Kisah Pria Sigma

Kisah Pria Sigma
30


__ADS_3

Zahid meneruskan kegiatan membacanya. Dalam dirinya masih terselip lipatan-lipatan kejengkelan.


Huruf-huruf yang dibacanya bertarung dengan dengingan suara-suara wanita tadi. Bersitan berupa bunyi itu datang tanpa dia mengundangnya.


Hatinya seolah diintervensi. Dia meronta untuk menghapus ingatannya, tapi tidak bisa. Pencinta sains mana yang rela setelah sains-nya diolok-olok?


Dia berdiri dan mulai beranjak untuk meninggalkan perpustakaan yang mulai ramai.


Mahasiswa lain mengisi kursi-kursi yang kosong. Langkah kakinya yang ketiga terhenti.


Matanya melihat sebuah benda yang menyita perhatiannya. Dia mengawasi buku itu, wanita tadi lupa membawanya.


Zahid tak peduli. Dia kembali mengayunkan dengan alon kedua kakinya. Tak sampai tiga meter hatinya memerintahkan sesuatu.


Badannya berputar seratus delapan puluh derajat arah rotasi bumi. Dia mendekati bekas tempat duduk wanita tadi yang masih hangat.


Dia mengambil novel itu. Tertulis jelas “Mega Best Seller”. Padang Bulan. Dikiranya “Andrea Hirata” adalah judul bukunya, saking besar tulisan itu. Nama penulis yang tak asing meski bagi yang tak senang terhadap sastra sekalipun.


Zahid membawa buku itu. Rasa kesalnya tertutupi oleh rasa kepedulian. Dia ingin mengembalikan buku itu, tapi dia tak tahu di mana kelas wanita tadi.


Dia tidak pernah membaca novel. Jangankan hal itu, bahkan dia tak pernah membaca puisi, kata-kata yang indah, dan sejenisnya. Dia seolah tak mengenal istilah keindahan.


Rasa penasarannya tertumpah.


Dia membuka salah satu halaman dari novel itu, mengintai huruf-hurufnya, mencoba mencari makna yang tersurat darinya. Tak lebih dari satu menit, dia menutup novel itu.


Mentari berdiri setengah langit, semacam bendera setengah tiang. Sinarnya menciumi wajah-wajah mahasiswa.


Kilau mentari berhalo-haloan menerpa bumi. Panas yang mulai bedengkang itu menggelisahkan mereka. Ramai mereka ke luar kelas karena jam pertama sudah usai.


Pohon-pohon cemara itu menghiasi gedung-gedung kampus. Dedaunan melenggak-lenggok karena terpaan angin. Rerumputan menghijaukan suasana.


Sensasi sedikit terik berpadu dengan kesejukan deru angin yang menerjang. Zahid bercokol di sekitar gedung kampus , berdua dengan bayangannya, menanti-nanti kalau saja wanita itu menampakkan batang hidungnya.


Dia menyelami alam ingatannya dan menggali memori-memorinya. Dengan paksaannya akhirnya dia ingat, bahwa dulu dia pernah dimaki oleh seorang wanita, yang baginya dia itu: cantik, manis, elegan, proporsional, bibirnya merah tanpa balutan lipstik; bibir yang mengecap dengan godaan; bibir yang mengulum-ngulum dengan sentuhan persuasif, hidungnya mancung untuk kelas orang Indonesia, matanya berbinar, dagu lumayan lancip, pasti cerdas, dan... GALAK plus SANGAR!!!


Ya, wanita itu, pikirnya.


Zahid mendapati sesuatu yang terselip di tengah buku itu. Ada dua lembar kertas yang terlipat. Dia tak mau membacanya.


Tapi hatinya terus diterkam oleh rasa penasaran. Rasa bertanya-tanya itu kian menggelembung-gelembung.


Dia mengetok palu, memutuskan, dan yakin, membaca isi dari dua lembar kertas itu. Dia berharap ada identitas wanita itu. Ya. Wanita elegan itu! Wanita yang mampu menyingkirkan sekardus masalah yang menyita waktu, wanita yang telah mengobati hatinya, sehingga sedikit lepas dari beban-beban hidup.


Zahid menekuni bacaannya. Di kertas itu tertulis:


Ternyata pria itu kutu buku.


Oh, aku ingin tahu siapa namanya.


Tapi tidak mungkin. Tidak mungkin aku menghampirinya.


Lagian, dia sudah membuat jengkel dengan ejekan-ejekannya tempo hari.


Dia mengejek sastra.


Awas saja. Nanti akan kubalas.


Hari ini dia memakai kemeja hitam dan celana jeans hitam. Dia sangat tampan hari ini, terlihat dari rambutnya yang tersisir, sedikit rapi jika dibandingkan dengan waktu pertama kali bertemu.


Kok dia tidak ada?! Ahh... mungkin sehabis pulang kuliah nanti. Pasti dia sekarang lagi makan di kantin sama teman-temannya.


Kenapa dia juga tidak datang?! Huuu... hampir satu jam aku di sini menunggunya.


Untuk hari ini dia juga tidak datang ke perpustakaan. Ke mana si Gila itu? Ke mana si Aneh itu?


Hmmm... ternyata dia mengambil start duluan untuk waktu istirahat sekarang ini. Dasar si Tampan Yang Curang. Awas saja! Besok seperti jam yang sama aku akan sampai ke sini duluan.


Dia selalu saja sibuk membaca. Eh... lihat ke sini dong. Apa mungkin aku yang harus mendekatinya? Ah... tidak mungkin. Aku ini cewek.


Dia lagi-lagi menuju rak kumpulan buku-buku ilmu murni. Hmm... kalau tidak kimia, pasti fisika. Dia calon ilmuwan, mungkin. Sekarang, dia kembali duduk di kursi yang sama, seperti hari-hari kemarin. Lagi-lagi menunduk. Masih saja menunduk. Dan sekarang, dia mencoba mengalihkan pandangannya. Ah... dia hanya membenarkan letak duduknya, ternyata.


Siang ini dia memakai kaos oblong. Oh... cerminan dari mahasiswa jurusan mana dia? Tapi, mukanya yang terlihat polos itu menandakan pasti dia orang baik-baik.


Si Gila itu memang kutu buku. Apa sih yang ada di pikirannya? Aku penasaran. Siapa namu wahai Pria Aneh?


Hari ini dia seperti tidak bersemangat. Dia butuh hiburan. Sekarang adalah waktu yang tepat. Tapi, tidak mungkin


Tidak mungkin akan mendekatinya. Aku malu. Sungguh aku malu.


Aku sungguh bersemangat untuk hari ini. Aku sudah yakin bahwa aku akan berbicara dengannya nanti. Jika tidak, sampai kapan rasa kagumku ini terpendam. Oh, entah dia mirip siapa? Dia telah mengisi kekosongan hatiku. Satu jam ini membuatku kesal. Dia tak juga datang. Ke mana dia?

__ADS_1


Hari ini dia memakai kemeja batik. Ya. Hari Jumat. Dia jarang istirahat di kantin. Lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan ini. Padahal dia lelaki. Oh... sungguh pria yang misterius.


Diamnya sungguh menawan. Apa dia sudah punya kekasih? Hmm... semoga saja tidak punya.


Lirikan matanya tak pernah kutangkap. Setiap kali aku memandangnya dia selalu menunduk tekun dengan bacaan.


Begitu cuek. Sudahlah! Aku lanjutkan saja membaca. Dia juga tidak tahu bahwa aku sedang memperhatikannya.


Huu... siapa sih orang itu? Tenanglah Rani, pria itu hanya orang gila dan aneh. Berhenti memikirkannya. Berhenti melirik ke arahnya. Dia acuh tak acuh denganmu.


Lagipula, dia pernah mengejek keindahan sastra. Pria dingin itu brengsek. Dia itu pecundang. Ayolah Rani! Banyak tugas kuliah yang mesti kauselesaikan. Novelmu belum kau khatam. Teman-temanmu rela kautinggalkan di kantin, sementara kau sendiri di sini, menikmati ketidakpedulian darinya. Jauhkan dia! Jauhkan dia dari pikiranmu!


Untuk hari ini dia beda. Sungguh. Sungguh beda! Aku jadi tambah kagum dengan si Gila itu. Oh... sampai kapan aku begini? Aku harus berbicara dengannya. Tapi, tetap tidak mungkin! Ayolah! Bagaimana caranya??


Sudah dua hari ini dia tidak datang. Dia apa kabarnya?


Satu jam dia di sini.


Untuk hari ini, harus berhasil! Jangan seperti kemarin-kemarin! Aku sudah mengintainya. Pas! Aku dan dia tidak ada kelas untuk saat ini.... Tuhh kan lagi-lagi dia diam menunduk. Aku tidak pernah sekalipun melihat dia tersenyum. Akan kubuat dia tersenyum. Ya. Dia harus tersenyum. Ayo Rani! Semangat! ... Tapi, tetap, dia cuek, dingin, tidak menoleh ke arah sini! ... sekarang!


***


Zahid tersenyum renyah, namun wanita itu tidak melihatnya. Dia terperangah, tak menyangka.


Dia tak tahu sedikit pun bahwa dia sedang dikagumi secara terselubung.


Wanita itu. Wanita yang elegan itu! Wanita yang emosional itu ternyata menyimpan rasa kagum, pikirnya.


Isi jiwanya terisi penuh dengan gumpalan bayang-bayang aneh, sesuatu yang membuat hatinya nyaman.


Setelah membaca dua lembar kertas itu, hatinya sontak berbunga-bunga. Segalon keceriaan tertumpah deras dan menggelayut di wajah putihnya.


Senyum mengembang tumbuh subur di kedua bibirnya. Matanya berbinar-binar.


Wajah wanita itu menggelinding-gelinding di pelupuk matanya. Ejekan-ejekan dan olokan-olokan dari wanita tadi terkubur, semacam terjadinya proses evaporasi pada air laut, airnya menguap, dan garamnya itu layaknya seperti paras wanita itu yang dengan sejuta sensasi dari pesonanya.


Zahid berjalan cepat, meliuk-liuk di antara gerumulan mahasiswa. Dia menyelip-nyelip menghindari tabrakan badan dengan mahasiswa lain.


Rambut setengah gondrongnya melayang-layang. Matanya menyoroti setiap wanita yang ada di sekitarannya. Dia tampak bersemangat, begitu enerjik.


Dia masih memegangi buku itu. Dia terus mencari Rani–nama yang tertera di kertas tadi.


Sesekali dia bertanya kepada mahasiswa yang ada di sana. Tapi kebanyakan mereka tidak mengenalnya.


Sekian lama berkocar-kacir ke penjuru gedung, dia kelelahan, capek. Dia bercokol di kursi yang ada di luar kelas.


Jika nanti bertemu dengan Rani, dia langsung memberikan senyuman terbaiknya, itulah yang diharapkan Rani.


Sementara itu di perpustakaan.


“Kok tidak ada?!” gumam Rani.


“Tadi kau menaruhnya di mana?” tanya temannya.


“Ya di meja ini, Putri.”


“Lantas ke mana bukunya? Masak hilang?!” sahut temannya yang lain.


“Tidak mungkin hilang.” kata Rani kepada kedua temannya.


“Kau pula, Rani, mengapa tidak ngajak-ngajak sih kalau mau ke sini?”


“Maafkan aku, Weny. Aku lagi ingin sendiri.”


“Sekarang, apa kau masih ingin sendiri?” keluh Putri ketus.


“Ya, maaf.”


Raut muka Rani tampak murung setelah dimaki oleh pria yang dianggapnya baik dan pendiam itu dan lalu harus kehilangan novelnya. Jika memang benar-benar buku pinjaman itu hilang, maka dia harus menggantinya.


Mereka bertiga duduk berangkaian seri. Lalu bergantian saling pandang. Lalu tertegun diam. Lalu celingak-celinguk di sekitar perpustakaan, kalau saja buku itu masih ada di sana.


“Pria itu?” tanya Rani dengan bergumam. “Pasti dia yang mencurinya.”


“Siapa?” tanya wanita yang berambut keriting.


“Pria tadi, Putri. Tapi, aku tak tahu di mana kelasnya. Yang pasti dia bukan di FKIP.”


“Kau tahu namanya?”


“Tidak, Put. Tapi aku ingat mukanya. Tidak salah lagi.”

__ADS_1


Inilah karakter Rani: suka dengan asumsi, lebih tepatnya disebut spekulasi bebas. Dia setengah yakin kalau pria tadi yang mencurinya, soalnya hanya pria itulah yang duduk di dekatnya.


Setelah beberapa menit, mereka ke luar perpustakaan. Tepatnya di depan kelasnya, Rani melihat Zahid sedang duduk sembari membaca novelnya.


Rani berjalan cepat mendahului kedua temannya seolah pelari yang dua puluh meter lagi menyentuh garis finis. Dia bersemangat dan tak sabar memberangi pria yang dituduhnya mencuri itu.


Matanya melotot-lotot, seringai di wajahnya berbalut tebal.


Jarak Rani semakin dekat dengan Zahid. Sementara Zahid kelikikan sembari menghayati novel pertamanya. Rani menaksir pria itu pasti sedang mengejek novelnya dan sedang menertawai sastra.


Rani bertambah kesal saja. Tak sabar dia meluncurkan roket ocehannya tepat ke telinga pria–aneh dan gila–itu.


Zahid mendengar hentakan suara kaki yang lumayan menyita perhatiannya sehingga matanya menghunjam ke arah kanan. Dia menangkap sosok wanita yang mengaguminya, dan sebaliknya.


Dia mulai berpose dengan menonjolkan senyum terbaiknya untuk memuaskan hasrat wanita yang memakai anderok biru itu.


Dia melihat rambut Rani yang panjang terurai, ada belahan di tengahnya.


Karena mendorong angin, rambut Rani menjular ke belakang dan beterbangan ke udara.


Persis seperti Kristen Stewart sedang berdiri di bibir pantai, menampilkan tontonan menarik kala itu.


Pertemuan mata yang ketiga itu berlangsung hangat. Lebih tepatnya PANAS!


Zahid mengunggah senyum terbaiknya tepat ke arah kedua pelupuk mata Rani. Dan, Rani terbelalak, lalu membalas dengan ucapan,


“Dasar BRENGSEK! Pencuri! Kembalikan novelku!”


Zahid semakin mengembangkan senyumnya.


“Hei Pria Gila! Kau ini tidak punya malu ya?” bentak Rani.


Zahid sedikit mengendurkan senyumnya.


“Dasar Pria Aneh! Saintis Gagal! Sini, kembalikan novelku itu!”


Zahid semakin menghilangkan senyumnya.


“Kau ini! Tidak punya perasaan! Tak puas sudah habis mengolok-olok, kau mencuri novelku. Sekarang, kau mau apa lagi?”


Senyum Zahid benar-benar hilang tak membekas. Mulutnya menganga seperti ikan lohan.


“Novelku.” Rani mengambil secara paksa novelnya dari tangan Zahid yang gemetar. “Sudah sana pergi! Fakultas-mu bukan di sini.”


“Maaf.”


Zahid menghela napas. Dia berdiri, lalu mengayunkan kedua kakinya dengan alon. Dia datang dengan senang untuk membawa sebuah senyuman terbaiknya kepada Rani.


Tapi, dia pulang dengan kekecewaan, dan tanpa senyuman.


Rani menyoroti punggung Zahid dari kejauhan. Dia cengar-cengir, “Ha ha ha.”


Rani mendaratkan pantatnya di kursi, lalu mengambil pena yang ada di tas.


Dia mengambil dua lembar kertas yang ada di tengah bukunya, tapi kertas itu tak lagi di tengah buku, sudah berpindah tempat, tanda sudah dilihat sebelumnya. Lalu dia menulis sesuatu.


Rani berjalan ngebut menyusul Zahid. Dia tak memedulikan kedua temannya yang berdiri sambil menyahutnya. Dia meliuk-liuk melewati halauan jalannya.


Rambutnya kembali melayang-layang ke udara. Dengan semangat, sesemangat Zahid ketika mencarinya tadi. Dia enerjik, seenerjik Zahid ketika mencarinya tadi.


“Hei!” pekik Rani.


Zahid menyetop perjalanannya. Dia memandangi wanita yang tadi habis memakinya. Mulutnya termangap-mangap.


“Ini.” Rani memberikan dua lembar kertas tadi kepada Zahid. “Baca!”


Zahid membaca bacaan yang sudah pernah dia baca. Tentu tak asyik lagi melakukan apa yang pernah dilakukan sebelumnya, ditambah lagi karena peristiwa barusan.


Tapi dengan sukarela dia menuruti kemauan Rani.


“Yang paling bawah. Yang akhir.”


Zahid memegang kertas yang kedua itu dengan jari-jemarinya. Dia membaliknya dan melepas sorotan matanya ke tautan yang paling bawah, memfokuskan pada kalimat yang baru pertama kali dilihatnya. Ya. Tulisan itu baru saja ditulis oleh Rani.


Zahid mencari makna dari kalimat terakhir itu. Tak butuh waktu lama untuk merenunginya. Sungguh untaian kata itu menyelinap dan mengetuk pintu hatinya.


Dia terpana membahana.


Tatanan kata yang dibacanya sepuluh detik yang lalu sudah tergores di relung jiwanya.


Tertulis di sana: Setelah berminggu-minggu, akhirnya aku melihat dia tersenyum.

__ADS_1


***


__ADS_2