Kisah Pria Sigma

Kisah Pria Sigma
22. Dialog


__ADS_3

Pertengkaran ilmiah sudah ada sejak dulu, saling serang argumen antar sesama ilmuwan, dan berdebat soal kebenaran teori, mulai dari pengaruh massa benda yang jatuh ada atau tidak pengaruhnya, lalu ruang dan waktu itu absolut ataukah relatif, perseteruan kira-kira bumi ini datar atau bulat, dan banyak lagi.


Alasannya klasik, yaitu kebenaran logika dan sains tidaklah mutlak. Atas dasar itulah Zahid yakin bahwa Hukum Gerak yang dikemukakan oleh Sir Isaac Newton d masa pra-modern mesti diralat. Kertas-kertas ilmiahnya suatu saat nanti akan mengantarkan dia menjadi seorang saintis besar, ahli fisika teoritis, dan diganjar penghargaan nobel.


.“Aku tidak mengerti,” kata Uzlah sembari menggeletakkan kertas-kertas itu di atas meja.


“Ayolah, Uzlah, tolong aku! Hanya kau yang bisa diandalkan dalam masalah ini,” jawab Zahid meyakini.


“Kan, kau yang membuatnya. Seharusnya kau lebih paham.”


“Aku hanya ingin meminta saran darimu. Bagaimana menurutmu penemuanku ini?”


“Maaf, Zahid. Sungguh aku tidak paham dari apa yang ada di kertas ini, isinya tidak jelas,” keluh Uzlah. Nada di akhir kalimat itu lebih menekan.


“Tolonglah, Uzlah! Aku yakin dengan ini aku bisa menjadi seorang ilmuwan besar.”


Uzlah menyorot pria kurus tinggi yang dagunya ada belahan tengah berdiri terpancang di dekatnya.


“Terserah kaulah, Zahid. Tapi, serius, aku tidak bisa membantumu. Mungkin lebih baik konsultasi saja kepada guru. Mereka lebih paham masalah ini.”


“Aku belum bisa percaya sepenuhnya kepada orang lain, soalnya ini adalah sesuatu yang besar, Kawan. Jika mereka mengaku bahwa ini adalah hasil temuan mereka, bagaimana?”


“Tapi, kenapa harus aku?”


“Ya siapa lagi kalau bukan kau? Pertama, kau adalah orang yang paling cerdas di kelas. Kedua, kau adalah sahabatku. Dan ketiga, aku tahu kepribadian dan sifat amanahmu.”


“Maafkan aku, Zahid. Aku tidak bisa. Sekarang aku tanya padamu, apa alasanmu untuk menyalahkan Hukum Fisika yang ditemukan Isaac Newton? Temuan itu sudah diakui oleh semua orang. Ditambah nama Newton yang sangat melegenda itu terlalu tinggi untuk kauatasi. Apa kau ini sudah gila?!”


“Apa yang hari ini dikatakan benar, belum tentu besok akan tetap benar, Kawan. Aku merasa janggal setelah memahami Hukum itu.” ujar Zahid optimis.


“Kau ini aneh. Ayolah jangan berpikir yang tidak-tidak. Ini simpan kertasmu!”

__ADS_1


“Kalau terbukti benar, ini mungkin adalah sebuah penemuan besar di abad dua satu. Bahkan paling besar!”


“Kau ini sudah gila!” kata Uzlah. Dia berdiri dari kursi, lalu merebahkan badannya di atas kasur. “Aku nyaman berada di kamarmu ini, Zahid. Pasti bisa belajar dengan tenang pada siang hari seperti ini.”


“Jadi, benar kau tidak bisa memberikan komentar apa pun dari kertas-kertas ini?”


“Lha. Aku saja tidak paham apa itu isinya, bagaimana aku bisa memberikan komentar? Aku hanya bisa mendoakan semoga apa yang kauinginkan itu bisa tercapai, Kawan. Tapi sekarang aku mau dengar dulu cerita dan alasanmu tentang tulisan di kertas-kertas ini.”


“Problem yang satu ini tidak pernah aku temui waktu SMP dan SMA. Penjelasan secara teori di atas kertas dan soal-soal yang diberikan oleh guru tidak ada yang terkait dengan masalah ini.”


“Makanya aku tidak mengerti, Zahid. Kau menulis sesuatu yang belum pernah aku dengar dari guru dan aku baca di buku.”


“Prinsip yang aku tanamkan sejak kecil adalah tidak mudah untuk menerima setiap argumen, asumsi, teori, dan apapun itu, walaupun banyak orang yang membenarkannya.”


“Aku selalu percaya padamu, Zahid, tapi untuk masalah yang satu ini, yang belum pernah aku selesaikan, aku belum bisa membantu dan percaya sepenuhnya padamu.”


“Logika setiap manusia relatif kalau melihat sebuah objek, logika manusia juga relatif dari waktu ke waktu dan logika dipengaruhi perasaan yang subjektif. Dengan kata lain kemarin bisa benar maka hari ini belum tentu tetap benar. Kita terlalu mudah dicekoki kurikulum tanpa memfilter. Kalau dari kecil kita diajarkan dua tambah dua sama dengan enam, sampai besar kita tidak pernah berpikir kalau itu salah, bisa-bisa sampai mati pun kita tetap yakin bahwa hasilnya enam.”


“Itulah alasannya kenapa aku menulis sebuah bantahan dan ralat terhadap Hukum Gerak Newton. Kita selama ini keliru dalam memahami konsep usaha dan energi yang dipengaruhi massa, berat benda, percepatan, jarak, waktu.”


Zahid mengambil kertas-kertas ilmiahnya, lalu berujar, “Misalkan, waktu SD kita diajari bahwa 200 itu genap, 300 itu ganjil, 400 itu genap dan 500 itu ganjil, terus kita terima-terima saja dan yakin kalau itu benar. Oh, itu salah besar. Kita harus berpikir kritis dan objektif, 300 dan 500 itu harusnya tetap genap. Begitu analoginya.”


“Oke aku paham. Ada relevansi sama Hukum Gerak. Intinya kita diajarkan sesuatu yang keliru selama ini. Lanjut dan jelaskan awal mula kau dapat pemikiran ini. Aku hanya ingin tahu dulu.”


“Waktu kita masih SMA dulu. Aku pernah membahas ini ketika ngobrol berdua sama Devrieya. Pas sudah pulang sekolah kami duduk di taman melihat ada seorang siswa yang mendorong sepeda motornya bukan karena habis bensin tapi karena bannya pecah. Lalu kami bercanda saja mencari berapa kira-kira usaha yang dia lakukan pada saat mendorong sepeda motornya dengan jarak 10 meter. Lantas aku jawab dengan asumsi, katakanlah gaya pada motornya 1000 N, maka usaha yang dilakukan orang itu adalah 10.000 Joule.”


“Sesimpel itu. Lalu apa masalahnya dengan Hukum Gerak yang mesti diralat?”


“Apa usaha yang dia lakukan akan tetap sama nilainya ketika mendorong sepeda motor yang mogok kehabisan bensin?”


Uzlah melipat tangan di dada sambil menghela napas berat. “Sebentar Zahid. Masalah ini?”

__ADS_1


“Nah itu. Masalah ini tidak pernah kita temui waktu di sekolah, baik penjelasan dari guru maupun tulisan di buku atau pun internet. Kita selalu diberi catatan dan latihan berdasarkan asumsi teoritis saja dan tidak pernah diberi pembuktian secara praktis di lapangan.”


Uzlah manggut beberapa kali. “Jadi menurutmu apa yang ada di atas kertas berbeda dengan apa yang ada di lapangan. Bukankah ilmuwan idolamu bilang bahwa jika fakta tidak sesuai dengan teori maka ubahlah faktanya?”


“Aku memang penggemar berat dia. Realitanya dia menjilat ludahnya sendiri. Einstein membuktikan Relativitas-nya setelah adanya kesalahan dari ilmuwan sebelum dia, berarti sama saja dia tidak membenarkan teori sebelumnya.”


“Begitulah pandanganmu terhadap subjek dan ilmu. Selalu tidak pernah puas walaupun panutannya juga ikut disalahkan.”


“Kebenaran harus dibuktikan, Uzlah. Aku lanjut cerita waktu SMA itu. Aku bilang pada Devrie kalau aku tidak bisa menjawab permasalahannya pada saat itu juga. Secara asumsi berdasarkan apa yang kita pelajari jawaban 10.000 Joule itu sudah betul. Tapi apa setelah itu kita terima begitu saja. Berapa usaha yang dia lakukan ketika mendorong sepeda motor yang tidak dalam keadaan pecah ban, apakah akan sama nilainya dengan yang tadi? Kira-kira akan sama? Pasti beda, padahal massanya tetap sama yaitu 100 kg karena berat 1000 N apapun keadaannya. Jadi, karena itulah aku rasa ada yang janggal dengan Hukum Newton. Bahkan, ini menurut pandangan pribadiku setelah bertahun-tahun belajar fisika klasik, tidak ada satu pun rumus fisika klasik yang mampu memecahkan permasalahan itu, baik pembahasan gaya apapun klasifikasinya seperti gaya normal, gaya gesek. Kita juga tidak begitu pasti menghitungnya pakai rumus Usaha \= F.s atau dengan menggunakan rumus mencari nilai Energi Kinetik.”


“Aku mulai sedikit paham apa maksudmu.”


“Aku perjelas lagi. Massa dan berat benda tetap sama, tetapi usaha dan energi bisa berbeda pada dua kasus itu.”


“Kesimpulannya?”


“Massa dengan satuan kilogram dan berat satuan Newton bukan faktor satu-satunya yang mempengaruhi gerak pada benda. Poinnya adalah bahwa benda punya sesuatu yang dapat mempertahankan posisinya, mempengaruhi geraknya, dan sesuatu itu bukanlah massa ataupun berat benda.”


Uzlah melihat dengan seksama kertas-kertas tadi. “Kau yakin Zahid kalau akan meralat Hukum Gerak Newton?”


“Yakin sekali. Konsekuensinya adalah akan banyak teori dan rumus lain dalam masalah usaha dan energi yang bisa tidak berlaku dan juga harus diralat.”


“Bagaimana kalau pemikiranmu ini ditolak banyak orang?”


“Aku hanya berusaha untuk membuktikan sebuah kebenaran, Uzlah.”


Zahid berpandangan bahwa ada kekeliruan dalam permasalahan fisika klasik yang berkaitan dengan Hukum Gerak, Usaha dan Energi. Oleh karena itu, selama waktu tiga tahun masa SMA-nya dihabiskan untuk mencari jawaban atas kasus tersebut.


Inilah sebuah prolog yang berisi percakapan dari dua orang jenius ketika sudah tamat SMA masuk ke fase menjadi pria dewasa. Zahid yang idealis dan kritis tidak begitu menyukai kurikulum pendidikan makanya lebih sering memikirkan dan membahas sesuatu yang jauh lebih terbuka dan kompleks.


Sementara Uzlah yang realistis dikaruniai kecerdasan luar biasa sehingga selama duduk di bangku SD/MI sampai SMA dia hampir selalu berada di rangking satu dan pintar hampir setiap mata pelajaran terutama eksak.

__ADS_1


__ADS_2