
Ini adalah hari pertama Uzlah bekerja. Dia menjadi office boy di salah satu Bank konvensional. Jam setengah tujuh dia sudah siap.
Uzlah berpakaian rapi dan sopan dengan kemeja putih dan celana dasar hitam. Dia menyalami tangan lembut ibunya.
“Assalamu’alaikum,” salam Uzlah.
“Wa’alaikumussalam. Hati-hati ya, Nak. Kerjanya yang rajin.”
Uzlah tancap gas. Dia melesat dengan kecepatan enam puluh kilometer per jam, terus lurus dari arah Plaju. Tak lebih satu kilometer, dia sampai di lampu merah.
Di persimpangan itu ada Masjid Al-Fathul Akbar. Dia sering shalat Jumat di sana berdua dengan Zahid. Masjid itu hanya berbentuk persegi empat, luasnya lebih kurang seribu lima ratus meter persegi.
Kertapati berada di utara dari arah lampu merah itu. Di sana ada stasiun kereta api, sedangkan ke arah barat dari lampu merah di situ daerah Jakabaring, tempat berlangsungnya SEA GAMES 2011, Islamic Solidarity Games 2013, dan ASIAN GAMES 2018.
Jakabaring merupakan pusat sarana olahraga. Di sana berdiri megah Gelora Sriwijaya yang juga menjadi markas Laskar Wong Kito, Sriwijaya FC. Lebih dari itu, Jakabaring juga sebagai pusat wisata bagi warga Palembang.
Di kawasan Gelora Jakabaring terdapat danau yang cukup luas. Di sana ada banyak pepohonan dan taman. Sangat asri.
Banyak muda-mudi yang menghabiskan waktu mereka untuk menikmati panorama alam yang penuh nilai estetis.
Sering juga ada keluarga berlibur di sana, menikmati sore dengan orang-orang tercinta.
Kota Palembang terbelah menjadi dua bagian yang dipisahkan oleh Sungai Musi, yakni Seberang Ilir dan Seberang Ulu.
Daerah Plaju, Kertapati, Jakabaring, dan Ampera merupakan kawasan Seberang Ulu. Sedangkan Seberang Ilir adalah daerah perkotaan, bukan pemukiman seperti di kawasan Seberang Ulu.
Di sana banyak berdiri kantor pemerintahan, seperti kantor Walikota, Gubernur, dan banyak kantor Dinas.
Di Seberag Ilir banyak pusat perbelanjaan, ada Pasar Enam Belas Ilir yang sudah tak asing bagi warga Wong Kito, ada Pasar Cinde, Pasar Sekanak, dan Pasar Lemabang.
Begitu juga dengan mal modern, seperti Internasional Plaza, Palembang Indah Mal, Palembang Square, Palembang Trade Center, dan juga pasar-pasar swalayan lainnya. Kawasan Seberang Ilir dianggap lebih maju dan baik daripada kawasan Seberang Ulu, semenjak zaman Kerajaan Sriwijaya sampai Kesultanan Palembang, dan semenjak era kolonial hingga sekarang.
Dari lampu merah Uzlah berbelok ke arah kanan. Sebelum sampai di jembatan Ampera, Uzlah terkena macet.
Jam-jam pergi kerja dan sekolah telah memperlambat jalannya menuju tempat kerja. Begitu berjubel kendaraan yang mau menuju daerah Seberang Ilir.
Memang tempat kerja dan berbagai kantor serta perusahaan ada banyak di kawasan Seberang Ilir.
Jam tujuh kurang lima menit merupakan jam-jam macet bagi jalanan di Kota Palembang yang sibuk. Jembatan Ampera penuh dengan sesak.
Udara pagi sudah dicemari asap-asap kendaraan. Karbon monoksida menjadi toksin yang menyesakkan dada. Kepulan debu yang tertiup karena semilir angin membuat para pengguna sepeda motor menutup hidungnya.
Kaca mobil menghitam karena kandungan karbon yang ada pada kotoran debu.
Polusi udara membinasakan kesejukan.
Jalanan macet yang berada tepat di atas Jembatan Ampera itu menelurkan gerutu dan kicauan dari para pengguna jalan.
Setelah sepuluh menit terjebak kemacetan, Uzlah melanjutkan perjalanannya. Dia sampai di Bundaran Masjid Agung Palembang, lalu mengelilinginya seratus delapan puluh derajat, terus dengan trek lurus sepanjang Jalan Sudirman.
Di pinggirannya berjejer ruko-ruko yang menyediakan buku, pakaian, sepatu, jam tangan, peralatan dan aksesoris olahraga, dan lainnya.
Di sepanjang Jalan Sudirman ada ruko yang menjual makanan yang sangat digemari masyarakat Wong Kito.
Makanan itu ialah martabak HAR, diambil dari nama orang yang sangat identik dengan makanan yang kuahnya dari kari itu: Haji Abdul Rozak.
Pagi itu Wong Palembang sibuk masing-masing dengan rutinitasnya. Terlihat dari wajah pekerja keras mereka, penuh dengan semangat dan antusiasme tinggi.
Sampai di lampu merah simpang Rumah Sakit Charitas, Uzlah berbelok ke arah jam sembilan, tepat di jalan A. Rivai, tempat di mana banyak Bank-Bank Konvensional tegak berdiri.
Mengurusi uang dan bunga tabungan. Memahami nilai tukar rupiah. Bergelut dalam ekonomi.
Sibuk dengan kurva yang naik dan turun. Mencari customer setia dalam penanaman modal. Giat mencari keuntungan.
__ADS_1
Pas jam tujuh lewat dua puluh lima menit untuk jam kantor Uzlah akhirnya sampai di BII. Dia memarkirkan motornya, lalu masuk ke tempat kerja.
Uzlah berjalan santai melewati kantor Bagian Umum yang ada di lantai dasar. Dia menuju pintu lift. Tak sempat menekan tombol, dia dipanggil oleh Kepala Bagian Umum, orang yang pernah meng-interview-nya kemarin.
Dia adalah Pak Dedi Sugiawan yang berbadan besar, sangat tak cocok untuk tampil di tinju kelas bulu. Bibirnya sangat jarang tersenyum, raut mukanya terlihat selalu ingin memukuli orang, dan perutnya buncit karena hobi makan.
Uzlah terpaku memandangi wajah Pak Dedi yang sangar. Beberapa saat dia membidik leher yang tercekik oleh dasi yang amat kencang itu.
Dia khawatir kalau nanti dia akan dimarahi. Dia berkata dalam hati, “Ohh. Hari pertama kerjaku....”
***
Mentari menerkam embun pagi. Cemara-cemara yang berjejer di sekitar kampus merasakan sinarnya. Dedaunan dan rerumputan menari-nari karena deru angin. Suasana kampus dengan segala cerita mengenai dunia takkan habis ditelan masa. Mereka mulai bergegas memasuki ruang kelas masing-masing.
“Ternyata mereka pergi jauh lebih awal daripada aku.” Suara tak terdengar merayap-rayap di benak Zahid. “Kukira aku yang paling awal masuk ke kelas. Sungguh luar biasa antusisme mahasiswa di sini.”
Zahid duduk di kursi yang di bagian tengah.
Tak lama kemudian Girang memasuki kelas dengan siulannya.
“Fhhiiuuu... fhhhuuuu... fhhuuuu.” Girang menghampiri Zahid yang sedang membaca lembaran jadwal kuliah.
“Hei, Kawan! Habitatmu di belakang. Tuh, di pojok sana itu. Kenapa kau malah duduk di sini?”
Zahid tetap sibuk dengan bacaannya. Dia seolah tak peduli dengan omong kosong Girang.
Girang memegang pundak Zahid dengan penuh keakraban seolah sudah berteman dua tahun satu bulan, padahal baru kenal dua hari lebih sedikit.
“Ayolah Kawan! Kita duduk di belakang saja. Masih banyak persoalan yang harus kita bicarakan.”
Zahid membatu, cuek, dan memampang wajah yang penuh kebosanan. Dia anggap omongan Girang hanya angin lalu, seperti serpihan debu yang melayang karena getaran kecil.
“Inikah teman?”
“Sepertinya aku harus sendiri hari ini. Ya. Semoga hari ini saja. Kawan, sepertinya kau lagi depresi ya? Apa kau lagi ada masalah? Mukamu itu masam jika dirasakan. Apa yang kaupikirkan?” kata Girang mengolok.
Zahid menegakkan bahu lalu menghela napas. Dengan alis yang menukik ke bawah dia berkata, “Ada atau tidak adanya kau, tidak akan memengaruhi hidupku. Jadi, urusilah saja urusanmu!”
“Ha ha ha. Kau jangan terlalu serius, Zahid. Bukankah hidup ini hanya sekedar main-main?”
“Bodoh nian kau ini! Justru itu kau jangan main-main dalam bermain-main. Sudah sana! Jangan ganggu aku!” bentak Zahid sedikit marah.
Girang meninggalkan Zahid lalu menuju kursi paling belakang dan paling pojok. Girang duduk dengan kesendiriannya.
Kursi di sebelahnya kosong. Dia down setelah mendengar omongan Zahid yang terlihat sangat serius.
Lima menit kemudian masuk seorang wanita yang sudah diincar-incar oleh pria satu kelas, kecuali dua: Zahid, dan Yanto yang agak bencong di kelas itu.
Susan dengan parasnya yang cantik melangkahkan kakinya dengan ayu. Hidungnya mancung. Sungguh cantik dan menawan.
Jika berbicara suaranya penuh dengan syahdu. Rona mukanya telah menghipnotis dua puluh delapan dari tiga puluh pria, termasuk Syarif yang semenjak Ospek sudah terpincut dengan Susan.
Syarif sudah booking dengan DP sebuah surat cinta dan sebatang cokelat.
Susan mendekat ke kursi yang sedua hari telah menjadi landasan pantat seksinya. Namun, dia melihat kekuasaannya itu telah dikudeta oleh seseorang, kediamannya telah direbut.
Dia mendekati pria yang sedang duduk tegak dengan tatapan kosong.
“Permisi, ini kursiku.” kata Susan lembut.
Zahid bergeming. Dia hanya membidik arah papan tulis yang tak satu huruf dan angka pun yang nangkring di sana.
Girang sedari tadi memperhatikan Susan semenjak masuk kelas sampai berdiri di hadapan Zahid.
__ADS_1
“Woah! Manisnya. Andai aku mempunyai muka setampan Zahid, tentu sudah kupacari bidadari Teknik itu,” kata Girang dalam hati dengan muka penuh harap.
“Maaf, ini kursiku. Jadi tolong minggir!” kata Susan lagi.
Pria dengan tinggi seratus tujuh puluh tiga sentimeter itu hanya diam. Dia seolah tak mengenal yang namanya bahasa.
Dia sibuk menggerak-gerakkan lidah yang ada di dalam mulutnya sehingga nampak benjolan di pipi kirinya. Dengan sikap diam dan dinginnya dia seolah tak peduli dengan omongan primadona kelas.
Sementara itu, mahasiswa yang lain sibuk memandangi momentum tersebut. Mereka melihat potret Susan yang sangat menawan. Tak tertinggal Syarif, dia juga sibuk memperhatikan dengan seksama peristiwa itu.
Wajar! Masa pendekatan dia dengan Susan sudah masuk minggu kedua. Dia merasa sudah di atas angin, sungguh optimis kalau nantinya Susan akan bersanding di rangkulannya.
Susan dengan rambutnya yang terurai panjang itu telah membutakan hatinya. Itulah tujuannya ingin menjadi ketua tingkat kelas, dia ingin bebas bertindak, ingin mempunyai reputasi dan jabatan tertentu agar dia mampu mendapatkan apa yang diinginkannya, termasuk mendapatkan cintanya Susan.
Susan menghela napas sebentar. “Aaagghhhrrr... ayolah minggir!” bentak Susan jengkel.
Zahid masih saja membisu, kecuali hatinya yang berkata, “Huft. Apa lagi ini? Wanita... wanita....”
Girang yang duduk di pojokan asyik menyandarkan tubuhnya. “Semoga Zahid tetap duduk di sana. Biar Susan duduk di belakang, tepat di sampingku. Oh Zahid, kau memang sahabatku. Rencanamu berhasil, Kawan! Susan... Susan...! Kemarilah wahai bidadariku. Ayo sini!” katanya.
Susan kesal karena Zahid cuek tak peduli.
“Hei! Kau ini dengar apa tidak sih?”
“Hemm. Ya, aku dengar.” jawab Zahid pelan.
“Nah. Ayo cepat minggir! Kau duduk di kursi yang aku duduki kemarin-kemarin. Jangan bikin aku bertambah kesal ya!
“Lantas?”
“Aaagghhhrrr... kau ini!
Syarif berdiri dari duduknya.
“Hei kau! Kemarin-kemarin kau duduk di belakang, kan? Jadi, mengapa kau mengambil kursi orang lain?” teriak Syarif dengan menunjuk Zahid.
Zahid diam. Semua mahasiswa sibuk memperhatikan. Ada di antara mereka yang berkomentar, “Peluang kita untuk mendapatkan Susan semakin sempit. Tuh liat! Satu cowok tampan amat. Yang satu lagi, walaupun jelek, tapi dia ketua di sini. Kita harus bersaing dengan mereka. Musnah harapan kita."
“Ha ha ha. Betul,” jawab yang lainnya.
PLAAKKK !!!
Tiba-tiba Zahid menghentakkan tangan kanannya di atas meja tulis kursinya. Getaran yang menghentak keras itu tak menyisakan suara dari penghuni kelas, membungkus mulut-mulut para mahasiswa.
Suasana sunyi beberapa detik. Mereka diam kecuali Syarif. Dia berdiri ke depan kelas dengan lantang. Dia merasa wibawanya sebagai pemimpin diinjak-injak.
“Apa-apaan kau ini?! Pagi-pagi sudah bikin keributan. Ayo cepat sana pindah ke kursi belakang!”
Hentakan dari Zahid dan gertakan dari Syarif menjadi media penghantar panas sempurna, katakanlah dia besi, panas itu mengalir tanpa penghambat, hingga suasana semakin runyam. Situasi semakin seru setelah bunyi hentakan itu kembali terdengar.
PLAAKKK!!!
Zahid berdiri dari duduknya.
“Kenapa? Kau tidak senang kalau bidadarimu ini gelisah? Kau cemburu melihat bidadari manismu ini diambil orang lain? Hah! Kau berdiri di depan sana karena dia ini, kan? Mentang-mentang kau ketua, jadi kau sudah merasa hebat!” bentak Zahid gusar.
Suasana kelas jadi bertambah kacau. Susan langsung berjalan dengan menghentak-hentakkan sepatunya ke lantai.
Dia kesal. Diamnya menyatu dengan tangis. Matanya memerah. Sejurus kemudian satu tetes air menerjuni pipinya yang halus. Dia terisak lembut.
“Setelah jam kuliah ini temui aku di kantin belakang!” tantang Syarif dengan lantang.
“Oke.” balas Zahid.
__ADS_1
***