dengan membawa air mineral. Sebuah tindakan yang membagongkan sekali bung.
“Kau pasti haus, Anggi. Ambillah. Tadi harusnya kau minum dulu biar bisa fokus.”
“Terimakasih Wan.” Anggi meneguk sebanyak lima kali. Bibirnya yang merah merona basah. Keringatnya tak berhenti mengalir.
“Ini tisu.”
“Wan, kau baik sekali. Terimakasih sekali lagi.”
“Kau memang harus butuh perhatian.”
Selanjutnya Pak Sugiono terus memanggil nama-nama siswa dan siswi secara bergilir. Sampai pada giliran Uzlah. Sebelum itu Zahid sempat memberi semangat kepada sahabatnya itu.
Ya, Zahid paham sekali kalau sudah berkaitan dengan hal teknis di lapangan dan apa saja yang berkorelasi dengan aspek motorik, Uzlah cenderung kurang di sana, Zahid paham betul.
Dari tengah lapangan Uzlah berlari dengan kaku. Dia seperti terhuyung-huyung. Bahkan dia tidak melihat arah ring, hanya fokus pada bola basket, dan tak berani melihat kawan-kawannya yang lain karena malu.
Lantas Uzlah melompat sambil melambungkan bolanya, tapi bolanya membentur dinding ring dan melewati mulut ring. Meleset! Pada shooting di titik penalti, Uzlah cuma berhasil memasukkan satu bola, duanya meleset juga.
Uzlah berjalan menunduk ke tepi lapangan. Tapi Zahid bilang, “Jangan lesu seperti itu, Uzlah.”
“Nilaiku nanti jelek, Zahid.”
“Rabu pekan lalu, pas teori, hanya kau yang dapat nilai sempurna di kelas.”
“Tapi praktek?”
“Jangan suruh elang untuk berenang di air, Uzlah. Kau harus paham dengan bakat terhebatmu!”
Uzlah menegakkan kepalanya lalu merangkul Zahid dengan erat.
“Janji pas nanti giliranmu akan dapat nilai sempurna?”
“Janji,” jawab Zahid bersemangat. Wajahnya menyeringai optimis. “Semua bola yang masuk itu untukmu!”
__ADS_1
Pak Sugiono terus melanjutkan, “Wawan!”
Cowok tampan good looking itu pasang aksi di tengah lapangan. Dia memantulkan bola di tengah-tengah kolong kakinya sampai beberapa kali. Sebelumnya Wawan melemparkan pandangannya ke arah tepi lapangan, lalu berfokus pada Anggi.
Lantas Wawan berlari dengan gagah sambil membawa bola. Dengan pijakan kaki kiri, lantas dia melompat dengan tinggi sekali sambil melakukan gerakan crossover dunk.
Masuk pemirsa!!!
Tiga lemparan penalti pun dengan mudahnya berhasil Wawan masukkan. Lanjut dia kembali memantulkan bola basketnya sambil tersenyum renyah ke arah Anggi.
“Nilai sempurna!” ujar Pak Wawan. “Hanya satu ini yang dapat nilai sempurna. Oke, siswa terakhir. Zahid!”
“Bismillah,” bisik Zahid dengan suara pelan sekali.
Di tengah lapangan, Zahid mengatur napasnya, pandangannya ke arah ring, dan memantulkan bola tanpa melihatnya. Dalam sepersekian detik Zahid merumuskan sesuatu dalam kepalanya, seolah ada hitungan matematis, antara berat bola, jarak tembak, dan energi yang harus dikeluarkan
Oke!
Harus dapat nilai sempurna!
Zahid berlari dengan enerjik sekali ke arah ring basket, pas dekat, zahid bukan hanya melompat tinggi, tetapi melakukan double gerakan menakjubkan walking in the air dan 360 degree dunk!
Luar biasa!
Zahid melompat sambil memutar badan, terus menceploskan bolanya ke mulut ring, tangan kanannya masih memegang mulut ring sehingga badannya masih bergelantungan beberapa saat, hebat bukan main.
Semua cewek histeris. “Waaawww!!!”
Anggi berkomentar seru, “Hebat nian ya cowok gila itu.”
Lanjut, Zahid berdiri di titik penalti dan kembali mengatur napasnya. Huuuu.... Kemudian dia melemparkan bolanya dengan penuh perhitungan, analisa, dan ketenangan. Hup! Masuk bung!
“Yeaaahhh!” suara bersumber dari deretan kaum hawa.
Bola kedua...
Masuk lagi bung!
Bola ketiga...
Masuk lagi bung!
Pak Sugiono menggeleng heran, soalnya pertemuan pertama waktu itu Zahid sempat memperdebatkan sesuatu yang membuat beliau tersinggung, tapi sekarang dibuat menggeleng takjub.
“Nilai sempurna! Nilai sempurna!”
Zahid berjalan tegap ke arah Uzlah sambil tersenyum girang. “Mantap bukan?!”
__ADS_1
Lalu dari arah belakang punggungnya, tiba-tiba Zahid terkejut atas kehadiran seseorang cewek.
“Zahid, kau hebat ya. Minumlah!” Anggi memberikan minuman isotonik yang tadi dibelinya di kantin.