
~ Tidak ada jalan keluar yang dipakai untuk menghindarkan diri dari sesuatu, kecuali berpikir. _ Thomas Alva Edison
Sore itu menampakkan harmoninya yang indah. Langit biru menghiasi alam raya. Matahari menjorok ke ufuk barat.
Awan putih menampilkan pesona keindahan. Danau rancangan manusia itu terhampar luas. Hembusan angin menerjang pelan.
Airnya yang tenang bergelombang-gelombang kecil. Mentari senja menumpahkan sinar kekuningan. Ketenangan di air itu terasa menggelegar gelora jiwa.
Mata yang memandangnya terpukau kian hanyut. Menikmati hari di awal senja. Beramai pasang mata larut dalam pandangan yang menggugah selera.
Rani tak bosan-bosannya memandangi danau yang ada di hadapannya. Dia menekuni sorotan matanya. Dia merangkai kata di jiwa.
Pencinta sastra seperti dia sungguh mencintai nilai estetika. Dia menyandarkan punggungnya di sebuah batang cemara.
Sementara Zahid duduk menekuk lutut. Rumput yang hijau menjadi alas tempat duduk mereka. Hanya satu setengah meter jarak mereka dengan air danau.
“Bagaimana menurutmu tentang sosok Bambang Widhya SP yang memotori teater gapit?”
“Aku tidak tahu. Menurutmu?” balas Zahid datar.
“Beliau itu penulis naskah dan sutradara yang produktif. Pokoknya, repertoar-repertoar-nya menawarkan kreativitas baru, segar, dan menghebohkan. Aku salut sama beliau itu....
Karya-karya yang diangkat di panggungnya mengandung ajaran-ajaran kehidupan, kearifan rakyat kecil, hingga ajaran luhur yang populer di masyarakat....
Karyanya yang sudah dipentaskan di teater gapit ialah di antaranya: brug, suk-suk peng, rol, leng, tuk dan dom.”
Zahid bergumam lagi.
“Beliau merupakan sosok sastrawan yang sangat hebat.”
“Bisakah tidak membahas masalah sastra lagi?”
Zahid melepas pandang ke penjuru danau yang luas tebentang melingkar itu. Karena kesal dengan ocehan sastra, dia mengalihkan pembicaraan.
“Lihat yang di sana itu!”
“Mana?” Rani celingukan.
Zahid melontarkan telunjuknya. Dari kejauhan ada kapal kecil yang memutari danau. Ada suara alunan yang terdengar.
“Kok suara musiknya terdengar jelas ya?” tanya Zahid.
“Volume suaranya besar, jadi terdengar sampai ke sini.”
“Aneh. Padahal jauh.”
“Hmm... untuk apa memikirkan hal itu?”
“Untuk apa?! Itu penting. Bukan sebab volume suaranya yang besar kita bisa mendengarnya, tapi karena danau ini berbentuk bulat melingkar. Terus angin dan gelombang airnya yang membawa getaran-getaran suara itu sampai ke sini.”
“Bisa jadi.”
“Nah. Nanti pas kapalnya berada di balik bangunan seperti dermaga itu maka suaranya akan mengecil. Perhatikan!”
Kapal yang berada di tengah danau itu terus melaju, sampai menuju pinggiran danau, tepat di arah jam dua dari tempat duduk mereka. Dan benar saja, suara lantunan musik dari kapal itu nyaris tak terdengar pada saat berada di balik dermaga.
“Wah. Benar. Suaranya mengecil,” kata Rani. Dia terpana. Tak banyak perubahan dasar dari muka Zahid.
“Zahid, apa kau pernah jatuh cinta?” desah Rani.
“Emm... pernah. Kau?”
“Aku....”
Rani mengelak dari elusan tangan Zahid. Dia menyapu rambutnya sendiri. “Entahlah,” lanjut Rani.
“Apa sekarang?”
“Makudmu?”
“Ha ha ha ha.”
Seolah ada Squidward di samping Rani.
“Dasar aneh! O ya, mana janjimu?”
“Yang mana?”
“Eh, pura-pura tidak tahu lagi,” kata Rani dengan manja. “Zahid, kalau kau tidak menepati janjimu, kau tidak akan kuberi maaf!”
“Kok harus ada persyaratan segala kalau kau ingin memaafkanku. Lagi pula waktu itu hanya mesalah kecil, lupakanlah!”
Bak sedang memotong bolu, dengan lembut Rani meninju pipi Zahid. Dia menjebili Zahid. Juluran lidah itu dibalas dengan senyuman.
“Apa?! Kau bilang itu hanya masalah kecil dan lupakanlah. Kau itu sudah mengolok-ngolok sastra dan mengejekku. Itu adalah masalah besar!”
“Ternyata benar kalau wanita itu tingkat sensitifitasnya tinggi sekali,” kata Zahid lugas.
“Mana puisinya?”
“Tidak!” jawab Zahid tawar.
“Ayolah Zahid!” paksa Rani manja.
“Aku sudah datang kan #waktu itu di acara Gebyar Bahasa dan Sastra?”
“Ya, itu syarat yang pertama. Sekarang mana syarat keduanya?”
“Tidak, Rani. Aku keberatan. Aku tidak sanggup.”
“Hmmm... tega ya sama aku?”
Zahid mencoba untuk menangkap mata cantik itu. Tapi, mata cantik itu terpelanting ke arah yang lain. Zahid tak mampu mengunduhnya.
“Merajuk ya?”
Rani merem. Dia menenggelamkan wajahnya. Rambutnya terurai ke depan.
“Rani,” bisik Zahid. Kenapa menutup muka seperti itu? Rani, apa kau bosan melihat dua keindahan yang ada di sini?”
“Berisik!”
“Sungguh indah.” kata Zahid menggoda.
Namun, sungguh, Zahid memasang ekspresi yang membosankan. Dia memang tidak suka dengan keindahan.
Bahkan dia tidak mengenal keindahan sebagaimana tidak mengenal budaya masyarakat pedalaman Afrika.
“Ada danau yang indah. Dan, satu lagi keindahan dari tampannya seorang pria di sampingmu,” goda Zahid lagi.
Rani masih membungkam. Rambutnya menutup raut wajah manisnya. Zahid mencoba untuk menyibakkan rambut itu, tapi tangan Rani menghalaunya.
“Airnya sungguh indah ya?” Zahid kembali menggoda.
“Berisik sekali sih!” bentak Rani.
“Lihatlah awan itu... sungguh indah."
Rani membisu.
“Pohon... rumput... angin.”
Rani mengunci bibir.
“Pelangi... Melodramatis."
Rani mencibir.
“Woah! Lihatlah yang di sana itu. Sungguh... menakjubkan.”
“Hei saintis gagal!” kata Rani. Dia masih menekuk lutut dan menenggelamkan wajahnya. “Kau itu tidak tahu tentang keindahan. Jadi, tidak usah banyak bacot!”
__ADS_1
Zahid mendengar suara itu yang begitu lantang.
“Ran,” sapa Zahid pelan.
“Aggrrhh... menganggu saja!”
Zahid penasaran apa yang ada di balik rambut legam itu. Dia bertanya-tanya sendiri, apa Rani benar-benar merajuk dan kesal?
Ah, tidak mungkin! Dia orangnya periang, pikirnya.
“Rani, aku sudah buatkan puisi untukmu.”
“Tidak usah!”
Bentakan itu membuat Zahid terbingung-bingung seolah bertanya-tanya di mana ujung dunia. Dia bertambah bingsal saja.
“Kau benar-benar marah, Ran?” tanya Zahid pelan.
“Kau jahat!”
“Aku ganteng.”
“Aneh!”
“Ayo, Ran. Aku mau lihat wajah manismu itu. Jangan ditekuk terus seperti itulah!”
“Diam!”
Zahid pikir bahwa Rani benar-benar marah kepadanya lantaran dia tidak bisa membacakan satu buah puisi.
Namun, andai Zahid mengetahuinya, akan tampak senyuman manis di bibir Rani. Sungguh, orang periang seperti Rani tidak mungkin langsung jadi berang begitu saja. Dia hanya berpura-pura merajuk.
Dia sungguh berharap agar Zahid–yang antiestetika itu–menjadi suka dengan sastra dan keindahan. Dia berharap agar Zahid bisa membacakan puisi.
“Coba baca puisimu sekarang!”
“Eee... sekarang?” kata Zahid bingung.
“Iya. Kalau tidak, aku pulang!”
“Bagaimana kalau kau duluan yang baca. Nanti setelahmu baru aku. Oke?”
“Eh! Malah menyuruh balik!”
“Puisi....”
“Ayo cepat! Aku hitung sampai sepuluh."
“Maafkan aku, Rani. Aku tidak bisa. Aku tidak suka puisi.”
“Kalau kau tidak suka puisi, berarti kau tidak suka padaku.”
“Ini lagi satu teori bodoh. Apa samanya antara kau dan puisi?”
“Terserah!”
“Ganti saja syarat yang lain. Mendingan aku nyebur ke danau ini saja daripada baca puisi.”
“Kau itu memang brengsek. Makanya jangan suka ngejek sastra!”
“Ya maaf, sa... yang.”
Tiba-tiba Rani dengan muka riangnya langsung menghunjamkan pandangannya tepat ke arah mata Zahid. Dia langsung mencubiti tangan Zahid.
“Iiiihhh... apa katamu tadi?” desah Rani manja.
Zahid melontar senyuman. Mukanya terpampang ceria. Dia kegelian. Badannya melenggak-lenggok menahan gelitikan dari Rani.
“Sayang. Say....”
“Iiihh....” kata Rani memutus.
Rani melempar dan mendaratkan telunjuknya tepat di bibir Zahid, sehingga bibir Zahid terkunci.
Zahid meronta. Dia memegang tangan Rani. Dielus-elusnya tangan itu. Tapi, Rani tak mau diperlakukan seperti itu, dia menarik tangannya seolah dia yakin bahwa itu adalah benar-benar tangan miliknya.
Zahid menahannya. Mata mereka bertemu.
“Lepaskan, Zahid!”
“Tidak!”
“Sakiiiittt!” desah Rani.
“Akan kulepaskan, tapi aku tidak baca puisi ya.”
“Tidak!”
***
Rani meronta. Dia mencoba melawan kuatnya tangan Zahid. Tapi, semakin dia menarik tangannya, semakin kuat Zahid menahannya.
Angin berhembus kencang menjilati kulit-kulit mereka. Rambut Rani yang panjang terurai dan ada belahan di tengahnya menjadi beterbangan.
Helaian-helaiannya terlempar di pundak Zahid. Rani sedikit terdorong ke samping setelah Zahid menariknya dengan keras.
Tubuh mereka berpadu, nyaris berpelukan. Dengan sigap Rani langsung mendorong Zahid dengan keras.
Andai kedua tangan kuat itu tidak menopangnya, tentu Zahid akan tersungkur di atas rumput. Dan, lagi-lagi Rani mencubiti Zahid.
Rani menghela napas, lalu berkata, “Ayo cepat baca puisinya! Sudah diberi waktu lebih dari satu minggu, masih saja tidak bisa?!”
“Ya bagaimana lagi kalau tidak bisa? Segala sesuatu itu menjadi sulit jika dipaksakan.”
Rani kembali menyandarkan badannya ke batang pohon, sedangkan Zahid kembali membenarkan letak duduknya seperti semula.
“Zahid, apa kau tahu apa itu estetika?” tanya wanita yang memakai kaos warna merah muda itu.
“Entah. Sulit aku untuk memahaminya. Aku lebih cenderung kepada logika, ” jawab Zahid.
“Kalau kau tidak paham keindahan, bagaimana kau bisa merasakan arti sebuah cinta?”
“Cinta?!”
“Ya. Bagaimana kau bisa merasakan sebuah cinta?”
“Jika aku merasakan nyaman di dekatnya, aku merasakan cinta.”
“Hanya itu kau bisa memahami cinta. Kukira kau ini pemikir hebat jika dilihat dari wajahmu yang serius itu. Hahahaha....”
“Kurang ajar!”
“Kau pasti sering berpikir, Zahid. Tapi, sesekali kau juga harus menggunakan hatimu untuk merasakan sesuatu, untuk merasakan cinta dan keindahan.”
“Ya, aku sering berpikir. Tapi, anehnya banyak sekali orang yang meremehkan tentang berpikir. Kebanyakan orang menilai bahwa berpikir itu hanya mencerminkan untuk orang yang mempunyai banyak masalah dalam hidup saja....
Mereka itu sungguh salah. Seharusnya mereka itu menggunakan akalnya untuk mencari nilai kebenaran.”
Rata-rata orang yang sukses dan bernilai itu adalah orang yang mau berpikir, orang yang mau menggunakan akalnya...
Dan lihatlah orang yang tidak mau berpikir. Mayoritas mereka hidup susah dan tidak akan sukses. Mereka terjebak dalam minuman keras, narkoba dan obat-obatan.
Mereka sering salah dalam meraungi hidup. Mereka hanyut dalam gemerlap dunia fana. Mereka tersesat....
Sungguh tak salah apa yang pernah dikatakan Henry Ford: Berpikir adalah pekerjaan yang berat karena itulah sedikit sekali orang yang mau menggunakan akalnya.
Juga apa yang dikatakan Plato: Berpikir dan memikirkan itu suatu kenikmatan yang luar biasa dan kebahagiaan yang paling berharga.”
“Eh, kenapa sekarang kau yang banyak bicara?”
Zahid mendekatkan wajahnya ke arah Rani
__ADS_1
“Rani, aku cinta sama kamu.”
“Apa?! Aku tidak salah dengar?” kata Rani seraya memegangi kupingnya.
“Aku bilang, aku cinta sama kamu.”
“TIDAK ROMANTIS!”
Tanpa memandangnya, Rani menampar pelan pipi Zahid.
“Lantas. Aku harus bagaimana?”
“Bacakan aku sebuah puisi cinta!”
“Aku tidak bisa.” jawab Zahid tegas.
“Tidak usah bilang cinta kalau begitu! Sekarang aku tanya padamu. Apa menurutmu itu cinta?”
Zahid menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan.
“Cinta,” kata Zahid seolah bijak. “Cinta itu datang dengan tiba-tiba tanpa aku minta. Cinta itu datang tanpa aku memaksakannya. Cinta itu seperti energi, tidak dapat diciptakan.”
“Hanya itu? Sungguh aneh! Kau ini tidak bisa membaca puisi. Kau juga tidak mengenal keindahan. Padahal Einstein pernah berkata: Tugas sains antara lain untuk menemukan keindahan alam.”
Rani tersenyum meremehkan dan menaikkan alisnya ke atas.
“Hei Penggila Sains! Kenapa diam?”
“Memangnya Einstein pernah berkata seperti itu apa?” Zahid heran.
“Hahaha... sangat tidak wajar bagi seorang pengagum yang tidak tahu apa yang pernah dikatakan sang idolanya.”
Zahid terdiam. Dia malu. Rani mendapatkan wajah Zahid yang cemberut itu. Wajah Rani tampak benar-benar meremehkan.
“Hmmm... payah!”
Olokan itu seolah membakar isi dari relung jiwa Zahid. Dia benar-benar terprovokasi oleh situasi. Sekonyong-konyong Zahid mengeluarkan secarik kertas dari tasnya.
Lalu dia memberikannya kepada Rani. Rani menerima kertas itu. Dia penasaran apa isi kertas itu.
Senyuman Rani tertelan oleh tingkat penasarannya yang mencapai *******. Dia menghela napas. Seketika itu juga dia melihat wajah Zahid yang nyaris tak berekspresi.
Segores pena mengutarakan kata
Di atas kertas lembaran bermakna
Tanpa melidah untuk berkata
Hiasan kalimat tersusun tata
Kutuliskan untuk yang tercinta
Dari hati kecil penuh cerita
Untaian kasih untukmu wanita
Kita bersama berkasih cinta
Oh kau... Rani Pradita
Sejurus kemudian Rani menyandarkan punggungnya dengan lemas di batang pohon. Jantungnya berdebar-debar. Napasnya sesak, termegap-megap. Matanya berkaca-kaca.
Mukanya membumbung takjub. Dia terpukau dengan kata-kata yang tadi dibacanya. Dia mendekap secarik kertas itu di dadanya.
Lalu dia menggelapkan pandangannya, terbayang-bayang wajah pria itu. Untaian syair itu menggelinding-gelinding di benaknya.
Hatinya tersirami oleh air romantika asmara melalui syair nan indah.
Rani diam merenungi bacaan yang masih saja merayap-rayap di hati kecilnya. Tak puas sekali, dia baca ulang tulisan itu.
Dia benar-benar meresapinya sampai ke ulu hatinya. Seketika itu dia tersenyum-senyum sendiri.
Sementara Zahid hanya bisa tertegun menyaksikan momen itu. Dia hanyut menyoroti seorang gadis yang sangat bahagia.
Itu adalah untuk pertama kalinya Zahid membuat sebuah karya sastra. Pantas Rani begitu bangga dengan syair itu.
Berhari-hari Rani berusaha agar Zahid bisa mencintai sastra. Berhari-hari dia memaksa Zahid untuk membuatkan sebuah puisi untuknya.
Dan untuk Minggu sore yang sangat mengesankan ini, untuk sebuah momen yang sulit dilupakan ini, dia mendapat hasil yang gemilang.
Sekarang, dia membaca sebuah syair yang dikarang oleh orang yang dulunya sangat benci dengan sastra.
“Hampir satu minggu aku kurang tidur memikirkan itu.”
Sontak Rani menghunjamkan tatapannya ke arah mata Zahid. Zahid mendapatkan mata yang berbinar-binar itu. Dia pikir itu adalah kesan dari sebuah cinta.
“Zahid, yang benar? Kau membuat ini untukku?”
“Tentu. Siapa lagi kalau bukan untukmu, Rani Pradita?”
“Terima kasih. Ini baru romantis!” teriak Rani bersemangat.
Zahid mengelus rambut Rani, kali ini tak ada halauan. Zahid semakin asyik mendekap orang yang sangat dikaguminya itu: wanita yang cantik dan elegan.
Satu lagi yang membuat Zahid kelepek-kelepek: Rani suka memakai anderok panjang.
Rani memampang wajah yang senang.
Dia hanyut dalam dekapan hangat itu, merasakan rambut panjangnya ada yang meraba-raba dan masih merengkuh kertas itu.
“Kehidupan ini seperti bunga di mana cinta menjadi madunya.”
Rani tersenyum renyah merekam suara datar itu.
“Itu perkataan Victor Hugo.”
“Victor Hugo?!” kata Rani terkesima. “Dia Sastrawan yang terkenal itu kan?”
Zahid manggut pelan. Lalu dia merebahkan badannya di atas rumput. Dia menjadikan paha rani sebagai bantal untuk kepalanya. Dia mengendus aroma jasmin yang menyengat.
“Zahid, sekarang, apa kau tahu apa arti dari cinta?”
“Aku tidak paham betul. Tapi sekarang aku merasakannya. Aku nyaman. Tidak perlu teori. Tidak perlu rumus. Seperti aksioma.”
“Kenapa kau cinta padaku?” tanya Rani manja.
“Selagi ada cinta, tidak perlu ada lagi pertayaan. Itu kata Einstein.”
Zahid menatap vertikal. Tepat di hadapan matanya ada wajah bidadari sastra. Sementara yang ditatap hanya memaku, sibuk meresapi rasa yang meyelami hatinya.
“Sudah ya, Zahid. Kita makan dulu. Itu sudah kubuatkan makanan kesukaanmu. Gurame bakar. Kubuatkan spesial untukmu. Sudah ada di wadah makanan, di dalam tas. Aku ambilkan.”
“Nanti saja, Rani. Aku masih nyaman seperti ini.”
Zahid merem menutup matanya, meresapi hangatnya asmara kasih sayang dan cinta. Setiap hembusan napasnya terasa getaran-getaran cinta.
Wanita cantik dan elegan itu melayang-layang di benaknya. Hatinya dihujani pesona seorang Rani Pradita.
Langit barat semakin menguning. Sinar mentari masih menciumi kulit-kulit mereka. Semilir angin semakin menghanyutkan mereka dalam aura cinta.
Kisah mereka diselimuti indahnya lembayung senja, malam mulai mengintai di akhir temaram sore.
“Alam....”
Rani mendengar suara itu. Lalu dia melepas pandang ke orang yang berbicara.
“Alam itu banyak menyimpan hikmah dan pelajaran. Kita harus banyak belajar dari alam. Di alam terdapat nilai-nilai kebenaran dan nilai keindahan....
Alam itu ilmiah. Alam itu indah. Sekarang, aku menyadari nilai-nilai itu. Semua tentang alam....
Semua tentang kebenaran. Semua tentang keindahan. Dan semua tentang cinta.”
__ADS_1
***