Kisah Pria Sigma

Kisah Pria Sigma
25. Thomas Alva Edison


__ADS_3

~ Bangsa bisa tumbuh, sejahtera dan adil, kalau generasi nya itu tumbuh dengan pendidikan yang cukup _Rocky Gerung


Setelah memasukkan lamarannya selama dua minggu, Uzlah dipanggil juga untuk mengikuti tes interview. Dia melamar jadi office boy di Bank.


Sepuluh menit berlalu, Uzlah keluar dari ruangan itu dan langsung bergegas untuk pulang. Dia menghidupkan motornya, tancap gas.


Uzlah berhenti sejenak di lampu merah simpang Rumah Sakit Charitas, lalu kembali melanjutkan perjalanan dan menghidupkan sein kanan.


Di Jalan Sudirman dia terus melesat sampai di simpang Pasar Cinde, tempat orang-orang berjual-beli, pasar yang tak asing bagi Wong Palembang.


Trek lurus terus dia susuri. Terlihat di sebelah kanannya ada IP Mal. Dan terus lurus sampai Masjid Agung Palembang, masjid bersejarah bagi warga Wong Kito.


Lalu terlihat jelas Jembatan Ampera, ikon kota Palembang, yang orang-orang Palembang tahun 90-an menyebutnya itu “proyek”.


Menjulang tinggi menara yang menjadi karakteristik tersendiri bagi warga Palembang. Di bawahnya Sungai Musi mengalir deras dari hulu ke hilir.


Di pinggirannya ada rumah makan terapung. Ada Riverside Restaurant. Ada perahu yang mengalir, yang orang Palembang menyebutnya itu “ketek” karena bunyinya kreeetteekkk... teekkkk... teekkkk... teekkk.


Uzlah sampai di rumah kontrakan sederhananya.


Tak ada foto dan gambar apa pun yang terpajang di rumah itu, tak banyak perabot apa pun yang menghiasi, tak ada barang mewah untuk dibanggakan, kecuali beberapa tropi dan piagam penghargaan yang ada di kamar.


Juga, raihan prestasi ketika dia masih SD, SMP, dan SMA, peringkat pertama waktu SD hampir setiap semester, dan pernah meraih peringkat pertama dan kedua waktu SMP.


Dia juga pernah menang lomba menulis cerpen, merengkuh gelar juara dua lomba membaca puisi tingkat kota pas masih SMP dulu, meraih juara satu perlombaan menulis karya ilmiah yang diadakan SMA-nya, dan meraih peringkat pertama dua semester berturut-turut waktu kelas tiga SMA kelas program IA.


Dan puncaknya menjadi juara umum di SMA-nya. Prestasi-prestasi itulah yang menjadi kebanggan dan menghiasi sebuah tempat tinggal sederhana itu, bukanlah kekayaan harta, tapi kekayaan ilmu yang terpatri di dalam qalbu, yang terbukti lewat prestasi yang ditorehkannya selama dia sekolah dulu.


Uzlah melihat ibunya di dapur sedang membuat adonan pempek. Ibunya adalah orang Palembang asli. Tak salah jika pempek buatan ibunya begitu mantap.


Tak salah jika ibunya mempunyai banyak pelanggan setia.


Dia melihat ibunya sedang mencampurkan adonan sagu, air, dan ikan yang sudah digiling.


Diaduk-aduknya adonan itu. Lalu dibentuk menjadi pempek lenjer, pempek isi telur, pempek kerupuk, pempek ada’an, dan pempek kapal selam.


“Assalamu’alaikum,” sapa Uzlah.


“Wa’alaikumussalam. Kau sudah pulang, Nak. Bagaimana tes interview-nya?”


“Alhamdulillah, Bu. Uzlah diterima.”


“Jadi, kapan kau mulai kerja?” kata Bu Mirna sambil membentuk adonan pempek lenjer dengan kedua telapak tangannya.


“Besok Uzlah sudah mulai berkerja, Bu.”


***


Siang itu Uzlah sedang menyetrika baju putih dan celana dasar hitamnya. Dia sudah siap untuk besok, hari pertama bekerja. Dia mencoba untuk melenyapkan segala sesuatu tentang kuliah.

__ADS_1


Rian–adik Uzlah yang masih kelas satu SMP–pulang dari sekolah.


“Kak, tadi aku bertemu dengan Kak Gery dan Kak Usman.”


“Di mana?”


“Di sekolah. Tadi mereka lagi duduk-duduk di kantin.”


“Ngapain mereka ke sana?”


“Entah. Mungkin kangen dengan guru-gurunya,” kata Rian sambil membuka baju seragam sekolahnya.


“Ngomong apa mereka denganmu, Dik?”


“O ya, kata mereka, salam buat Uzlah. Terus mereka nanya Kakak kuliah di mana?”


“Terus kau jawab apa?”


“Aku bilang kalau Kakak tidak kuliah.”


“Terus, apa kata mereka?”


“Mereka tidak bilang apa-apa. O ya, mereka bilang nanti kapan-kapan kumpul-kumpul lagi. Sudah lama tidak ngumpul bareng berempat,” kata Rian dengan nada bicara anak kecil.


“Terus apa lagi?” tanya Uzlah penasaran.


“Hemm... sepertinya tidak ada lagi, Kak.”


“Kak Usman dan Kak Gery kuliah di mana, Kak?”


“Mereka kuliah di Universitas Negeri Jaya Abadi”


“Kakak tahu dari mana?”


“Mereka teman Kakak. Jadi, tahu.”


Kembali terbersit di benak Uzlah tentang persoalan kuliah. Sekardus masalah itu menerjang-nerjang jiwanya. Dia merasa menanggung beban dunia yang sangat berat.


Teman-temannya masuk ke perguruan tinggi semua, sedangkan dia tidak. Mau taruh di mana mukanya jika nanti bertemu dengan sesama alumni.


“Kak!”


“Apa adikku yang ganteng?” kata Uzlah sambil menggantungkan baju dan celananya di dinding.


Rian menundukkan wajahnya. “Rian malu sama Kakak.”


Uzlah mendekat ke tempat duduk adiknya. Dia mengelus kepala adiknya. “Malu kenapa? Cerita sama kakak.”


“Tadi di kelas, Rian ditanya oleh guru. Tapi, Rian tidak bisa jawab. Terus gurunya bilang kalau Rian sangat beda dengan Kakak. Kakak orangnya cerdas waktu SMP dulu, sedangkan Rian ini bodoh.”

__ADS_1


“Siapa gurunya?”


“Bu Dewi Sartika.”


“Oh, yang ngajar fisika?”


“Iya, Kak. Tadi dia bilang kalau Rian sangat jauh berbeda dengan kakak. Kakak pasti dikenal baik oleh guru-guru SMP Negeri Sekali waktu dulu Kakak masih belajar di sana.”


“Dik, tidak ada seratus jika tidak ada satu! Kau mengerti maksudnya?”


Rian menggeleng-gelengkan kepala. Masa remajanya tak mampu mencapai pembicaraan orang dewasa.


“Begini, maksudnya, orang yang cerdas bahkan jenius selalu bermula dari bodoh. Dia awalnya tidak tahu apa-apa. Dia memulai dari nol. Dia memulai dari hal-hal kecil. Tapi, dia terus untuk belajar... dan belajar. Dia tekun, yakin bahwa dirinya mampu menjadi cerdas.”


Rian melongok dan hanyut dalam untaian kata yang keluar dari bibir tipis kakak satu-satunya itu.


“Jadi, Kak....”


“Ya jadi, kau harus banyak-banyak belajar supaya banyak tahu. Nanti pas ditanya oleh guru, kau bisa menjawabnya, Dik.”


“Iya, Kak. Iya.”


“Memangnya tadi Bu Dewi nanya apa sama Rian?”


“Bu Dewi nanya siapa yang menemukan lampu pijar.”


“Oh.”


“Emang Kakak tahu siapa yang menemukannya.”


“Thomas Alva Edison.”


“Kakak memang cerdas. Aku bangga sama Kakak,” kata Rian dengan mata yang berkaca-kaca.


“Terus, Bu Dewi nanya apa lagi sama kau, Dik?”


“Tidak ada lagi Kak. Tapi dia cuma menceritakan sedikit tentang Thomas Alva... Thommaasss.... Alvaaa... eeehhhhhhh... Thoommmaasss.”


“Thomas Alva Edison. Apa ceritanya?”


“Ya, itu, Kak. Kata Bu Dewi, Si Thomas itu hebat. Dia mampu menemukan lampu pijar, mesin ketik, fonograf, dan penemuan-penemuan lainnya. Bahkan dia mempunyai seribu HAK PATAN....”


“HAK PATEN!!”


“Ya Kak, hak paten. Dia itu memang hebat. Terus kata Bu Dewi, dia sangat berjasa. Berkat penemuannya kita bisa asyik menonton TV. Berkat penemuannya dunia ini bisa menjadi terang karena lampu yang telah berhasil ditemukannya. Tapi....”


“Tapi apa, Dik?”


“Tapi... yang lebih hebatnya lagi, Si Thomas itu tidak bersekolah seperti kita. Tidak punya ijazah SMA. Dia tidak kuliah. Tidak ada gelar ES.TE, ES.PEDE. ES.E. Waahhhh... pokoknya dia hebat! Bukan seperti kita, sekolah tinggi-tinggi tapi tidak ada yang berhasil ditemukan. Itu kata Bu Dewi.”

__ADS_1


***


__ADS_2