Kisah Pria Sigma

Kisah Pria Sigma
21. PTN


__ADS_3

Waktu begitu cepat berlalu, sekarang sudah masuk di ujung masa SMA, dan sebentar lagi pintu gerbang belajar di perguruan tinggi akan terbuka, serta jalan kesuksesan untuk meraih mimpi dan cita-cita akan terbentang.


Pesaing berat Uzlah di SMA Swasta gaul hanya dua orang saja. Satu cowok dan satu cewek. Hanya tiga orang ini yang selalu mencapat nilai tertinggi di antara seluruh siswa-siswi, terutama pelajaran MIPA.


Satu cowok itu tentu bukan Zahid sebab selama kurun waktu tiga tahun belajar dia cuma berhasil dua kali masuk sepuluh besar, yaitu pada saat kelas 10 dan kelas 11. Kelas 12 nilainya hancur-hancuran.


Satu cowok itu bernama Alvin. Kelas sepuluh semester satu dan kelas sebelas semester dua dia menjadi siswa dengan nilai tertinggi. Sementara Uzlah di kelas 10 semester dua dan kelas 12 semester 2 mendapat nilai tertinggi.


Dan kompetitor cewek itu adalah Devrieya. Dia berhasil menjadi murid tercerdas waktu kelas sebelas semester satu dan kelas dua belas semester satu. Perbandingannya adalah antar seluruh kelas.


Dan pada saat kelulusan di acara purnawisuda ini ketiga orang itu terus bersaing, kira-kira siapa yang bakal menjadi juara umum di SMA Swasta Gaul, kira-kira siapa yang mendapat predikat siswa-siswi tercerdas.


Barusan saja secara bergilir semua murid dipanggil dan naik ke atas panggung, diberi medali dan penghargaan karena sudah lulus dari sekolah swasta ini. Sebentar lagi kepala sekolah akan menyebutkan tiga nama murid yang paling berprestasi.


“Baiklah. Di urutan ketiga ada Alvin. Silakan ke podium.”


Beberapa saat Alvin memberikan kata-kata mutiaranya.


Di deretan kursi paling belakang, tempat para orangtua murid berada, Ibu Mirna menghadiri acara meriah ini. Beliau jarang datang pada saat pembagian rapor dan baru ini bisa menyempatkan hadir ingin melihat putra kebanggannya di atas sana.


Biasanya ayahnya Zahid yang selalu menjadi walinya Uzlah. Sementara ayahnya Zahid hadir bersama istri, tak jauh dari tempat duduk ibunya Uzlah. Tadi mereka berbincang hangat membahas masa depan anak-anak mereka.


Mereka berharap kelak anak-anak mereka mampu melanjutkan sekolah yang lebih tinggi kemudian mendapat pekerjaan yang baik atau membuka sebuah bisnis yang akan menjadi sarana pencarian rejeki.


Zahid hari ini bangga sekali karena dua orang tercerdas itu adalah kedua sahabatnya. Terharu dan bangga. Tidak ada rasa kecil hati dan iri karena tidak bisa masuk nominasi, ya memang Zahid tidak begitu menyukai penghargaan.


“Di tempat kedua adalah.... Masayu Devrieya. Selamat!”

__ADS_1


Riuh rendah suara guru, murid dan orangtua membumbung ke sekitaran gedung nan megah. Pak Raden Setiawan berdiri dengan kebanggan. Devrieya berjalan ke arah panggung dan berdiri di podium, bersyukur kepada Allah dan mengucapkan terimakasih kepada orangtuanya dan guru.


Kepala sekolah melanjutkan, “Untuk murid dengan nilai tertinggi adalah... Uzlah! Selamat Nak!”


Bu Mirna menangis bangga.


Terharu bahagia.


Uzlah dikalungi medali, mendapat piala, dan piagam penghargaan untuk kesekian kalinya. Sorak sorai tanda apresiasi dan ucapan selamat makin membumbung ke penjuru gedung. Semua bangga sama anak cerdas dan berprestasi satu ini.


***


Beberapa bulan kemudian.


Sekitar jam delapan malam satu keluarga tengah berkumpul di sebuah ruang keluarga. Interior yang begitu indah, plavon dengan ukiran songket dan lampu kristal kuning memancaran cahaya esetetik di ruangan ini.


“Papa mendapat banyak laporan dari pihak sekolah kalau Devrie begitu dekat sekali dengan Cowok bernama Zahid. Kau berpacaran dengan dia?”


“Tidak berpacaran, Pa.”


Mamanya tidak berkomentar.


“Zahid itu kata para guru tidak sepintar dan berprestasi seperti kawannya, Uzlah. Mending kau sama Uzlah saja, Nak.”


“Uzlah tidak bisa lanjut kuliah, Pa, karena harus bantu keperluan keluarga, ada ibu dan adik yang harus dia nafkahi. Kalau kuliah, dia akan kurang waktu untuk mencari nafkah. Dia memang berprestasi, tapi sayangnya miskin. Sebenarnya dia dapat beasiswa kuliah di kampus paling top di Indonesia, tapi keadaan yang memaksa dia tidak bisa lanjut kuliah.”


“Pasti kau tau informasi itu dari Zahid. Papa lebih suka kalau kau menjalin hubungan sama Uzlah saja, jelas dia itu jauh di atas Zahid, semua guru percaya itu. Soal dia tidak kuliah, nanti tahun depan Papa akan usahakan dia bisa kuliah baik itu dari beasiswa ataupun Papa yang kasih dia biaya. Soal nafkah keluarga, Papa akan kasih dia pekerjaan freelance, banyak project yang tidak begitu menuntut waktu, biasanya kerja sepuluh jam selama satu minggu dan bayarannya jauh lebih besar daripada jika dia kerja delapan jam sehari selama dua puluh lima hari.”

__ADS_1


“Kenapa Papa tidak beri pekerjaan itu pada Zahid. Dia itu cerdas juga lho Pa. Tapi tidak ingin tampil saja.”


“Yang menilai itu para guru di sekolah. Tidak mungkin mereka salah menilai, Nak.”


“Zahid itu berbeda, Pa. Devrie juga tidak mau sama Uzlah soalnya dia anak pendiam dan tidak mudah bergaul. Dia memang bagus dalam nilai pelajaran, tapi tidak untuk interaksi sosial, padahal komunikasi adalah syarat penting dalam dunia akademis dan dunia kerja, Pa.”


“Papa tidak kenal sama sekali sama mereka karena belum pernah bertemu dan ngobrol. Itu hanya pilihan, Nak. Dan satu info yang Papa dapatkan adalah Zahid tidak lulus masuk PTN. Dia semakin tidak cocok sama kau Nak. Bagaimana bisa nantinya dia mendapatkan pekerjaan bagus dan gaji besar kalau PTN saja dia tidak lulus.”


“Devrie rasa tidak ada pengaruhnya dengan kesuksesan Pa. Nanti dia akan buktikan.”


“Sekali lagi ini hanya opsi dan juga nasihat dari Papa. Lagipula bisa jadi nanti kau bertemu jodoh di kampus negeri atau nanti bertemunya di tempat kerja. Waktu masa mudamu masih panjang, Nak.”


“Tapi Zahid itu berbeda lho, Pa. Sulit menemukan pria seperti dia, baik di kampus negeri maupun tempat kerja.”


Pak Raden Setiawan melihat anaknya dekat-dekat. “Devrie ini sudah merasa jatuh cinta. Selama ini sudah bohong sama Papa bilang kalau tidak akan berpacaran di sekolah.”


“Sumpah kami tidak berpacaran, Pa. Cuma teman dekat, teman belajar, teman ngobrol. Sumpah kami tidak pernah ada hubungan pacaran. Devrie juga berani bersumpah kalau kami tidak pernah macam-macam. Itulah aku suka sama dia, Pa, karena bukan cuma cerdas, tapi juga baik dan paham agama.”


“Untuk saat ini memang penilaian dan perhitungan Devrie sudah benar, tetapi apa dia akan tetap bisa menjaga itu semua, lalu memproses dirinya lebih baik pada saat menjadi mahasiwa dan karyawan, belum lagi urusan menjadi kepala rumah tangga.”


“Devrie akui kalau orangtua pasti lebih berpengalaman dan pasti lebih tahu apa yang terbaik bagi anaknya.”


“Karena Papa dan Mama sayang anak satu-satunya ini, jadi harus dicereweti, harus dinasehati, harus diarahkan supayan tidak jatuh dalam kesalahan.”


“Baik, Pa.” Devrieya mengangguk pelan sambil tersenyum.


“Sekarang tidak usah lagi berhubungan dekat sama Zahid apalagi berniat ingin menikah sama dia. Dia tidak akan sukses karena hanya mahasiswa kampus swasta dan sering dicap orang yang aneh. Ingat itu kata-kata Papa.”

__ADS_1


__ADS_2