
~ Dari segala sesuatu yang hidup, hanya manusia yang paling banyak omong.
[POV Uzlah]
Aku merupakan seorang yang pendiam karena khawatir apa-apa yang aku katakan nantinya tidak ada manfaatnya.
Sering aku mendengar seseorang yang pandai sekali berbicara, namun hampir tidak ada makna dan manfaat yang bisa diambil dari pembicaraan tersebut.
Sekarang aku sedang duduk di sebuah ruangan yang tidak terlalu luas. Kutidurkan kepalaku di atas meja.
Lelah sehabis membaca buku Kalkulus Diferensial selama 30 menit. Pelajaran yang semestinya dipelajari oleh mahasiwa.
Tapi aku bukan mahasiswa. Aku hanya seorang Office Boy di salah satu bank konvensional.
Keadaan yang membuatku harus bekerja. Aku sudah menerima surat dari kampus negeri yang ada di Jawa sana, kampus ternama, ya soal aku mendapat beasiswa sarjana.
Kata ibuku, tidak usah diambil karena jika aku berangkat, maka ibu dan adikku akan merasa kehilangan.
Maka seharusnya aku membantu kebutuhan keluarga. Makan sehari hari, biaya sekolah adik, dan kami masih terlilit hutang yang mesti secepatnya dibayar.
Aku bekerja sebagai freelancer. Jika OB nya tidak masuk bekerja, maka aku yang menggantikan posisinya.
Tugasku membersihkan ruangan lantai tiga di pagi, siang dan sore hari. Menyapu dan mengepel ruangan.
"Tolong fotokopikan berkas-berkas ini."
Aku menuju tempat mesin fotokopi di pojokan, lalu memberikan tugas tersebut kepada salah satu karyawan yang menyuruh tadi.
Pas jam makan siang.
"Dik, Mbak titip nasi ayam ya satu. Teman mbak juga nitip nasi ikan sama nasi telur."
Aku menerima uang lima puluh ribu dari pegawai bank tersebut.
Sempat aku melewati sebuah ruangan kecil lebar satu meter dengan dinding transparan. Di dalamnya ada seorang wanita yang sedang menghitung uang dengan jumlah yang sangat banyak sekali.
Setelah dari parkiran, aku tancap gas ke rumah makan Padang yang tak jauh dari kantor. Lalu bilang kepada penjual untuk pesan sesuai permintaan karyawan tadi.
Sekarang tiga bungkus nasi sudah kupegang. Aku melewati pintu masuk bank. Pak Satpam melempar senyum kepadaku. Kemudian aku menaiki anak-anak tangga menuju lantai tiga.
Rupanya karyawan tersebut sudah menunggu, mungkin karena sudah kelaparan ya.
"Ambil saja kembaliannya, Dik."
"Terimakasih, Mbak."
Sama seperti karyawan lain, aku juga tentu akan istirahat makan.
Aku buka tasku dan mengambil kotak makan yang tadi pagi sudah disiapkan oleh Ibu. Nasi, telur dadar, sedikit sambal.
Ibuku selalu menyiapkan bekal ketika aku berangkat kerja. Ibu melarang keras jika aku membeli makanan di luar.
Ya aku tahu itu, untuk berhemat.
Sore sebelum pulang kerja, seseorang menghampiriku dan memberikan upah hari ini sebesar tujuh puluh ribu.
__ADS_1
***
Sudah satu minggu ini aku tidak mendapat panggilan kerja lagi. Jadi selama waktu itu aku menemani ibu berjualan.
Tapi tiba-tiba siang ini Pak Dedi menelepon ku. "Uzlah, besok teknisi kita tidak bisa masuk kerja karena dia sakit. Dua hari yaitu besok dan lusa kau gantikan posisi dia ya."
"Siap, pak."
Esok pagi aku bergegas ke bank lagi.
Khusus untuk teknisi ini pekerjaannya beda dengan office boy tentunya.
Ruanganku berada di bawah, tepat di samping ruangan genset.
Sebelumnya aku sudah belajar jika listrik PLN padam apa yang harus aku lakukan.
Aku mesti menurunkan skring PLN, menghidupkan genset, lalu menaikkan skring genset agar pasokan listrik berasal dari genset.
Sesekali aku mengecek keadaan kantor, mulai dari lampu, kabel, komputer, lift, dan hal apa saja yang terkait dengan hal teknis.
Aku lebih senang kalau bertugas sebagai teknisi ini ketimbang OB. Meskipun tugasnya lebih berisiko, tetapi teknisi lebih banyak santainya.
Maka di ruangan ini tak ada siapa-siapa. Cuma ada meja, rak, dan tombol-tombol yang berkerlap-kerlip.
Banyak waktuku kuhabiskan dengan membaca. Kemarin Zahid meminjamkan buku Perry's Chemical Engineers Handsbook padaku.
Sudah dua jam aku membacanya. Kata Zahid, ini kitabnya anak Teknik Kimia. Banyak mahasiswa yang tak sanggup menyelesaikannya.
Tapi aku yakin dapat memahami isinya. Full bahasa Inggris. Karena bahasa Inggris ku masih berantakan, jadi sesekali aku membuka Google Translate.
Di section satu soal Conversion And Mathematical Symbols.
Atmosfers, bars, Btu, Kelvin, Newtons dan banyak sekali satuan-satuan yang dulu tidak aku pelajari selama masa SMA.
Aku merasa bodoh sekali kalau sudah berhadapan dengan buku-buku induk.
Satu section untuk hari ini. Lumayan. Selebihnya akan aku pelajari sendiri ketika di rumah.
Suatu ketika, pas aku bertugas sebagai teknisi, tiba-tiba Pak Dedi masuk ke ruangan ku. Aku tersentak.
"Kau ini, kerja sana, jangan santai-santai! Lift kita tidak bisa beroperasi. Tiba-tiba mati. Cepat selesaikan!"
Aku bergegas ke lokasi. Aku bergidik. Ku awasi sekeliling lift. Sedikit pun aku tak paham soal lift ini.
Sudah beberapa kali aku bekerja, baru kali ini dihadapkan pada masalah yang aku tidak paham. Aku tidak bisa mengerjakannya.
Aku pun tak tahu apa penyebab pasti lift ini bisa berhenti operasi. Yang ada di pikiranku adalah dengan cara menelepon Rio, sang teknisi sebenarnya.
"Cepat ke sini Kak. Aku tidak sanggup."
Sepuluh menit aku masih saja tertegun. Beberapa karyawan mau masuk tapi ku bilang tidak bisa.
Lalu Pak Dedi mendorongku dengan tiba-tiba.
"Apa yang sudah kau kerjakan?" Bentak Pak Dedi.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Sebentar lagi Rio akan datang ke sini."
"Seharusnya kau yang mengerjakannya! Kenapa malah manggil Rio? Sekarang dia tidak enak badan. Kasihan dia." Ujar Pak Dedi menyeringai.
Dia melemparkan buku-bukuku yang tadi diambilnya dari ruanganku. Semuanya terjatuh ke lantai.
"Kerjaan kau cuma baca buku saja. Disuruh tidak becus. Hari ini terakhir kau kerja. Saya akan mencari freeancer lain yang lebih punya skill. Bukan cuma banyak bacaan."
***
Di rumah, aku melanjut sesion dua. Tentang Thermodynamics Properties.
Sambil baca, sambil pula aku merenungi perkataan Pak Dedi sore tadi.
Benar juga, aku tidak punya skill. Cuma banyak teori. Ini satu pelajaran penting bagiku.
Selanjutnya aku bekerja sebagai waiter di Riverside, restoran di tepi Sungai Musi.
Sekarang ini masih mengenakan kemeja putih dan celana hitam. Aku diajarkan oleh senior bagaimana cara membawa makanan.
"Satu tray dulu. Kalau sudah terbiasa nanti coba pakai dua tray dua tangan." Ajar temanku.
TRIINNGGG
"Meja dua lima," sahut orang dapur.
Ada dua nasi goreng seafood. Dengan hati-hati aku membawa satu tray dengan dua tangan malah.
Sementara temanku barusan membawa dua tray yang masing-masing tray berisi enam mangkok pindang patin. Jadi ada dua belas pindang patin yang dibawanya.
Luar biasa, pikirku.
Dia melewati jalan lorong, semacam jembatan besi selebar dua meter, penghubung antara dapur dan kapal terapung.
Kapal terapungnya bertingkat dua. Ada puluhan meja makan di sana. Bartender dan tempat kopi di sana juga.
Kawanku itu berjalan agak cepat. Sementara aku masih tertatih-tatih, khawatir kalau dua nasi goreng ini tertumpah.
Apalagi sebelum masuk ke kapal terapung, mesti melewati jembatan besi lagi. Jika air pasang maka jembatan itu naik sesuai dengan tingginya air.
Nah sekarang air tidak sedang pasang. Maka penghubung ini agak sedikit menurun. Kalau terpeleset sedikit, nyebur ke sungai musi.
Ku taruh pesanan tadi sesuai meja.
TRRIINNGG
Arah bartender. Aku segera ke sana. Dua es teh manis. Sepertinya pesanan meja tadi.
"Selamat menikmati."
Beberapa hari ini aku mendapat shift sore. Kerjanya dari jam 3 sore sampai jam 10 malam.
Nah, malam ini resto sedang berulang tahun. Ada band Slank yang tampil mengisi acara dan juga ada beberapa artis lagi.
Karyawan tidak boleh masuk. Lagipula aku disibukkan dengan berbagai pesanan.
__ADS_1
Di akhir acara ada sebuah undian berhadiah bagi para karyawan, tak terkecuali bagi karyawan baru seperti aku.
Syukur sekali, sungguh tak disangka, aku mendapat hadiah rice coocker. Awal yang bagus untuk seorang pelayan.