Kisah Pria Sigma

Kisah Pria Sigma
13. Postulat


__ADS_3

Enam tahun sudah mereka bersahabat, dalam waktu itu mereka belajar, bermain dan berjualan bersama. Banyak hal yang sudah mereka lewati dan banyak pula pengalaman dan pengetahuan baru yang mereka dapatkan. Banyak orang-orang baru yang mereka kenal dan mereka pelajari dari orang-orang itu.


Sampai akhirnya mereka berdua benar-benar ingin tetap satu kelas, satu sekolah, satu mimpi, dan satu visi, selalu bersama. Dan sampai akhirnya mereka bermimpi ingin menjadi ilmuwan abad ke-21 karena tingginya minat mereka terhadap sains.


Sampai kelas sembilan semester akhir ini, Uzlah selalu berada di rangking pertama di setiap semesternya, tiada lawan baginya. Dia menguasai setiap mata pelajaran yang diberikan, seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Arab, Matematika, IPA, IPS, PPKN, Seni, Agama.


Sementara Zahid makin lama nilainya makin jelek. Makin lama dia makin tidak nyaman dengan kurikulum belajar yang sudah ditetapkan oleh Kementerian dan Dinas Pendidikan. Dia masih tetap belajar walaupun sudah agak malas.


Makanya kebanyakan nilai-nilanya pada jatuh kecuali sedikit saja. Zahid mempunyai minat kuat pada fisika dan sering maju kedepan menjawab soal fisika yang diberikan namun terkadang juga sering pula melempar pertanyaan-pertanyaan aneh.


Nilai matematika dan biologinya jelek. Dan yang paling menonjol baik adalah agama dan olahraga. Selain itu nilainya pada standar semua. Maka tidak ada prestasi yang mau dibanggakan. Zahid pun tidak masuk sepuluh besar.


Selama lebih kurang sembilan tahun ini:


Aspek kognitif Uzlah lebih unggul.


Aspek psikomotrik Zahid lebih unggul.


Dan aspek afektif agak berimbang.


Pas lulus SMP, Uzlah berkesempatan masuk SMA Negeri Sekali Plus tanpa ikut tes karena nilai-nilainya yang bagus luar biasa. Jika tidak mau, dia bebas memilih SMA atau MA negeri lainnya, terserah, bebas.


Uzlah juga akan mendapat beasiswa selama duduk di bangku SMA jika itu sekolah negeri. Tapi, semua akan terjawab jika Zahid lolos tes masuk SMA Negeri Sekali Plus. Jadi Uzlah sekarang belum bisa memutuskan.


“Belajar sana!” perintah Uzlah sambil mengaparkan buku try out tes sekolah negeri. Tebal juga buku itu. Jadi selama dua minggu kedepan Zahid belajar mati-matian supaya dapat masuk ke sekolah terbaik.


Tapi tidak semudah itu. Saingan dia ada banyak karena ini merupakan sekolah top. Jika masuk, tentu akan mempermudah langkah-langkah selanjutnya untuk menempuh pendidikan yang jauh lebih tinggi.


Kampus negeri tentu akan melirik sekolah ini. Pihak kampus maunya seluruh siswa cerdas, jenius dan berprestasi dari sekolah ini masuk ke kampusnya. Ya, semuanya orang-orang terpilih. Bukan orang sembarangan.


Selama berhari-hari Zahid bergelut dengan buku-buku sekolah dan buku try out. Sekarang Uzlah yang jadi mentornya. Inilah indahnya persahabatan mereka berdua, tidak merasa menggurui pada saat mengajari dan tidak merasa direndahkan pada saat diajari.


Ada saat-saat tertentu harus mengakui kelebihan seseorang dan harus pula belajar darinya. Untuk apa menyimpan gensi? Untuk apa iri? Untuk apa kecil hati? Untuk apa selalu merasa diri ini selalu bisa sendiri?


Siang ini tiba waktunya pengumuman tes. Uzlah kembali berkunjung ke rumah Zahid. Di kamar, mereka berdua berada di depan layar laptop melihat nama-nama murid yang lulus.


Zahid tampak was-was. Tentu dia sangat berharap sekali agar bisa lulus dan tetap satu sekolah dengan Uzlah lagi. Begitu pun sebaliknya, banyak doa yang dia haturkan kepada Allah agar sahabatnya itu dapat lulus.


Lebih dari lima menit mereka terus men-scroll laman web, terus ke bawah, dan sampai akhirnya nama Zahid tak ada di sana. Mereka berdua mengulanginya sampai dua kali tapi tetap juga memang tidak ada.


“Kita coba lihat ulang sekali lagi,” ujar Uzlah serius sekali.


“Tidak usah. Nama aku memang tidak ada di sana,” balas Zahid sambil memegang kepalanya.


Ya, memang Zahid tidak lulus. Bukan soal dia tidak bisa belajar di sana, tapi tidak bisa satu sekolah dengan sahabatnya ini. Dirasa mereka akan tetap bertemu di luar pelajaran, di luar sekolah.


Justru yang sangat sedih adalah Uzlah. Tapi dia mencoba untuk menyabarkan Zahid. Jangan sampai gara-gara tidak lulus jadi tambah malas. Jangan sampai gara-gara tidak di sekolah negeri jadi tidak punya prestasi.


“Nanti aku akan masuk sekolah swasta, sama saja sepertimu,” ucap Uzlah dengan tenang.


“Janganlah, Uzlah! Kau mau menurunkan prestasimu. Kau harus tetap masuk di SMA Negeri Sekali Plus itu!”

__ADS_1


“Tidak akan ada yang turun prestasi, Zahid. Apa bedanya antar negeri dan swasta?”


“Ya jelas beda lah. Jauh.”


“Yang membedakan itu kitanya.”


“Maksudnya, bukan sekolah yang seutuhnya membentuk kita, tetapi malah kita yang mengubah sekolah itu menjadi lebih baik?”


“Tepat sekali! Bagiku tidak masalah di mana kita belajar.”


“Serius, Uzlah? Jadi kau mau belajar di sekolah swasta?”


“Serius lah. Tidak mengapa.”


“Tapi kau tidak akan mendapat beasiswa seperti di sekolah negeri.”


“Aku akan terus berjualan. Kalau bisa sambil cari kerja lain, yang dari siang sampai malam.”


“Dewasa sekali ni bocah. Ha ha.”


“Aku hanya merasa tidak enak sama ayahmu, Zahid. Bagaimana nanti kalau beliau tanya? Apa reaksi beliau kira-kira?”


“Ayah orangnya tidak banyak protes. Yang penting kau terus belajar terus selalu rangking, selesai.”


“Pokoknya nanti kau saja lah yang ngomong sama ayah. Ceritain semua. Aku tidak apa-apa kalau tidak masuk sekolah unggulan.”


“Siap!”


Pagi ini di SMA Swasta Gaul.


Angin sepoi-sepoi menabrak dedaunan dan rerumputan, sisa-sisa embun yang menempel di langit-langit atap sekolah menguap ke udara bebas dan bercampur dengan kepulan asap sepeda motor para murid yang beru saja memarkirkan sepeda motornya.


Satpam sekolah menutup pagar karena sekarang sudah pukul tujuh lewat. Semua murid sudah masuk ke kelasnya masing-masing, terkecuali satu, murid itu mengayuh sepedanya dengan kencang menuju gerbang sekolah.


GAARR GAARR...


“Buka, Pak!”


Satpam bilang, “Tidak bisa. Nanti tunggu guru BK ke sini dulu.”


“Aku mau belajar Pak.”


“Salah sendiri kenapa telat.”


Zahid tersandar di sekitar pagar sekolah. Jalanan di depan sana ramai. Tapi dia tak peduli. Oh, hari pertamanya sekolah telah rusak. Hari pertama saja telat.


Setengah jam kemudian barulah pagar dibuka.


“Ayo cepat sana masuk ke kelas!” perintah guru BK. Beliau mau mengajar, jadi tidak mau mengurusi murid bandel satu ini.


“Baik, Pak. Terimakasih.” Zahid masuk dan mengunci sepedanya di pagar, bagian dalam sekolah di parkiran siswa tentunya.

__ADS_1


Dengan pakaian dan celana yang agak berantakan karena tadi sangat buru-buru dari rumah, Zahid melenggang santai masuk ke dalam kelas, tanpa permisi, tanpa melihat ada Pak Basuki yang sudah duduk dengan tenang.


Zahid duduk di kursi paling belakang dan paling pojok. Semua siswa-siswi sudah hadir semua kecuali dia ini yang baru nongol. Semuanya tercengang heran melihat siswa ini.


Pak Basuki melepas kacamatanya, “Itu yang baru masuk. Siapa namanya?”


“Saya Zahid, Pak.”


“Oh, kamu rupanya. Kamu yang belum piket kelas. Jadwal kamu kan hari ini. Buang sampah sana!”


Zahid beringsut-ingsut dan mengambil kotak sampah di dalam dan luar kelas, lalu membuang semua sampah itu ke bawah, ke gerobak sampah yang tak jauh dari wc. Kemudian Zahid naik lagi ke lantai dua dan masuk ke kelas.


Tadi Pak Basuki menulis tiga buah pertanyaan di papan tulis. Sebenarnya hari ini belum belajar normal, cuma perkenalan dan pembagian jadwal pelajaran, tetapi karena kesal dengan ulah siswa bandel ini, maka beliau menyodorkan pertnyaan yang lumayan sulit, pelajaran yang seharunya untuk anak kelas 12.


Pas melewati pintu, Zahid tersentak karena deheman Pak Basuki.


“Kerjakan soal soal itu!”


Cahaya kuning mempunyai panjang gelombang 660 x 10^-10 m, maka berapa momentum foton energi kuning?


Jelaskan maksud Teori Kuantum Planck!


Jelaskan dua postulat Relativitas Einstein!


Beberapa Zahid mengawasi papan tulis. Sementara semua murid menyaksikan momen tersebut. Pak Basuki masih saja mengawasi bocah ini dari atas hingga bawah. Bajunya tidak dimasukkan. Dasinya minggat. Rambutnya berantakan. Beliau menggeleng-geleng heran.


“Kalau tidak bisa jawab, hari ini kau tidak usah belajar. Berdiri sana di tengah lapangan sampai siang!”


Zahid lantas mengambil spidol dan menuliskan semua jawaban dengan tenang.


Dik :


Panjang gelombang \= 660 x 10^-10 m


h \= 6,6 x 10^-34 Js


Maka


p \= h/


p \= 6,6 x 10^-34 : 6,6 x 10^-7


p \= 10^-27 kg.m/s


Menurut Planck : Cahaya dipancarkan berupa paket-paket yang disebut foton dan tiap foton memiliki konstanta Planck yaitu 6,6 x 10^-34 Js


Formula: E \= h.f


Postulat pertama : Hukum-hukum fisika memiliki bentuk yang sama pada semua kerangka pada semua acuan inersia.


Postulat kedua : Cahaya merambat ruang di ruang hampa dengan cepat rambat c \= 3.10^8 m/s yang tidak bergantung dengan kelajuan sumber cahaya maupun pengamatnya.

__ADS_1


Melihat dengan jelas jawaban dari Zahid, Pak Basuki menggeleng lagi dan berujar, “Silakan duduk sana di tempatnya!”


__ADS_2