Kisah Pria Sigma

Kisah Pria Sigma
38. Debat kedua


__ADS_3

~ Mengeluh dan mencaci diri sendiri karena sebuah kekurangan membuat kita tak memahami betapa banyaknya hikmah di balik semua keluhan dan cacian itu.


Jam sembilan pagi. Zahid bergegas menuju rumah Uzlah. Tak segan Uzlah menghidangkan secangkir kopi hitam untuk pertemuan pagi itu. Mereka berdua duduk di beranda.


“Bagaimana kuliahmu, Zahid?”


Zahid tak mungkin membahas kuliahnya terlalu panjang lagi. Dia sudah tahu bahwa Uzlah tak senang jika berbicara membahas masalah kuliah. Bahkan dia sendiri sudah merasakan kekecilhatian Uzlah tempo hari.


“Bagaimana dengan urusan kau dengan Si Ketua Tingkat itu?”


“Hari ini cerah ya?”


Zahid memalingkan pembicaraan.


Zahid sudah paham dengan perubahan sikap Uzlah selama ini. Baginya, Uzlah sudah tidak seperti yang dulu. Semenjak tamat SMA, Uzlah tidak seceria dulu.


“Bagaimana urusan dengan dosen fisika-mu, apa sudah kelar?”


“Eh. Begitulah. Kau sudah sarapan?”


“Sudah,” jawab Uzlah datar.


“Bagaimana kerjamu minggu-minggu ini? Lancar, kan?”


“Alhamdulillah.”


“Pasti seru kalau bekerja?” tanya Zahid semangat.


“Tidak juga. Lebih asyik kuliah.”


“Tapi kalau bekerja, kita bisa mendapatkan penghasilan sendiri. Tentu tidak akan menyusahkan orangtua lagi.”


“Bagaimana kita bisa bekerja dengan baik, sementara kita adalah orang yang bodoh. Kita ini harus belajar yang banyak.”


“Tapi bekerja itu pasti menyenangkan. Kita bisa mendapat banyak pengalaman. Kan ilmu itu menuntut pengalaman. Jadi, bukan hanya bekerja, di sana kita juga bisa belajar.”


“Dengan kuliah, kita bisa menambah banyak ilmu dan wawasan. Itulah bekal untuk bekerja nanti. Di kampus itu juga kita akan mengenal banyak orang dan menambah relasi. Bukankah kita bisa belajar banyak melalui pergaulan?”


“Untuk orang pendiam dan pemurung sepertimu?”


Uzlah mengalihkan pandangannya ke arah Zahid yang ada di sebelah kanannya.


“Apa maksudmu?” tanya Uzlah.


“Menambah pergaulan?! Untuk orang pendiam dan pemurung sepertimu, Uzlah?”


“Aku tidak mengerti apa maksudmu.”


“Itu hanya menjadi alasan bagimu, kan? Aku tahu bahwa kau ingin bisa kuliah. Aku tahu kau ingin bisa belajar banyak. Aku bisa merasakan apa yang kaurasakan, Uzlah. Kau pasti iri dengan teman yang lain."


“Aku tidak iri.”


“Kalau tidak iri, kenapa kau berubah seperti ini?”


“Kalian itu yang berubah!” balas Uzlah ketus. Wajahnya sedikit menyeringai.


“Apa yang berubah dari kami? Lihatlah. Aku tetap bisa akrab denganmu.”


Uzlah diam membatu sembari memandangi pondok jualan ibunya.


“Uzlah, apa kau masih ingat dengan cita-cita kita waktu masih kecil dulu?”


Uzlah membisu.


“Apa kau masih ingat ketika kita selalu belajar bersama?”


Uzlah mengunci bibir.


“Apa kau ingat ketika kau selalu kalah jika main playstation denganku?”


Uzlah masih diam. Matanya berkaca-kaca. Dia tertegun mengingat masa lalunya.


“Oh. Betapa senangnya aku ketika selalu mengalahkanmu. Kau tidak mahir dalam setiap permainan. Kau sering dicadangkan jika bermain sepak bola. Main kartu kau selalu kalah. Kau juga tidak pernah menang lomba lari denganku.”


“Itu semua masa lalu. Lupakanlah!”


“Kita bisa belajar banyak dari masa lalu, Uzlah. Kenapa harus melupakannya?”


“Ya, aku memang pecundang,” kata Uzlah datar.


“Tapi, kau selalu juara, Kawan. Kau sering mendapat rangking teratas. Kau pernah menjadi juara umum. Aku salut denganmu....


Aku mencontoh banyak teladan darimu. Kau mengajarkan aku untuk selalu membaca. Kau menjadi penyemangatku di kala aku sedang malas....


Kau mengajarkan aku jika aku tidak mengerti. Kau menjelaskan sesuatu yang tidak kupahami,” kata Zahid dengan lembut.


“Zahid, aku ingin seperti kita yang dulu.”

__ADS_1


“Aku juga.”


Zahid menyorot kedua mata Uzlah yang tampak berbinar.


“Hei Jambul,” olok Zahid


Uzlah menoleh. “Dasar kau!”


“Ha ha ha.”


“Tidak ada yang lucu si Kecil Yang Aneh!”


“Kau masih bercita-cita ingin seperti Newton, kan?” tanya Zahid.


“Ya. Kau juga masih ingin bercita-cita seperti Einstein, kan?


“Tentu. Einstein nomor satu.”


“Newton yang nomor satu,” keluh Uzlah.


“Einstein ilmuwan kelas wahid. Isaac Newton itu tidak ada apa-apanya.”


“Hmm... jelas andai Newton tidak mengemukakan penemuannya, tentu Einstein tidak bisa menemukan Relativitas.”


“Terserah!” kata Zahid. “Yang pasti Einstein sudah merubah cara berpikir manusia tentang alam semesta. ‘Energi tidak bisa diciptakan dan tidak bisa dimusnahkan’ itu adalah teori yang terlalu klasik untuk abad dua satu yang sangat modern ini....


Yang mutakhir ‘suatu massa bisa diubah menjadi energi’ itu adalah teori yang sangat mengesankan. Woah! Luar biasa!”


Zahid dan Uzlah saling bersitegang tentang siapa ilmuwan fisika teoritis yang paling berhak menyandang predikat nomor satu.


Zahid menjagokan Einstein, sedangakn Uzlah menjagokan Newton. Pembahasan tentang kuliah, urusan kecil hati Uzlah dan rasa irinya lenyap ditelan perdebatan sengit.


Zahid mengangkat cangkir kopinya, dan seketika itu juga dia mengedarkan pandangannya tepat ke muka Uzlah.


Dia mendapati Uzlah yang begitu tegang karena jagoannya dikalahkan, bukan tegang karena urusan kuliah yang membuat teriris hatinya.


“Kau yakin dengan mimpimu, Zahid?”


“Tentu, Kawan. Bagaimana denganmu?”


Uzlah menghela napas berat. Lalu dia tersenyum.


“Aku tidak punya mimpi.”


“Bohong! Kau sendiri yang bilang bahwa kau ingin menjadi seorang profesor.”


“Itu karena kau tidak bisa menjaga kokohnya hatimu.”


“Lagi pula itu adalah omong kosong masa lalu. Tidak ada makna apa pun di dalamnya.”


“Kau harus mempunyai mimpi, Kawan!” ujar Zahid bersemangat.


“Aku salut dengan pemimpi sepertimu.”


“Kita harus mempuyai mimpi, Uzlah. Jangan hidup hanya sekedar hidup. Kita harus mempuyai tujuan dalam hidup ini."


“Benar.”


“Kalau kita mendapatkan sesuatu yang tidak pernah kita impikan, berarti itu adalah sebuah kebetulan.”


“Bagaimana dengan takdir?”


Zahid membenarkan letak duduknya. Lalu dia menghunjamkan tatapannya tepat di wajah Uzlah. Mukanya penuh dengan semangat persahabatan.


“Uzlah, jika Tuhan menakdirkan agar kita berusaha, dan jika tuhan menakdirkan agar kita memilih, bagaimana? Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam pernah bersabda: Bersemangatlah mengejar hal-hal yang bermanfaat bagimu. Mintalah bantuan kepada Allah. Dan janganlah kau merasa lemah.”


Uzlah terpaku setelah mendengar ucapan Zahid. Dia termenung dan memikirkan jati dirinya yang telah hilang karena ego jahat yang merasuki relung hatinya.


Dia merasa bahwa dia salah dalam menyikapi setiap hal yang membuatnya tidak bersemangat.


Sungguh, dia memiliki cita-cita yang sangat tinggi: profesor. Tapi, cita-cita itu terhalang oleh realita pahit yang menerpanya: tidak bisa melanjutkan sekolah.


Itulah sebabnya dia berubah drastis, sampai-sampai dia menjauhi sahabatnya.


“Kita mempunyai mimpi yang agung. Kita bercita-cita ingin menjadi Newton dan Einstein abad dua satu. Kita menginginkan menjadi seorang ilmuwan fisika teoritis. Kau ingat kan?”


“Aku bukan mahasiswa,” kata Uzlah sedih.


“Kawan, jangan sampai hal kecil semacam itu menghalangi cita-cita besarmu. Ayolah! Semangat!”


Uzlah menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Dan, menghembuskan segala kegundahan dan kerisauan yang menimpa dirinya selama berhari-hari.


Zahid mendekatkan kursinya ke kursi Uzlah. Dia memegangi pundak Uzlah.


“Kawan, apakah ada di antara kita yang merencanakan tentang persahabatan kita?”


“Entah,” jawab Uzlah pelan.

__ADS_1


“Apakah kita pernah sebelumnya menginginkan agar kita satu SD dan sering dalam satu kelas yang sama?”


Uzlah bergeming. Matanya berkaca-kaca. Dia mengenang masa lalunya bersama Zahid.


“Apakah atas kehendakmu kita bisa satu SMP dan selalu satu kelas? Atau apakah karena kemauanku kita juga selalu satu kelas waktu SMA?”


“Aku tidak tahu, Kawan.”


“Rencana besar Tuhan selalu berjalan dengan lancar. Andai kita tahu kejutan-kejutan itu. Aku sudah tidak sabar ingin menjadi seorang ilmuwan terkenal. Kau juga, Kawan.”


Zahid ialah seorang idealis. Dia mempuyai mimpi yang besar. Dan dia yakin dengan apa yang diimpikannya tersebut.


Sementara Uzlah ialah orang yang realistis. Dia selalu menyikapi segala berdasarkan apa yang dirasakannya saat itu juga.


Dia tidak banyak menatap masa depan, semua itu karena satu hal: tidak bisa kuliah.


“Aku harap kau bisa seperti dulu, Uzlah. Lagi pula masih banyak hal yang aku perlu belajar denganmu.”


“Tapi, kau kuliah. Sedangkan aku tidak.”


“Apa masalahnya? Apa Abraham Lincoln kuliah seperti aku?”


“Tapi....”


“Tidak ada tapi-tapian,” kata Zahid cepat-cepat memutus. “Lagi pula aku masih ingin banyak bertanya soal Hukum Gerak Newton yang sangat kontroversial itu,” kata Zahid semangat.


“Maaf, Zahid. Kau lebih pintar dariku. Tidak mungkin kau belajar dengan orang yang tidak berpendidikan seperti aku.”


“Kawan, pendidikan formal itu belum tentu memengaruhi kecerdasan dan kejeniusan seseorang. Bukankah Einstein tidak betah belajar di sekolah yang seperti penjara itu?”


Uzlah terdiam.


“Jangan sampai gara-gara tidak kuliah kau jadi down dan tidak bersemangat! Jangan sampai gara-gara tidak kuliah kau tidak ingin belajar lagi dan berhenti bermimpi! Jangan sampai gara-gara tidak kuliah kau meninggalkan sahabatmu!”


Hati Uzlah tersentuh mendengar perkataan Zahid yang berapi-api itu. Matanya berkaca-kaca. Jantungnya berdegup kencang.


Sejurus kemudian dia merasa bahwa dia benar-benar salah dalam menyikapi keadaan.


“Aku paham dengan apa yang kaurasakan. Kau pasti tertekan karena tidak bisa melanjutkan sekolah. Ibumu cerita kepadaku tentang perubahan sikapmu...


Kau boleh berkata bahwa kuliah itu hanyalah penunda penggangguran. Kau boleh berkata bahwa mahasiswa itu hanyalah hedonis dan pengejar popularitas....


Kau boleh mengatakan bahwa kampus adalah tempat untuk bersenang-senang dan tempat hiburan semata. Kau juga boleh mengatakan bahwa kuliah itu hanya sarana untuk menghilangkan rasa malu karena dianggap tidak gaul jika bukan mahasiswa....


Tapi, itu hanya omong kosong darimu untuk menyembuhkan rasa sakit di hatimu yang dipenuhi rasa iri itu?”


Uzlah terdiam. Dia terpaku mendengarkan lontaran demi lontaran.


Dia menatap lantai, tertunduk lesu seolah bertekuk lutut mengakui kesalahan-kesalahan atas sikap subjektifnya selama ini.


“Ayolah, Uzlah! Sampai kapan kau menjadi pribadi yang pemurung dan pesimistis seperti ini? Sampai kapan? Status mahasiswa dan bukan mahasiswa itu bukanlah disparitas.”


“Iya, Zahid.” jawabnya pelan.


“Kita benci sesuatu hal karena kita tidak bisa merasakannya.”


Uzlah manggut pelan.


“Ambil saja hikmah di balik semua ini, Kawan.” ucap Zahid. “Buktikan padaku kalau pendidikan formal itu bukan faktor utama yang mempengaruhi kecerdasan dan kesuksesan seseorang.”


Uzlah tersenyum renyah. Kali ini mukanya membalut cerah dan bersemangat.


“Apa kau ingat harapan kita waktu SMA dulu?”


“Tentu, Kawan. Kita sangat berharap kita selalu satu sekolah. Dari SD, SMP, SMA, dan... kuliah.”


Hati Uzlah tersentuh. Dia menengadahkan wajahnya ke hadapan sahabatnya itu.


“Maafkan aku, Zahid. Aku salah. Aku malu karena tidak kuliah. Sungguh aku iri melihat kalian yang bisa menikmati masa-masa di bangku kuliah....


Aku ingin seperti kita yang dulu. Kita belajar bersama. Kita bermain bersama. Kita sudah berteman lebih dari dua belas tahun. Aku rindu masa-masa itu....


Jujur, aku sangat tidak ingin melepas kalian. Aku tidak ingin jauh dari kalian. Tapi, entah kenapa hatiku menjadi seperti ini? Aku tidak tahu......


Jujur, aku tidak tahan dengan keadaan yang sungguh menyiksa ini. Aku tidak ingin seperti ini. Aku tidak ingin menjadi peribadi yang asing dan terkucil.....


Karena sikapku yang salah selama ini, aku jadi menjauhi kalian. Aku minta maaf.”


Di kedua bola mata Uzlah bergelinang air mata. Ingin rasanya dia menangis sejadi-jadinya untuk meluapkan perasaan yang selama ini mencekamnya.


Ingin dia meluapkan isi hatinya agar semua orang tahu bahwa pendidikan formal bisa memisahkan persahabatan dan percintaan yang sudah terjalin lama.


Zahid memegangi pundak Uzlah. Dia melihat wajah Uzlah bersedih dan merasa bersalah. Dia sungguh berharap agar segala sesuatu yang terkait dengan pendidikan tidak menghilangkan rasa persahabatan dan percintaan.


“Semua akan indah tepat pada waktunya. Dan, tetap, Newton adalah nomor satu!”


“Tentu Einstein yang nomor satu,” keluh Zahid. “Newton itu tidak ada apa-apanya. Lihat saja nanti. Aku akan menyanggah Hukum Gerak-nya.”

__ADS_1


***


__ADS_2