Kisah Pria Sigma

Kisah Pria Sigma
42. Sukses


__ADS_3

~ Pendidikan dan gelar akademik itu untuk mencapai sebuah nilai, bukanlah menjadi dinding dan jarak yang memisahkan di antara kita.


Sering terdengar istihah zuhud. Secara etimologi maksudnya sedikit. Sedangkan secara terminologi maksudnya adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat, sedikit dan kecil nilainya dari hal duniawi, lalu memilih nikmat yang jauh lebih baik, yaitu akhirat.


Maksud kakeknya memberi nama tersebut adalah agar Zahid kelak menjadi seseorang yang memprioritaskan akhirat ketimbang hal-hal duniawi yang receh.


Awal dewasanya ini dia sungguh tergugah tentang rasa ingin tahunya. Tidak hanya dengan membaca buku dan berdiskusi, tetapi dia terkadang menyempatkan waktu untuk membaca lingkungan: people watching.


Bagaimana sosok pria yang begitu mencintai kebenaran itu membaca dunia dari perspektif wahyu dan mencernanya melalui akal budi yang telah dianugerahkan Tuhan.


Zahid begitu menomorsatukan substansial ketimbang formalitas, sehingga makna pendidikan dan sekolah tidak hanya diartikannya sebagai sebuah wadah dalam menimbah ilmu, melainkan diejawantahkannya sebagai lampu untuk menerangi kegelapan berupa kebodohan.


Dia mampu memanipulasi imajinasi menjadi spekulasi, lalu mereaksikannya dengan intuisi untuk dijadikan sebuah hipotesa yang unik.


Pada bab lain, dia mampu menggoreng spekulasi kotor yang implisit menjadi hipotesa, lalu mengintegralkannya menjadi asumsi, dan mentransformasikannya menjadi ide yang apik.


Tak sampai di situ, dia bisa menginterpretasikannya sebagai ideologi yang bakal dipakainya dalam menjalani hidup dan mengimplementasikannya dalam berkehidupan.


Dia terus belajar bagaimana cara mengeksploitasi ide yang apik agar menjadi inspirasi bagi orang lain dan terus menebar manfaat bagi sekitar.


Bagaimana jika Zahid dikritik?


Cukup preventif terhadap kritik, tidak menggebu-gebu bertindak offensive, tersenyum menerima justifikasi stigma dan cap “Gila” dari orang-orang karena baginya itu cuma apriori.


Bagaimana jika Zahid dibenci?


Disparitas asumsi sudah lumrah karena diversitas. Impact-nya adalah mis harmoni. Semua orang ingin aspirasi, tapi mereka tidak menginspirasi.


Mereka pikir kebencian mereka itu proposisi, padahal cuma ambigu. Mereka ingin eksplanasi yang eksplisit, tetapi fundamentalnya saja masih meraba-raba.


Dalam hal pendidikan, dia memformasikan konsep pluralitas dalam mengonstruksikan persatuan setiap keberagaman, jauh dari sikap rasis dan mendiskriminasi, dan mengerti betul apa itu sila ke-tiga.


Dia paham bagaimana membangun sebuah relasi, lalu meng-growup sebuah persahabatan menjadi birokrasi dalam berbagi tanpa menyulut rasa iri.


Pria tangguh itu ingin meng-influence hakikat-hakikat kepada setiap jiwa skeptis dan menegakkan kembali paradigma yang runtuh terjatuh.


Soal hakikat, dia menomorsatukan objektivitas daripada soal suka atau benci. Menggambarkan sesuatu yang sukar dimengerti dengan satu jalan di awal agar tidak terjadi multi-interpretasi.


Zahid terus belajar bagaimana mendegradasi anomali menjadi presisi, lalu meng-grow up mimpi menjadi visi bereskalasi.


Dia menempatkan eksakta pada akal dan memposisikan transedental pada kebersihan batin. Menggenggam dunia di tangan dan tidak memasukkannya ke hati.


Definisi harta baginya adalah intelektualitas. Dan sebuah privilege menurut kacamatanya adalah etikabilitas. Hegemoni pribadi adalah menahan nafsu.

__ADS_1


***


Zahid menyeruput kopinya lagi.


“Hei Uzlah, tidak terasa kita ngobrol dari pagi sampai malam.”


“Bener, Zahid. Apa-apa saja sih yang tadi kita bahas. Tidak terasa ya.”


“Aku ingin mendiskusikan hal ini padamu, Kawan. Soalnya di kampus tidak ada orang yang sepertimu. Kau selalu saja paham setiap problem yang aku ceritakan...


Sekarang sedang viral soal mobil dan motor listrik. Aku ada ide kecil tetapi karena aku cuma mahasiswa jadi tidak banyak yang bisa aku lakukan...


Aku juga belum terlalu paham bagaimana cara kerja mesinnya. Tetapi yang sering mengganjal di pikiranku selama ini adalah kenapa di setiap rodanya tidak dipasang dinamo atau generator mini...


Kita berpikir bodoh saja. Listrik dihasilkan karena adanya energi mekanik yang menggerakan generator. Sumber energi mekanik untuk menggerakkan turbin bisa dari air, angin atau alat yang menggunakan bahan bakar...


Konsep yang sangat dasar sekali, yang penting generatornya bergerak. Lalu generator menghasilkan listrik. Sesimpel itu...


Pada mobil ada empat ban. Berarti ada empat sumber energi mekanik yang terbuang sia-sia. Kenapa kita tidak memanfaatkan energi mekanik itu?...


Kalau di setiap ban dipasang satu dinamo atau generator mini, ya kan lumayan. Listriknya bisa dipakai untuk menggerakkan motor atau mesin. Bisa juga dipakai untuk yang lainnya seperti lampu...


Memang energi itu hanya untuk mengurangi beban dari sumber energi utama yakni bensin saja. Tidak serta merta menjadi sumber energi satu-satunya...


Dengan kata lain kita akan bisa berhemat dalam penggunaan energi konvensional yang suatu saat pasti akan habis...


Cuma, yang aku pesimiskan adalah, nanti takutnya Pertamini rugi lagi. Ha ha ha. Orang jadi jarang beli bensin...


Konsep yang sama bisa kita terapkan di sepeda motor. Kita pasang generator mini itu pada ban. Biar ban yang berputar itu seolah turbinlah, terus generatornya menghasilkan listrik. Listrik dipakai sebagai energi tambahan...


Bagaimana, Uzlah, ideku ini? Apa sudah bisa diterapkan di Indonesia?”


“Tidak semuda itu, Zahid. Kita juga harus menghitung berapa jumlah listrik yang dihasilkan dan juga berapa listrik yang dibutuhkan. Harus ballance...


Aku setuju dengan ide gilamu. Ya idemu itu selalu gila. Kepalang gila, biar aku tambahkan ya. Saranku di setiap roda dipasang generator mini lebih dari satu, terus dipasang berangkaian seri...


Berjejer rapi. Katakanlah ada empat generator mini di setiap roda. Jadi akan ada empat sumber utama energi di situ.”


Zahid mengoles dagu. “Baru sekarang kau ketularan gila, Kawan. Kemarin-kemarin ke mana saja kau. Ha ha ha.”


“Konsep seperti itu pernah aku baca, Zahid. Energi yang dihasilkan dari generator itu akan selalu lebih kecil dibandingkan energi yang dibutuhkan untuk menggerakkannya walaupun ada empat generator sekalipun.”


“Ini yang aku setuju darimu, Uzlah. Kau selalu saja memberi tanggapan terhadap setiap permasalan ilmiahku.”

__ADS_1


“Dan kau selalu memberi tanggapan terhadap setiap permasalahan hidupku,” balas Uzlah.


Tidak hanya dengan bicara, karena Zahid peka, maka dia tahu betul permasalahan Uzlah. Beberapa hari yang lalu Bu Mirna menceritakannya. Zahid sering memberi solusi.


“Uzlah, kemarin-kemarin aku dapat hadiah dari PKM Dikti. Ini duit buat bayar hutang. Gajimu itu simpan saja. Tabung. Katanya mau beli mainan magnet lagi.”


Zahid melemparkan pandangannya ke dalam rumah. Di atas meja ada beberapa mainan fisika. Semuanya bergerak tanpa mesin. Ada bola yang jatuh lalu berdesing naik lagi karena efek jalur melengkung sekian derajat.


Ada mesin waktu pasir. Ada bola-bola seperti kelereng yang jika bola itu berdentum menyentuh bola lain yang sedang tergelantung maka bola di ujung yang lain akan terpental.


“Selagi ada magnet, akan terus ada gerak dan listrik. Kalau tidak ada magnet bumi ini bisa berhenti berputar.” Ujar Zahid sambil mengawasi mainan magnet di atas meja.


Uzlah menerima uang dari Zahid. “Ini banyak sekali. Nanti kau tidak ada duit buat jajan.”


“Aku terkadang nulis artikel di media cetak dan online. Lumayan duitnya buat tambah-tambahan. Itu hutangnya lunasinlah. Muak aku dengan bunga haram.”


“Terima kasih banyak, Zahid. Bagaimana aku bisa membalas jasamu ini?”


“Apa kemarin kita baru kenal? Oh ya, buku Perry sudah sampai mana? Nanti kalau sudah kelar aku pinjamin Coulson.”


“Baru section 13. Soal distilasi. Masih jauh.”


“Ini pelajaran-pelajaran beberapa minggu ini. Ada beberapa soal kalkulus yang aku tidak paham. Nanti ajarkan ya.”


“Siap, bossku!” kata Uzlah dengan bersemangat. Dia menerima buku tulis Zahid.


Uzlah menulis ulang apa yang ditulis Zahid. Tidak hanya itu, dia mencari referensi lain baik di buku, maupun di internet.


Dia mempelajari semua apa yang dipelajari Zahid, seperti kimia, fisika, dan kalkulus dengan segala turunannya, lalu filsafat, bahkan pelajaran kewarganegaraan juga dipelajarinya. Tak satu pun tulisan dari Zahid yang dilewatkannya.


Jika waktu mepet karena sibuk kerja dan membantu ibunya berjualan, maka dia memfoto tugas-tugas tersebut dan membacanya melalui hp. Kadang juga memfotokopi setiap lembaran soal dan tugas yang diberikan Zahid.


Pria tangguh itu tidak pernah tidur cepat, lebih banyak begadang, dan menghabiskan malamnya dengan membaca. Dia pernah request kepada Zahid agar dipinjamkan sebuah buku yang dipinjam di perpustakaan.


Katanya buku itu penting sebagai bahan riset pribadinya. Zahid tak mungkin menolak. Lebih dari sekali yang pastinya Uzlah meminta hal tersebut.


“Zahid, kau ingat ketika kita masih SD, disuruh buat prakarya dengan tema bebas. Tapi karya kita beda jauh dengan teman-teman yang lain.”


“Murid-murid ada yang buat pot bunga, mainan kunci dari barang bekas, rumah-rumahan dari kayu.”


“Waktu itu aku punya mainan tembak-tembakan yang sudah rusak. Lampu-lampunya aku ambili.”


“Waktu itu aku punya mainan mobil tamiya dua biji. Lalu mobil-mobil itu kita pasangin lampu. Hebat bukan main.”

__ADS_1


“Pernah juga kita merakit petasan kan?”


“Ha ha ha. Belum sempat dinyalakan, sudah meledak duluan di kelas. Kita kena strap oleh Kepala Sekolah.”


__ADS_2