
[POV Zahid]
Aku melewati jalan di kampung tempat tinggalku. Di sini terdapat sungai selebar sekitar enam meter. Panjangnya lebih dari satu kilometer dengan hilirnya menuju sungai besar, yaitu Sungai Musi.
Sungai ini dipenuhi dengan tumpukan sampah. Jika sedang dalam suasana musim panas dan lama tidak turun hujan, maka sampah-sampah tersebut akan mengering.
Hal yang bisa aku lakukan untuk memberikan kontribusi agar masyarakat menjadi lebih baik hanyalah dengan menulis sebab aku tidak bisa mengubah pola pikir mereka dengan omongan secara langsung.
Maka, aku menulis sebuah artikel yang nantinya akan diterbitkan di sebuah media cetak supaya pihak terkait dan juga masyarakat mengetahui keluhanku sebagai masyarakat itu sendiri juga sebagai mahasiswa.
...
Isi artikel yang aku buat:
Sepuluh atau lima belas tahun yang lalu mungkin kita tidak pernah melihat tumpukan sampah yang berserakan. Tapi sekarang kita tidak aneh lagi kalau melihat sampah berserakan terutama di sungai. Kejadian menyedihkan ini bukan hanya terjadi di sebagian tempat tetapi melainkan di banyak tempat.
Salah satunya adalah aliran sungai dam yang ada di kawasan 7 ulu, kecamatan seberang ulu I. Aliran sungai ini dipenuhi sampah, sampai-sampai sampah-sampahnya mengering dan hampir menjadi tanah. Hal demikian karena intensitas cuaca yang sering panas dan jarang turun hujan. Parahnya sampai ada hewan seperti ayam yang berjalan-jalan di atasnya.
Kebanyakan dari tumpukan sampah itu adalah sisa-sisa dari kenikmatan manusia, misalnya bungkus makanan dan minuman. Begitu juga dengan produk-produk instan lainnya, seperti kemasan mie instan, susu instan, bungkus permen, botol dan kaleng minuman ringan dan sejenisnya. Begitu pun putung-putung rokok dan bungkusnya.
Penyebab terjadinya hal demikian di antaranya ialah kurangnya pengetahuan masyarakat tentang kebersihan lingkungan dan kesehatan. Ketidaktahuan inilah yang membuat masyarakat begitu enaknya membuang sampah tidak pada tempatnya.
Selain itu juga disebabkan karena ketidakpedulian terhadap lingkungan yang bersih. Masyarakat banyak disibukkan dengan rutinitas-rutinitas seperti, bekerja dan mencari nafkah, sekolah, bersenang-senang dan hal-hal lainnya. Masyarakat juga sering disibukkan dengan perkara-perkara duniawi yang menjadikan mereka menjadi orang yang individualistik, pada akhirnya masyarakat tidak lagi peduli tehadap lingkungan tempat tinggalnya.
Dampak buruk dari banyaknya sampah dan kotoran ini di antaranya adalah terjadinya pencemaran lingkungan, merebaknya berbagai jenis penyakit, lingkungan menjadi tidak bersih, pola hidup yang tidak sehat dan menjadi sarang dari jentik nyamuk.
Karena itulah masyarakat dan juga pemerintah harus menyadari akan hal ini. Harus ada pencegahan dan penanggulangan dari pihak yang terkait.
Yang paling diutamakan adalah kesadaran dari setiap individu akan pentingnya lingkungan yang bersih dan sehat. Kemudian mengurangi dalam mengkonsumsi produk-produk instan, selain tidak baik untuk kesehatan juga sampahnya akan menyusahkan banyak orang. Dan diganti dengan mengkonsumsi sesuatu yang alami seperti buah dan sayur, di samping itu juga lebih menyehatkan.
Masyarakat juga sebaiknya tidak membuang sampah di sembarang tempat terutama di sungai karena banyak sekali dampak buruknya, seperti menyebabkan terjadinya banjir. Masyarakat sebaiknya membuang sampah pada tempatnya. Dan menjadikan sampah untuk hal-hal yang bermanfaat, seperti mendaur ulangnya atau menjualnya kembali, misalnya seperti sampah plastik, botol dan kaleng minuman.
Lingkungan yang bersih merupakan impian setiap manusia yang tinggal di sekitarnya. Jadi, setiap pribadi harus memiliki kesadaran dan keinginan yang kuat untuk mewujudkannya. Lingkungan yang bersih adalah milik bersama, jadi tiada cara untuk mewujudkannya melainkan dengan bersama-sama pula atau bergotong-royong.
***
Setelah terbit, artikel itu lantas berdampak positif bagi masyarakat maupun lingkungan. Beberapa hari setelah itu, Pak Lurah langsung menugaskan kepada bawahannya supaya masyarakat pas hari Minggu nanti melakukan gotong-royong pembersihan sungai.
Sebenarnya gotong-royong setiap hari minggu itu adalah sebuah rutinitas masyarakat sekitar, tetapi itu waktu dulu. Beberapa tahun terakhir kegiatan tersebut terhenti.
Sampai akhirnya Minggu itu pun tiba. Pak Lurah, segenap jajaran, dan masyarakat turun ke sungai dengan membawa berbagai macam alat seperti serokan seperti garpu, cangkul, kayu panjang, dan gerobak sampah.
__ADS_1
Foto sungai kotor yang terpampang jelas di koran menjadi sebuah temparan kecil terhadap pemerintah tingkat bawah, seperti Lurah da RT, karena malu terhadap pemerintah kota, malu terhadap kampung-kampung lain.
Tak sampai di situ, aku melihat di internet sebuah ajang bagi mahasiswa untuk dapat menunjukkan kreativitasnya dengan cara menulis: Program Kreativitas Mahasiswa.
Kali ini PKM yang aku ikuti adalah Gagasan Tertulis. Kegiatan tersebut diadakan oleh Dikti setiap tahun.
PKM-GT merupakan program penulisan artikel ilmiah yang bersumber dari ide atau gagasan kelompok mahasiswa.
Gagasan yang dituliskan mengacu kepada isu aktual yang ada di masyarakat dan memerlukan solusi hasil karya pikir yang cerdas dan realistis.
PKM-GT merupakan wahana mahasiswa dalam berlatih menuliskan ide-ide kreatif sebagai respons intelektual atas persoalan aktual yang dihadapi masyarakat.
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menumbuhkembangkan karya tulis mahasiswa dalam bentuk penuangan gagasan atau ide kreatif.
Oleh karena itu, aku selaku mahasiswa yang ingin turut berperan dalam hal-hal yang bermanfaat akan mengikuti program tersebut dan topik utamanya adalah masih soal kebersihan sungai.
Pengusul harus membawa minimal tiga orang. Sampai sekarang orang yang begitu kukenal di kelas ini cuma Girang. Apa otaknya bisa digunakan dalam membantuku mengerjakan karya tulis ini?
Karena salah satu peserta harus berasal dari dua jurusan yang berbeda, maka aku teringat dengan Rani, ditambah alasannya adalah dia anak Bahasa, otomatis lebih paham dengan metode penulisan yang baik.
Maka kedua anggotaku adalah Girang dan Rani. Girang aku tugaskan sebagai orang sibuk kesana-kemari, seperti ngeprint di warnet, memfotokopi, dan menjilid dokumen.
Sementara Rani ditugaskan sebagai konsultan bahasa. Dia memperbaiki kata-kata yang salah, meluruskan susunan kalimat yang berantakan, dan memperindah paragraf yang tak beraturan.
Ada beberapa yang harus kuperbaiki. Beliau juga memberikan beberapa saran agar mengubah sedikit dari isi karya tulisku sebelum memberikan tanda tangannya sebagai persetujuan bahwa karya tulisku sudah layak.
Setelah itu aku pergi menemui Ketua Jurusan untuk meminta tanda tangan dan cap sebagai pengesahan. Aku tak dipersulit sampai saat ini.
Siang ini juga aku langsung bergegas menuju ruang Wakil Rektor 3. Salah satu syaratnya adalah harus mendapat persetujuan dari Wakil Rektor 3 dengan bukti berupa tanda tangan dan cap basah.
Aku menaiki anak-anak tangga menuju lantai dua gedung. Kata beberapa petugas di sana, Bapak sedang tidak ada di ruangannya karena sedang menghadiri rapat.
Lantas aku berpaling ke ruangan yang disebut. Pas sekali. Beliau berpapasan denganku ketika beliau keluar dari ruang rapat.
“Permisi, Pak. Saya mau meminta persetujuan dari Bapak. Saya ikut PKM yang diadakan Dikti. Tolong dibantu, Pak. Terimakasih.”
Bapak Wakil Rektor tiga melengos, lalu berjalan cepat ke arah ruangannya tanpa mempedulikanku sedikit pun.
Sebelum itu beliau sedikit marah karena melihat aku hanya memakai kaos oblong, sementara ada beberapa mahasiswa yang sedang menunggu kehadiran beliau untuk konsultasi skripsi semuanya memakai kemeja dan jas almamater.
Penampilanku tidak layak bahkan bisa dikatakan tidak sopan. Siapa pun yang masuk ke ruangan itu haruslah berpakaian sopan. Mana rambutku panjang lagi.
__ADS_1
Karena itulah beliau tak peduli denganku. Maka sebentar aku terpancang di dekat tangga. Merasa tidak enak. Tetapi aku harus meminta tanda tangan beliau. Harus itu.
Tiba-tiba Bapak Wakil Rektor 3 kembali dan mendekatiku. “Kau yang nulis artikel di koran ini?” Beliau memegang korannya.
Beliau tahu karena fotoku tertera di dekat artikel tersebut dan ditambah ada identitas berupa nama dan tempat kuliah.
“Ayo cepat ke ruangan Bapak!”
Aku mengekor di belakang punggung beliau, lalu masuk. Ruangannya tidak terlalu luas, maka hembusan uap dari AC yang menempel di dinding itu semakin membuat dingin.
Di meja banyak tumpukan berkas, map, dan buku-buku. Di luar mahasiswa yang sudah antre dari tadi terbingung-bingung. Kenapa aku yang baru datang tiba-tiba bisa langsung masuk.
“Silakan duduk.”
“Terima kasih, Pak.”
Beliau yang sudah beruban itu membaca sekilas karya tulisku, lalu dengan sepenuh hati memberikan tanda tangan dan cap basah.
***
RINGKASAN
Pemerintah Kota Palembang mencanangkan beberapa program guna menjadikan Palembang sebagai kota pariwisata. Salah satu sektor yang menjadi sorotan pemerintah adalah wisata air. Prioritas dari program pemerintah adalah menjadikan Sungai Musi sebagai pusat yang dikunjungi para wisatawan. Pemeritah sendiri sudah menyiapkan beberapa titik untuk membuka zona ekonomi baru di kawasan pinggiran Sungai Musi.
Kawasan 7 Ulu Lorong Garuda 1 yang dialiri kanal dam sungai yang bermuara ke sungai Musi bisa menjadi salah satu titik dari zona ekonomi baru yang telah dicanangkan pemerintah Kota Palembang tersebut. Namun, salah satu kendala yang menghambat rencana ini adalah masalah kebersihan lingkungan. Aliran kanal dam sungai dan daerah di sekitar kawasan tersebut dipenuhi banyak sampah dan kotoran sehingga terjadinya pencemaran lingkungan.
Karya tulis ini bertujuan untuk membantu pemerintah dan masyarakat dalam mewujudkan terciptanya sebuah lingkungan yang bersih dan sehat serta untuk lebih menambah nilai kesadaran tentang dampak buruk dan bahaya dari pencemaran lingkungan. Karya tulis ini juga bertujuan untuk membantu pemerintah dalam mewujudkan Palembang sebagai kota pariwisata. Revitalisasi dari dam sungai yang ada di 7 Ulu merupakan sebuah interpretasi dari program Kota Palembang yang Bersih, Aman, Rapi, dan Indah. Selain itu juga untuk mengimplementasikan program Palembang EMAS.
Canal Grande of 7 ulu merupakan sebuah konsep revitalisasi dari gagasan yang ditawarkan di sini. Penataan Canal Grande of 7 Ulu akan disesuaikan dengan kondisi yang ada di Canal Grande, Venesia, Italia. Suasana yang sejuk dengan pemandangan yang eksotis akan dihadirkan di sekitaran kanal dam sungai di kawasan 7 Ulu. Di samping itu, konsep revitalisasi ini juga akan menambahkan beberapa ikon dan elemen yang menjadi ciri khas Kota Palembang. Kawasan ini akan menjadi salah satu objek wisata di Kota Palembang karena berbasis kultur Palembang dengan sentuhan citra suasana Venesia. Berbagai aspek dari suasana yang penuh dengan nilai eksotis dari Canal Grande of 7 Ulu sebagai inovasi konsep dari revitalisasi kanal dam sungai di kawasan 7 ulu, yaitu: aspek ekonomi (kesejahteraan), ekologi (lingkungan) serta keindahan dan kenyamanan.
***
Setelah menunggu waktu yang cukup lama, akhirnya pengumuman PKM-GT di internet pun tiba. Lantas aku mencari-cari namaku di antara banyak deretan nama-nama.
Ada ratusan proposal mahasiswa dari segenap penjuru negeri yang berhasil lolos. Seleksi dari panitia cukup ketat karena ada beberapa kriteria yang ditentukan.
Seperti mesti kreatif dan objektif yaitu berupa gagasan yang memberikan solusi. Tulisan juga harus logis dan sistematis.
Penilaian juga berdasarkan pada keunikan tulisan, kelayakan implementasi dan manfaat atau dampak yang ditimbulkan.
Setelah beberapa saat, akhirnya aku menemukan namaku di antara seluruh nama-nama. Kelompokku lolos seleksi dan mendapat hadiah sebesar tiga juta rupiah meskipun tidak diikutsertakan di PIMNAS.
__ADS_1
Aku membagi uang yang didapat kepada Girang dan Rani sebab mereka juga turut berperan dalam penyelesaian karya tulis ini.