Kisah Pria Sigma

Kisah Pria Sigma
33. Garis


__ADS_3

~ Garis itu kumpulan dari banyak titik. Jadi lihatlah titik-titik yang lain. 


Siang itu Zahid bergegas menuju Gedung Serba Guna kampus. Tak sabar dia menyaksikan wanita yang dikaguminya tampil dalam acara Gebyar Bahasa.


Zahid duduk di kursi yang paling belakang. Kebanyakan yang hadir adalah mereka Jurusan Bahasa dan Sastra.


Dia seperti orang asing di sana. Dia duduk tanpa ada teman bicara kecuali suara hatinya sendiri.


Mendengar puisi-puisi yang dibacakan peserta lomba, telinga Zahid terasa bising.


Muak dia memahami kata-kata indah itu. Ingin rasanya dia muntah. Jiwanya diterjang-terjang oleh bait-bait yang membosankan baginya.


Suara-suara yang melantun monoton itu sungguh menyesakkan dadanya. Baginya, suara-suara indah itu tak jauh beda dengan lengkingan ibu-ibu hamil.


Untaian kata-kata yang meraba-raba telinganya itu terasa panas. Ingin rasanya dia keluar dari tempat itu. Tetapi, hanya lantaran Rani, dia rela hadir pada acara itu.


Bunga, langit, lautan, hujan, awan hitam, mawar merah, mentari, rembulan, gemintang, semuanya hadir di dalam hati Zahid melalui kumandangan suara yang menjalar ke penjuru gedung.


Sekian lama menunggu dengan rasa terpaksa, Zahid melihat Rani naik ke atas panggung untuk membawakan puisinya.


Zahid membentangkan wajah cerah. Dia memperbaiki letak duduknya lalu meneliti wajah cantik Rani yang nyaris mirip dengan Angelina Jolie itu.


Dan aku Brad Pitt-nya, pikirnya.


Dengan rasa terpaksa juga dia harus mendengar alunan puisi nan indah dan membosankan itu, meskipun Rani–wanita cantik dan elegan baginya–yang membawakannya.


Setelah membacakan puisinya, Rani berkata, “Saya akan membacakan satu puisi lagi. Maaf, sebenarnya ini bukan dari bagian perlombaan. Tapi, izinkan saya untuk mengungkapkan rasa kagumku kepadanya. Sekarang saya lihat dia ada di gedung ini. Puisi ini untuknya. Untuk dia, yang tampan dan misterius.”


Peserta lain dan para penonton berdecak kagum melihat Rani yang sungguh berani.


Mereka memberikan tepuk tangan meriah. Gempita dari semarak acara itu tumpah.


Riuh suara mereka menyemangati. Sementara Zahid dengan wajah tawarnya hanya diam membisu.


Tapi, hatinya mulai merasakan sesuatu. Perasaan itu timbul tanpa dia memaksanya. Jantungnya berdetak sedikit lebih kencang, tegang.


Pintu hati Zahid seolah terbuka lebar siap untuk memahami isi dari puisi itu. Tak sabar dia menyambut kata-kata itu.


Jika puisi itu berhasil mengetuk hatinya, itu adalah untuk pertama kalinya. Sungguh menegangkan untuk seorang yang anti-estetika menanti-nanti puisi yang akan diberikan untuknya.


Terperih hatinya mendengar kata keindahan


Perasaannya dalam menjuram


Dia tak kenal keindahan


Dia benci kata-kata nan menggoda


Dia jauh dari bait-bait cinta


Dia gelap mata tentang rangkaian kata yang memesona


Bukan tak ada akal untuk berpikir


Bukan tak paham makna


Bukan tak kenal huruf dan kata

__ADS_1


Tapi hatinya terpaling dari sastra


Dia tak memandangi indah sastra dengan rasa


Hari itu dia akan mengerti dan memaknai


Setiap pohon yang tumbuh


Setiap awan yang mengapas putih


Bulan dan gemintang yang menerangi malam


Mentari yang memulai hari


Segala yang tersimpan di alam


Akan hadir di relungnya tentang keindahan


Takjub dia akan merasakan


Jiwa dengan ketenangan yang tertanam


Alam yang kaucintai


Sungguh menyimpan pesona keindahan


Rasakanlah


Dirimu wahai cinta


Terimalah keindahan hadir dalam setiap langkahmu


Keindahan itu akan kaurasakan


Hingga kau akan terpukau meresapinya


Suara tepuk tangan riuh menggema ke pelosok gedung. Sorak-sorai ramai menghisasi kemeriahan gempita acara itu. Semaraknya penuh akan pesona.


Puisi yang dibawakan Rani itu telah membuat mahasiswa-mahasiswa yang ada di gedung menjadi terperangah, terkagum-kagum.


Zahid melongok. Meski tak menemukan makna dari puisi itu tapi dia yakin puisi itu adalah untuknya, dan isi dari puisi itu ada keterkaitan dengannya.


Dia mengumbar senyuman. Melihat orang-orang pada bertepuk tangan, dia ikut-ikutan. Wajahnya datar setengah cerah.


Dia sibuk menyorot sosok Rani dari kejauhan.


Puisi Rani seperti katalis awal yang akan mempercepat reaksi cintanya.


***


Ada sedikit keributan yang terjadi di kelas. Sepasang kekasih sedang adu mulut.


“Maafkan aku, Susan.” Syarif merengek.


“Kau sudah janji kepadaku untuk tidak merokok, kan?” kata Susan agak keras tapi nadanya.


“Ya, aku, kan, sudah minta maaf. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi.”

__ADS_1


“Janji?!”


Syarif dan Susan sedang membahas sesuatu yang membuat mereka mengurungkan kepulangan mereka.Mereka berdua bertengger dan terpancang di sekitar pintu.


Wajah Susan ditumpahi rasa kekesalan. Emosinya meluap-luap. Dia merasa dibohongi oleh Syarif.


Hatinya hampir tak menyisakan rasa untuk Syarif karena tadi memergoki Syarif tengah asyik merokok di kantin.


Sementara Syarif mukanya bertambah terperosok saja. Bibir hitamnya menampakkan rasa bersalah.


Matanya berkaca-kaca tanda menyesali perbuatannya. Dia sedari tadi menengadahkan wajahnya ke arah rambut yang legam mengilap itu. Susan menghunjamkan pandangannya ke arah luar kelas.


Beberapa mahasiswa lain meneliti secara terselubung momen privasi itu, tak terkecuali bagi Zahid dan Girang.


Mereka berdua menyetop ayunan lidah dan bibir mereka. Mereka merubah posisi duduknya agar lebih pas dan mantap merekam setiap alunan suara yang berdenging samar itu.


“Aku janji tidak akan mengulanginya.” Syarif merengek lagi.


“Sudahlah!”


“Kuantar pulang ya?”


“Tidak usah. Awas kalau sekali lagi kau terlihat merokok!” ancam Susan.


Zahid dengan cepat langsung memahami duduk permasalahannya. Dia berdiri dan mengajak Girang untuk segera pulang. Dia menggeremet ke arah pintu seraya berkata dengan keras, “GARIS!”


Seketika satu kata itu mengheningkan suasana kelas. Girang yang mengekor alon di belakang Zahid jadi bertambah yakin dengan persepsinya: Zahid adalah seorang yang aneh.


Mario, Roy dan Ferry–mahasiswa yang pro-teknologi–kehilangan konsentrasi berpikirnya. Mereka awalnya asyik update status, lalu mereka meninggalkan aktivitas mereka itu setelah ada suara yang meluncur deras ke telinga mereka.


Mereka hampir serentak mengalihkan pandangannya ke arah Zahid. Begitu juga dengan beberapa mahasiswa lain, mereka mengawasi orang yang sudah melontarkan satu kata aneh: GARIS.


Sementara Syarif ternganga mendengar satu kata itu. Akalnya berpaling ke garis. Entah, garis apa?


Dan Susan, dia juga merekam suara aneh itu, dan ia mafhum bahwa suara itu keluar dari mulut orang yang aneh juga.


Zahid melangkahkan kedua kakinya sampai ke dekat pintu dan berkata dengan jelas dan tegas,


“GARIS! Garis itu merupakan kumpulan dari banyak titik. Lihatlah titik-titik yang lain!”


Zahid dan Girang berjalan menerobos Syarif dan Susan. Mereka membentuk rangakian seri. Seketika itu juga Zahid langsung merangkul temannya itu.


Syarif yang malas untuk menggunakan akalnya bertanya-tanya sendiri apa maksud dari omongan Zahid tadi.


Sementara Susan dengan otak SNI-nya tentu dengan cepat langsung paham dengan makna kalimat itu.


Susan merasa bersalah karena hanya menilai satu sisi saja dari kepribadian Syarif. Dia hanya menengok perbuatan buruk Syarif saja dan seketika itu juga dia langsung men-judge Syarif sebagai orang yang bejat dan penuh dosa.


Namun, dia tidak menganalisa secara dalam kebaikan-kebaikan Syarif. Dia benar-benar merasa bersalah atas kelakuannya terhadap orang yang sangat mencintainya itu.


Susan membalikkan badannya. Dia memandang wajah Syarif yang terlihat lemas yang seolah habis berlari sepuluh putaran mengitari lapangan sepak bola.


Dia mengunggah senyum manisnya yang tanggung. Syarif langsung mengunduh senyum itu. Dan, juga langsung membalasnya dengan senyuman. Tapi tetap tak menawan! Bibirnya! Bibirnya yang kehitam-hitaman itu sungguh tak memesona!


“Ayo kita pulang!” ajak Susan.


Syarif manggut saja. Senang bercampur kikuk mengisi dirinya. Helaan napasnya bertanda lega.

__ADS_1


Mereka berjalan berjejer bahu, lekat dengan kasih sayang. Tapi, sungguh tak proporsional. Kedua wajah itu sungguh kontras antara satu dengan yang lainnya.


__ADS_2