Kisah Pria Sigma

Kisah Pria Sigma
31. Dalih


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang paling membuatnya bersemangat pergi ke kampus jika dibandingkan dengan hari-hari yang lalu.


Zahid memasuki ruang kelas. Girang menghampirinya dengan membawa sesuatu.


“Hei, Kawan. Kemarin kau lupa membawa bukumu. Ini.”


Zahid mengambil bukunya. “Terima kasih,” jawabnya datar.


Zahid menuju kursi yang ada di tengah, tempat yang biasa didudukinya. Girang merasa ada yang aneh dari Zahid. Dia berpikir, kemarin-kemarin Zahid selalu menampakkan muka yang masam. Tapi, hari ini Zahid terlihat cerah. Entah, ada angin apa yang menyentuh kejiwaannya?


Sementara Susan sudah lama duduk di samping Syarif, jauh dari kursi Girang. Khawatir kalau pacarnya diembat orang, Syarif dengan sigap mengamankan.


Sudah berminggu-minggu ini Zahid tidak berteguran dengan Girang, kecuali hanya sepatah kata saja. Girang lebih akrab dengan mahasiswa lain semenjak dia ada konflik dengan Zahid. Tapi, Girang merasa nyaman dengan Zahid ketika hari-hari pertama masuk kuliah, namun masa itu Zahid lagi ditimpa banyak problema yang membuatnya malas untuk menanggapai apa pun yang ada. Bahkan Susan, Bidadari Teknik, pun tidak dipedulikannya.


Dosen memasuki ruangan kelas.


Sepulang kuliah, Zahid mendengar sebuah kegaduhan di kelas yang baru saja ditinggalkannya. Dia mendengar suara keras gemeretak dari meja.


BRRAAKK!!! BRRAAKK!!!


Zahid bingsal (penasaran berbalut kegalauan). Dia mengintip dari celah-celah jendela. Di dalam kelas ada tiga mahasiswa yang berada dalam situasi panas, dua orang yang beringas dan satu orang gemetar ketakutan.


“Kau ini sudah kuperingatkan beberapa kali, jangan dekati Susan!” teriak Syarif.


“Aku tidak mendekatinya,” jawab Girang meringis.


“Si Idiot ini rupanya belagak bego.”


“Iya, Rif. Katanya kita tidak tahu apa kalau dia ini sering ngobrol dengan Susan. Eh pake ngirim-ngirim chat pula.”


“Bagaimana, Andre? Sekarang atau nanti kita hajar orang ini?”


“Ya sekaranglah!”


Andre mencangking kerah baju Girang.


“Kau tahu, tidak, kalau Susan itu pacarnya Syarif?”


“Iya, aku tahu.” jawab Girang takut.


“Kalau tahu, kenapa kau masih mendekatinya?”


“Aku tidak mendekatinya kok.”


Syarif melempar remukan kertas tepat ke wajah Girang.


“Itu puisi tolol darimu, kan?” jerit Syarif.


Girang bergeming. Badannya gemetar. Rasa takutnya sudah menjalar ke sekujur tubuhnya. Mukanya pucat pasi. Matanya memerah. Dia seolah melihat harimau dan singa yang siap menerkamnya.


“Kau mau mengaku atau tidak?”


“Ayo, Rif! Kita pukuli saja Idiot ini. Dia berani-beraninya mendekati Susan. Hanya orang ini yang suka dekat dengan Susan. Sementara teman-teman yang lain pada tidak berani.”


BRRAAKK!!!


Syarif menerjang kursi. Girang semakin ditimpa ketakutan. Andre sudah mengepalkan tangannya.


“Rif, aku sering melihat Idiot ini ngobrol dan ketawa-ketawa dengan Susan. Pernah juga waktu itu aku melihatnya berdua di kantin.”


“Apa?!” Syarif terperangah.


“Iya. Aku yakin dia ini suka dengan Susan. Dilihat dari sikapnya. Huu... padahal, kan, jelas-jelas semua orang di kelas ini sudah tahu Susan itu pacarmu.”


“BRENGSEK!”


Syarif mendorong Girang ke dinding.


TOK TOK TOK!!!


“Assalamu’alaikum....”


Mereka bertiga yang berada di belakang kelas hampir serentak melepas mata ke pusat suara. Mereka mendapati seseorang yang tampak cool.


Pria itu terpancang seraya menyandarkan badannya ke papan tulis. Dia berdiri dengan tumpuan kaki kanannya.


Sementara kaki kirinya ditekukkannya dan telapaknya itu di tempelkan ke dinding. Tangan kirinya mengumpet di saku.


Sementara jemari dari tangan kanannya mengelus dagu. Lelaki itu tersenyum renyah menyaksikan seseorang yang hendak dipukuli. Dia seolah menjagokan salah satu pihak.


“Ada keributan apa ini?” teriak Zahid.


Syarif dan Andre menatap bergantian.


“Masalah apa sih? Susan?” jerit Zahid lagi.


Mereka bertiga melongok.


“Hei... Ketua! Apa kau rela pacarmu diambil oleh Idiot itu. Kalau aku jadi kau, tentu akan kuhabisi orang itu. Berani-beraninya dia! Pakai chat segala.”


Syarif dan Andre terbengong-bengong. Mereka berdua ternganga. Sementara Girang semakin terpojok.

__ADS_1


Dikiranya Zahid akan membantunya, tapi malahan menjadi sekutu dua orang bengal itu. Girang merasa dia akan habis dihajar. Zahid mengurut lehernya. “Sudah hajar saja!”


Syarif dan Andre bertambah heran melihat sikap Zahid yang memihak mereka. Mereka jadi tambah bersemangat.


Tidak sabar mereka ingin memukuli Girang yang tambah ketakutan. Andre menumpahkan keberangannya dengan kembali mencangking kerah baju Girang.


Dia bertambah geram. Dia mulai mengambil ancang-ancang.


“Ayo habisi dia!” teriak Zahid lagi.


Zahid duduk manis di atas meja untuk dosen. Dia menggeletakkan kaki kanannya di atas paha kirinya, macam bos yang lagi santai-santainya.


“Hei Ketua, kau ada rokok, tidak? Sepertinya lebih asyik sambil merokok menyaksikan tontonan ini!”


“Ada. Ini.”


“Ah! Tapi tidak usah. Nanti bibirku hitam seperti punyamu. Ha ha ha.”


Syarif diam. Dia kembali memasukkan bungkus rokok itu ke sakunya.


“Hei Ketua, apa kau mencintai Susan?”


“Ya.”


“Apa kau rela kehilangan dia?”


“Tidak.


Andre mengepalkan tinjunya, Girang memaku ketakutan.


“Hei BRENGSEK!” teriak Zahid. “Beraninya main keroyokan!”


Mereka berdua menyorot Zahid.


“Hei Ketua! Kalau aku mencintai Susan, bagaimana?” tanya Zahid datar.


“Apa katamu?”


Zahid berdiri lalu mengangkat bahu.


“Bagaimana jika aku yang mendekati Susan? Apa yang akan kaulakukan? Apa kau akan menghajarku?”


“Dasar aneh! Tentu aku akan menghajarmu!”


“Ya sudah. Sini! Soalnya aku mencintai Susan. Lagian enaknya, kan, satu lawan satu!”


Syarif dan Andre terperanjat melihat perubahan karakter Zahid yang tak terduga. Kali ini Zahid menantang Syarif. Tentu Syarif tak rela jika apsari manisnya direbut orang lain.


Semacam menentukan titik awal dari lingkaran sebuah koin, Girang bingung keheranan.


Syarif menggeremet mendekati Zahid. Wajahnya menyeringai. Dia emosi.


Tak sabar dia ingin menghajar Zahid. Dikiranya Zahid akan menjadi kawanannya.


Zahid tetap cool. Malah dia menebar senyuman. Dia merapikan rambut emo-nya.


“Hei Ketua! Jika Susan tahu kalau pacarnya suka melakukan perbuatan kotor, seperti suka keluar malam, atau hal-hal apalah. Apa dia akan marah?”


“Apa maksudmu?”


“Kalau Susan tahu kepribadianmu yang sesungguhnya, apa dia akan tetap menjadi pacarmu?”


“Kau ini memang gila! Aku tidak mengerti.” maki Syarif dengan nada tinggi.


“Aku sering melihatmu berada di tempat itu. Kau pasti suka dengan nikmat-nikmat yang murahan itu? Kau pasti suka, kan, dengan hal-hal dosa semacam itu? Sudahlah Ketua. Aku tahu kok.” beber Zahid sembari menurun-naikkan alisnya.


“Akan kuhajar kau!”


“Nanti dulu. Bagaimana kalau rahasiamu kubeberkan pada Susan?”


Syarif mengendurkan kepalan tinjunya. Muka sangarnya berubah menjadi datar semacam preman hebat melihat ustadz yang ramah.


“Bagaimana kalau Susan tahu tentang kebejatanmu? Oh, pasti dia akan kecewa.”


“KAU!”


“Kau suka dengan benda mematikan itu, kan? Aku tidak bisa membayangkan jika Susan tahu, aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi wanita cantik itu.”


“Kau mengancamku?”


“Ternyata kau hobi mengonsumsi benda haram itu.”


“Bah! Kau!” kata Syarif ketus.


Zahid membuang pandangannya ke pintu. Bibirnya seolah bersiul, tapi tak ada getaran suara.


“Dari mana kau tahu?” tanya Syarif.


“Itu bukan urusanmu,” kelit Zahid.


“Apa maumu sekarang?”

__ADS_1


“Akan kulaporkan semua kebejatanmu!”


“Eee...,” Syarif gelagapan. Dia jadi kikuk.


“Bagaimana perasaan Susan ya jika dia tahu?’


“Jangan, Zahid! Jangan beritahu dia!” Syarif merengek.


“Itu bukan urusanmu!”


“Ayo tolonglah! Jika dia tahu, aku bisa putus sama dia. Aku minta kau harus jaga rahasia ini. Aku tidak mau dia tahu tentang kepribadianku.”


Syarif merengek semacam anak kucing yang merengek ingin menyusu. Dia nyaris seperti gepeng lampu merah.


“Ehheemm.”


Sementara itu, Andre dan Girang yang berada di belakang kelas hanya membisu, sibuk mendengarkan dialog antara Zahid dan Syarif.


“Tolong aku, Zahid! Sungguh, aku sangat mencintai dia. Aku tidak rela jika kehilangan dia.” rayu Syarif.


“Terserah!”


Dengan muka yang datar dan cuek tak peduli, Zahid terus memancing Syarif. Dia tertawa terpingkal-pingkal di dalam hati. Kekesalannya terhadap Syarif yang sok jadi pemimpin dan sok playboy itu akhirnya tertumpah. Zahid merasa Syarif sudah bertekuk lutut dan menyerah kepadanya.


“Apa yang kauinginkan, jika aku sanggup, maka akan kupenuhi. Yang penting kau tidak memberi tahu kepada Susan tentang kelakuan bejatku.”


“Oke. Aku hanya minta kau berhenti berurusan denganku masalah Susan. Sungguh aku tak pernah sedikit pun suka kepadanya. Kedua, kau memaafkan sikap Si Idiot itu, dan jangan lagi kau ingin berusaha memukulinya. Anggaplah ini seperti tiada. Dan terakhir, kau jangan belagak sok memonopoli kelas, seolah kaulah pemimpin sejati. Kau jangan sombong! Kau jangan banyak atur!”


Syarif melunglai macam seorang bapak yang tak sanggup lagi menghidupi anak dan istri. Ekspresi wajahnya dibungkus oleh rasa penuh harap.


Dia ingin Zahid tidak melaporkan kebejatannya kepada Susan. Rasa keberaniannya menguap tak terbekas.


Dia dirundung awan kecaman. Hatinya kerasnya luluh jika sudah berbicara tentang Susan.


“Apa lagi?” kata Syarif merengek-rengek.


“Untuk sementara ini, itu saja.”


“Ya. Aku akan berusaha. Tapi, tetap jaga rahasiaku dari Susan.”


“Tenang saja!”


“Terima kasih.”


“Sudah keluar sana!” bentak Zahid.


Syarif menyahuti Andre untuk segera meninggalkan kelas. Andre hanya bisa ikut amin saja.


Jika Syarif marah, dia akan marah. Jika Syarif senang, dia akan senang. Jika Syarif menyuruhnya pulang, dia akan pulang. Jika Syarif sedih, dia akan sedih.


Hidup Andre seperti air yang mengalir. Dia terpontang-panting bak buih di lautan. Ke mana arah angin, di situ dia menuju. Singkatnya, tak bisa menentukan jalan hidupnya sendiri.


Girang yang masih ketakutan menghampiri Zahid.


“Hahahahaha....” Zahid tertawa lepas.


Girang merobot menyaksikan gelak tawa yang terhampur ke mukanya.


“Hahahaha... mukamu pucat pasi, Kawan. Kau ini penakut ya?”


Girang menyeka peluh. Dia duduk di kursi dengan napas termegap-megap.


“Kenapa harus takut dengan orang seperti mereka?”


“Memang aku yang salah kok.”


“Ow.”


“Memangnya Syarif punya rahasia apa? Kebejatan apa yang membuat dia takut kalau Susan tahu?”


“Emmm... entah.” jawab Zahid datar.


“Apa? Tadi kau begitu lantang sekali mengancam Syarif.”


“Entahlah. Aku tidak banyak tahu tentang dia. Alangkah bodohnya aku mengurusi hidup orang sok seperti dia.”


“Tapi, bagaimana dengan omongan-omonganmu tadi? Soal kebejatannya?”


“Aku hanya menebak-nebak saja dari tampang orang seperti itu. Setahu aku kebejatannya hanya suka merokok. Itu saja.”


“Apa?! Hanya itu? Soal urusan-urusan pribadinya?”


“Tadi aku hanya berpura-pura.”


“Cuma dalih? Kau ini memang gila!”


“Ha ha ha. Ayo kita pulang!”


Mereka berjalan bersebelahan pinggang. Zahid merangkul Girang, berpeluk pundak, dengan penuh keakraban. Suasana pelataran kampus lumayan ramai.


“Sepertinya hari ini kau ceria sekali, Zahid. Memangnya ada apa sih?”

__ADS_1


“Kau ini mau tahu saja. Jika kujelaskan, nanti tidak ada rahasia lagi di antara kita. Ha ha ha.”


***


__ADS_2