
Suatu ketika pas sudah pulang sekolah.
Zahid dan Devrieya duduk berdua di taman sekolah.
“Papamu masih lama ke sini?”
“Papa masih ada rapat sebentar. Mungkin setengah jam lagi tiba di sini.”
“Alhamdulillah. Masih ada cukup waktu untuk menyambung diskusi ilmiah kita waktu itu, Dev. Terakhir soal bumi datar dan bulat kan?”
“Oh iya, Zahid. Masa para pecandu flath earth itu menjadikan logo PBB sebagai alasan kuat bahwa bumi ini datar.”
“Tidak relevan sih menurutku. Nah kalau begitu bilang kepada mereka, jangan nonton piala dunia, sebab tropinya itu berbentuk globe, tidak datar. Ha ha.”
“Tapi penjelasan-penjelasan dari mereka kadang masuk akal juga lho. Pakai perhitugan matematika segala.”
“Ya soal massa jenis, Bebbhh.”
“Kau ini kenapa sih panggil aku bebbhh terus? Naksir ya?”
“Ya iyalah. Masa ya iya.... ****..”
“Gelisah dong.”
“What?”
“Geli geli basah.”
“Annnjj.... jjiirr. Ni bocah. Masuk dong pak eko. Walaupun pak eko udah pulang.”
“Apa tadi soal massa jenis?”
“Pernah aku lihat di Youtube. Mereka melakukan percobaan dengan menaruh beberapa benda dengan berat berbeda di dalam air. Satu tenggelam total. Satu setengah tenggelam. Dan satu lagi mengapung di permukaan. Berdasarkan eksperimen tersebut, maka mereka mematahkan hukum gravitasi dengan alasan benda yang jatuh ke bumi itu karena pengaruh massa jenis benda dan bukan karena adanya pengaruh gravitasi. Bagiku, ini tidak make sense karena tidak mungkin hukum gravitasi ditolak seratus persen. Terbukti secara ilmiah bahwa jika benda yang jatuh dalam ruang hampa udara dan tidak ada pengaruh luar, misal satu benda berat 1 kilogram dan satunya lima puluh kilogram, pas jatuh ke bumi maka percepatannya akan sama. Gravitasi tentu ada pengaruhnya.”
Devrieya sesekali merapikan kerudungnya yang tidak berantakan.
“Pernah ada seorang siswa semasa SMP dulu berdebat denganku soal bumi ini datar. Katanya, bisa dilhat dari bentuk dan struktur rel kereta api, dalam jarak sekian kilo akan tetap rata. Aku geli sekali Bebbhh dengar omongan bocah tolol itu. Langsung ku bantah omong kosongnya itu. Kataku, aku pernah naik kereta api tuutt.. tuutt... tuutt... siapa hendak turut. He he. Aku pernah naik kereta api Bebbhh dari Palembang tujuan ke Lubuk Linggau. Berangkat pagi sampai di sana sore. Nah pas pulang arah balik lagi ke Palembang tuh keretanya berangkat malam. Pas di awal perjalanan dari Linggau menuju Muara Enim, kereta akan bergoncang agak cepat dibandingkan pas pergi. Menjadikan jalur kereta api sebagai acuan atau dasar bahwa bumi ini datar sungguh salah telak. Alasannya, dalam jarak sekian kilometer terkadang ada rel yang bengkok tidak rata karena terjadi pemuaian yang disebabkan oleh panas dan tekanan di sekitar rel, belum lagi pengaruh permukaan tanah yang terkadang berubah-ubah yang menyebabkan bentuk rel berubah juga.”
“Jadi sampai sekarang kau berkeyakinan bahwa bumi kita ini bulat?” tanya Devrieya agak bercanda.
“Itu bukan sebuah keyakinan. Untuk apa kita meyakini fakta ilmiah? Apa kau percaya dua tambah dua sama dengan empat? Apa kau percaya bahwa nasi yang kau makan akan menjadi sumber energi? Apa kau yakin bahwa air hujan dari langit itu bersumber dari air di bumi?”
“Lama-lama otak kiriku tumbuh rambut juga nih.”
“Untuk apa Bebbhh kita memperjelas sesuatu yang sudah jelas? Misal apa harus dijelaskan, oh hijau itu seperti ini lho. Apa yang dimaksud dengan merah? Memperjelas sesuatu yang sudah jelas itu hanya akan membuat bingung. Sama seperti kalau kita melihat wajah seseorang teru-terusan, makin lama kita akan makin merasa aneh dengan orang itu, makin lama makin tidak kenal, akhirnya fakta itu menjadi ambigu.”
__ADS_1
“Aku tidak mengerti logikamu, Zahid. Kau itu sungguh aneh. Katanya kau sering berdebat dengan guru yah.”
“Bukan berdebat Beebbhh. Cuma diskusi ilmiah. Sama seperti kita ini nih. Tapi kalau dengan guru kan lebih seru aja. Oh ya, kau kan cewek, kenapa bisa suka pelajaran eksak? Padahal cewek itu malas berpikir kritis dan sulit berpikir abstrak.”
“Senang saja menyukai sesuatu yang banyak dibenci banyak orang.”
“Anti-mainstream. Berarti kau Bebbhh lebih suka bahas usus halus dan hormon endorfin yah daripada ghibah siswi sebelah yang lebih bohai.”
“Asstaagaa.... ghibah itu sama aja...”
“Oh,” ucap Zahid sambil manggut-manggut. “Aku baru nalar. Maksud waktu itu makan manusia berarti kau suka ghibah ya. Kan ghibah itu seperti makan bangkai sesama.”
“Asstagaaa... bukan begitu, Zahid. Aku tidak suka ghibah. Kalau emang ghibah, paling ghibah si mpuss kucing tetangga yang kalau berak ke mana-mana.”
“Oh, God. Salah satu kriteria calon istriku adalah tidak memasukkan kata ghibah ke kamus hariannya.”
“Kita ngomongin yang lain aja dong, Zahid. Uzlah itu kawanmu sejak kapan?”
“Dia sahabatku sejak masuk madrasah ibtidaiyyah. Aku satu kelas dengan dia sudah sepuluh tahun. Mimpi kami sama: ingin jadi ilmuwan.”
Devrieya berdecak kagum. Sesekali dia melirik Zahid, tak berani menatap.
“Sering bahas masalah apa sama dia?”
“Dua kata kuncinya: Ilmu dan masa depan. Tidak jauh jauh dari dua itu. Selebihnya paling bahas bola. Kau suka bola?”
“Annjj... jiirr ni cewek. Ditanya suka atau nggak.”
“Karena ada, jadi gak suka.”
“Jadi suka kalau gak ada? Logika macam apa lagi ini?”
“Papa punya bola di rumah.”
“Waaww.”
Devrieya menyipitkan matanya sambil menggerenyetkan bibir. “Otakmu ini pasti mikir lain.”
“Astaagaa... ya emang bola kaki kan? Bola untuk dimainin. Papamu punya bola. Pasti dua tuh bolanya. Terus kau Bebbhh tidak suka sama bola alasannya karena sudah punya. Kan begitu alur logika berjalannya.”
“Gila ni bocah SMA! Intinya aku tidak begitu hobi dengan bola. Tapi.... suka sama pemainya.”
“Siapa? Ronaldo pasti. Messi. Gak jauh jauh dari itu.”
“Yeehh. Papaku lah. Papa kan hobi main bola.”
__ADS_1
“Bolehlah tanding sama aku.”
“Emang kau bisa main?”
“Harusnya tanya lihai atau gak. Bukan bisa atau gak Bebhh.”
“Sombong sekali kau anak muda. Seberapa jago sih main bola.”
“Nanti kapan-kapan kau lihat aku main ya.”
“Sip. Si Uzlah itu pintar juga katanya.”
“Dia selalu rangking satu Bebbhh. Jangan ditanya lagi.”
“Oh ya. Kita lihat tiga tahun kedepan. Siapa yang akan mendapat rangking pertama dan juara.”
Zahid sering bertemu dengan banyak wanita selama lebih dari sembilan tahun, tapi mereka semua tidak seperti Devrieya, gadis manis satu ini bukan seperti gadis kebanyakan.
“Bebbhh kenapa minat kau tinggi sekali terhadap sains?”
“Aku sebenarnya disuruh oleh Papa supaya bisa menguasai berbagai macam pelajaran eksak sampai kuliah nanti agar nantinya bisa bekerja di perusahaan tempat papa bekerja.”
“Papa bekerja di mana dan apa posisinya?”
“Bekerja di PT ONE MIGAS. Sebagai Direktur SDM. Papa sedang berusaha agar nantinya dipromosikan jabatan. Papa pinginnya jadi Dirut.”
“Yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa Devrieya yang cantik, cerdas dan anak orang kaya ini mau sekolah di SMA Swasta Gaul? Kenapa tidak masuk ke sekolah elit dan top?”
“Karena, kepala sekolahnya, adalah, bapak itu, adalah, pamanku. Kepala sekolah kita ini adalah kakak kandungnya ayah. Kalau sekolah disini, aku ada yang jagain. Begitu.”
“Nepotisme dong. Kalau dapat rangking bisa gak fair dong. Orang dalam nih, senggol dong.”
“Suudzon kau Zahid. Aku sebenarnya dapat masuk tanpa tes ke SMA Negeri Sekali Plus. Tapi tidak aku ambil.”
“Annjj... jjiirr ni cewek rupanya emang cerdas lho. Harus segera tanda tangan nih proposal cinta agar hubungan ini segera dibangun. Hm, sama tuh kasusnya seperti Uzlah, bedanya dia tidak ambil sekolah itu alasannya karena ingin satu sekolah dengan aku. Bukan satu sekolah dengan kepala sekolah. Ha ha.”
Devrieya menghela napas. “Apalagi ini proposal cinta. Jalanin saja lah. Yang penting tetap bisa belajar. Lagian sekolah ini juga banyak prestasi. Lulusannya juga banyak yang masuk kampus negeri. Ada juga yang langsung kerja di perusahaan besar.”
“Di luar niat dan doa, ya penting otak, mental, skill, dan orang dalam. Ya orang dalam.”
Kening Devrieya berkerut. “Nyinggung nih?!”
Zahid sontak menggeleng cepat.
TIN TIN... TIN TIN
__ADS_1
Devrieya mengawas ke sumber suara. “Papa. Hm, Zahid, sudah dulu yah. Dada.”
Zahid juga berdiri. “Siap! Kuis perpisahan, berapa kadar kalori yang dibutuhkan seorang cewek cantik, cerdas dan anak orang kaya selama ngobrol dengan cowok biasa-biasa saja selama hampir setengah jam? Jawabannya setara dengan nominal traktiran yang harus aku bayarkan besok.”