
~ Apakah sesuatu yang menyenangkan hanya dapat terwujud dengan hal-hal lucu kemudian tertawa.
Jam kuliah pertama sudah usai. Jam-jam yang terlihat membosankan bagi mahasiswa pemalas sudah berlalu. Masih ada satu mata kuliah lagi sebelum menikmati waktu indah di rumah atau di kost.
Salah seorang mahasiswa di kelas itu maju ke depan kelas. Dia tampak berwibawa secara visual. Dia terpancang seolah didampingi oleh sepuluh orang menteri, sangat percaya diri. Kelihatannya dia mempunyai kapasitas seorang pemimpin yang berintegritas tinggi. Dadanya bidang, dadannya tegap, dan tidak tampan. Di bawah standar untuk seorang mahasiswa kampus swasta.
Sementara itu, mahasiswa lain masih sibuk dengan urusannya, mengutak-atik hp-nya, menyelami indahnya alam maya, asik mendengarkan musik, dan hanyut dalam game.
“Perhatian!! Perhatian!!”
Suara itu menyeruak ke sudut-sudut ruangan. Sebagian mahasiswa yang mendengar suara itu sontak kehilangan konsentrasi berpikir mereka.
Suara yang terdengar dengan nada yang sangat pas jika dia menjadikan dirinya sebagai caleg itu mengacaukan pikiran-pikiran mahasiswa, terutama mahasiswa yang duduk di kursi yang paling depan.
Mereka merekam jelas suara itu. Sebagian yang lain mulai memperhatikan dan membenarkan tempat duduk mereka. Wajar! Hari kedua perkuliahan mereka belum begitu akrab antar sesamanya.
Jadi mereka terlihat heran tiba-tiba ada seorang yang berdiri di depan kelas dengan lantangnya.
“Perkenalkan, nama saya Syarifuddin Yaqub. Hmm... begini... Kawan-Kawan. Kita perlu seseorang yang bertugas untuk mengatur dan mengoordinasi segala sesuatu yang ada di kelas ini. Kita perlu seorang ketua tingkat kelas untuk mengatur setiap perkuliahan kita. Maka daripada itu, saya yang akan menjalankan semua tugas itu.”
Tiba-tiba Girang, yang duduknya paling belakang, berteriak, “Maaf!! Coba ulangi apa yang kausampaikan tadi! Soalnya aku tidak dengar.”
“Baiklah. Begini, kita memerlukan seseorang untuk mengatur dan mengoordinasi segala sesuatu yang ada di kelas ini. Jadi, saya... saya yang akan menjalankan tugas tersebut. Maka daripada itu, Kawan-Kawan harap memaklumi. Ini serta merta untuk kepentingan kita bersama.”
“O ya, tadi siapa nama orang itu?” bisik Girang kepada orang di sebelahnya.
“Syarif... ya... Syarif,” bisik Zahid pelan.
“Memang dia itu siapa sih di sini? Hebat sekali! Kenal saja belum, tahu-tahu sudah menjadi pemimpin secara sepihak.”
Zahid diam tak acuh.
“Mengapa kita tidak melakukan pemilihan saja?” teriak Anton.
“Sepertinya kita tidak usah melakukan itu,” jawab Syarif.
“Mengapa? Kan lebih demokratis kalau dilakukan pemilihan?”
“YA... YA... BETUL... BETUL...!!” jerit yang lain.
“Ya, kita harus melakukan pemilihan. Biar adil!!” teriak Girang sambil menunjuk-nunjuk ke atas.
“Maaf, sepertinya ini adalah yang terbaik. Saya yakin ini yang terbaik buat kita. Saya akan berusaha untuk kalian.”
Syarif berbicara lantang dengan penuh semangat seolah sedang berorasi memperjuangkan partainya, semangat untuk memproklamirkan kepemimpinannya.
“Huuu... huuu... TIDAK DEMOKRATIS!!” teriak sebagian mahasiswa.
Syarif menghela napas. “Ini adalah sebuah keputusan. MULAI SEKARANG AKULAH YANG MENJADI KETUA TINGKAT DI KELAS INI!! Terima kasih atas perhatiannya.”
Syarif kembali duduk di tempatnya. Sementara itu, tiga puluh empat mahasiswa lainnya sibuk dengan pikiran-pikirannya sendiri.
***
Di kelas, paling belakang, paling sudut di sebelah kanan dari arah papan tulis, ada Girang. Badannya sedikit bungkuk, alisnya tipis, dan mukanya yang selalu ceria.
Terasa hampa jika hidupnya tak tertawa dalam sehari. Dia pandai dalam beretorika, pintar memainkan kata-kata, ahli dalam mengekspresikan wajah, dan mudah akrab dengan orang lain.
“O ya, namamu Zahid, kan?” tanya Girang akrab.
“Ya.”
“Aku Alumni SMA Negeri Plus Sekali. Kau alumni mana, Kawan?”
“SMA Swasta Gaul.”
“Swasta?”
__ADS_1
“Ya. Kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
“Kenapa kalau aku alumni sekolah swasta?”
“He he he. Sepertinya sensimu tinggi sekali. Mukamu juga nampak serius. O ya, mengapa kau tidak masuk ke Perguruan Tinggi Negeri?”
“Tidak lulus.”
“Pasti kecewa?”
“Ya,” jawab Zahid sambil menahan pipinya dengan kepalan tangan kirinya.
“Nikmati saja, Kawan. Andai kau lulus, tentu kau tidak akan bertemu dengan orang ganteng, baik hati, suka menabung, dan rajin, seperti aku ini. Ha ha.”
Zahid melongok dengan tatapan kosong. Bangga sekali dia! gerutunya dalam hati.
“Bagaimana menurutmu kampus ini? Menurut aku sih, kita pasti sangat dibeda-bedakan dengan kampus lain, terutama oleh kampus negeri.”
Zahid mengangkat bahu lalu menengadahkan wajahnya ke arah Girang.
“Hei. Emas tetaplah emas,” kata Zahid. “Baik itu dia berada di dalam air yang ada di bejana, atau dia berada di air comberan yang kotor!”
“Ha ha. Super sekali!!! Super sekali!!!”
***
Suasana kelas masih dibuat kesal oleh ulah Syarif yang sok sekali seolah dirinyalah yang paling layak untuk menjadi Ketua Tingkat. Banyak mahasiswa di kelas itu yang tidak ikut campur dalam legitimasi kepemimpinannya.
Syarif mengklaim dirinya sebagai pemimpin tanpa usul siapa pun kecuali dirinya sendiri.
Setelah dari kantor Jurusan, Syarif kembali ke kelasnya.
“Sepertinya kita tidak ada kuliah, soalnya Bu Reni tidak bisa masuk untuk minggu pertama ini. Jadi, kita boleh pulang.”
Akhirnya mereka bisa menghirup udara bebas lagi. Itulah mereka, tidak begitu senang dengan suasana kelas. Kebanyakan dari mereka kuliah karena disuruh oleh orangtuanya, bukan karena keinginan mereka sendiri.
“Lihatlah! Huuu... begitu cakapnya pemimpin kita!” caci Girang sambil menggeleng-geleng.
Zahid membisu.
“Ayo kita pulang, Kawan! Rumahmu di mana?
“Di Tujuh Ulu,” jawab Zahid datar.
“Dekat Jembatan Ampera?”
“Ya. Rumahmu?
“Di Kertapati, Sungki.”
“Ouugh... pantas!”
“Pantas kenapa, Kawan?”
“Karakter orang sepertimu terlahir karena kebiasaan dan lingkungan.”
Mereka berdua ke luar kelas. Tak banyak mahasiswa yang terlihat karena masih jam kuliah.
Sementara mereka bisa pulang lebih awal karena tak ada jam kuliah lagi. Mereka berjalan alon menuju ke lapangan parkir.
“Mengapa kau kuliah, Jok?” tanya Girang sambil menyorot gedung-gedung kampus yang terlihat megah. Mereka berjalan berjejer.
“Huh. Coba tanyakan dulu kepada dirimu sendiri!”
“Ha ha. Kau tidak bisa menjawab pertanyaan yang sangat mudah itu ya? Jangan bilang kalau kau menyerah, Kawan!” kata Girang dengan sedikit mengolok.
__ADS_1
Zahid menghela napas. “Andai kau tahu apa yang kutahu!”
“Uiisshh. Begitu bijaknya kau, Kawan! Tak menyesal aku masuk kampus swasta ini!”
“Memang kenapa?” tanya Zahid heran.
“Ya aku bisa bertemu dan berteman dengan orang bijak dan misterius sepertimu.”
“Aku juga.”
“Juga apa?”
“Bisa bertemu dan berteman dengan orang aneh sepertimu!” kata Zahid sambil menggaruk-garuk jidatnya dengan jari telunjuk tangan kirinya.
“Sama seperti apa yang kupikirkan. Mengapa kau ingin sekali untuk melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi? Pasti ingin mencari bidadari-bidadari kampus, kan? Lelaki tampan sepertimu ini setidaknya memiliki tiga orang pacar.”
“Huuft. Dasar aneh!”
“Apa yang aneh, Kawan?Logikaku dan logika siapa pun tentu akan menyangka bahwa kau ini seorang playboy. Billie Joe Armstrong... mungkin... itu tuh... hmm... siapa tuh... itu nah... Vino... Vino Bastian.”
“Terserah!” kata Zahid sebal.
“Karena ilmu, kau kuliah?”
Zahid mengangguk-angguk pelan.
“Uiihhh... uiiihhh... uiiihhh. Kalau aku seorang wanita, tentu aku rela untuk kau sunting, Kawan. Tampan. Bijak. Cerdas. Badan tinggi tegap. Idaman para wanita!!! Idaman para wanita!!!”
Zahid tersenyum simpul, tapi hatinya kesal. “Untuk apa kau kuliah?”
Girang menengadahkan wajahnya ke langit. Dia mengangkat genggaman tangannya ke udara. “Woah! Woah! Suara itu... suara itu juga!!! Idaman para wanita!!! Intonasi dan nada yang sangat pas untuk pria tampan sepertimu, Kawan.”
“Ayolah. Aku serius.”
“Dan... ohh Tuhan, sayangnya aku ini laki-laki. Sayang sekali. Andai aku wanita, aku rela seribu rela untuk jadi kekasihnya. Betapa memesonanya dia ketika sedang serius.”
“Huft.”
Zahid bertambah kesal. Tak sabar dia langsung ingin pulang. Dia mempercepat langkahnya. Alisnya menukik ke bawah. Guyonan Girang tak mempan untuk membuatnya tertawa lepas.
“Susan? Bagaimana dengan Susan?”
“Yang mana?”
“Susan.” Kata Girang dengan wajah penuh ke-playboy-playboy-an. “Wanita cantik di kelas kita... huuuu... apa kau mau??”
“Kau boleh mengambilnya jika kau mau.”
Girang mendorong Zahid. “Boleh aku pinjam mukamu, Kawan?”
“Apa-apaan kau ini?”
“Yaah... kalau dengan muka pas-pasan seperti mukaku ini, tentu tak mampu untuk mencuri hatinya Susan. Nah, aku ingin pinjam mukamu dulu, Kawan.”
“Absurd... absurd...!!!” gumam Zahid.
“Bagaimana kalau kita ke Pasar Cinde?”
“Huft... untuk apa?”
“Untuk mencari jualan muka-muka ganteng, muka yang sepertimu. Ha ha ha.”
Zahid memandang langkah kakinya.
Oh Tuhan, apa hari esok akan sama seperti hari ini? tanyanya dalam hati.
***
__ADS_1