Kisah Pria Sigma

Kisah Pria Sigma
28. Global warming


__ADS_3

Matahari tetap action memancarkan radiasinya ke bumi. Bumi tidak menerima! Bumi memantulkan lagi panas cahaya itu.


Lalu, lapisan yang ada di langit dengan kumpulan gas karbon monoksida dan gas metan menjegal panas itu, lalu kembali memantulkannya ke bumi sehingga panas itu nongkrong-nongkrong di alam fana ini, sampai kiamat. Panas itu akan semakin panas. Global Warming!


Walaupun energi fosil suatu saat tak akan ada lagi, tapi kendaraan bermesin terus diproduksi.


Entah apa yang ada di dalam nurani. Mencari keuntungan duniawi. Tak pikir tentang ego di dalam diri.


Membunuh bumi tanpa disadari. Panas terik matahari bukan sebab bumi menjadi mati. Tapi, ulah sifat manusiawi. Menikmati diri.


Mengejar ekspektasi. Hidup di atas kasur api. Menumpuk harta demi menginjak kehinaan diri.


Tak sadar bahwa alam terus diekspolitasi. Tak sadar bahwa alam terus dikeruk habis demi mendapatkan energi.


Tapi sebagian manusia tak paham masa nanti. Anak keturunan tersiksa karena bumi yang mati.


Perut bumi terus dikeruk. Hutan dipangkas. Habitat makhluk tak berakal semakin punah. Spesies binatang semakin banyak yang ditelan masa. Panas bumi menjadi-jadi.


Bencana di mana-mana, tanah longsor, banjir, tsunami, topan, gempa bumi, semua karena kesalahan dari sebagian manusia yang dianggap mulia karena akalnya. Tetapi, mereka tak mampu menggunakan akalnya tersebut.


Kekayaan alam terus direnggut oleh manusia. Semua untuk manusia. Besi dirancang menjadi alat yang bernama teknologi, itu untuk manusia.


Energi dari bumi untuk manusia. Binatang yang halal dimakan untuk manusia. Obat-obatan dari sesuatu yang alamiah untuk manusia. Udara untuk pernapasan manusia. Bumi sebagai pijakan manusia. Langit menjadi payung yang besar untuk manusia.


Angkasa luar untuk manusia. Bulan untuk manusia. Semua untuk manusia.


Lantas! Mengapa manusia tertuju kepada dunia? Mengapa tujuan manusia hanya dunia? Seandai tahu ini terasa di hati manusia. Sungguh, manusia itu ada hanya untuk-Nya.


Manusia rela membabat alam untuk kepentingan mereka. Banyak di dunia ini manusia yang egois hanya untuk meraup dolar dan rupiah.


Berupaya keras mengubah apa pun menjadi emas. Segala cara diperbuat agar setiap tuntutan terpenuhi sesuai keinginan nafsunya.


Alam direnggut keasriannya. Alam menjadi berubah, sangar dan menakutkan! Bumi ini semakin panas saja.


Kendaraan-kendaaran mewah semakin banyak melimpah. Emisi darinya menyuplai penuh bagi gas rumah kaca.


Panas matahari bukan klausa masalah. Tapi manusia. Manusialah yang membuat bumi akhirnya berbicara.


Bumi menampakkan kemarahannya, hingga manusia sendiri yang menanggung akibatnya.


Di kamarnya, siang itu, Zahid sedang asyik merebahkan badannya di atas kasur, melepas penat, merelakskan badan dan pikiran, menginjak segala kepedihan dan kesedihan, membinasakan sekardus polemik yang bergentayangan di relung hatinya, dan melupakan segala hal berbau dunia.


Dia hanyut dalam imaji, berspekulasi bebas, berkhayal sesuatu yang bersifat ilmiah, berpikir kritis menghadapi realita, dan idealis jika ada kenyataan yang kontra dengan nilai etika.


Zahid sendiri, berkontemplasi.


Zahid membenamkan diri di kamarnya. Dia murung selama seharian, tidak terkena seberkas cahaya alam yang benderang.


Saat itu juga dia tidak melihat alam dengan segala faktanya yang ada di luar sana.


Rumah yang berisi lima orang itu tidak terlalu tampak mewah.


Rumah dengan balutan cat berwarna biru, ada empat kamar tidur, cukup layak untuk orangtua yang bekerja sebagai PNS.


Lebih dari kata sederhana untuk kehidupan keluarga Zahid. Namun, di rumah itu banyak berisi barang-barang mahal dan mewah yang akhirnya Zahid menjadi tidak nyaman tinggal di sana.

__ADS_1


Zahid tidak senang dengan cara hidup keluarganya yang pro-teknologi. Dia tidak suka dengan gaya hidup kedua kakaknya yang gemar dalam bergelut dengan benda-benda modern dan banyak menghabiskan waktu di dunia maya.


Maka daripada itu, dia lebih sering merenung di kamarnya. Dia cuma sibuk dengan pemikirannya sendiri dan tak mau ambil pusing dengan segala ironi dunia di abad milenial.


Begitu juga dengan lingkungan kampusnya yang tampak nyata sekali dengan hiasan tamadun modern. Mahasiswa-mahasiswi pada asyik menikmati keindahan era teknologi yang amat canggih.


Beramai mereka bergelut di media sosial. Riuh mereka membicarakan omongan di dalam gadget.


Zahid merasakan betul suasana kampus di abad ke-21 itu. Tak heran jika dia setiap hari harus memandangi manusia-manusia modern di kelasnya.


Identitas dan karakteristik dari orang-orang abad ke-21 menghiasi suasana kampus swasta itu.


Zahid seolah semakin terpuruk dengan kenyataan. Kampus dan keluarga tak bisa membuatnya nyaman.


Andai tak ada semua problema yang mencengkeram itu, tentu dia dengan cepat menyelesaikan penemuan dininya.


Suara anak-anak kecil yang bermain menyusup masuk melalui jendela. Suara senar gitar menyelinap. Setiap petikannya terdengar samar.


Tak ada keheningan di kamar itu. Matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Sinarnya meredup kian perlahan. Desiran angin merayap-rayap melalui celah jendela.


Terik panas sudah berlalu, temaram senja pun semakin tak bercahaya, kelam malam mulai mengintai.


Di antara kertas-kertas yang tergeletak di atas meja itu ada dua buku catatan fisikanya waktu SMA. Buku-buku itu bersampul kuning, buku catatan waktu kelas dua dan kelas tiga SMA.


Zahid memperhatikan kertas-kertas itu, lalu merapikannya. Membaca ulang dan memahami apa yang berasal dari pemikirannya sendiri.


Tak ada manusia yang paham tulisan itu kecuali dia. Hanya dia yang paham. Tulisan itu tidak jelas.


Ada gambar-gambar aneh, garis-garis, ada juga seperti rumus-rumus sains, dan angka-angka tidak jelas.


Itulah yang menjadi aktivitas hariannya jika ada di kamar, menulis apa yang ada di dalam benaknya, lalu membacanya kembali. Menulis tapi seperti mencoret-coret tidak jelas.


Tapi, entah kenapa dia yakin bahwa itu adalah sebuah penemuan besar.


Baginya kertas-kertas itu adalah sebuah benih untuk mewujudkan mimpi besarnya. Dia yakin kertas-kertas itu suatu saat nanti akan mengharumkan namanya, menjadikan dia seorang ahli fisika, seorang saintis besar.


***


Sepulang kuliah, Zahid menghabiskan waktunya di perpustakaan. Dia menggeletakkan pantatnya di kursi yang sering didudukinya.


Kursi itu adalah kursi pertama yang menjadi singgahan bokongnya. Di tempat itulah dia menekuni setiap bacaan, meng-horizontal-kan pandangan dari kiri ke kanan, menyoroti setiap huruf yang ada di setiap lembarannya, melongok terpana mengisi pengetahuan, terpaku membisu namun menyuara di kalbu.


Azan Ashar menyeru. Hati Zahid tersentuh. Lebih dari satu putaran jarum pendek jam dia menekuni bacaan.


Lalu dia menyetop bacaannya kemudian bergegas ke Masjid yang ada di kampus, menyelami nyamannya menghadap Ilahi, merasakan ketenangan yang merayap-rayap di hati, mengingat Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, dan merendahkan diri dan mengabdi kepada-Nya.


Langit barat menguning. Matahari mulai meninggalkan hari. Senja semakin tampak. Panas terik mulai beranjak.


Sahutan kicauan-kicauan burung di langit itu tak terdengar oleh telinga manusia. Mentari sore menimpa wajah-wajah Wong Kito.


Zahid berkunjung ke rumah Uzlah lagi. Tempo hari sudah beberapa kali dia ke sana, membicarakan persoalan demi persoalan.


Dia duduk-duduk di beranda menantikan kepulangan sahabatnya itu. Dia menelaah sekitaran pondok jualan Bu Mirna. Sementara Bu Mirna sedang di dapur memberesi perlengkapan jualannya.


Deruman mesin motor Revo merayap-rayap di sekitar itu. Uzlah pulang selepas dari bekerja. Sementara Zahid sigap memperhatikannya.

__ADS_1


“Hei, Kawan!” sapa Zahid.


“Sudah lama?” tanya Uzlah. Dia langsung duduk bersebelahan dengan Zahid.


“Lumayan.” jawab Zahid. “Pasti capek?”


“Tidak juga. Mungkin karena sudah terbiasa. Sebentar aku ambil minum dulu, Kawan.”


“Oke.”


Uzlah kembali membawa dua capucino hangat.


“Tumben. Kok tidak bilang-bilang kalau mau datang. Kemarin-kemarin suka sms dulu jika mau main ke sini.” ucap Uzlah.


“Begitulah, Kawan.”


“Kenapa mukamu murung begitu?” Uzlah meneliti raut muka Zahid. “Ada masalah apa lagi? Masih masalah kampus?” tanyanya.


“Bukan, Uzlah. Bukan masalah aku pernah berkelahi itu. Dan juga bukan masalah aku dengan Si Sok Akrab itu.”


“Lantas, masalah apa lagi?”


“Orangtuaku. Mereka mengatakan kalau aku ini ada gangguan jiwa, atau juga ada gangguan pada otak.” kata Zahid datar.


“Kok bisa?! Coba kauceritakan yang jelas.”


“Kemarin sore, pas ayahku pulang dari kerja, kami berbicara masalah ini. Aku juga heran kenapa tiba-tiba ayahku mau mengajak aku berbicara sesuatu,” ujar Zahid datar.


“Terus?”


“Ayahku menanyakan kepadaku tentang kuliahku, ada masalah atau tidak. Terus kubilang bahwa tidak ada masalah. Tidak mungkin aku menceritakan tentang aku pernah berkelahi. Tidak mungkin aku bercerita tentang masalah-maslah di kampus. Kalau ayahku tahu semuanya, tentu aku akan dimarahi habis-habisan.”


Uzlah sesekali melirik ke arah Zahid. Dia mengangguk pelan bertanda bahwa dia sedang memperhatikan.


“Terus dia bilang kalau aku ini ada keanehan. Kata ayahku, aku ini harus dibawa ke psikolog, karena mungkin aku ada gangguan kejiwaan. Lantas aku menjadi terkejut setelah mendengar omongan ayahku. Tidak mungkin aku mengalami gangguan kejiwaan. Bahkan ayahku menyuruhku untuk berobat ke dokter, karena dikira aku punya gangguan otak. Aku benar-benar shock sehabis mendengarnya.”


“Parah!”


“Entah aku harus bagaimana? Aku bingung.”


Sebenarnya Uzlah menyimpan sedikit kekesalan kepada Zahid. Tempo hari ketika Zahid bertandang ke rumahnya, Zahid menceritakan banyak persoalan kampus.


Uzlah merasa dongkol jika sudah mendengarkan pembicaraan masalah kampus. Andai Zahid bukan sahabatnya, tentu dia akan sungguh tak acuh. Dia harus menghargai sahabatnya dan merespons setiap ucapan Zahid meski tetap dia jengkel. Sebenarnya dia iri. Sungguh iri!


Deru angin menggoyang-goyangkan dedaunan di sekitar pondok itu. Getaran suaranya merayap-rayap berisik samar. Harmoni sore menemani mereka dalam menikmati setiap hirupan capucino.


“Jadi, bagaimana menurutmu, Zahid?” Uzlah mendaratkan kembali cangkir itu di atas meja.


“Aku hanya tidak terima, Uzlah. Bahkan dengan terang-terangan orang banyak menilaiku ini aneh. Tapi tidak untuk gangguan kejiwaan ataupun gangguan otak.”


Seringai terbalut di wajah Zahid.


“Apa yang dikatakan orangtuamu belum tentu benar. Itu hanya kemungkinan. Sudahlah, Kawan. Jangan terlalu dipikirkan.”


Zahid memegangi rambutnya, lalu menyisirnya dengan jari-jemarinya. Rambut yang hampir gondrong itu sering terlihat tidak rapi.

__ADS_1


Matahari sebentar lagi pergi ke belahan bumi lain. Sementara di belahan bumi ini cahaya kuningnya mulai meredup.


Inilah akhir dari lembayung senja. Hingga menampilkan remang di sekitaran.


__ADS_2