
~ Janglah menanti-nanti orang yang lebih dan baik di matamu untuk hadir padamu. Akan tetapi buatlah dirimu begitu baik di mata orang lain agar orang lain hadir dan menanti-nanti dirimu.
Zahid tidak tahu maksud dari Susan yang tiba-tiba mengirim chat kepadanya. Malam itu Zahid berkeliling di kawasan Benteng Kuto Besak. Dia mencari-cari Susan.
Tak lama kemudian Zahid melihat lambaian tangan Susan secara samar. Di tengah remang berbalut hembusan malam Susan sungguh tampak memesona.
Kelamnya gulita tak meniadakan wajah cantik wanita itu. Hidungnya mancung. Rambutnya terurai panjang. Wanita itu memakai kaos hijau dengan motif garis-garis.
Zahid meliuk-liuk di tengah keramaian. Cool merupakan identitasnya. Dingin dan misterius kebanyakan orang menilainya.
Dia mengayunkan kakinya terus tepat ke wanita yang telah ditebaknya itu adalah Susan.
Seperti biasa, dengan raut muka yang tawar, dia tampilkan sikap dinginnya. Kedua tangannya berpetak-umpet di saku.
Pandangannya terpelanting jauh-jauh. Dia seolah berbicara dengan hembusan angin, padahal di dekatnya Susan menatapnya penuh dengan rasa kagum.
Mereka berjalan membentuk rangkaian paralel. Susan di depan. Zahid yang mengekor sedari tadi menampakkan wajah yang bertanya-tanya, ada apa gerangan Susan tiba-tiba menyuruhnya datang ke BKB tanpa alasan yang jelas?
“Mana Syarif?”
“Tidak tahu, Zahid. Mungkin di kost-nya.”
“Kukira kau berdua dengannya.”
Di pinggiran Plaza BKB ada banyak penjual mie tek-tek yang berjejer-jejer. Ada juga yang berjualan makanan dan minuman ringan.
Bila ingin membuat hubungan pacaran seolah dipatenkan, di BKB ada sebuah tempat untuk membuat cincin yang orang bisa mengukir namanya dan pasangannya di cincin tersebut.
Yang lebih seru di Plaza BKB adalah ketika ada Pasar Malam. Tempat yang tak jauh beda dengan luas lapangan sepak bola itu menjadi penuh ditumpahi lautan manusia.
Pas itu ramai sekali orang-orang yang berjualan, seperti berjualan pakaian, sepatu, topi, ikat pinggang, dompet, berbagai aksesoris perhiasan, segala yang berhubungan dengan seluler, kuliner, kembang gula, kacang rebus, poster sepak bola, dan banyak lagi.
Di Pasar Malam itu juga ada Rumah Hantu, sebuah sarana di mana bagi laki-laki yang susah untuk mendapatkan pelukan dari pacarnya, bisa menjadikan tempat itu sebagai sarananya.
Tetapi tidak untuk wanita yang pemberani dan tidak untuk wanita dukun syirik. Sayangnya malam itu tidak ada Pasar Malam. Suasana hampir lengang. Namun, lumayan banyak orang yang menikmati malam di Kota Palembang BARI tercinta.
Mereka berdua duduk di pinggiran Plaza BKB. Di hadapan mereka terhampar Sungai Musi yang sedang asyik mengalir, seperti dinamika kehidupan fana ini.
Hembusan angin berbisik-bisik menumpas keheningan. Sinar bulan jatuh mendobrak kegelapan malam, hingga remang hadir mengintai.
Temaram yang indah terhidang lewat lentera-lentera yang menghiasi Benteng Kuto Besak. Gemintang yang tampak bertaburan di angkasa bertanda hujan tak diundang untuk acara malam ini.
“Mie-nya yang basah atau kering?” tawar Susan lembut.
“Terserah kau saja. Tapi yang pedas.”
Susan meneriaki Mang Maman.
Mereka duduk berjejer bahu sembari menikmati aroma malam yang sejuk menenangkan. Hanya satu hasta saja jarak di antara mereka.
Tepat di hadapan mereka, di seberang sana, ada Kampung Kapitan. Lokasinya tak kalah eksotis jika dibandingkan dengan BKB.
Dulu, dan sampai sekarang, Kampung Kapiten–yang masih termasuk daerah Tujuh Ulu–kebanyakan diisi oleh warga keturunan Cina.
Sementara jauh ke sebelah kirinya adalah pemukiman orang-orang keturunan Arab, yang orang Palembang menyebutnya “Ayib”.
__ADS_1
Di daerah Sebelas Ulu itulah Uzlah tinggal.
“Kalau Syarif tahu, bagaimana?” tanya Zahid.
“Tenang saja,” jawab Susan dingin.
“Memangnya mau bicara apa, Susan? Sepertinya penting.”
“Sebenarnya aku malu untuk berbicara denganmu. Tapi ya mau bagaimana lagi? Terima kasih ya untuk yang kejadian tempo hari.”
“Yang mana?” tanya Zahid penasaran.
“Itu... soal garis.”
Zahid menatap sungai. Dia berpikir, memaksa ingatannya. Dan dia ingat.
“Oh, itu,” kata Zahid. “Ya, kembali kasih.”
Dua mie tek-tek pesanan mereka diantarkan. Mereka mulai menikmati mantapnya makanan itu pas lagi hangat-hangat.
Mereka bergeming selama makan.
Sesekali mereka melemparkan pandang ke arah Jembatan Ampera. Lampu yang meneranginya membentuk garis, dan menggambarkan konstruksinya yang tak terlihat karena kelamnya malam.
Itu merupakan tontonan yang menghibur.
Zahid tidak menaruh hati kepada Susan. Suasana relung jiwanya hanya biasa-biasa. Dia lebih banyak diam, memandangi aliran air, menengadahkan wajahnya ke langit, menatap kakinya sendiri, sibuk dengan pikirannya sendiri, merapikan rambutnya, menghela napas, dan tindakan-tindakan tidak penting lainnya. Saking jenuhnya pada waktu itu, dia minta diri untuk beli rokok.
“Kenapa diam?” tanya Susan.
Dia sebenarnya tidak mau untuk datang. Dikiranya itu adalah sebuah hal yang penting, ternyata hanya duduk-duduk saja sambil makan mie tek-tek.
“Kau senang fisika?”
“Sssttt... huuuuuuuuu... ya....”
Asap rokok yang terhembus itu bersusul-susulan dengan kata yang diucapkan Zahid.
“Kok bisa suka? Apa alasannya?”
“Begitulah. Frekuensi hati dominan random. Seperti intuisi, terkadang muncul begitu saja.”
Dan salah satu fenomena malam di Plaza BKB adalah banyaknya pengamen yang berkeliaran.
Di antara desiran angin muncul getaran-getaran senar. Pengamen itu melantunkan lagu yang tak ubahnya seperti lengkingan anak-anak alay.
Setelah melantunkan sepenuh lagunya, Zahid dimintai bayaran oleh pengamen itu. Dan Zahid dengan sikap dinginnya seolah tak peduli. Wajahnya tak bisa diraih oleh pengamen itu.
Setelah ketidakpeduliannya berjalan beberapa detik, Zahid mengira pengamen itu telah jauh pergi dari singgasana kekuasaannya.
Dia bernapas lega. Uang recehnya masih bertahan, begitu juga uang kertasnya, masih tertata rapi di dompet.
Dia merasa telah aman dari terkaman garong, sedangkan Susan hanya bersikap apatis.
“Ehheemm... uhhuukk... uhhuukk.”
__ADS_1
Suara panggilan alam itu merayap-rayap di telinga Zahid. Getaran intonasi dengan makna sebuah teguran itu tepat berasal dari belakang punggungnya.
Seperkian detik itu juga ingatannya meluap-luap. Dia merasa tidak asing dengan nada suara false itu. Suara itu adalah suara pengamen yang sepuluh detik lalu berkata, “Kak... Kak...permisi....”
Zahid mengangkat bahu lalu menggaruk-garuk kepalanya. At least, dia merasa tidak enak kepada Susan.
Pasti Susan akan mengiranya pelit. Seketika itu juga dia berusaha untuk meyakinkan Susan, sekaligus trik jaim.
Zahid menoleh ke belakang. Sebelum itu ada gimmick-lah sedikit. Dia memasang ekspresi wajah yang sebisa mungkin akan menyenangkan pengamen tadi.
Bagaimana pun, pengamen juga manusia.
Sudah lebih dari sepuluh detik pengamen itu menanti-nanti kebaikan lelaki yang tengah duduk berdua dengan seorang wanita cantik. Zahid menghela napas sebentar. Dia menengadahkan wajahnya ke pengamen itu seceria mungkin, dan, rasa penuh permohonan maaf.
Lalu dikirimnya sebuah senyuman yang memesona. Ditambah dia juga melambaikan telapak tangannya, seolah mengatakan angka lima.
Tetapi, pengamen–yang jauh muka daripada ganteng–itu membalasnya dengan raut muka penuh kekecewaan.
Alis yang menukik dan terkaman mata yang ganas darinya itu sungguh menandakan kekesalannya. Kemudian dia enyah dari tempat itu.
Zahid was-was untuk kedatangan pengamen selanjutnya.
Sementara itu, Susan asyik menggoyang-goyangkan kakinya, menyepak-nyepak kumpulan angin.
Tangannya sibuk menampar-nampar udara kotor dari kepulan asap rokok. Sementara Zahid terpaksa menjadi kereta api bertenaga uap.
Hembusan demi hembusan dia lancarkan. Toksin-toksin berbahaya itu luapan dari perasaannya.
“Aku tidak pernah melihat kau merokok ketika di kampus.”
“Kalau sedang kesal dan kecewa, aku merokok,” keluh Zahid ketus.
“Berarti sekarang....”
“Kau tidak senang dengan cowok perokok?”
“Jelas aku benci sama cowok perokok.”
“Kalau perokoknya ganteng seperti Syarif, bagaimana?”
“Emmm... pokoknya aku benci.”
Sejurus kemudian Zahid langsung mematikan rokoknya.
“Jangan lantaran rokok, kau men-judge seseorang itu bejat. Banyak pertanyaan-pertanyaan bodoh dari wanita-wanita, ‘Kau lebih pilih aku atau rokok?’ Sungguh itu adalah pertanyaan paling tolol dan tidak masuk akal,” ujar Zahid.
“Memang kenapa?”
“Apa samanya antara rokok dan wanita? Wanita itu jauh lebih punya harga diri. Ditambah wanita itu makhluk hidup, dan mulia. Kalau memang wanitanya tidak senang melihat lelaki perokok, ya harus dinasihati secara bijak. Harus diajari yang benar, dengan kasih sayang. Jangan langsung divonis bejat dan bajingan.”
“Aku tidak memvonis seperti itu.”
“Aku tidak bilang bahwa kau wanitanya.”
***
__ADS_1