Kisah Pria Sigma

Kisah Pria Sigma
29


__ADS_3

Dosen itu tidak masuk lagi. Zahid mendongkol. Begitu juga dengan mahasiswa lain, ikut dongkol.


Seperti biasa, perpustakaan adalah tempat pelarian Zahid. Rasa penasarannya terhadap filsafat kian menggunung.


Dia pencari kebenaran sejati. Dia membulatkan tekad untuk menghargai nilai kebenaran. Sungguh tak rugi dia sudah menyelami lautan filsafat.


Dia lebih senang hakikat dan ketenangan daripada nikmat dan kepuasan.


Jika hidup pada abad sebelum Masehi, tentu dia akan bersaing dengan The King of Three: Socrates, Plato, dan Aristoteles.


Jika hidup di abad Pertengahan, tentu dia akan bersaing dengan Al-Kindi, Al-Farabi, dan Ibnu Sina.


Jika hidup pada Renaisans, tentu dia akan bersaing dengan Galileo dan Newton.


Jika terlahir di waktu modern, tentu dia akan menjadi pesaing berat Auguste Comte.


Zahid tak bekonsentrasi dalam memungut setiap huruf yang masuk dalam sorotannya. Dia diam membatu, tak dimaknainya bacaan-bacaan yang tertata itu.


Sekantong masalah ini yang mengintimidasinya:


Pertama, tidak lulus tes masuk Perguruan Tinggi Negeri.


Kedua, jengkel karena seonggok manusia yang sangat sok akrab itu, yakni Girang.


Ketiga, berkelahi dengan Syarif lantaran masalah kecil secuil.


Keempat, diolok aneh bahkan gila oleh teman satu kelas dan dosen-dosennya.


Kelima, kesal lantaran dosen jarang masuk.


Keenam, didiagnosis menderita autisme, gangguan psikis, dan gangguan otak oleh orangtuanya.


Ketujuh, ditimpa cercaan oleh Uzlah karena dia sering membahas masalah kuliah, yang pada akhirnya membuat Uzlah menjadi malas untuk berbicara dengannya lagi.


Kedelapan, adalah puncak dari problema yang mengganggu alam pikirannya, yaitu urusan cinta pertamanya dengan Devireya yang hancur berantakan.


Dan masalah yang paling mutakhir, di sini. Ya, di perpustakaan ini. Sekarang ini!


Wanita itu beberapa kali melepas pandang ke arah pria yang sibuk sendiri itu. Dengan sejauh dua kali jarak tendangan penalti, wanita itu sekali-kali meneropong pria yang tertegun diam itu. Tapi sayang, yang dilihat tak merasa dilihat.


Wanita itu kembali mengurusi kertas diary-nya, macam pegawai kelurahan yang kedatangan warga yang ingin membuat surat keterangan kemiskinan.


Dia sibuk menyusun kata dengan penanya. Pilot seharga tiga ribu rupiah itu menari-nari di atas kertas, menerangkan curahan hati seorang hawa, menyemburkan isi jiwa, melampiaskan rasa dalam rajutan kata. Sorotan matanya kembali ke sasaran sebelumnya. Datar mukanya. Tapi hatinya? Dia menghela napas, lalu kembali memainkan pena itu, mengunggah perasaannya dengan untaian-untaian kata demi kata.


Wanita yang memakai anderok biru itu beranjak. Langkah kakinya membawa sebuah kejutan. Dan semakin dekat. Pas.


Kebetulan.


Kursi di sebelahnya kosong, pikirnya.


Wanita itu lebih memilih duduk bersebelahan dengan pria itu dengan didindingi satu kursi yang ada di antara mereka.


Zahid sedikit pun tak menahu adanya kehadiran wanita cantik nan manis tepat minor di sampingnya.


Dia masih bertarung batin, meronta-ronta terhadap setiap bersitan yang merasuki alam bawah sadarnya.


Dia bertengkar dengan pikirannya sendiri, berkonfrontasi, mencoba mengelak terhadap problema yang mengiris-iris ketenangannya. Namun, perlahan bau parfum menyengat itu merangkak-rangkak di sekitar hidungnya. Dia menyedot aroma itu. Aroma masalah kesembilan!


Wanita itu membuka lembaran novel favoritnya secara acak lalu menyelipkan kertas diary-nya di tengah-tengah buku. Dia tersenyum bahagia.


Entah jin apa yang berani merasuki wanita beralis lengkung itu. Seolah sudah terencana dia membaca halaman yang sehabis dibukanya secara acak, hasil dari asumsi non-logisnya.


Wanita itu mengayunkan lidah dan bibir seksinya yang seolah sedang memantau bacaan, “Banyak orang yang gila karena berlebih-lebihan dalam berobsesi menjadi saintis. Diawali dari lamunan, lalu terjun ke fantasi-fantasi, hanyut dalam gelombang-gelombang imaji, dan merangkai cita-cita yang fiktif....


Jadi seolah mabuk. Hampir gila dalam keadaan itu. Sangat kenal dekat dengan khayalan. Banyak berdiam diri. Yang pada akhirnya dia menjadi benar-benar gila.” Wanita itu menutup pembicaraannya dengan menggeleng-gelengkan kepala.


Terus terang. Kedelapan masalah yang bersemayam di otak Zahid terhambur dan terkocar-kacir tak keruan.


Baru saja dia ingin mencari solusi untuk sekumpulan masalah-masalah itu. Tetapi, kacau.


Tetapi juga, untung. Semua masalah itu lenyap berkat kehadiran yang kesembilan ini.

__ADS_1


“Gejala-gejalanya adalah lebih banyak diam.” Wanita itu kembali melayangkan suara emasnya, macam penyiar radio, yang tak tahu telinga mana yang menjadi sasaran dari isi lidahnya.


“Terus, menyendiri dan tak berjiwa sosial. Sering merenung. Calon saintis gagal itu memiliki raut muka yang sering serius. Hampir tak ada senyum dan tawa baginya. Mungkin pecundang itu tak mengenal istilah lucu dan jenaka. Dia punya raut muka yang hampir selalu masam. Bahaya! Jangan sampai aku gila gara-gara sains. Jangan sampai aku bermimpi menjadi seorang ilmuwan.”


Wanita itu melakukan seperti gerakan sebelumunya.


Benar! Ini adalah problema yang kesembilan. Suara yang tak jauh beda dengan suara Chantal Kreviazuk itu semakin menerjang-nerjang hati Zahid.


Bukan cuma nada dan intonasinya, tapi makna dari ocehan itu.


Zahid merekam jelas suara yang terasa bising di telinga, pahit di lidah, dan sakit di hati itu. Dia mengernyitkan kening dengan kekesalan.


Wajahnya menyeringai.


Dia menggelapkan pandangannya, lalu menarik napas dalam-dalam, menahannya, kemudian menghembuskannya melalui mulutnya. Dia menanti pembicaraan monolog itu lagi.


“Oh, jangan sampai aku gila karena hal konyol semacam itu.” Wanita itu menutup bukunya. “Tapi syukur, aku wanita. Kan, mayoritas yang sangat pro dengan sains itu adalah lelaki. Hi hi hi... fisika... kimia... biologi... astronomi... dan... apalah. Huuffttt... benar! Bahaya!”


Kali ini dia ingin melirik wajah pria yang ada di dekatnya itu. Dia melayangkan pandangan tanpa menggerakkan batang lehernya.


Arah jam sebelas. Sedikit lagi, hampir. Mata itu terus mengarah, merayap pelan mencari titik yang pas.


Berkeseliuran penarasan di batinnya, dia ingin membunuh rasa itu. Dia ingin melihat ekspresi wajah dari orang yang dulu pernah membuatnya kesal.


Ya. Orang yang dulu pernah mengejek-ejek sastra dan keindahannya.


Ha ha ha... bagaimana, Pria Antikeindahan? Apa rasanya kalau sains-mu diolok-olok? pikirnya.


Sekarang lirikan matanya sudah sampai arah jam sepuluh. Dan itu mentok. Wanita itu kesulitan menggerakkan kedua bola matanya lagi.


Jika dia menggerakkan lehernya, tentu itu akan memancing kecurigaan. Batang hidungnya mantap bak bangunan Monpera.


Di ujung kanan bibir tipisnya ada senyum yang mengembang, senyum kebahagiaan.


Setelah sekian lama akhirnya sampai juga niatnya untuk melempar omelan itu ke pria yang pernah juga dimakinya dengan kata “gila”.


Wanita berbaju putih tak banyak motif itu dengan terpaksa sedikit menggerakkan lehernya. Dia berusaha, sedikit demi sedikit. Bibirnya mengecap-ngecap.


Perlahan tapi pasti sorotan itu kian dekat dengan sasaran tembak. Terkaman mata lapar itu terus menyambar.


Tak sabar lagi ingin memandangi seperti apa ekspresi wajah pria itu. Dan, sedikit lagi. Milimeter demi milimeter dilaluinya.


Nyaris terkaman pandangan itu mengenai sasaran. Dia menahan napas. Dengan lidah menjulur dan alis yang naik ke atas dia terus mendobrak.


Mata, kepala, dan lehernya makin ke arah barat saja.


“Eeehheemm....”


Suara itu membuyarkan niat dan kelakuannya. Dia langsung memperbaiki letak duduknya, kembali mengutarakan arah wajahnya.


Lalu dia mengangkat bahu, cepat-cepat membuka novelnya kembali, dan tetap, dengan asumsi non-logisnya: membuka halaman secara acak.


Namun, kali ini dia tak bersuara karena ditimpa rasa malu. Deheman Zahid mengurungkan siasat manisnya.


“Bagaimana jadinya jika tak ada sains?” Zahid meracau. “Oh, tak mungkin kita bisa makan enak. Jika tidak ada sains, maka tak ada mie instan, tak ada minuman kaleng, dan tak akan ada makanan favorit.”


Wanita itu dengan terpaksa menjadi pendengar yang baik.


“Ketika saya pergi ke sebuah mal, katakanlah mini market, saya melihat banyak sekali produk-produk sains....


Semua makanan dan minuman itu, segala yang instan itu, bisa ada lantaran jurnal-jurnal ilmiah dan lantaran penemuan-penemuan para pemikir dan ilmuwan....


Ketika saya memasuki apotek, saya melihat obat-obatan yang banyak sekali. Oh, bukankah itu karena sains?...


Ketika saya datang ke rumah sakit, saya takjub setelah melihat produk-produk sains di sana. Bukankah handphone, televisi, radio, kendaraan, dan semua teknologi itu ada lantaran bantuan sains?...


Kalau tidak ada sains, kita ini jadul. Kalau tidak ada sains, kita jadi manusia purba. Kalau tidak ada sains, sekarang kita bisa apa?...


Di mana-mana ada sains! Di mana-mana ada sains! Jadi, kalau kita tidak paham dengan sains, jangan banyak oceh!”


Wanita itu membisu dan terpana.

__ADS_1


“Seharusnya kita berterima kasih kepada para ilmuwan yang telah berusaha keras untuk kemajuan zaman ini. Mereka berjuang untuk kepentingan orang-orang setelahnya, untuk kita-kita. Jangan malah diolok-olok!” balas Zahid serius.


Tanpa basa-basi, dia mengalihkan pandangannya ke arah wanita itu. Tapi, tetap dengan perlahan, tidak menggebu-gebu. Dengan sabar dia menoleh ke kanannya.


Dia mematuk-matuk meja dengan telunjuknya, sesambil mengangkat alisnya.


Lirikan mata Zahid tak sampai ke wajah wanita itu. Dengan sekejap wanita itu menerkam balik lewat sorotan mata ganasnya, dengan cepat. Secepat kilat!


Wanita itu sungguh super agresif. Tapi dengan sigap Zahid langsung melempar wajahnya ke arah sekenanya, menghunjamkan pandangannya ke arah buku sainsnya.


Dan nol koma tujuh detik setelah itu tangan kiri Zahid menutupi wajahnya.


Zahid awalnya sebal, lalu  mencoba untuk menetralisir keadaan hatinya. Dia berbicara tadi demi mendinginkan cuaca hatinya.


Tapi, dia canggung. Dia berpikir, mungkin wanita itu menjadi kesal karena ocehannya tadi.


Meski demikian, andai dia tidak meronta dengan membanting pandangannya, tentu dia akan mendapati wajah wanita itu yang berbinar, mata yang berkaca-kaca, ada sunggingan menggoda di ujung kanan bibir manisnya.


Andai dia tidak menghunjamkan penglihatannya ke arah lain, tentu dia akan menyaksikan salah satu fenomena keindahan yang ada di alam raya ini.


Zahid sungguh tak mengenal istilah hoki, keberuntungannya menyublim ke udara, tak terlihat, tak manjur.


Perlahan dia memajukan kursinya. Sekat itu menghalangi pandangan wanita itu. Dia bertambah tidak tahu saja kalau wanita itu adalah sosok yang dulu pernah memakinya dengan kata “gila” dan “aneh”.


Dia menyibukkan diri dengan bacaan.


Wanita itu memampang wajah yang riang gembira. Dia tersenyum-senyum sendiri seolah mendapatkan sesuatu yang melebihi keinginannya.


Rasa kagum diam-diam menyelinap ke relung jiwanya. Pipinya memerah rona.


Tak puas dengan kejadian barusan, dia kembali mengobral omongan, yang pasti untuk memancing Zahid, soalnya dia belum sempat melihat ekspresi wajah dari seorang yang bila ditelaah maka seperti filosof Yunani Kuno.


Dia masih dihantui penasaran dan akan puas jika sudah tahu bagaimana raut muka pria itu jika diolok.


“Fisika....” Wanita itu bergumam dengan nada mengejek. “Apa sih enaknya memperlajari sesuatu yang menyesakkan dada itu? Apa asyiknya? Selalu serius. Tidak ada lucu-lucunya. Rumus-rumus aneh, yang kata mereka bisa meramal untuk hari esok? Seperti ilmu nujum saja. Astronomi... itu lagi. Apa sih enaknya mempelajari ruang angkasa? Diri saja tidak terurus, eh mau memperlajari yang jauh di sana. Kimia... cairan, padatan, gas... huuuu... membosankan! Bikin alkohol, nyuruh orang bisa mabuk! Nyuruh orang bisa gila!”


Kali ini Zahid menjadi pendengar yang baik. Dia membuat jidatnya menjadi empat kerutan, tanda ingin mendengar omongan selanjutnya, tanda penasaran.


“BOM! Senjata nuklir... pemusnah massal! Semuanya mati! Huuu... andai tidak ada sains, tentu bumi tidak akan seperti ini! Perang... perang... dan perang! Oh, apa sekarang kita harus berterima kasih kepada para ilmuwan? Lihatlah bumi yang semakin panas ini. Andai tidak ada sains, apa bumi akan terpanggang seperti ini? Masih layakkah kita membanggakan sains?!”


Celetukan demi celetukan itu mengetok hati Zahid. Tentu dia akan tersinggung. Kali ini dia betul-betul menyadari bahwa wanita itu sedang berbicara kepada dirinya. Semakin lama dia semakin jengkel.


Omongan dari wanita itu menyayat-nyayat hati Zahid. Alis matanya perlahan turun mendatangi batang hidungnya. Dia mendengus.


“Lihatlah kepala para ilmuwan itu! Rambutnya menguap. Ha ha ha... menguap. Menguap ke udara. Botak! Tuh kan, itulah akibatnya kalau kebanyakan mikir. Sok realistis. Hati-hati! Saking realistisnya, nanti tidak percaya lagi dengan Tuhan, malaikat, alam ghaib, alam kubur, dan akhirat! Hmm... tuh, kan, baha....”


SRREETT!!!


Suara kursi memutus omongan wanita itu. Zahid mundur sedikit. Tanpa wanita itu memintanya, Zahid langsung menghunjamkan pandangannya tepat ke arah wanita itu.


Untuk kedua kalinya mereka saling bertatap muka, saling memandangi.


Pertama waktu itu, wanitanya yang marah dan kesal. Dan sekarang–untuk kedua kalinya–peristiwa bentrok dua pasang mata itu terjadi lagi, kali ini Zahid yang marah dan kesal.


Kesabaran Zahid sudah terkubur. Darah menjalar ke raut mukanya. Urat-uratnya menjadi kencang.


“Dasar wanita bodoh, tidak punya otak.”


Dan, telah dibenarkan bahwa ini adalah MASALAH KESEMBILAN!


“Kau itu tidak tahu apa-apa. Jadi jangan banyak omong!”


Dan wanita itu sudah tahu bagaimana ekspresi muka pria tampan itu. Tanpa harus menganalisa dengan waktu yang lama, tanpa harus menekuri dengan dalam, dia tahu luapan kemarahan yang seperti semburan panas dari merapi itu.


Tanpa ada perintah untuk diusir, wanita itu enyah.


Tadi dia melangkahkan kakinya menuju kursi di dekat Zahid dengan membawa sebuah kejutan.


Tetapi sekarang dia beranjak meninggalkan Zahid dengan membawa kekecewaan dan tangisan di hati kecilnya.


***

__ADS_1


__ADS_2