
Zahid buru-buru melencit keluar kelas, meninggalkan para murid yang masih duduk, sebab dia harus tiba di taman duluan, dan dengan terengah-engah dia lantas duduk di bangku semen taman itu.
Di taman belum ada siapa-siapa, sementara lapangan parkir mulai sedikit-sedikit di banjiri para murid, siap pulang ke rumah, atau bisa jadi mampir dulu ke warnet, atau juga ngopi-ngopi dulu di kantin.
Tak lama berselang tibalah Devrieya dengan membawa satu es capucino buat Zahid dan satu es teh tarik untuknya. Lantas Devrieya duduk di samping Zahid.
“Lagi ngapain?”
“Sedang menghirup oksigen sambil menonton pertunjukan alam, sebuah proses fotosintesis dari makhluk berklorofil ini.”
“Boleh dong gabung?”
“Bagi makhluk bertulang belakang tentu dong boleh ikut.”
“Kok spesifikasinya begitu. Cari yang lain lah.”
“Oke. Pakai tes sajalah kalau begitu. Apa nama latin bunga mawar?”
Devrieya mencolok bagian atas minumannya, lalu menyedotnya dua kali, terus menjawab, “Mawar merah. Rosa hybrida.”
“Bunga matahari?”
“Helianthus annuus.”
“Melati?”
“Jasminum.”
“Bunga bangkai?”
“Amorphophallus....tutupidung.”
“Amorphophallus titanum! Oke cukup. Selanjutnya acara People Watching.”
“Sip. Aku sudah dapat satu bahan. Lihat dan coba analisa kenapa cowok yang sedang berjalan itu terlihat lemas! Pilih salah satu aspek, biologis, psikis, teknis, ekonomis.”
“Aku akan jawab dari semua aspek!”
“Dipersilakan kepada saudara Zahid memberikan pandangan subjektif-nya.”
“Secara biologis, sepertinya dia kekurangan cairan dan mineral sehingga badannya terlihat lesu dan lunglai. Secara psikis, tekanan batin karena terus disogoki pelajaran membosankan membuat dia begitu kurang bergairah. Secara ekonomis, bisa jadi dia sekarang tidak punya duit banyak untuk mencukupi kebutuhannya hari ini sehingga semangatnya kendur.”
“Oke cukup. Sekarang coba lihat siswa yang sedang kehabisan bensin itu. Pada saat mendorong motornya itu, berapa nilai usaha-nya?”
__ADS_1
Zahid memperhatikannya dari kejauhan dan berpikir cepat. “Bukan habis bensin. Dia pecah ban.”
“Terserah!” sergah Devrieya sambil menyedot esnya. “Berapa Joule nilai usahanya?”
Zahid jadi serius. “Sebentar. Usaha yang dilakukan pas mendorong motor karena habis bensin dan karena pecah akan berbeda.”
“Ya itu bannya pecah. Cepat hitung!”
“Sebentar Bebbhh. Apa kasus ini pernah diperbincangkan?”
Devrieya menyedot es-nya cepat-cepat karena geram. “Mulai nih mikir aneh-aneh lagi. Sadar Zahid, sadar!”
Zahid makin serius. “Massa dan berat motor tetap. Tapi gaya yang akan diberikan berubah.”
“Kau ini ngomong apa Zahid? Cepat jawab!”
“Sabar. Soalnya aku belum pernah melihat kasus ini. Berat benda tetap sama tapi gaya yang diberikan berbeda.”
Zahid makin serius saja. Dioles-olesnya dagunya yang tidak gatal. “Bisa saja kita mengada-ada dengan pakai sebuah asumsi logis, katakanlah F pada motor 1000 N dan s atau perpindahan adalah 10 m. Maka W atau usahanya 10000 J.”
“Nah itu bisa!”
“Tidak bisa begitu dong Bebbhh. Jangan mau terus dicekoki kurikulum. Jangan cuma mau makan dari makanan yang sudah terhidang. Cobalah belajar masak, terus makan sendiri dan kasih orang tuh masakan kita atau dijual. Istilah kata, berkreasi!”
“Jangan terima mentah-mentah. Begini ya, aku tidak pernah menemukan kasus seperti ini, baik pelajaran tentang gaya, usaha, perpindahan. Untuk saat ini pertanyaannya belum bisa aku jawab dengan sempurna. Masalah ini nanti aku pahami lebih dalam lagi. Ayo kita ke topik selanjutnya.”
“Kira-kira apa ya topik menarik hari ini yang bagus untuk dibahas?”
Zahid menyedot minumannya sembari mengawasi para murid yang berduyun-duyun pulang keluar gerbang sekolah. Dia sedang mencari sebuah topik dan tidak ada maksud ghibah.
“Dev, Dev, itu sepertinya mobil papamu yah.”
“Mana?” Devrieya melempar pandangannya ke arah gerbang sekolah. “Oh iya. Papa tumben cepat jemputnya. Zahid maaf ya aku langsung pulang duluan. Aku juga tidak mengira Papa tiba-tiba datang lebih awal.”
“Siap!” Cowok yang bajunya sudah dikeluarkan itu hormat. “Kuis hari ini. Berapa perbandingan antara jumlah gula dan kafein pada kopi ini?”
Devrieya beranjak dari taman. “Hitung saja sendiri!”
***
Sesampai di rumahnya, Zahid langsung mengganti pakaian, shalat dzuhur, dan makan siang, kemudian masuk ke kamar tidurnya. Zahid mengambil dua buah kertas, masing-masing dibuatnya gambar motor, digoreskan garis panah, di bawahnya dituliskan rumus, huruf dan angka.
Zahid terus mencoret-coret. Direnunginya dengan sangat dalam. Dia mengumpulkan buku cetak dan buku tulis IPA SMP dan SMA-nya, membaca dan membolak-baliknya berulang kali. Tak pernah dia seserius ini.
__ADS_1
Kasus mendorong sepeda motor yang kehabisan bensin dan mendorong sepeda motor karena pecah ban. Sebuah pokok masalah baru yang akan terus menghantuinya selama beberapa tahun ke depan.
Gaya berat? Terus gaya gesek? Berat benda? Massa? Gravitasi? Aksi reaksi? Percepatan? Jarak? Kelajuan? Waktu? Yang diketahui dari motor itu adalah massa, berat benda, jarak, waktu, usaha, energi kinetik.
Aagghhrrr....
Zahid pusing memikirkan fisika yang sangat dasar itu!!! Sekarang sudah bahas soal kecepatan cahaya dan energi nuklir, kenapa Zahid masih mau menggeluti fisika klasik yang amat dasar itu?
Nanti aku mau masuk kuliah, lucu sekali meributkan masalah Hukum Gerak, pelajaran anak SMP awal. Tapi Zahid masih saja dibuat galau. Seharian dia membenamkan dirinya di kamar dan memikirkan pokok masalah barusan.
Sementara kunci jawabannya masih belum ketemu. Apa dia harus bertanya pada guru fisikanya nanti pas di kelas? Apa perlu dia berdiskusi dengan Uzlah, sebab Uzlah paham permasalahan sains, apalagi fisika klasik yang amat dasar?
Apa dia mesti menjawab pertanyaan itu dengan sendirinya, berusaha sendiri mencari jawaban tanpa meminta bantuan dari orang lain? Oh, Zahid tambah pening dibuatnya. Banyak sekali hal yang membuatnya terpancing agar terus berpikir dan membuka buku, tapi untuk yang kali ini berbeda.
Semakin lama semakin sulit. Semakin lama semakin tertantang. Semakin lama semakin janggal. Maksudnya, Zahid benar-benar merasa ada yang aneh dengan kasus ini.
Buku dan internet tidak juga membantunya. Besok atau mungkin di waktu yang tepat dia akan meminta bantuan Uzlah untuk memecahkan persoalan yang dasar tapi rumit ini.
Selama berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai hitungan tahun kasus ini belum juga terpecahkan. Sampai hitungan waktu yang lama seorang Zahid masih belum bisa menemukan jawabannya.
Di ruang tamu, suatu malam, Zahid melihat dua buah helm yang terkapar di atas meja. Diawasinya dua benda itu lumayan lama. Kedua helm tersebut berbeda ukuran, bentuk, dan massa. Satu agak besar dan satu lagi kecil.
Pikir Zahid, otomatis keduanya punya berat yang berbeda pula, maka keduanya akan memberikan gaya aksi yang berbeda pula terhadap permukaan meja, dan secara otomatis juga meja akan memberikan gaya reaksi yang???
Oh, sebentar.
Permukaan meja akan memberikan gaya reaksi yang tidak sama, atau dengan kata lain setiap objek kedua atau permukaan meja tersebut mempunyai banyak gaya reaksi.
Zahid masuk ke kamarnya, menidurkan badannya dengan telentang di atas kasur, dan menggelapkan pandangannya. Berimajinasi. Berpikir ilmiah. Berpikir bebas.
Ada dua orang yang mendorong dinding dengan kuat, masing-masing orang tersebut membarikan gaya aksi yang berbeda-beda, asumsikanah A memberikan gaya sebesar 100 N dan B memberikan gaya sebesar 150 N.
Sudah barang tentu dinding akan memberikan gaya reaksi kepada A sebesar 100 N dan juga kepada B sebesar 150 N. Pernyataan yang bisa ditarik adalah bahwa dinding mempunyai banyak gaya untuk mempertahankan keadaannya.
Ambil lagi contoh sebuah batu besar dengan berat tertentu katakanlah X Newton. Batu itu tidak akan bergerak dan mengalami perpindahan selama gaya yang diberikan tidak melebihi berat pada batu.
Good idea!
Eureka!
Sepeda motor, helm, orang yang mendorong dinding, dan batu semuanya menjadi landasan berpikir, lalu semuanya ada relevansi sehingga hanya menunggu solusi terakhir, menanti jawaban final.
Zahid terus menuliskan ide, imajinasi, asumsi analisa, dan perhitungan matematisnya di kertas-kertas ilmiahnya. Walaupun tidak begitu rapi, tapi suatu saat kertas-kertas ilmiah ini akan membawa perubahan pada kehidupannya, mengubah takdirnya dan mengantarkan dia menjadi calon ilmuwan fisika teoritis besar abad 21 serta mendapat penghargaan nobel.
__ADS_1